
"Kak gitanya mana bang?"
"Ada lagi tidur"
"Aufar bangunin tu kakak kamu, terus bantuin abang kamu angkatin barang"
"Aku bantuin bang asgar aja yah, bangunin kak gita susah yah, tidurnya kek kebok" Asgar tersenyum mendengar ucapan aufar, yang aufar ucapkan bener, gita paling susah dibangunin
"Tidak apa apa biar saya saja yang membangunkannya yah"
"Baiklah, ayah masuk dulu ya"
Asgar dan aufar mengangguk, ayah masuk kedalam rumah dan aufar membantu membawakan barang barang asgar dan gita, sedang asgar membangunkan gita
"Gita...bangun..." asgar menggoyangkan tubuh gita, tetapi gita tetap saja tidak bangun dari tidurnya
"Kak gita emang susah dibangunin bang" ucap aufar yang membawakan tas kakaknya
"Saya gendong aja g apa apa ya?"
"Serah sih bang kan calon abang" jawab aufar tersenyum
Akhirnya asgar memutuskan untuk menggendong gita, disaat asgar sudah meletakkan tangannya di bawah kaki gita seketika gita terbangun terkejut
"Eeh" ucap gita ia mengerjabkan matanya
Asgar kembali melepaskan tangannya, ia melihat gita, asgar menyentil dahi gita pelan dan gita meringis mengelus dahinya
"Dibangunin susah banget sih, tuh udah nyampek" asgar berlalu pergi masuk kedalam rumah, ia meninggalkan gita sendirian yang masih dengan kesadaran 60%
"Assalamualaikum" ucap asgar masuk kedalam rumah gita
"Waalaikumussalam" jawab ayah. "Duduk nak asgar istirahat dulu" asgar mengangguk dan tak lama kemudian gita masuk kedalam rumahnya, ia menyalami ayahnya
"Gimana sih git, bukannya ditunjukin jalan kerumah kita kamu malah tidur" ucap ayah melihay kearah gita yang baru saja duduk dikursi sebelah ayah
"Ooh iya, bapak tahu dari mana alamat rumah saya?" ucap gita yang baru tersadar, ayah mengerutkan dahinya mendengar ucapan gita
__ADS_1
"Bapak?" ucap ayah heran
"Eeh g yah maksudnya mas asgar" elak gita cengengesan, asgar yang dipanggil mas dengan gita tersenyum melihat gita mati kutu didepan ayahnya
"Ooalahh, oya tadi asgar itu nelfonin ayah pake handphone kamu, nanyain alamat" sambung ayah kembali ketopik awal, asgar hanya diam mendengarkan, ia memandang gita yang juga memandangnya
"Katanua g tega dia bangunin kamu yang terlelap tidur, g berubah ya kamu tidurnya masih aja susah dibangunin, g malu sama calon suami?" sambung ayah, gita hanya bisa diam tidak menjawab, ia hanya tersenyum salah tingkah
"Kak gigit, itu bang asgar mau nginep sini apa dihotel?" tanya aufar yang tiba tiba muncul ntah dari mana
"Oh iya pak eh mas, mm..mmass mau nginep disini apa dihotel?" gita bertanya gugup, bagaimana tidak yang biasanya memanggil mendadak berubah menjadi mas, asgar tersenyum meledek gita
"Disini aja boleh yah?" tanya asgar pada ayah
"Wuidih uda panggil ayah aja nih" ledek aufar mendengar panggilan asgar
Puuk...
Aufar dilempari bantal oleh gita, ia tidak ingin asgar tersinggung dengan ledekan aufae, seperti yang gita tahu asgar tidak pernah bercanda dan ia mengira asgar sangat kaku dengan candaan
"Apaan sih kak, sakit tauk, orang becanda doang" ucap aufar
"Uda donk yah, uda wangi dari laundry" jawab aufar
"Gita bikinin minuman donk, masak tamu g dikasi apa apa sih?"
"Iya yah" gita berjalan kedapur untuk membuatkan minuman asgar dan ayah
Sementara asgar dan ayah serta aufar berbincang santai di ruangan keluarga didepan televisi
"Hmm" asgsr berdehem ia menetralkan degupan jantungnya, ia ingin meminta izin kepada ayah gita untuk memperistrikan gita
"Jadi begini yah, kedatangan saya kesini untuk meminta izin kepada ayah dan juga aufar, saya ingin menikahi anak ayah khawla gita nizia, jika ayah setuju keluarga saya akan datang minggu depan, sata rasa lebih cepat lebih baik yah" ucap asgar lancar tanpa hambatan
Ayah tersenyum mendengar penuturan asgar yang terkesan jujur tetapi buru buru
"Kenapa terburu buru nak asgar?" bukan apa apa ayah sedikit termakan omongan aufar jika terjadi sesuatu dengan gita dan asgar, ia bukan tidak percaya anaknya hanya saja takut jika apa yang tidak diinginkannya benar benar terjadi apa lagi selama ini anaknya tinggal dikota besar dan pergaulan disana sangat membuat hati ayah was was
__ADS_1
"Maaf ayah jika saya terkesan buru buru, sebenarnya sudah lama hanya saja gita baru berani membawa saya saai ini" gita mengerutkan keningnya mendengar asgar, ya ia mendengar perkataan asgar saat berjalan membawakan minuman untuk asgar dan ayahnya
"Iya kan git?" tanya asgar
Gita tersenyum ia mengangguk "Iya yah" ia mengikuti drama asgar
"Minuman aku mana kak?"
"Bikin sendiri sono, jangan manja" jawab gita ketus
"Baru juga kali ini, uda dibilang manja, eh kak lo g bunting kan mau nikah ceoat cepat?" tanya aufar pelan, meski pelan namun cukup jelas ditelinga asgar dan ayah
"Mulut looo!!!" ucap gita marah
"Maaf yah, jika apa yang ayah fikirkan sama dengan yang aufar ucapan, saya mohon maaf, tapi saya berani jamin saya tidak pernah menyentuh gita diluar batasan saya" ucap asgar tegas
Ayah tersenyum tidak enak hati, ia memandang aufar tajam, aufar paham dengan tatapan ayahnya
"Yah , bang aufar keluar main dulu ya" aufar pamit kepada asgar dan ayah, ia akan pergi bertemu teman temannya
"Jangan pulang terlalu malam" jawab ayah
"Maafkan aufar asgar, dia memang seperti itu ngomong suka seenaknya" asgar mengangguk tersenyum
"Jadi pada dasarnya ayah setuju aja dengan niat baik kalian selama gita setuju, tidak ada yang lebih ayah inginkan kecuali kebahagiaan anak ayah" gita memegang tangan ayah terharu
"Alhamdulillah terimakasih yah" jawab asgar
"Makasi ayah, gita sayang ayah" ucap gita menyandarkan kepalanha dibahu ayah, ayah mengusao kepala anaknya, ayah tidak menyangka waktu begitu cepat berlalu, sekarang anaknya yang dulu kecil sekarang sudah akan menjadi istri orang
.
.
.
Jangan lupa like vote dan koment
__ADS_1
Terimakasih 🥰🙏
🌟🌟🌟🌟🌟