Menunggu Cinta

Menunggu Cinta
63


__ADS_3

Leo sedang berada dijalan menuju kerumah jeny, setelah ia menyelesaikan pekerjaannya ia tidak langsung pulang kerumah, ia pergi menemui jeny, sekarang jeny menjadi tempatnya berlabuh


"Hay baby, kecapen?"


"Hmmm diego brengs*k itu seperti memanfaatkanku, dan aku harus mengikuti permainannya jika aku ingin tetap diposisiku"


"Apa perlu aku membantumu?"


"No baby aku tidak mau kau terlibat dan nanti jika dia benar tertarik padamu, dia akan menyuruhku meninggalkanmu sama seperti gita dulu"


"Ooh jadi kamu sama gita berpisah karena diego?"


"Bisa dibilang begitu, tapi sudahlah gita juga sudah melupakanku semenjak ia pergi keluar negeri bersama bossnya asgar"


"What??!! asgar??" tanya jeny terkejut, siaoa yang tak kenal asgar pengusaha kaya raya dan tampan, leo mengangguk mengiyakan


"Beruntung sekali gita bisa dekat dengan pengusaha kaya yang mati rasa"


"Mati rasa? maksudmu?"


Jeny duduk dipangkuan leo, ia membelai leo


"Yes baby, ia mati rasa ia tidak akan tertarik dengan wanita manapun setelah kematian calon istrinya sarah tiga tahun lalu, dan mantanmu gita mungkin mereka hanya pergi berbisnis"


"Benarkah seperti itu?" leo berpikir akankah dia hanya salah paham terhadao gita selama ini


"Sudah lah honey jangan dipikirkan, bagaimana kalau kita kekuar untuk makan malam? aku lapaarr" rengek jeny, leo tersenyum menyetujui ajakan jeny tetapi masih sedikit memikirkan gita karena ucapan jeny tadi


*****


Dirumah gita, asgar sedang menunggu gita untuk mengganti pakaiannya, gita juga membersihkan dirinya, karena pikirnya ia sudah sampai dirumah jadi sekalian ia mandi, tak lama asgar menunggu gita muncul dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi


Melihat gita yang sudah rapi, asgar berdiri dari dudukan sofanya, ia juga mematikan televisi dirumah gita, gita mencabut segala colokan yang ada dirumahnya serta membawa gelas yang asgar minum ketempat cuci piring


"Oke pak, sudah siap" ucap gita

__ADS_1


Asgar berjalan menuju mobilnya dan gita menyusulnya tak lupa gita mengunci pintu rumahnya, tak lama kemudian asgarpun melajukan mobilnya


"Bapak g ganti baju bersih bersih dulu?" tanya gita


"Apa saya bau?"


"G sih pak"


"Ya uda g usah"


"Oh jadi tadi saya bau? bapak nyuruh saya bersih bersih?" tanya gita kesal, asgar mendengus tersenyum


"Bikin kesel ya kamu"


"Kamu?"


"Yess, because you're not my boss anymore"


"Oke fine" asgar lagi lagi tersenyum, sementara gita mengalihkan pandangannya kearah luar jendela, ia malu keceplosan memanggil asgar dengan kamu bukan pak


"Hmmm" asgar menjawab tanpa menoleh


"Kenapa bapak kalau tidur sering mengigau? mengigau manggil nama sarah" gita sedikit takut menanyakannya takut jika asgar malu


Asgar terdiam lama, ia sesekali melihat gita


"Ntahla, mungkin saya hanya merinduinya"


"Ooh" gita mengangguk sebenarnya ada sedikit perasaan tidak rela asgar menyebutkan jika ia merindui sarah, sikap asgar yang selama ini menunjukkan perhatiannya pada gita telah meluluhkan hati gita, bahkan mungkin gita sudah mulai menyukai asgar, wanita mana yang tidak luluh jika setiap hari diperlakukan dengan manis oleh seorang lelaki, walaupum asgsr terkesan cuek dan dingin tetapi gita bisa merasakan jika asgar perhatian dan khawatir padanya, tetapi mendengar ucapan asgar yang masih saja berkutat dengan sarah ia menepis segala kemungkinan yang ia pikirkan


"Sering juga ya pak bapak merindui sarah" sambung gita


"Maksudnya?"


"Ya maksud saya, saya sudah dua kali mendengar bapak mengigau kalau tidur dan itu sama sama menyebutkan nama sarah"

__ADS_1


"Benarkah?"


"Hehemmm...pertama waktu kita tertidur dimobil waktu diluar negeri dan yang kedua waktu bapak tertidur sore dirumah saya, apa setiap malam bapak begitu?"


Asgar melihat gita, ia mengangkat kedua bahunya


"Hmm ntahla, saya tidak tahu"


Setelah obrolan yang lumayan berat bagi gita mereka kembali diam, gita harus menerima kepahitannya bahwa jauh dari lubuk hati asgar masih mencintai sarah, tetapi gita berusaha biasa saja tidak memperlihatkannya pada asgar, ia bukan tipe wanita yang jika menyukai seseorang ia harus mengejarnya, ia wanita yang tetap mempertahankan harga dirinya, dia juga tidak ingin dicap sebagai wanita yang mengincar kekayaan asgar, seperti apa yang didengarnya selama ini dari mulut karyawan karyawan di perusahaan asgar


Tak lama kemudian mereka telah tiba disebuah cafe yang lena sebutkan tadi, asgar memarkirkan mobilnya diseberang jalan depan cafe, gita keluar dari mobil lebih dahulu lalu ia menunggu asgar dipinggir mobil asgar


Asgar yang sudah keluar dari mobi melihat ke arah cafe ia melihat lena dan temannya yang lain, lena melambaikan tangannya, gita yang melihat lena melambaikan tangannya langsung bejalan menuju lena tanpa melihat kiri kanan untuk menyebrang


Asgar yang melihat sebuah mobil melaju kearah gita langsung menarik lengan gita sehingga gita terbentur ketubuh asgar, teman teman asgar yang melihatnya terkejut, mereka takut kejadian tiga tahun lalu terulang kembali, mereka berdiri melihat apa yang terdiri


"Nyebrang kenapa g liat liat sih?!" asgar membentak gita kuat, ia memegang kedua lengan gita menatap gita, gita menunduk ia tidak menjawab, ini baru pertama kalinya ia dibentak asgar dan itu didepan banyak orang, ia merasa marah sedih dan sekaligus malu, ia melihat asgar yang masih marah, asgar memegang kepalanya frustasi dadanya naik turun karena jantungnya berpacu


Lena menghampiri asgar, lena dan ferdi menghampiri asgar, mereka tah asgar trauma kehilangan orang yang ia sayang makanya asgar begitu syok melihat gita ingin tertabrak


"Uda as...as, g enak diliatin banyak orang" ferdi menenangkan asgar, dan asgar tersadar begitu ramainya manusia yang menyaksikan ia membentak gita, ferdi membawa asgar kecafe depan


"Lo g apa apa git? yuk kesana yuk" lena membawa gita menyebrang jalan, asgar yang berada didepan gita menoleh kebelakang melihat gita yang masih diam


.


.


.


Jangan lupa vote like dan komen


Terimakasih 🥰🙏


🌟🌟🌟🌟🌟

__ADS_1


__ADS_2