Menunggu Cinta

Menunggu Cinta
69


__ADS_3

Leo pergi dari rumah gita setelah ia dipermalukan oleh asgar, asgar memberinya uang yang lumayan banyak, ia masuk ke mobilnya


"Oh ****" leo memukul stir mobilnya, ia kesal sekali, dadanya nampak turun naik menahan emosi


"Aku dipermalukan gita, kau tau sayang asgar ada disana, rupanya ia sudah menjual dirinya pada asgar, aku akan memberitahu pada pak diego, awas saja kau gita" leo kesal dan marah pada gita, orang selama ini yang sangat ia sayangi dan cintai ternyata dengan sekejab mata ia bisa membencinya


"Calm down baby"


"Aku tidak tenang baby, kau tau sejak dengankh dia tidak pernah berpakaian seperti itu jika aku kerumahnya dan aku tidak pernah berbuag macam macam padanya, dan sekarang dengan orang yang lebih kaya ia rela menjual dirinya bahkan berduaan dan berpelukan dihadapanku" leo sangat marah, ia menjalankan mobilnya


"Kita ke club!!" ucap leo


"Dengan senang hati baby" jawab jeny, ia akan menghabiskan waktunya di club bersama leo dan mereka akan berakhir ditempat tidur pastinya, sejak jeny tidur bersama leo, leo terus saja memintanya pada jeny, ia seakan tidak pernah puas tetapi jeny menyukai aktifitasnya bersama leo karena menurut jeny leo sangat perkas*


*****


Asgar menutup pintu rumah gita, ia membawa gita disofa, gita hanha diam saja, ia tidak sangka jika orang yang ia cintai dulunya dengan sekejab mata berubah menjadi orang yang paling ia benci, ia meneteskan air matanya


"Heii are you ok?" asgar bertanya lembut


"Saya g nyangka aja pak hiks..hiks..leo bisa berbicara menjijikkan seperti itu pada saya hiks..hiks" gita hendak menangis bahkan air matanya sudah mulai mengalir


"Kamu cengeng juga ternyata" seketika gita diam mendengar kata kata asgar, ia menghapus air matanya dan tidak lagi menangis


"Saya g cengeng pak, saya sedih aja, dulu kami saling mencintai dan dia bersikap manis, dia menjaga saya dan sekarang saya g nyangka dia bisa ngomong seperti itu" gita mengerucutkan bibirnya


"Beruntung ya sarah bisa dicintai bapak dan rasa cinta bapak g berubah sedikitpun sama sarah walaupun orangnya uda g ada" sambung gita


"Kenapa jadi ngomongin saya?"


"Ya kan bapak contoh yang baik" asgar tersenyum


"Git.." asga memanggil gita serius


"Mmm ya pak?" gita masih dalam mode sedih


"Gimana kalau apa yang dibilang leo tadi benar?"

__ADS_1


"Saya bisa jaga diri kok pak"


"Jangan menganggap enteng diego, kamu memang bisa bela diri, sekuat kuatnya wanita tenaga laki laki akan lebih kuat jika ia ingin mendapatkan apa yang ia inginkan"


"Ya pak saya tau terimakasih sudah mengkhawatirkan saya... eh tapi kenapa bapak khawatir? terus kenapa sering main kerumah saya? dan kenapa bapak mau makan masakan saya? bapak tu uda kek jelangkung tau g? datang sesukanya tidur semaunya, kenapa sih?"


Asgar lama terdiam kemudian ia menatap gita, ia juga bingung kenapa ia begitu dan ia sedang memikirkan jawabannya


"Pusing saya jawabnya, terlalu banyak pertanyaan" asgar berdiri dari sofa, ia mengambil ponselnya yang tertinggal diatas meja makan gita, sebenarnya asgar mengelak untuk menjawab pertanyaan gita


"Saya kekantor dulu dan baju yang kamu pake ini, ganti, trus jangan langsung membukakan pintu jika ada yang datang, sebaiknya kamu ngintip dulu dari jendela" asgar berjalan menuju pintu dan gita mengikutinya mengantar asgar kedepan pintu


"Tuh kan khawatir" gita menggoda asgar memicingkan matanya ia tersenyum menunjuk ke arah asgar


"Saya g khawatir, saya cuma mengingatkan aja" gita hanya mencibir menanggapi perkataan asgar


Asgar sudah berada dimobilnya, ia mulai melajukan mobilnya dan gita segera mengunci pintu rumahnya, ia tersenyum senang dengan sikap asgar


*****


Dikantor asgar hendak bertemu arvin, waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, asgar menuju ruangan arvin


"Dari mana lu bro?" tanya arvin


"Rumah gita makan siang" asgar keceplosan menjawab pertanyaan arvin karena ia terlalu fokus dengan ponselnya, ia hendak menghubungi aron


"What??!! hahahhaaa..." arvin terang terang menertawai asgar


"Diem lo, mah mati lo!!" asgar menatap arvin nyalang


"Hallo aron, gimana? udah clear?" asgar manghubungi aron


"....."


"Oke jam lima ya kita ketemhan ditempat biasa"


"....."

__ADS_1


Asgar menutup ponselnya, ia segera beranjak dari duduknya ingin melarikan diri dari ledekan arvin


"Mau kemana lo? melarikan diri ya?" sayangnya gerak gerik asgar terbacs oleh arvin


"Berisik!!!" jawab asgar lalu ia keluar dari ruanvan arvin


"Hahaha....." suara tawa arvin masih terdengar oleh asgar


Sesampainya diruangannya asgar duduk dikursi kebesarannya, ia meminta OB untuk membuatkan kopi untuknya, ia berpikir bagaimana caranya membuktikan jika itu adalah milik diego


Tok....


Tok....


Tok....


Pintu ruangan asgar diketuk oleh OB dan terlihatlah salah seorang OB masuk dengan membawakan segelas kopi untuk asgar, ia meletakkan kopi diatas meja asgar, dimeja asgar masih terdapat sebuah bingkai foto dirinya bersama sarah, ia menempatkannya diatas meja kerjanya guna untuk penyemangatnya dalam bekerja


Saat OB meletakkan kopi diatas meja asgar, nampan yang OB bawa tidak sengaja mengenai bingkai foto asgar bersama sarah sehingga membuat bingkai foto jatuh kelantai dan pecah


"Ma..maa..maaf pak sa..sa..saya ti..tidak se..sengaja" OB meminta maaf dengan sedikit membungkukkan tubuhnya, ia sangat takut jika asgar akan memecatnya


Sagar berdiri dari dudukannya ia melangkah untuk melihat foto pujaan hatinya yang jatuh, ia membungkuk mengambil foto dirinya bersama sarah, lalu ia menghubungi arvin, tak lama kemudian arvin mendagangi asgar, arvin melihat OB sedang membersihkan pecahan kaca yang berserakan


"Ada apa as?"


Asgar menghembuskan nafasnya kasar


"Kasi OB ini pesangon dan aku tidak ingin melihat wajahnya lagi, teledor!!"


.


.


.


Jangan lupa like vote dan komen

__ADS_1


Terimakasih 🥰🙏


🌟🌟🌟🌟🌟


__ADS_2