
Vivian masih menunggu didepan lift. Sambil menunggu, Vivian menyandar di dinding. Dari pintu masuk sudah terlihat orang yang dia hindari sudah tiba.
"Aduh, kenapa mesti jumpah sih. Bagaimana ini..! " keluh Vivian.
Vivian berbalik agar tidak melihat Willi.
"Apa yang sedang kamu lakukan.. ? " suara dari belakang Vivian.
Mau tidak mau, dia harus berbalik arah. "Tuan, saya lagi menunggu lift..! " jawab Vivian menunduk.
"Ting...! " suara pintu lift khusus CEO sudah terbuka. Willi dan Robby masuk bersamaan.
"Huuufff..! " terdengar lenguhan nafas Vivian .
Setelah menunggu, akhirnya pintu lift karyawan akhirnya terbuka juga. Dan yang menunggu bukan hanya Vivian, masih ada beberapa orang disana. Tidak ingin terlambat lagi, Vivian menunggu paling depan.
Semua orang berebut untuk masuk, agar tidak terlambat. Karena ada konsekwensi nya. Seperti pemotongan gaji.
Setelah berada di lantai 3,semua orang mulai sibuk pada pekerjaan mereka masing-masing.
Sudah dua jam berlalu, Willi masih berkutat didepan laptop nya. Sementara Robby duduk di sofa mengerjakan hal lainnya.
"Tok... tok... tok..!" suara ketukan dari luar.
"Tuan, tante anda datang..! " ucap sekertaris Willi dari luar.
"Oh, apa yang dia inginkan..! " gumam Willi.
"Masuk..! " jawab Willi.
Pintu terbuka, dan benar saja tante Rose yang datang.
"Tante, silahkan duduk..! " ucap Willi.
"Tante tidak lama-lama, hanya ingin menyampaikan. Bahwa malam ini,kamu harus ikut tante menemui teman tante yang kemarin. Karena kamu sudah menyakiti hati mereka. ! " ucap tante Rose lantang.
"Tapi tante, aku masih banyak kerjaan sampai malam! " jawab Willi mengelak.
"Tidak ada penolakan, dan tante sudah putuskan bahwa kamu harus segera menikah dengan Sesyl..! " ucap Rose.
"Tok.. tok.. tok..! " suara pintu.
"Masuk..! " jawab Willi.Dan percakapan bersama tantenya terhenti.
Pintu pun terbuka, itu adalah Vivian dengan nampan berisi beberapa gelas minuman.
Vivian meletakkan gelas itu di meja Wilii dan juga meja yang berhadapan dengan sofa dimana tante Rose duduk.
Setelah selesai, Vivian pamit keluar "Aku sudah memiliki kekasih tante. Jangan paksa aku menikah dengan wanita yang tak ku kenal..! " bantah Willi.
"Siapa... Siapa pacar mu itu? Tante tidak pernah melihat mu memiliki pacar, apalagi jalan dengan seorang wanita.! " ucap Rose dengan nada keras.
__ADS_1
Belum sempat Vivian keluar "Wanita barusan adalah kekasih ku..! " jawab Willi spontan.
Vivian yang belum sempat menutupkan pintu, mendengar percakapan mereka berdua.
"Siapa yang dimaksud tuan Willi. Hanya aku yang orang lain disana! " fikir Vivian.
Dia melangkah seperti biasa dan "Hei kamu..! " panggil sebuah suara.
Vivian menolah dan melihat ke arah sekertaris.
"Bukan aku..! " ucap sekertaris.
"Ya kamu..! " suara Robby dari pintu ruangan Willi.
Vivian mendekat "Ada apa tuan? " tanya Vivian.
"Tuan Willi memanggil mu! " ucap Robby.
Vivian dengan rasa penasaran hanya mengikuti saja panggilan Robby.
Dia pun masuk "Kamu sini..! " panggil Willi.
Vivian mendekat ke arah Willi "Inilah kekasih ku..! " ucap Willi seraya merangkul pinggang Vivian.
Vivian tersentak dan berusaha melepaskan pegangan Willi. Namun Willi terus berusaha menahan pegangannya "Kamu diam lah sebentar.! " ucap Willi seraya pelan seraya tersenyum dipipi Vivian.
Tante Rose memperhatikan Vivian dari atas sampai bawah. "Apa ini hanya akal-akalan mu saja. Agar bisa menghindar dari perjodohan ini.. ? " tanya tante Rose.
"Apa benar kamu dan Willi memiliki hubungan..? " tanya tante Rose dengan tatapan tajam pada Vivian.
"I-iya tante..! " jawab Vivian sedikit gugup.
"Sudah berapa lama? " tanya Rose lagi.
Willi merapatkan pegangan nya dipinggang Vivian "Kami sudah pacaran hampir 6 bulan..! " jawab Willi.
Sementara Vivian hanya tersenyum kecut.
"Kalau memang kalian telah berpacaran, tante mau kalian percepat pernikahan. Karena tante tidak akan tenang, umur mu sudah dewasa.! " ucap Rose.
"Pernikahan..! " ucap Willi dan Vivian.
Seketika Vivian melepaskan pegangan Willi. "Maaf tante, kalau pernikahan saya belum mau..! " jawab Vivian seketika.
"Iya tante, kami masih ingin mengenal satu sama lain..! " ucap Willi.
"Tidak ada penolakan, berpacaran 6 bulan menurut ku waktu yang cukup untuk mengenal satu sama lain..! " ucap tante Rose.
Willi dan Vivian memandang satu sama lain. Terutama Vivian yang tak menyangka akan mas dalam permainan bosnya sendiri.
Tante Rose beranjak dari duduknya "Baiklah tante pergi dulu, jangan lupa kamu bawa pacar mu kerumah tante..! " ucap Rose pada Willi.
__ADS_1
Tanpa menjawab, hanya wajah menyesal karena sudah terjebak dalam kebohongan nya sendiri.
Setelah tante Rose keluar "Tuan Willi, tolong selesaikan semua kebodohan ini..! " pintu Vivian dengan wajah kesalnya.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan membawa mu terlalu jauh. Aku akan menyelesaikan masalah secepatnya..! " jawab Willi tenang, tapi hati tak bisa berbohong bahwa dia pun sama takutnya dengan Vivian.
Vivian keluar dari ruangan kerja Willi.
Di lantai 3 tempat Vivian bekerja. Dia terlihat diam seribu bahasa setelah turun dari lantai atas. Berta teman kerja Vivian merasa kan perubahan pada wajah sahabatnya yang sedikit cerewet itu.
"Kenapa wajah mu terlihat kesal seperti itu semenjak keluar dari ruang bos? " tanya Berta.
"Tidak ada apa-apa, hanya kepala ku sedikit sakit..! " jawab Vivian.
"Mari sini biar aku urut, aku pandai urut loh..! " ucap Berta percaya diri.
Berta bangkit dan berdiri di belakang Vivian. Dia memijat bagian pundak dan juga kepala Vivian. Walau sebenarnya kepala Vivian tidak sakit. Tapi dia menikmati pijitan temannya itu.
"Bagaimana..? " tanya Berta.
"Pijitan mu enak juga..! " ucap Vivian sembari memejamkan mata menikmati pijitan temannya itu.
Diruangan kerja Willi, dia masih bingung memikirkan cara apa yang harus dia lakukan. Agar pernikahan tidak terjadi.
"Tak mungkin aku jujur bahwa tadi hanya kebohongan. Tante tetap akan memaksa aku untuk menikah dengan Sesyl..! " batin Willi.
Dia memutar-mutar pena yang ada di tangan nya. Otak nya terus berfikir bagaimana bisa keluar dari permasalahan ini.
"Maaf tuan, apa saya bisa memberi ide..! " ucap Robby yang sedari diam dan hanya memperhatikan tuan nya gelisah tak menentu.
"Apa kamu punya jalan keluarnya..? " tanya Willi.
"Kalau memang tante Rose masih memaksa tuan untuk menikah, bagaimana kalau tuan menikahi nona Vivian saja..! " usul Robby.
Mata Willi membulat "Apa kamu sudah gila..! " bentak Willi.
"Maksud saya, tuan nikah dengan syarat-syarat tertentu..! " ucap Robby.
Mata Willi menjeling tajam "Syarat seperti apa yang kamu maksud..? " tanya Willi.
"Tuan bisa melakukan nikah kontrak..! " jawab Robby.
Seketika Willi terdiam, wajahnya terlihat sumringah mendengar usulan asisten nya itu.
"Tapi, apakah wanita itu mau? " ucap Willi bertanya pada Robby.
"Tuan harus melakukan sebalik nya, apa yang bisa membuat wanita itu menerima agar tidak merasa dirugikan! " ujar Robby.
"Baiklah, aku akan bicara dengannya..! " ucap Willi dengan senyuman kemenangan
"Dengan wajah dan harta yang tuan miliki, wanita mana pun tidak akan menolak untuk menikahi lelaki dari keluarga Hudson. " tambah Willi.
__ADS_1