
Gagal menikah, Anastasya berubah tidak seperti dirinya yang biasa terlihat modis dan elegan.
Pasca ditinggal oleh Willi, dia frustasi dan bahkan tidak perduli dengan anak nya sendiri,
seorang pekerjaan yang dipinta oleh Anastasya berhenti dalam hitungan minggu. Anastasya selalu marah-marah tak jelas.
Ketika anak nya menangis, dia tidak perduli.
Rega sebagai sahabat nya juga tidak mengerti dengan perubahan teman nya itu.
"Oek oek oek! " tangisan Julie anak dari Anastasya.
"Cup cup cup sayang, jangan menangis ya. Anak baik anak cantik! " Rega berusaha mendiamkan bayi tersebut.
Setelah bayi itu tenang, perlahan mulai tertidur dipundak pria situlang lunak.
Dengan hati-hati, Rega meletakkan di baby box.
Setelah bayi diletakkan, Rega berjalan menuju kamar Anastasya.
"Anastasya, sampai kapan kamu tidak ingin memegang bayi mu itu? " tanya nya.
Anastasya yang tiduran telungkup di tempat tidur memutar kepala nya ke arah Rega.
"Aku tidak mau lagi berurusan dengan anak itu. Kalau kamu mau, kamu boleh ambil. Kamu juga bisa mengantarkan nya ke panti asuhan." Anastasya seperti kehilangan hari nurani.
"Kenapa kamu tega, dia darah dagingmu. Dan semua kesalahan yang terjadi karena dirimu sendiri. Bukan karena nya! " Rega terlihat marah.
Anastasya bangkit dari tempat tidur.
"Ya memang aku yang menyebab kan dia ada di dunia ini. Aku lah biang kesalahan.Sekarang kamu lebih peduli padanya dibanding aku? " bentaknya.
Rega tidak menyangka, Anastasya yang biasa lembut dan manja bisa berubah seperti binatang buas.
Malas berdebat, Rega pergi meninggalkan Anastasya yang diliputi emosi dan amarah.
Di kamar Rega, dan juga kamar si bayi.
Dia memandang sendu pada tubuh mungil tidak berdosa itu.
"Mungkin sudah takdir mu memiliki ibu yang egois. Kasihan kau nak! "
Seperti mengerti dengan perkataan Rega, bibir bayi itu manyun seperti sedang merajuk.
"Tok tok tok!" ketukan pintu.
Anastasya yang tadi nya santai dan tidak memikirkan apa pun. Seketika bangkit dan mencari Rega.
Dia mencari kekamar Rega.
"Lihat siapa yang datang? " pinta Anastasya.
Rega pun keluar melihat siapa yang datang.
Setelah pintu terbuka.
"Selamat siang Rega! " ucap laki-laki paruh baya.
"O-om, ke-kenapa tidak beritahu mau datang? " Rega terkejut sampai bicara nya pun terbata-bata.
Anastasya datang menghampiri.
"Papa! " panggil Anastasya.
"Ya sayang, sudah lama kamu berada dinegara ini! Kenapa tidak pernah menghubungi papa? " tanya Frederick Lucoc papa Anastasya Lucoc.
"Emm, aku hanya terlalu sibuk hingga lupa untuk memberitahu Papa. " wajah Anastasya dibuat seceria mungkin agar sang papa tidak banyak pertanyaan lain.
__ADS_1
"Papa mau minum apa?" tanya Anastasya.
Papanya tidak menjawab.
"Rega buatkan minum untuk papa! " minta Anastasya.
Rega bangkit dan pergi kedapur.
Tapi diluar dugaan.
"Oek oek oek! " suara tangisan bayi.
Frederick mendengar suara bayi yang menangis, dan begitu dekat.
Wajah Anastasya seketika berubah tegang.
Tangannya mengepal-ngepal meremas jari-jari nya.
"Bayi siapa itu? " tanya papa nya.
"Itu, itu bayi tetangga mungkin pa! " jawab Anastasya sedikit ragu.
Pandangan Frederick menyipit, dia bangkit sembari mencari sumber suara.
"Aduh, kenapa sekarang sih menangisnya! " rutuk Anastasya.
Frederick berhenti didepan pintu kamar Rega.
Rega datang dengan secangkir minuman dan meletakkan nya di meja.
"Om silahkan diminum teh nya! " ucap Rega.
Dan berjalan menuju kamar, begitu pintu terbuka suara itu semakin jelas.
Frederick termangu melihat ada bayi di dalam kamar Rega.
"Kenapa ada bayi disini, bayi siapa itu? " tanya sang papa.
Anastasya bingung harus menjawab apa. Dia takut ketika di tanya pada Rega mereka akan berbeda pendapat nanti nya.
Dia hanya bungkam menunggu sampai Rega yang menjelaskan.
"Anastasya! " suara bariton pria itu membuat Anastasya buyar dari lamunan nya.
"Ya pa! "
"Apa kamu tidak dengar, anak siapa itu? " tanya papa nya lagi.
"Anastasya tidak tahu,i-itu Rega yang punya masalah! " jawab Anastasya menimpakan masalahnya pada orang lain.
Papa nya tidak begitu yakin dengan jawaban sang anak.
Wajah nya menangkap sesuatu yang disembunyikan.
Tak lama, Rega keluar dari dalam kamar sambil menggendong bayi mungil itu.
Berjalan mendekat ke arah Frederick dan Anastasya.
"Maaf om, ini anak saya! " ucap Rega.
Papa nya semakin tidak percaya, yang dia tahu Rega adalah pria kemayu yang tidak tertarik dengan wanita.
"Sejak kapan, kamu punya anak? " tanya Frederick.
"Ini anak adopsi! " jawab Anastasya.
Rega melirik Anastasya.
__ADS_1
"Ya Om, saya adopsi!" Rega meyakinkan.
Frederick mendekat melihat wajah bayi itu.
"Degh"
Dia teringat masa Anastasya kecil.
"Kenapa wajah anak ini mirip dengan Anastasya kecil?" batin Frederick.
Matanya tidak putus dari memandangi anak itu.
"Dari mana kamu adopsi? " tanya Frederick.
"Emm, a-aku mengadopsi anak teman yang tak menginginkan kehadirannya! " jelas Rega.
Frederick semakin tidak yakin dengan jawaban Rega.
Orang yang biasa bebas tiba-tiba ingin mengadopsi anak. Jelas-jelas tidak mungkin.
Frederick mengesap teh nya sampai tandas.
"Boleh papa gendong anak itu sebentar? " tanya Frederick.
Anastasya dan Rega berpandangan.
"Boleh Om! " Rega memberikan bayi mungil itu kepada Frederick.
Dengan hati-hati Frederick tubuh rentan itu. Dia seperti melihat Anastasya kecil.
Ingin rasanya dia menyentuh pipi mungil itu. Tapi Frederick tidak mau terlihat mencurigakan didepan Anastasya dan Rega.
Hanya sebentar, anak itu kembali diserahkan kepada Rega.
"Papa harus segera pergi, karena masih banyak urusan di kantor! " ucap sang papa.
Setelah kepergian Frederick, Anastasya dan Rega bernafas lega.
Sementara di lantai bawah, Frederick sudah mendapatkan rambut bayi mungil tadi. Ada beberapa helai rambut bayi itu yang sengaja Frederick cabut sehingga membuat bayi itu menangis sebentar.
Ketika tiba dirumah, Frederick menghampiri kamar Anastasya. Dia mencari sisir yang biasa digunakan Anastasya. Dan tepar dugaan nya, bahwa di sisir itu ada beberapa helai rambut Anastasya.
Mengutip helaian rambut dan meletakkan nya pada plastii kecil.
Tak berlama-lama, Frederick langsung menuju rumah sakit. Untuk melakukan tes DNA.
Sang dokter kenalan Frederick menghampiri.
"Ada apa kawan? " tanya dokter itu.
"Aku ingin kamu melakukan tes DNA! " ucap Frederick.
"Untuk sampelnya?" tanya dokter.
"Aku punya dua sampel rambut, yang ini Anastasya." sambil menyerahkan plastik berisi rambut Anastasya.
"Dan ini rambut seorang bayi! " Frederick menyerahkan rambut bayi tadi.
"Baiklah, mungkin 5 hari akan siap! " jelas dokter.
"Baiklah, nanti kabari aku! " Frederick pun pergi meninggalkan rumah sakit.
Di apartemen Anastasya.
"Sore ini aku ada kerja, kamu harus gantikan aku untuk menjaga Julie! " pinta Rega.
"Aduhh, kenapa sih kamu harus pergi. Aku malas menjaga nya.Kamu bawa pergi saja. Lagian bayi itu tidak berguna lagi untuk ku! " Anastasya terdengar tidak manusiawi.
__ADS_1
Rega menggeleng kan kepalanya. Tidak percaya Anastasya sanggup berbicara seperti itu pada darah daging nya sendiri.