
Tiga bulan berlalu.
Hubungan Rihana dan Alfa semakin mesra, walau sudah menjadi istri dari seorang Alfa tapi tidak membuat Rihana berhenti dari pekerjaannya.
Malah Alfa meminta agar dia selalu ada saat sang suami sedang ada pertemuan dengan klian bisnis nya.
Seperti pagi-pagi sebelum nya, Rihana dan Alfa bangun di pagi hari dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
"Kamu sudah siap sayang? " tanya Alfa pada sang istri yang masih berada didepan cermin.
"Sudah! " jawab Rihana dan menggandeng tangan suami nya menuju keluar kamar.
Dimeja makan terlihat, mama dan papa Alfa sedang menunggu kedatangan mereka.
"Selamat pagi pa, ma! " sapa Rihana dan Alfa kompak.
"Selamat pagi sayang! " sapa mama Vivian.
Papa Alfa hanya tersenyum menyambut anak dan menantu nya.
Vivian memandangi wajah sang menantu.
"Kenapa wajahmu terlihat pucat nak? " tanya nya.
Rihana memandang pada mertua nya.
"Tidak tahu ma, hanya pagi tadi ketika bangun tidur kepala ku terasa sakit! " jelas Rihana.
Mata Vivian tertuju pada Alfa.
"Apa kamu tidak melihat istri mu sedang sakit? Kenapa masih harus dipaksa kerja? " Vivian terlihat marah.
Alfa merasa bersalah karena tidak mengetahui keadaan istrinya.
"Maaf ma, Alfa tidak tahu! Dan Rihana juga tidak cerita! "
"Sudah, setelah makan kamu tidur saja ya. Biar hari ini Alfa saja yang bekerja! " ucap sang mama.
Dengan rasa sedikit tidak enak pada suaminya. Rihana hanya melirik pada Alfa karena sedari tadi mata Alfa sudah terlihat serius memandang nya.
Alfa pun sudah selesai makan, dia pun bangkit di barengi sang istri.
Begitu berdiri, Rihana meringis menahan sakit dan memegangi kepalanya.
Pandangan Alfa masih berfokus padanya.
"Kamu kenapa sayang? " tanya Alfa cemas.
"Tidak apa, hanya pusing sedikit! " jawab Rihana untuk menenangkan sang suami.
Alfa merangkul bahu Rihana, baru berjalan selangkah.
"Brukk! " tubuh Rihana layu kelantai.
"Sayang! " teriak Alfa.
Semua orang yang ada diruang makan cemas melihat Rihana yang tak sadarkan diri.
Dengan sigap, Alfa mengangkat tubuh istrinya menuju kamar mereka.
Vivian masuk kedalam kamar.
__ADS_1
"Mama sudah panggil dokter untuk datang! " ucap sang mama.
Tak lama, dokter keluarga mereka pun datang. Dokter langsung diantar oleh asisten rumah tangga menuju kamar Alfa dan Rihana.
Setelah melakukan pemeriksaan, dokter terlihat senyum-senyum.
"Apa yang kamu tertawakan? " Alfa terlihat marah karena ekspresi dokter.
"Maaf, saya hanya ikut senang. Selamat ya ! Istri mu sedang hamil. Jadi wajar saja dia mengalami pusing dipagi hari. Dan perkiraan saya kehamilannya memasuki minggu ke 6! " jelas sang dokter.
Mendengar berita bahagia itu, membuat Alfa sontak gembira. Alfa yang ditemani sang mama ikut merasa gembira.
Sudah tak sabar, Vivian berjalan keluar dari dalam kamar dan menemui suaminya.
"Sayang, sayang! " teriak Vivian kegirangan.
Sang suami yang ada di ruang keluar berdiri dan menghampiri istri nya.
"Ada apa sayang? Kenapa seperti orang yang sedang di buru? " tanya Willi suaminya.
"Pa, sebentar lagi kita akan menjadi oma dan opa! " ucap Vivian.
Willi yang masih belum mengerti menautkan kedua alisnya.
"Ya Tuhan sayang, apa kamu tidak faham dengan yang aku ucapkan? Istri Alfa sedang mengandung dan tidak lama lagi rumah ini akan diisi oleh suara tangisan cucu kita! " ucap Vivian.
Mendengar penjelasan istrinya yang begitu detail, membuat senyum Willi mengembang.
Mereka pun saling berpelukan senang,menunggu kehadiran calon cucu pertama mereka.
Dokter pun berjalan menuju keluar pintu kamar.
"Baiklah,nanti kami akan kesana! " jawab Alfa.
Setelah kepergian dokter, Rihana pun mulai tersadar. Perlahan matanya mulai terbuka.
"Kau sudah sadar sayang ? " tanya Alfa yang masih setia menemani istrinya sampai siuman.
"Sayang! Kenapa kamu masih disini? Bukankah seharusnya kamu sudah berangkat kerja?" cicit Rihana.
"Ah, masalah pekerjaan tidak usah kamu fikirkan. Aku sudah serahkan pada Sami! " jelas Alfa.
Rihana berusaha untuk bangkit, tapi kepala nya masih sedikit pusing.
"Kamu tidak usah bangkit, istirahat saja ! " paksa Alfa.
"Tapi aku tidak sakit sayang, hanya pusing sedikit! " tukas Rihana.
Alfa pun semakin mendekat kan duduknya pada Rihana.
"Sayang! Saat ini kamu sedang mengandung anak kita. Tadi dokter sudah kesini dan memeriksa mu. Kemungkinan kamu hamil sudah 6 minggu." jelas Alfa.
"Hah! " mata Rihana membulat mendengar penjelasan suaminya.
Tangan kanannya beralih mengusap perutnya yang masih rata.
"Apa kamu serius? " tanya Rihana tidak percaya.
Alfa hanya tersenyum.
"Iya, dan mama dan papa begitu senang mendengar berita baik ini! "
__ADS_1
Rihana memeluk Alfa dengan kuat dan menangis sejadi-jadinya.
"Kenapa kamu menangis? " tanya Alfa sambil mengelus pundak istri nya yang masih sesenggukan.
"Aku bahagia sayang ! " jawab Rihana.
9 bulan berlalu, Rihana sudah mempersiapkan semua keperluan untuk calon bayinya. Selama kehamilan, saat menemui dokter. Dokter menjelaskan bahwa jenis kelamin sang bayi ternyata laki-laki.
Maka Rihana dan suaminya mempersiapkan sebuah kamar khusus anak laki-laki yaitu berwarna biru.
Malam telah larut, Rihana terlihat gelisah . Karena tidak bisa tidur dengan nyenyak. Perut yang sudah besar membuat dia tidak nyaman. Tapi dia berusaha untuk tidak membangunkan suaminya.
Saat Rihana mulai merasakan kantuk yang sangat, perutnya terasa mulas, merasa seperti ingin kekamar mandi dia pun bangkit.
Berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi. Setelah sampai di kamar mandi, rasa mulasnya hilang.Dan Rihana merasa kesal karena harus kembali ke tempat tidurnya.
Saat dia sudah berbaring, kembali rasa mulas itu menyerang. Kali ini rasanya seperti lebih sakit dari yang tadi. Rihana berusaha menahan rasa sakit nya, dan mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamar mandi.
"Aduh! Kenapa perut ku sakit seperti ini. Rasanya makanku biasa saja hari ini! " batin Rihana.
Tapi mulas itu semakin bertambah, dan dengan durasi yang lama.
"Aduh! " Rihana meringis.
Dia bangkit dari tempat tidur dengan menurunkan kakinya lebih dulu.Setelah berdiri, air merembes dari celananya.
"Air apa ini? Apa aku pipis di celana? " batinnya.
Tapi rasa mulas semakin menjadi-jadi.
"Augh! " lenguh Rihana.
Mendengar suara istrinya, Alfa bangun dan menatap istrinya yang tengah berdiri.
"Ada apa sayang? " tanya Alfa seraya mendekat.
"Aku kencing , dan perut ku terasa mulas! " jawab Rihana.
Alfa pun mulai diserang rasa panik.
"Kamu tunggu di sini dulu, aku panggil mama! " Alfa dengan terburu-buru keluar dari kamar.
"Mama! Mama! " teriak Alfa yang membuat semua orang yang berada didalam rumah itu bangun.
"Ada apa Alfa? Kenapa kamu teriak ditengah malam begini? " tanya papa Willi.
"Pa, ma! Rihana !" Alfa tidak tahu ingin menjelaskan apa. Dia hanya menarik rambutnya kasar.
Sang Mama pun berlari menuju kamar Alfa.
"Ya Tuhan! Mungkin kamu sudah saatnya melahirkan! " ucap Vivian.
Sontak saja papa Willi dan Alfa saling pandangan.
"Cepat siapkan mobil, kita harus segera membawanya kerumah sakit.! " ucap mama Vivian.
Alfa yang panik segera mengangkat tubuh mungil istrinya. Dan di bawah Papa Willi yang menjadi supir mengantar anak dan menantunya menuju rumah sakit.
Alfa memasukkan Rihana ke bagian bangku belakang dan Alfa juga duduk di samping istrinya.Sedangkan mama Vivian duduk di bangku samping supir.
Mereka pun berangkat.
__ADS_1