
Keesokan hari nya, Willi pagi-pagi sekali sudah terlihat bangun rapi dengan pakaian lengkap.
Willi menelepon seseorang.
"Siapkan mobil, aku mau berangkat sekarang! " nya.
Di apartemen nya, Robby masih lagi mengucek-ngucek matanya.
Setelah menerima telepon, Robby berusaha membuka lebar matanya. Menatap layar ponsel dengan mata menyipit. Karena silau setelah bangun tidur.
"Bukan kah ini terlalu awal? "
Robby memejamkan kembali matanya. Rasa ngantuk masih menyerang.
Setelah setengah jam. Mata Robby terbuka lebar.
"Ya Tuhan, apa yang ku lakukan? Bisa marah tuan Willi kalau begini. " dia lihat jam di ponsel nya.
"Bisa mampus aku, sudah setengah jam lebih. Aduh mati aku mati! " Robby melompat dari tempat tidurnya dan menghambur ke kamar mandi.
Karena waktu yang cukup mepet , tidak ada waktu untuk menikmati pagi yang indah.
Setelah memakai baju dan celana, tanpa jas Robby pergi begitu saja.
Ketika tiba di parkiran bawah, Robby meraba-raba kantong celana dan kemejanya.
"Kemana kunci ku? "
"Ah, tinggal di dalam kamar. Sial! " Robby buru-buru kembali lagi kedalam lift menuju apartemennya.
Setelah apartemen terbuka, Robby menerobos kedalam kamar dan segera keluar.
Setelah di bawah, dia dengan cepat meluncur ke kediaman Willi. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 7 lebih. Beberapa ruas jalan terlihat ramai. Dan tidak memungkinkan untuk ngebut.
"Tuk tuk tuk! "
Robby mengantuknya kepalanya ketika menunggu lampu merah. Di dalam hatinya sudah merasakan takut jika berhadapan dengan Willi.
"Aduh, lama sekali lampu merah ini berganti. Kenapa harus selama ini! " Robby tak putus-putus merutuki dirinya yang ceroboh.
Setelah melewati lampu merah, Robby berusaha mengejar kecepatan lampu merah berikutnya. Tapi sungguh sial, ternyata kecepatan nya tak lebih cepat dari pertukaran lampu jalan.
"Ah, sial! "
__ADS_1
Dia kembali menelan kekecawaan dan di dalam hatinya sudah merasa tidak tenang.
Lampu jalan sudah terlewati, Robby fokus untuk membelah jalan agar cepat sampai dirumah Willi.
Setelah perjuangan hampir 30 menit lebih, Robby tiba di depan rumah mewah itu.
Ketika masuk, tubuhnya sudah merasai kedinginan. Bukan karena ac atau cuaca yang mendung. Karena sosok Willi yang sudah duduk bersilang kaki dan kedua tangan bersedekap di dadanya.
"Tu-tuan! " Robby mulai ketar ketir.
"Kenapa kamu lama? " tanya Willi dengan suara dalam.
"Ma-maaf tuan, sa-saya kena macet! " jawab Robby tergagu-gagu.
Willi menaikkan sebelah alisnya. Melihat wajah Willi yang santai, Robby semakin takut.
Lebih baik menerima bentakannya, pada diam nya yang bermakna semua tidak baik-baik saja.
"Kenapa dia begitu tenang, apa yang akan dia lakukan? " batin Robby dan mata nya tidak berani memandang ke arah Willi walau sebentar.
Willi berdiri dan memasukkan sebelah tangannya pada saku celana.
"Ayo kita pergi! " ajak nya.
Robby yang masih takut menuruti permintaan tuan nya.
Ketika dipintu utama, Willi mendadak berhenti.
Karena Robby yang tidak fokus dengan jalannya dan.
"Brukk." dia menabrak belakang Willi.
Dan sontak saja membuat tubuh Willi terdorong kedepan.
Robby terkejut bukan main. "Maaf tuan, maaf! " Robby menundukkan kembali pandangannya.
"Robby! " panggil Willi.
"Ya tuan! " jawabnya.
"Sudah berapa lama kamu kerja dengan ku? " tanya Willi serius.
"Su-sudah 7 tahun tuan! " jawab Robby.
__ADS_1
"Jadi! Kenapa kamu masih seperti tidak mengenalku? "
"Maaf tuan, saya merasa bersalah atas keterlambatan saya hari ini! " jelas Robby.
"Ah sudah lah, ayok kita pergi! " ajak Willi meninggalkan Robby.
Mereka pun masuk kemobil .
"Tuan mau pergi kemana? " tanya Robby.
"Huufff! " Willi menghempaskan nafas kasar.
"Ada apa dengan tuan Willi hari ini, apa dia sedang kesurupan? "Robby menatap kaca depan, masih merasa janggal dengan sikap Willi hari ini.
" Apa yang kamu perhatikan? Kalau ingin mengutarakan sesuatu katakan saja!" ucap Willi tiba-tiba.
Robby merasa kikuk ketika aksinya di ketahui sang majikan.
"Tidak ada tuan, saya hanya merasa hari ini tuan seperti berbeda." jelas Robby.
"Kau masih memikirkan Vivian! " ucap Willi.
"Bukankah dia masih istri anda, seharusnya tuan ajak dia tinggal dirumah besar. " saran Robby.
"Tapi! Ada yang masih aku ragukan! " keluh Willi.
"Apa yang tuan ragukan? " tanya Robby.
"Masalah anak itu! Anak siapakah dia?" Willi terlihat ragu.
"Bisa saja dia adalah anak tuan! "ujar Robby.
" Tapi apa mungkin? Melihat kedekatannya dengan Jeremy aku jadi sangsi! " jelas Willi.
"Tuan bisa melakukan tes DNA! " usul Robby.
"Aku juga sudah memikirkan itu. Tapi Bagaimana caranya, apa aku harus meminta langsung dengan Vivian? "
tanya Willi.
"Itu namanya bunuh diri, kenapa bukan tuan sendiri saja yang ambil, dengan belikan dia mainan dan ketika anak itu mendekat tuan bisa mengambil beberapa helai rambutnya. " Robby menjelaskan.
"Itu juga bukan hal mudah, Vivian pasti menjaga anak itu! " jawab Willi.
__ADS_1
Robby pun diam, dia merasa Willi sedikit linglung.
"Tidak mungkin nona Vivian marah, jika anaknya dibelikan mainan! " batin Robby.