Mr. Perfect and Ms Random

Mr. Perfect and Ms Random
eps 12.PERSETUJUAN KONTRAK


__ADS_3

Robby kembali mengantarkan Vivian , dia tidak kembali ke kosan melainkan kerumah sakit.


"Terima kasih tuan..! " ucap Vivian setelah turun dari mobil.


Mobil bergerak pergi, sementara Vivian masih terpaku menatap kepergian Robby tersebut.


"Bagaimana ini, apakah keputusan ku sudah tepat. Bagaimana nantinya andai aku bertemu dengan orang yang sesungguhnya aku cintai? " Vivian masih ragu dengan keputusannya.


Dengan langkah gontai, dia masuk menuju rumah sakit. Dia menenteng tas tangan berwarna coklat. Disepanjang koridor rumah sakit, dia selalu di sapa oleh para perawat yang bertugas.


Tiba sudah dia didepan pintu , dimana mama nya dirawat. Tak ingin terlihat muram di depan mama nya. Seketika mimik wajahnya berganti ceria.


"Selamat malam Ma..! " ucap Vivian pelan.


Tapi tidak ada jawaban, dia masuk dan hampir tidak bersuara. Langkah kakinya diangkat pelan-pelan, agar tidak membangunkan Mamanya yang sudan terlelap.


Saat tiba, Vivian pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahnya.


Setelah selesai, dia merebahkan tubuhnya di atas sofa yang hanya ada sebuah saja.


Saat berbaring "Kruuukkk..! " suara perutnya seperti lapar.


"Aduh, lupa kalau aku belum makan malam..! "


Vivian bangkit dan mencari sekitar ruangan, apakah ada sesuatu yang bisa dimakan. Hanya ada buah apel , yang sebelumnya dia beli untuk mama nya.


"Hanya ada ini, tak apa lah. Dari pada lapar! "


Vivian mengkupas kulit apel tersebut, dan melahapnya. Sebiji apel sudah habis, perutnya mulai terasa berisi.


"Satu saja sudah cukup, asal tidak kelaparan saat tidur..! " batin nya.


Vivian kembali merebahkan tubuhnya, dalam hitungan jari, matanya yang sedari tadi sudah berat langsung tertidur.


Keesokan hari nya, saat di kantor. Vivian seperti hilang semangat, mengingat kembali kejadian malam tadi.


"Kamu harus semangat Vian, hidup itu harus di jalani bukan di sesali..! " tuturnya menguatkan diri nya.


Dia melangkah masuk kedalam perusahaan. Belum lagi masuk keruang kerjanya, Vivian melihat sosok Robby yang sudah memberi isyarat dengan tangan nya agar naik ke lantai atas.


Vivian menoleh kekiri dan kekanan, memastikan tidak ada orang yang memperhatikan. Setelah itu, dia pun masuk kedalam lift menekan lantai 20.Dimana ruang kerja CEO berada.


Setelah tiba dilantai atas, Vivian berjalan menuju ruang kerja Willi.


"Tok... tok... tok..! " suara ketukan pintu.


"Masuk..! " sebuah suara dari dalam.


Vivian membuka pintu dengan hati tak tenang. Tangan nya yang semula kering sekarang menjadi basah karena keringat. "Kenapa tangan ku jadi basah begini. Seperti ingin memasuki ruangan eksekusi saja..! " batin Vivian.

__ADS_1


Dia buka pintu, dan hanya terlihat Willi sendiri tanpa Robby.


"Mana pergi asistennya itu, jika harus berurusan dengan si bos kucluk makin ribet jadinya! " batin Vivian berjalan sambil menundukkan pandangannya.


Karena terlalu tunduk, sehingga Vivian lupa didepan nya ada sebuah lampu yang tengah berdiri.


"Brukk..! " suara tabrakan.


"Aduhh..! " Vivian kesakitan karena kakinya tak sengaja tersandung kaki lampu yang ada di sudut sofa.


Willo yang melihat kecerobohan Vivian hanya bisa menyembunyikan senyumnya.


Vivian duduk di sofa sambil mengelus kaki nya yang sakit.


"tok.. tok.. tok.. " kembali pintu di ketuk.


"Masuk..! " jawab Willi.


Pintu pun terbuka, tenyata itu adalah Robby dengan sebuah map berwarna biru.


Berjalan menuju meja Willi "Tuan, ini dia kontrak yang anda pinta..! " ucap Robby sambil menyerahkan map tersebut.


Willi menerima dan mambukanya "Tuan bisa baca dulu poin-poinnya, sebelum menyetujuinya. Kalau tuan merasa keberatan, saya bisa menggantinya dengan yang lain.!" jelas Robby.


Willi membaca satu persatu isi kontrak tersebut dan tak lupa memberikan satu pada Vivian.


1.Kontrak bertahan hanya 1 tahun saja.


2.Pihak kedua tidak boleh memberitahu orang lain.


3.Pihak kedua tidak berhak melarang pihak pertama.


4.Pihak kedua harus tinggal bersama pihak pertama.


5.Tidak ikut campur urusan pihak pertama.


Setelah membaca urutan kontrak, mata Vivian menyipit.


"Apa kita sudah bisa menandatangani kontraknya " ucap Robby.


"Tunggu.." sanggah Vivian.


Willi dan Robby saling berpandangan "Ada satu yang kalian lupakan..! " ucap Vivian.


"Apa lagi yang terlewat nona..? " tanya Robby serius.


"Disini tidak dijelaskan bahwa pihak pertama dilarang melakukan kontak fisik terhadap pihak kedua..! " imbuh Vivian.


"Mungkin poin itu tidak perlu ditambah, karena aku tidak akan menyentuh mu walau seujung rambut..! " ucap Willi remeh pada Vivian.

__ADS_1


"Tidak, poin-poin ini hanya menguntungkan pihak pertama, tapi tidak menjaga pihak kedua..! " bantah Vivian.


"Mungkin poin itu tidak terlalu perlu..! " ucap Robby sembari senyum.


"Tidak, aku tidak mau . Pokoknya poin itu penting. Tidak ada jaminan bahwa kamu tidak akan menyentuh ku. Tidak ada kiss dan tidak ada tidur bareng..! " Vivian semakin berani menyampaikan apa yang dia fikirkan.


Willi dan Robby saling berpandangan. Robby mengangkat alisnya pada Willi "Baiklah, aku menyetujui poin itu.! " ucap Willi.


"Dimana pena nya..? " tanya Willi.


Robby mengambil pena dari kantongnya "Ini tuan..! " Robby menyerahkan kepada Willi.


Willi menuliskan poin yang disebut kan oleh Vivian tadi.


Vivian mengambil pena dari tasnya dan menambah satu lagi yaitu poin ke 6.


"Bagaimana,sudah selesai? " tanya Robby.


Vivian meletakkan kertas itu di atas meja, begitu juga dengan Willi. Setelah saling setuju, kontrak itu pun ditanda tangani kedua belah pihak.


"Ngomong-ngomong, berapa yang tuan berikan kepada saya.. ? " tanya Vivian tanpa segan.


"Saya akan memberikan kamu 2 milyar. Jika kontrak telah usai maka akan aku tambahkan 2 milyar lagi sebagai pesangon! " jawab Willi.


Mendengar jumlah uang yang tak sedikit, mulut Vivian terbuka lebar seakan tak percaya. Hanya berpura-pura menikah bisa mendapatkan keuntungan 4 milyar.


"Aku bekerja berpuluh tahun pun, takkan pernah terkumpul uang sebanyak itu..! " batin Vivian.


"Baiklah, sekarang kertas ini jangan sampai hilang. Apalagi sampai diketahui oleh orang lain.! " ucap Robby membuyarkan lamunan Vivian.


"Maaf, kapan kontrak ini berlaku..? " tanya Vivian.


"Setelah pernikahan kalian tercatat di catatan sipil. " jawab Robby.


"Malam besok, kamu harus bersiap-siap. Kita akan kerumah tante Rose. Agar dia yakin kalau kita sepasang kekasih.! " ucap Willi.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi..! " Vivian bangkit dari duduknya.


"Tunggu..! " Robby menahan Vivian.


"Satu hal lagi, kita tetap seperti biasa ketika berada di kantor. Dan saat berada dirumah kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Cukup disaat tante Rose datang, kamu berakting..! " Willi mengingatkan.


"Baik tuan, akan saya ingat..! " Vivian melangkah keluar.


"Semoga aku bertahan, hanya satu tahun saja. Semoga cepat berlalu. ! " gumam Vivian dengan wajah senyum sumringan.


Setelah berada diruang kerjanya "Dari mana kami Vi, aku kira kamu ga masuk kerja..? " tanya Berta.


Vivian senyum "Tadi ada urusan sedikit.! " jawabnya sembari duduk di kursi nya.

__ADS_1


__ADS_2