
Willi merasa frustasi dengan keadaan nya yang sekarang.
"Apakah harus aku menikahinya, aku tidak menginginkan wanita jal*ng itu! " bercerita dengan Robby.
"Tapi bagaimana dengan anak yang berada di dalam kandungan nona Anastasya. Anak itu tidak bersalah! " Robby mencoba menjelaskan.
Seketika Willi terdiam ditempatnya, memikirkan anak yang tidak bersalah.
"Kenapa hidup ku seperti ini, Vivian pergi tanpa kabar. Bahkan sampai sekarang aku tidak tahu keberadaannya!" umpat nya.
"Apa tuan mau saya bagi saran? " tanya Robby.
Alis Willi mengerut.
"Saran bagaimana? " tanya Willi.
"Bagaimana untuk saat ini tuan tidak perlu menikah dengan Anastasya. Cukup tuan beri dia uang sebagai tanda bertanggung jawab sampai anak lahir. Setelah anak itu lahir, tuan bisa melakukan tes DNA." saran Robby.
Willi menarik kedua sudut bibirnya.
"Sarannya mu cukup baik juga! " Willi tersenyum.
"Setelah melakukan tes DNA, andai terbukti dia darah daging tuan terpulang pada tuan sendiri. Mau menikahi nya atau bertanggung jawab tanpa menikah cukup memenuhi kebutuhan ekonominya! " jelas Robby.
"Terima kasih Robby sudah memberikan ku ide. " ucap Willi.
Willi mengambil ponsel nya dan menghubungi Anastasya.
"Datang lah kerestoran X jam 3 hari ini. Aku tunggu disana! " Willi langsung menutup teleponnya.
Anastasya tersenyum kegirangan setelah menerima telepon dari Willi.
Tepat jam 3 sore, Anastasya sudah tiba di restoran yang dijanjikan.
Terlihat dari jauh, Willi sudah menunggu nya dengan secangkir minuman.
Karena Anastasya begitu girang, sehingga tidak memperhatikan langkahnya. Seorang pelayan yang sedang membawa pesanan orang lain berjalan ke ingin melewati Anastasya.
"Praannggg" suara nampak dan gelas berhamburan jatuh kelantai.
Anastasya yang tidak menyangka terdiam sejenak.
"Apa kamu tidak punya mata ha? " Anastasya berang.
"Maaf nona, saya tidak sengaja! " pelayan itu ketakutan.
"Kamu lihat baju ku sekarang sudah kotor! Bisa kamu ganti? "Anastasya semakin menjadi-jadi.
Willi melihat keramaian itu dan merasa penasaran dengan suara wanita yang sedang marah-marah. Dia pun mendekat, dan tak percaya wanita yang dia dengar marah-marah tersebut adalah Anastasya.
Willi berdiri tepat di depan Anastasya.
" Bisa tidak suara nya pelan? " timpal Willi.
Anastasya melongoh "Will, lihat baju ku kotor. Gara-gara pelayan sinting ini! " Anastasya bersifat manja di depan mata yang memperhatikan nya.
Melihat wajah Willi dingin seperti pembunuh. Pelayan tadi merasa takut, kalau-kalau Willi mendaratkan pukulan di wajahnya.
__ADS_1
"Maafkan saya tuan, saya tidak sengaja. Saya tidak melihat nona ini datang dari arah sana! " pelayan menunjuk arah ke pintu.
"Sudah, kamu pergi lah kembali bekerja! " ucap Willi dengan suara pelan.
Melihat Willi yang seakan tidak memperdulikannya. Anastasya menangis manja.
"Sudah lah, begitu saja kamu sudah ribut! " Willi menjadi emosi.
"Tapi dia sudah membuat baju ku kotor! "
"Pergi lah bersihkan ke kamar mandi! " ujar Willi.
Dengan malas Anastasya berjalan ke kamar mandi. Disana tak habis-habisnya dia mengumpat pelayan tadi.
"Pelayan sial*n, untung saja ada Willi. Kalau tidak sudah aku tuntut restoran ini! " umpat nya sambil membersihkan pakaiannya.
Setelah selesai, dia berjalan menghampiri Willi yang kembali duduk di bangku sebelumnya.
Melihat dari atas ke bawah, Willi merasa penampilan Anastasya sedikit berantakan dan hampir saja membuatnya melepaskan tawa.
Melihat dirinya diperhatikan, Anastasya merasa percaya diri.
"Apa yang kamu lihat, apa hari ini aku cantik? " Anastasya percaya diri.
"Aku datang kesini bukan untuk bicara masalah itu. Aku ingin membicarakan hal lain! " jelas Willi.
Anastasya mengangkat sebelah alisnya.
"Apa yang ingin kau bicarakan? " tanya nya.
Air muka Anastasya berubah, dari yang terlihat santai menjadi serius.
"Apa kamu meragukan ku? "
"Ya, sebagai seseorang yang sudah mengenal mu. Aku tidak percaya sebelum anak itu lahir dan akan melakukan tes DNA! '
Anastasya menegang, takut kalau suatu saat nanti Willi tahu tentang penipuannya.
" Sampai kapan aku harus menanggung malu Will. Perut ku akan semakin membesar dan orang-orang akan mencibir ku! "Anastasya memasang wajah sedih.
" Untuk saat ini aku akan bertanggung jawab! " jelas Willi.
Mendengar kata tanggung jawab, seketika Anastasya tersenyum.
"Kamu akan menikahi ku kan?
Willi menggeleng.
" Aku akan bertanggung jawab dalam bentuk ekonomi, bukan menikahi mu! "
Anastasya merasa terpuruk, karena rencana nya tidak semulus yang iya bayangkan.
"Heh,aku tidak butuh uang mu. Aku mau kau menikahi ku! " Anastasya membesarkan suaranya.
Beberapa orang menatap ke arah mereka berdua.
Sadar ada mata yang sedang memperhatikan mereka berdua. Willi memegang tangan Anastasya.
__ADS_1
"Kau tenanglah, aku akan menikahi mu saat anak ini terbukti darah daging ku!"
"Aku mau kau menikahi sesegera mungkin Will. Aku berani jamin anak ini adalah darah dagingmu! "
Willi hanya diam, merasa pertemuan dengan Anastasya ini tidak mendapatkan jalan keluar.
Willi berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan Anastasya sendiri.
"Will..! "
"Willi!! " teriak Anastasya.
Willi terus saja berjalan tanpa menoleh kebelakang.
Di dalam mobil "Perempuan ibl*s, aku tahu maksud mu memaksa ku untuk menikahimu! "
Anastasya yang dalam keadaan berantakan pulang dengan kesal. Sepanjang jalan dia hanya mengumpat. Mulai dari Willi sampai pelayan sebelumnya.
"Hari ini begitu si*l, gara-gara pelayan itu baju ku kotor. Bahkan Willi mempermalukan ku restoran! " Anastasya memukul setir nya berkali-kali.
Sampai dirumah, Anastasya melemparkan tas nya sembarangan.
Rega yang melihat wajah Anastasya bisa menebak bahwa dia tidak baik-baik saja.
Rega mendekat.
"Kenapa sih? " tanya situlang lunak.
Anastasya menangis dan memeluk rega dengan erat. Air matanya membasahi bahu lelaki kemayu itu.
Rega pelan-pelan menepuk lembut pundak Anastasya.
"Ada apa denganmu? " tanya Rega
"Hari ini aku begitu si*l, mulai dari seorang pelayan sampai Willi yang menolak untuk menikah ! " jelasnya.
Rega melepas pelukan temannya itu. Melihat baju Anastasya yang kotor, Rega sudah bisa menebak apa yang terjadi.
"Sudah lah jangan menangis lagi, nanti cantiknya hilang! " rega mengusap air mata temannya.
Anastasya pun beranjak pergi menuju kamar mandi. Setelah berganti pakaian, Anastasya kembali menghampiri Rega yang sedang menikmati siaran televisi.
Melihat Anastasya yang sudah tenang, Rega pun menarik tangan Anastasya duduk di sampingnya.
"Apakah Willi menolak menikah dengan mu? " tanya Rega.
"Hemm! " jawabnya mengangguk.
"Jadi bagaimana selanjutnya, suatu saat nanti papa dan mama mu akan tahu juga kehamilan mu? "Ujar Rega.
" Hhuuffff!" Anastasya menarik nafas dalam.
"Apa aku pergi saja sampai anak ini lahir? "Anastasya mulai bingung.
" Apa kamu tidak bertemu Willi tadi? "tanya Rega.
" Aku bertemu , hanya saja dia belum ingin menikah. Untuk saat ini dia hany bertanggung jawab secara finansial." jelas Anastasya.
__ADS_1