
Sembilan bulan sudah kandungan Vivian, hari ini adalah jadwal mereka periksa ke dokter.
"Semua terlihat baik-baik saja, letaknya juga sangat bagus. Harus lebih banyak istirahat agar bertenaga saat melahirkan nanti! " jelas Dokter.
"Terima kasih dokter! " ucap Vivian dan mereka pun segera keluar dari ruang periksa.
Di jalan pulang.
"Sayang, aku pengen makan kelapa muda! " ucap Vivian.
"Baiklah, nanti kita cari! ".
Sepanjang jalan, mereka mengarahkan mata ketepi jalan. Tapi tidak menemukan orang yang berjualan kelapa muda.
" Mungkin sore baru ada jualannya tuan,"ucap Robby.
Willi menoleh pada Vivian. Terlihat wajahnya begitu murung. Rasa kecewa menyerang karena dia ingin minum saat itu juga.
"Nanti sore saja kita cari ya, mungkin ini belum siang! " rayu Willi agar Vivian tidak merajuk.
Tapi usaha nya sia-sia, sudut mata Vivian mulai berbinar.
Willi menjadi serba salah, dia mengepal tangannya. Selama kehamilan, Vivian tak ubahnya anak 4 tahun yang mudah sedih dan sensitif.
"Oke, oke baiklah ! Kita akan cari. Robby usahakan dimana menanam pohon kelapa! " minta Willi pada Robby.
Robby berfikir keras, dimana ada tanaman kepala.
"Ada tuan! " Robby ingat.
"Baiklah, kita kesana sekarang! " mobil pun melaju menuju tempat yang Robby ingat.
1 jam perjalanan, mereka tiba di sebuah desa yang masih terlihat asli tanpa sentuhan bangunan modern.
Willi melihat kekiri dan kekanan, hanya ditumbuhi semak belukar.
"Robby, apa kamu yakin disini tempatnya? " Willi mulai ragu.
"Iya tuan, saya yakin. Terakhir kali saya kesini bersama ponakan! " jawab Robby yakin.
Alis Willi mengerut.
"Ponakan katamu, memang nya kamu punya saudara disini? " tanya Willi heran.
"Bukan tuan, saat itu kami sedang bepergian. Kami singgah kesini hanya sekedar bermain di pantai nya!
Vivian menelisik kekiri dan kekanan.
" Apa di tempat seperti ini ada pantai? " Vivian merasa tak percaya.
"Ada nyonya, jaraknya tidak jauh! " ucap Robby.
Vivian hanya menganggukkan kepalanya.
Karena jalan yang tidak rata dan hanya terbuat dari tanah gajian. Mobil tidak bisa berjalan terlalu cepat. Dan bahkan goncangan semakin lama semakin terasa.
"Robby, apa tidak ada jalan lain? " Willi terlihat kesal.
"Hanya ini jalan satu-satu nya tuan, jalan yang lain saya tidak tahu. Sebelumnya saya hanya mengikut arahan dari google! " jawab Robby.
"Plak! " Willi menepuk jidatnya.
"Hahaha! " Vivian tertawa karena Willi mau saja mengikuti Willi.
"Andai saja ada tempat lain yang lebih jauh, aku memilih untuk berjalan jauh dari pada melewati jalan ini! " keluh Willi.
"Sudah lah, mungkin sebentar lagi kita sampai! " Vivian berusaha menenangkan suami nya yang terlihat kesal.
Sepuluh menit kemudian.
"Kita sudah sampai tuan! " Robby menghentikan mobil disebuah desa yang terlihat asri .
Vivian menurunkan kaca mobil. Terdengar hempasan ombak yang terbawa oleh semilir angin.
"Aku seperti mendengar deruan ombak. Dan bau ini khas sekali! " Vivian menarik nafas panjang.
__ADS_1
Tercium bau khas tepian laut.
Mereka pun keluar dari mobil, Robby berjalan menuju sebuah rumah gang5 tampak kecil dan dikelilingi pohon kepala .
"Permisi! " Robby berusaha mencari orang yang ada di dalam rumah itu.
Seorang lelaki paruh baya keluar dari dalam rumah.
"Maaf mengganggu pak! " Robby menyapa.
"Ya, ada apa? " tanya lelaki itu.
"Kami ingin membeli kelapa muda, untuk nyonya saya disana! " Robby menunjuk Vivian yang sedang duduk di sebuah ayunan yang terikat ke pohon.
Lelaki paruh baya menyipitkan matanya melihat ke arah Vivian dan Willi.
"Silahkan, silahkan.Ambil saja! " lelaki paruh baya itu mempersilahkan mereka untuk mengambil.
"Terima kasih pak! " Robby pun berjalan menuju Willi.
"Kata yang punya rumah, silahkan tuan! " Robby menyampaikan persetujuan lelaki tua tersebut.
Mata Vivian terlihat berbinar setelah mendapat persetujuan.
Willi memandang Robby dengan seksama.
"Apa ada yang salah tuan? " tanya Robby heran karena diperhatikan.
"Kenapa bukan kamu yang panjat? " tanya Robby.
Mata Robby terbelalak.
"Aku!"
"Ya, apa harus aku? "
Vivian bangkit dari ayunan nya.
"Sayang, aku mau kamu yang manjat! " sanggah Vivian.
Robby membuang wajahnya tertawa.
Willi memandang malas ke atas pohon kelapa.
"Sayang, kamu tahu sendiri. Aku tidak pandai memanjat! " Willi beralasan.
Vivian mengerucutkan bibirnya.
Tak ingin membuat kecewa sang istri.
"Baiklah, aku akan memanjatnya! " Willi pun setuju.
Willi kesal melihat Robby yang seperti bahagia melihat Willi sengsara karena istrinya.
Willi memilih-memilih batang pohon dari pohon yang satunya kepohon yang lainnya.
"Tapi sayang, pohon kelapa ini semua nya tinggi. Aku takut ketinggian! " ujar Willi.
Vivian semakin terlihat sedih, setelah mendengar alasan Willi.
"Baiklah, baiklah! "
"Robby, ada cara lain tidak selain memanjat pohon ini?" tanya Willi.
"Aku tanya pada yang punya dulu." Robby kembali menuju rumah tadi.
"Maaf pak, ada alat yang bisa digunakan untuk menurunkan kelapanya? " tanya Robby.
"Apa kalian tidak pandai memanjatnya? " tanya lelaki tua tersebut.
Robby menggaruk kepala nya yang tak gatal.
"Tunggu sebentar! " lelaki paruh baya itu keluar dan berjalan menuju ke samping rumah.
"Gunakan ini, tidak perlu memanjat! " lelaki itu memberikan sebuah kayu yang cukup panjang untuk mengait kelapanya.
__ADS_1
Dengan susah payah, Robby membawa kayu yang sedikit berat itu pada Willi.
"Tu-tuan, coba gunakan ini.A-agak sedikit berat! " Robby berusaha membuat kayu itu berdiri.
Melihat Robby yang kesusahan, Willi segera membantu Robby .
Merasa ringan, Robby melepaskan pegangan nya . Dan sontak saja membuat Willi keberatan.
"To-tolong bantu berdiri kan! " Willi keberatan.
Robby kembali menangkap kayu yang terasa begitu berat.
Vivian hanya bisa melihat dua orang lelaki yang sepertinya tanpa tenaga tersebut.
"Apakah seberat itu? " tanya Vivian.
"Apa kamu mau coba? " tanya Willi balik.
"Tidak, aku tidak mau. Melihat nya saja aku sudah tahu! " beralasan.
Willi dan Robby berusaha menjuluk kelapa yang sedikit lebih rendah dari yang lainnya.
Berusaha untuk menurunkan buah kelapanya. Tapi tidak membuah kan hasil. Keringat terlihat mengucur dari kening dan leher Willi dan Robby.
"Ini tampaknya tidak mudah tuan! Bagaimana kalau kita minta tolong dengan warga saja? " saran Robby.
Mendengar ucapan Robby Vivian tak setuju sama sekali. Kepala nya menggeleng.
"Kita haru tetap berusaha! " ucap Willi.
Setelah perjuangan setengah jam lebih, akhirnya dua buah kelapa muda jatuh bersamaan.
"Wah, sudah dapat! " Vivian terlihat bahagia.
Setelah memastikan kelapa itu benar-benar muda. Willi dan Robby menyandarkan kayu tersebut kesalah satu pohon kelapa.
"Hah hah! " Wili dan Robby ngos ngosan setelah perjuangan setengah jam lebih.
Robby menuju rumah lelaki paruh baya tadi.
"Permisi! " panggil Robby.
Lelaki paruh baya pun keluar.
Robby mendekat dan mengulurkan beberapa lembar uang merah.
"Terima kasih pak sudah memberi kami kelapa mudanya! " ucap Robby sembari menyerahkan uang yang ditangannya.
"Tidak usah, ambil saja uang nya." lelaki paruh baya itu menolak uang pemberian Robby.
"Tapi pak, ini sekedar terima kasih. " ucap Robby masih memaksa.
"Tidak apa-apa, hanya beberapa buah saja, " lelaki itu bersikeras tak mau menerima pemberian Robby.
Karena tetap menolak, Robby pun hanya bisa pamit setelah berterima kasih.
Robby mendekat ke arah Willi. "Tuan, dia tidak mau di bayar! "
"Mungkin uangnya kurang banyak! " celetuk Willi.
"Tidak tuan, berapa pun dia tidak akan terima uangnya . Karena hanya beberapa buah kelapa! "
Vivian yang mendengar penjelasan Robby. Menarik tangan Willi menuju rumah pria tersebut.
"Pak, terima kasih kelapa mudanya.Kami mohon ijin mau pulang dulu." ucap Vivian sembari mencubit halus tangan Willi yang hanya diam saja.
"Apaan sih! " bisik Willi.
"Ucapkan terima kasih napa? " pinta Vivian.
"Terima kasih pak kelapa mudanya! " ucap Willi.
Lelaki paruh baya itu hanya tersenyum, dan memperlihatkan beberapa buah gigi nya yang sudah ompong.
"Iya ! " balas Lelaki tersebut.
__ADS_1
Karena sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Willi, Robby dan Vivian kembali menyusuri jalan yang mereka lalui tadi.