
Saat lepas siang, Vivian bangkit dari tidur nya.Dia terlihat kurang sehat, Willi setia mendampinginya.
"Kamu makan dulu ya , lihat wajahmu terlihat pucat! " ujar Willi.
Wajah Vivian tanpa reaksi.
"Aku tidak selera makan. " jawab Vivian.
"Pak Im buatkan bubur untuk istri saya! " perintah Willi pada asisten nya.
"Baik tuan. " pak Im pun pergi kedapur membuat bubur spesial untuk nyonya nya.
Setelah setengah jam, Pak Im pun datang membawa mangkuk berisi bubur.
"Ini tuan, masih panas! " Pak Im menyerahkan mangkuk ketangan Willi.
Saat suapan pertama.
"Buka mulutnya. " pinta Willi.
Vivian menuruti permintaan suaminya.Suapan baru di didepan hidung.
"Hueekk! " Vivian mual dan bereaksi ingin muntah.
Willi meletakkan mangkok tersebut dan menepuk lembut punggung istrinya.
"Kamu kenapa sih tadi malam masih baik-baik saja! " keluh Willi.
"Aku juga tidak tahu, "
Willi berjalan keluar dari kamar.
"Pak Im hubungi dokter sekarang, "
Pak Im bergegas keruang depan, dan melalui telepon rumah. Pak Im menghubungi dokter keluarga.
Dua puluh lima menit kemudian, datang sebuah mobil. Pak Im yang sudah menunggu didepan menghantar dokter ke kamar besar .
Dokter pun memeriksa Vivian yang sedang terbaring.
"Kapan terkahir kali nyonya datang bulan? " tanya sang dokter.
Mata Vivian mengarah ke pada Willi.
"Mungkin sekitar bulan lalu! " ucapnya kaku.
Dokter pun tersenyum.
"Nyonya Vivian besar kemungkinan hamil. Dan untuk memastikan nya, besok tuan Willi dan istri datang saja ke rumah sakit! " saran dokter.
Willi terperangah atas apa yang di katakan dokter.
Vivian mengelus perutnya yang rata.
"Kenapa secepat itu, padahal aku meminum pil ku setiap hari? " batin nya masih bingung.
"Aku akan resepkan obat ! " dokter mencatat nama-nama obat.
Sebelum dokter beranjak, Willi menahan tangan sang dokter.
"Apa mungkin istri saya hamil, sementara dia setiap hari meminum pilnya? " tanya Willi meminta kejelasan.
"Bisa saja tuan, banyak kejadian seperti itu dan bahkan bukan masalah yang baru lagi! " jawab Dokter.
Willi hanya mengangguk.
Dokter berjalan kepintu, yang sudah di tunggu oleh pak Im.
"Mari saya antarkan dokter! " pak Im mengantarkan sang dokter keluar.
Willi merasa bahagia disebalik kehamilan istrinya. Tapi ada rasa kasihan padanya, melihat istri nya yang terlihat lemah.
Tiga bulan berlalu.
Alfa akan berangkat ke sekolah, semenjak kehamilan Vivian semua kebutuhan anak itu diserahkan pada Liana.
__ADS_1
Sehingga Liana harus berhenti bekerja, karena membantu sahabatnya.
Alfa tidak mau kalau harus bersama pembantu yang tinggal di mansion itu.
Robby masuk kedalam rumah.
"Apa tuan muda Alfa sudah siap? " tanya nya pada Pak Im.
"Sudah, sebentar lagi mereka keluar! " jelas Pak Im.
Dan benar saja, pintu kamar terbuka. Liana dan Alfa sudah keluar dari dalam kamar dengan tas dan bekal makan yang di bawa oleh Liana.
"Kita berangkat sekarang? " ajak Robby
Mereka bertiga pun melangkah menuju mobil.
Setelah mengantar Alfa kesekolah, Liana dan Robby pun pergi.
"Kamu sudah sarapan? " tanya Robby.
"Aku belum sarapan, karena harus mengurus keperluan Alfa dulu! " jawab Liana.
Di antara Liana dan Robby sudah tidak ada rasa canggung lagi. Dan bahkan Robby selalu berlaku manis terhadap Liana.
Tapi dia saja yang belum menyadari hatinya.
Mobil menuju sebuah restoran, Liana tidak menolak sama sekali.
Setelah mereka menikmati sarapan nya. Mereka pun kembali kekediaman Hudson.
Willi sudah siap-siap dan rapi, hanya menunggu kedatangan Robby saja.
Sesaat kemudian Robby pun tiba.
Willi bergegas menuju keluar, dan Liana pun segera masuk.
Dan saat ini Liana diminta oleh Vivian untuk tinggal bersamanya. Sebagai asistennya juga, sehingga Liana rela meninggalkan pekerjaan nya yang lama demi menjaga sahabatnya itu.Dan bukan sekedar menolong biasa. Willi juga setiap bulan selalu memberi uang ke rekening Liana.
Semua kebutuhan nya semenjak tinggal di mansion itu selalu terpenuhi.
Saat jam makam siang, Vivian turun dari ranjangnya.
Semenjak kehamilan nya, Vivian semakin kurus dan makannya tidak teratur.
"Biar aku saja! " Vivian mengambil sendok yang ada ditangan Liana.
Vivian menyuap sendiri makanannya, walau terasa berat untuk menelannya. Tapi demi anak yang didalam kandungannya.
Liana membiarkan Vivian melahap menyendok makanannya sendiri.
Keesokan hari nya.
"Hari ini jadwal kamu periksa! " Willi mengingatkan.
"Ah, malas rasanya kalau harus keluar rumah! " Vivian malas.
Willi mendekat dan memeluk tubuh istrinya terlihat pucat.
"Kamu harus pergi sayang, agar kandungan dan ibu nya juga sehat! " rayu Willi.
"Baiklah, tapi kamu temani aku kan? " Vivian menempel manja.
"Ya, aku akan menemani! "
Vivian pun bangkit di bantu oleh Willi.
Saat semua sudah selesai, Willi membantu Vivian menuruni anak tangga. Dia takut sang istri terjatuh karena tubuhnya yang lemah.
"Kita ke rumah sakit! " ucap Willi pada Robby.
"Baik tuan! " Mobil pun malaju menuju rumah sakit.
Setelah sampai, Willi mengambil nomor antrian.
Karena tidak terlalu ramai, setelah seseorang keluar dari ruangan periksa dokter. Nomor antrian Willi pun di panggil.
__ADS_1
"Silahkan berbaring nyonya, " minta sang dokter.
Vivian pun baring di tempat tidur yang agak tinggi itu.
Dokter melakukan pemeriksaan melalui komputer.
"Semua terlihat sehat! " dokter menunjuk monitor yang ada didepan nya.
Vivian tersenyum melihat layar komputer yang begitu jelas.
"Kira-kira jenis kelaminnya apa dokter? " tanya Willi penasaran.
"Untuk saat ini, jenis kelamin nya belum bisa di pastikan. Karena masih berumur 3 bulan! " jelas dokter.
Vivian memukul halus tangan suami nya yang terlalu kepo.
Willi menoleh dan tersenyum.
"Dua bulan lagi kita akan mengetahui jenis kelaminnya! " ucap Dokter.
Vivian bangkit dan turun dari tempat tidurnya.
Setelah selesai, mereka pun menuju jalan pulang.
Saat di jalan, tak sengaja mata Vivian tertuju pada jajanan tepi jalan gula-gula kapas.
"Seperti nya jajanan itu terlihat enak? " mata Vivian tertuju pada pedagang diluar.
"Berhenti! " ucap Vivian.
Dan sontak saja Robby menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba.
"Mau apa? " tanya Willi.
"Aku mau gula-gula kapas, "Vivian menunjuk arah keluar.
"Tapi sayang itu makanan tepi jalan, aku tidak jamin steril! " sanggah Willi kurang setuju.
Mata Vivian menatap tajam kearah Willi. Buliran air keluar dari sudut matanya.
Melihat Vivian yang bersedih, Willi pun merasa kalah.
"Robby, kamu keluar belikan yang itu! " pinta Willi
Saat Robby akan keluar.
"Aku tidak mau kalau Robby yang belikan. Aku mau nya kamu! " rengek Vivian.
"Tapi sayang, kan sama saja! "
"Pokoknya aku mau kamu yang kesana! " Vivian membuang pandangannya sambil melipat kedua tangannya didada.
"Hhuuuff! " Willi menarik nafas dalam.
"Baiklah, aku yang keluar. " mau tidak mau Willi sudah pasti kalah.
Dia keluar sambil berlari kecil menghampiri pedagang.
"Pak gula-gula kapasnya 5 bungkus! " minta Willi pada pedagang.
Penjual dengan senyum ramah, mengambilkan 5 bungkus gula-gula kapas yang sudah di bungkus dan digantung.
"Ini tuan! " pedagang menyerahkan gula-gulanya.
Willi mengambil dompetnya dan menarik selembar uang dengan nominal besar dan menyerahkan nya pada pedagang.
Pedagang melihat uang berwarna merah tersebut.
"Maaf tuan, apa tidak ada uang kecil. Saya baru keluar, tidak ada kembalian! " jelas Pedagang.
"Tidak apa-apa, kembalian nya ambil saja buat bapak! " ucap Willi dan berlalu pergi.
"Terima kasih tuan! " ucap Pedagang sedikit berteriak karena posisi Willi yang sedikit jauh.
Setelah di dalam mobil.
__ADS_1
"Ini! " Willi menyerahkan gula-gula itu pada Vivian.
Tak di pungkiri, Vivian terlihat lebih mirip anak-anak kegirangan.