
Jalan pulang menuju kediaman Willi, Vivian sama sekali tidak bicara apa pun. Dia marah, ketika Willi menyentuh tangannya dengan kasar Vivian menghempas lengan pria itu.
"Ingat Vivian, kamu masih lagi istri ku. Dan aku bisa saja melakukan apa pun.! " ucap Vivian sembari menatapi Vivian yang mengenakan rok pendek di atas lutut.
"Dan kamu tuan juga harus ingat, bahwa kita hanya menikah kontrak! " balas Vivian tak mau kalah.
Willi menahan diri untuk tidak bertindak pada gadis itu.
"Kamu terlalu pemilih sayang, aku suami mu sekali pun tidak kau layani. Bahkan tersenyum pun kamu enggan. Tapi dengan sepupu ku, kamu bahkan mau dan rela dirangkul dan bahkan lebih dari itu! " ucap Willi kasar.
Air mata Vivian mengalir , karena perkataan suaminya.
"Aku tidak semurah yang kau fikirkan..! " ucap Vivian dengan mata memerah.
Vivian mencoba membuka pintu mobil, tapi dikunci secara otomatis.
"Mau kemana kamu, ingin pergi lagi dari ku? " Willi berusaha menahan tangan Vivian.
Entah apa yang merasuki Willi, dia berusaha menarik wajah Vivian agar mengarah pada nya.
Tapi Vivian berusaha terus-terusan memberontak.
"Lepaskan aku, kau laki-laki ba**ngan..! " teriak Vivian.
"Diam, kau akan tahu seperti apa baj**gan ini! " ucap Willi meninggikan suaranya.
Willi dengan ganas menc**mi pipi Vivian, tapi dia terus saja mengelak.
Willi meraih leher jenjang Vivian "Aahh..! " Vivian meringis karena perlakuan kasarnya.
Robby yang berada didepan, mencuri pandang dari kaca depan. Dia juga tidak berani berbuat apa pun. Pekerjaan nya yang akan jadi taruhan.
__ADS_1
Robby merasa kasihan pada Vivian yang sedari tadi memberontak, tapi Willi selalu kasar dan berusaha untuk memaksakan kehendaknya.
Mobil pun tiba di rumah.Saat Willi keluar dari mobil, dua berusaha menarik tangan Vivian . Tapi dengan sekuat tenaga Vivian berusaha agar dia bisa lepas dari Willi. Tapi semua sia-sia.
Willi yang sedari tadi menahan untuk tak berlaku kasar, hanya bisa menghela nafas.
Mengumpulkan kekuatan, Willi menarik dan meletakkan Vivian di bahu nya. Seperti sedang mengangkut karung beras.
Vivian tetap berontak , cengkraman Willi begitu kuat. Sehingga tubuhnya tak bergeming.
Willi menggendong Vivian menaiki tangga, seakan tiada beban. Didalam kamar, tubuh Vivian dihempas saja ke tempat tidur besar dan empuk.
"Apa yang kamu lakukan? " Vivian dengan uraian air mata masih berusaha menghiba agar Willi melepaskannya.
Willi membuka baju jas dan kemeja nya serta membuangnya secara sembarangan.
Mata nya kembali tertuju pada Vivian yang meringkuk ditempat tidur.
Willi menaiki tempat tidur dan menarik tubuh Vivian.
"Apakah kamu tahu, bagaimana sakitnya mata ku melihat mu bersama Romie. Ya aku akui kita hanya menikah kontrak tapi sebagai laki-laki apakah kau tahu bagaimana perasaan ku.! "
Mata Vivian yang sembab terlihat sayu memperhatikan tubuh Willi yang hanya mengenakan celana. Dia tidak percaya, bahwa Willi bisa memiliki perasaan seperti itu.
"Kamu hanya mengetahui perasaan mu! Apakah kamu tahu bagaimana perasaan ku melihat mu dengan wanita lain! " ujar Vivian membalas ucapan Willi.
Willi yang awal nya seperti ingin menerkam, berhenti seketika.
Dia menatapi Vivian "Apa maksud mu? " tanya Willi.
"Ya, walau kita menikah kontrak tapi aku masih merasa cemburu ketika kamu bersama dengan wanita lain.! " bentak Vivian.
__ADS_1
"Wanita, wanita mana yang kamu maksud.? " tanya Willi tak mengerti.
"Sekertaris mu! Pandangan mu berbeda saat melihatnya. ! "
"Apa yang kamu fikirkan, dia sekertarisku dan kami pergi karena ada pekerjaan dan mengharuskan aku untuk bersama nya.! " jawab Willi.
"Itu kan kamu, matanya saja mengatakan hal yang berbeda! " Vivian semakin terlihat cemburu.
"Hahaha! " Willi tertawa mendengar ucapan istrinya.
Willi menghampiri Vivian yang masih terisak tangis. "Aku tidak tahu, entah sejak kapan aku merasa cemburu ketika kamu bersama wanita lain.! " aku Vivian.
Willi meraup tubuh wanita mungil itu, mendekap erat di dada bidang nya.
"Kamu tahu, aku sudah mencari mu dan bahkan sampai saat ini anak buah ku masih mencari mu di sekitar rumah sakit! " ucap Willi.
"Aku sudah lama tidak kesana, aku ingin sekali menemui nya! " Vivian semakin melembut dan tidak lagi berontak ketika Willi menariknya dalam pelukan.
Willi mencengkram rahang Vivian, mata mereka saling berpandangan.
Tak bisa lagi menahan perasaan, Willie mengecup bibir Vivian yang terlihat menggoda.
Vivian kaget dengan gerakan yang tiba-tiba dari Willi.
Willi terus saja ******* bibir mungil itu. Vivian yang tidak berpengalaman hanya menahan nafasnya.
Willi melepaskan ciuman nya "Apa yang kamu lakukan,apa kamu ingin mati? " Willi tersenyum.
Wajah Vivian memerah, dia menenggelamkan wajahnya dia lekuk leher Willi.
"Kenapa kamu mesti malu, bukan kah itu hal yang wajar!" Willi mengecup puncak kepala nya.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak terbiasa!" ucap Vivian.
Seketika Willi ingat kembali dengan foto sebelumnya. "Kenapa dia mesti malu, bukankah dia sudah pernah melakukan nya! " batin Wili.