
Dijalan pulang, Vivian tidak bisa menahan kantuk nya. Sesekali matanya terpejam, dan pada akhirnya terbuka kembali.
Lama-lama kantuk itu sudah menguasai nya. Kepala Vivian yang awal nya tersandar dibangku, menyender di bahu Willi.
Awal nya Willi merasa risih dan menolak kepala Vivian dengan telunjuknya. Terlihat tidak ada perlawanan, Willi pun membiarkan kepala Vivian tetap menyender dibahunya.
"Bagaimana tuan, nona Vivian tidur nya lelap. Apa kita antarkan kerumah nya saja? " tanya Robby.
"Kita pulang ke mansion saja, aku juga sudah lelah..! " jawab Willi.
"Baik tuan..! " ucap Willi menurut.
Akhirnya malam ini, Vivian menginap dirumah Willi.
Mobil sudah memasuki halaman, namun Vivian tidak sadar sama sekali. Sudah di bangunkan dan bahkan di toel-toel oleh Willi. "Nih cewek tidur nya mirip kebo..! " ucap Willi.
"Biar saja saya yang bawa nona Vivian kedalam tuan! " minta Robby.
Willi menancapkan pandangannya pada Robby.
Robby menjadi takut dan mengurungkan niatnya.
Willi membuka jas nya dan menyerahkannya pada Robby. Pelan-pelan Willi menggeser posisi Vivian, sehingga dia bisa menggendong tubuh mungil Vivian tersebut.
Didalam kamar tamu, dia meletakkan tubuh wanita itu pelan-pelan dan tak lupa menyelimutinya.
Memastikan tidak ada yang terlupa, Willi melangkah keluar.
"Maaf tuan, ini tas nona Vivian.! " ucap Robby.
Willi mengambil tas itu dan kembali masuk kedalam kamar. Meletakkan tas tersebut di atas nakas.
Diluar "Kamu pulanglah..! " ucap Willi pada Robby.
"Baik tuan..! " jawab Robby dan melangkah mundur.
Seperti biasa, ketika waktu kerjanya sampai tengah malam. Maka Robby akan membawa mobil Willi pulang kekediaman nya.
"Malam ini begitu melelahkan. Ingin rasanya cepat sampai dan tidur.! " keluh Robby.
Di rumah Willi, dia sudah berada didalam kamar. Sebelum tidur , dia akan membersihkan tubuhnya lebih dulu.
Setelah selesai, dia pun memilih baju untuk dia kenakan saat tidur. Tempat tidur yang nyaman seakan memanggil nya untuk tenggelam di dalam mimpi.
Willi menghempaskan tubuhnya yang lelah dan akhirnya tertidur.
Keesokan paginya, matahari begitu menyilaukan. Sehingga membuat mata tidak bisa menutupi rasa silaunya.
Mata Vivian berusaha untuk membuka, tapi kilauan matahari begitu menusuk.
__ADS_1
Vivian menutupi wajahnya dengan selimut agar bisa membuka matanya. Ketika dia sadar, dia kembali mengingat apa yang terjadi tadi malam.
"Kenapa warna selimutku berbeda..! " batin Vivian.
Dia menarik selimut dari wajahnya, melihat kesekeliling kamar. Dan alangkah terkejutnya dia "Aku berada di mana. Kenapa bukan di kamar ku..! " fikirnya.
"Tok.. tok.. tok..! " ketukan suara pintu.
Vivian kaget dan segera menghambur ke arah pintu. Membuka sedikit demi sedikit "Maaf nona, tuan Willi memanggil anda! " ucap Pak Im ART Willi.
"Iya, sebentar lagi saya turun..! " jawab Vivian dari sebalik pintu yang hanya menonjolkan wajahnya saja.
Setelah pak Im pergi, Vivian menyesali diri. "Kenapa kamu ceroboh sih, bagaimana kamu bisa berakhir disini tanpa kamu sadari. Dasar bo*oh..! " rutuk Vivian pada dirinya.
"Aduh, bagaimana aku harus menjelaskannya pada tuan Willi. Ya Tuhan, semoga ini bukan tanda-tanda kia*at.! " Vivian menyesali semua yang terjadi.
Vivian bebersih diri di kamar mandi "Aku tidak ada baju ganti lagi, ah masa bo*oh.Lagian siapa yang meminta dia untuk membawa ku kesini. Dia kan bisa membangunkan aku . " membela diri.
Vivian berjalan keluar pintu, menoleh ke kiri kekanan. Mencari dimana letak ruang makan nya.
Karena rumah yang terlalu besar, untuk mencari ruang makan harus berjalan keluar dulu dari kamar. Tidak seperti dirumahnya dahulu. Dari ruang makan pun, suara sudah bisa tembus ke dinding kamar.
Vivian berjinjit agar langkah kaki nya tidak terdengar , tapi "Ek-eheemmm..! " sebuah suara deheman dari belakang nya.
Langkah Vivian terhenti, pelan-pelan dia menoleh kebelakang. Tubuhnya perlahan mundur, ketika melihat Willi yang telah berada di dekatnya.
Vivian menunduk "Tapi tuan, aku tidak punya baju sama sekali disini. Dan tuan juga tidak mau mengantarkan aku kembali kekosan..! " jawab Vivian tidak mau disalahkan.
Willi kesal, dia beranjak pergi. Vivian menuruti langkah bosnya dari belakang.
Ternyata Willi menuju ruang makan. Willi duduk di kursi paling ujung dari meja. Sementara Vivian hanya berdiri, tidak tahu apa yang dia lakukan.
Mata Willi memandang lekat ke arah Vivian, karena terlihat tidak tahu apa yang dia buat.
"Nona, duduk lah disini..! " ucap Pak Im dengan lembut.
Vivian tersenyum membalas ucapan Pak Im.
Vivian duduk di kursi yang berseberangan dengan Willi.
"Silahkan dimakan nona..! " ucap Pak Im.
Vivian melihat beberapa jenis makanan yang ada didepan nya "Apa ini tidak kebanyakan Pak? Saya tidak biasa makan dengan makanan sebanyak ini.! ucap Vivian dengan pandangan malu-malu.
Pak Im tersenyum " Nona boleh memilih, apa yang mau nona makan. Andai makanan ini nona tidak menyukainya, saya akan meminta pembantu untuk mengganti nya! " jawab Pak Im.
"Bukan..! Bukan seperti itu maksud ku pak. Saya makan apa saja yang ada, maksud ku ini terlalu banyak sampai aku bingung mau makan yang mana! " ujar Vivian.
"Hehehe..! " Pak Im terkekeh.
__ADS_1
Sementara Willi hanya bisa mengulum senyum nya.
"Nona, dirumah ini tamu tidak boleh pulang dengan keadaan lapar, apalagi tidak puas dengan makanannya. Jadi saya hanya melakukan yang terbaik.! " pungkas pak Im.
"Apa kau akan terus-terusan bertanya tanpa makan. Aku ingin segera berangkat, kalau kamu masih lama silahkan naik taksi saja..! " ucap Willi membuat ruangan menjadi hening seketika.
Vivian berhenti bertanya dan segera mencicipi sarapan yang ada didepannya satu persatu."Dari pada mubajir, kan dibuat juga memang untuk ku." fikir nya.
Willi memperhatikan cara makan Vivian yang tanpa rasa malu.
"Eeekkk...! " tanpa Vivian sadari dia bersendawa.
Pak Im membuang wajahnya tersenyum.
"Maaf..! " ucap Vivian menahan malu.
Robby datang "Tuan, mobilnya sudah siap..! "
"Baiklah..! " jawab Willi.
Robby melihat Vivian yang masih duduk dikursi makan. Hanya menyapa dengan menundukkan sedikit kepala nya.
Vivian menarik sudut bibirnya, sehingga membentuk senyuman termanis.
Willi yang sedari tadi sudah beranjak dari duduknya, tidak melihat Vivian disekitar nya. "Ya Tuhan, tu wanita kenapa lagi. Bukan kah aku sudah memintanya untuk cepat..! " keluh Willi.
Robby buru-buru membuka pintu, dan Willi pun masuk. Saat pintu mobil akan di tutup "Tunggu... tunggu..! " teriak Vivian.
"Aku juga mau ikut..! " ucap Vivian dengan wajah memelas.
Ketika Vivian ingin masuk dibangku belakang. "Kamu, duduk didepan saja..! " ucap Willi sambil menutup hidungnya dengan tangan kanannya.
Vivian heran, dia mencium lengannya dan juga menghembuskan nafas ditangannya serta menciumnya.
"Saya tidak bau kok tuan..! " bantah Vivian.
"Tidak... tidak, kamu duduk didepan saja..! " bentak Willi.
Dengan wajah jutek, Vivian membuka pintu bagian depan sebelah supir. Dia masuk dan membanting pintu mobil.
"Apa kamu gila, kalau mobil ini rusak. Gaji kamu 2 tahun pun tidak akan cukup untuk menggantinya.! " Willi terlihat emosi.
Robby langsung saja melajukan mobilnya menuju perusahaan.
"Tuan, bisakah kita singgah disebuah distro tak jauh dari perusahaan. Saya mau mengganti baju dulu. Tidak mungkin saya kerja dengan pakaian seperti ingin kepesta..! " ucap Vivian lembut.
Tidak ada jawaban sama sekali, Robby memandang Vivian yang sedikit mendengus kesal.
Robby terlihat senyum kecil, melihat kebetean Vivian yang tidak ditanggapi oleh tuan nya.
__ADS_1