Mr. Perfect and Ms Random

Mr. Perfect and Ms Random
eps 36.JALAN-JALAN


__ADS_3

Willi berjalan mencari Vivian di halaman belakang, terlihat di duduk sendiri di bangku panjang.


Willi berjalan perlahan mendekat. Terlihat jelas, mata sembab Vivian yang sedang melihat sebuah foto di ponsel nya.


"Ma, apa kabar mu disana. Anak mu masih rindu! " ratap Vivian sambil air mata membasahi pipinya.


Willi duduk di sampingnya.Memegang erat tangan kiri Vivian.


Vivian mengalihkan pandangan nya ke arah Willi.


"Aku tahu kamu masih berduka, dan aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menghiburmu! " ucap Willi mengawali pembicaraan.


Mata teduh Vivian semakin basah,Willi menarik wajah Vivian didada nya.


"Menangis lah sampai kau puas! " ucap Willi membelai lembu rambut Vivian.


Tak bisa dipungkiri, Vivian membutuhkan sebuah sandaran tempat nya untuk menumpahkan kesedihan dan mengerti akan rasa kehilangan nya.


"Uuuuu!! " isak tangis nya.


Lama tangisan itu berubah sesenggukan, Willi masih sabar dan bertahan agar Vivian merasa lebih baik.


Setelah tangis nya mereda, Vivian melepaskan dekapan nya.


Willi menyapu air mata yang masih membekas di pipi wanita itu.


"Apa sekarang sudah baikan? " tanya Willi.


"Hemm! " gumam Vivian.


Pak Im datang.


"Maaf tuan, ini teh nya! " Pak Im meletakkan cangkir berisi teh hangat yang sebelumnya dipinta oleh tuan nya.


"Saya permisi dulu! " pak Im mohon diri.


"Minum dulu teh nya agar kamu lebih tenang! " Willi menyodorkan cangkir teh tersebut.


Vivian menerima nya "Terima kasih! "


"Sruuppll! " Vivian menyeruput minuman teh tersebut.


Merasa suasana lebih tenang.


"Sekarang saatnya untuk bicara! " batin Willi.


"Vian! " panggil nya.


Vivian menoleh.


"Aku berencana mau pergi jalan-jalan akhir minggu ini. Dan ku harap, agar kamu mau ikut bersama ku! " ucap Willi.


Terdiam sejenak.


"Apa tidak bisa pergi nya nanti saja? " tanya Vivian.


"Ini juga demi kebaikan mu, untuk melupakan sedikit kesedihan mu! " jawab Willi.


Vivian menatap lekat "Sejak kapan pria ini begitu perhatian.! " batin Vivian.


"Bagaimana? " tanya Willi.


Vivian mengangguk setuju. Willi tersenyum senang, karena rencananya berjalan lancar.


Beberapa hari berikutnya.


Willi terlihat tampil berbeda, baju kemeja lengan pendek dan juga celana pendek dengan memakai kqca mata coklat.

__ADS_1


Sementara Vivian sudah terlihat lebih baik dari hari sebelumnya. Perlahan-lahan, dia sudah bisa menerima kenyataan atas kepergian mamanya.


Mereka pun berangkat menuju sebuah vila. Jalanan terlihat lengang.


Kaca mobil di buka, Vivian memandang ke arah luar jendela. Terlihat pohon-pohon seperti berlarian, tangan Vivian terulur keluar merasakan angin yang menghembus wajahnya.


Setelah 3 jam perjalanan, mereka tiba di sebuah villa mewah. Tidak banyak rumah disana,hanya ada beberapa saja. Tapi setiap rumah nya bisa terlihat bahwa pemiliknya bukan lah orang biasa.


Mereka sudah tiba didepan vila. Vivian tertidur pulas, Willi tidak sampai hati untuk membangunkannya.


Dia pun tetap setiap menunggu sampai Vivian terbangun.


"Cicuwit, cicuwit! " suara burung kenari membangunkan Vivian yang sedang tertidur.


Dia mengusap kedua matanya "Kita sudah sampai? " tanya Vivian.


"Kita sudah sampai dari 40 menit yang lalu! " jelas Willi.


"Selama itu kenapa tidak bangunkan aku?" tanya Vivian.


"Melihat tidur mu nyenyak, aku tidak sampai hati untuk membangunkan! "


Mereka keluar bersama-sama.


Vivian melihat kesekeliling, senyum nya begitu cerah.


Willi juga ikut tersenyum melihat senyum Vivian.


Sudah beberapa hari senyum itu hilang.


"Ayo kita masuk, didalam kamu bisa beristirahat! "


Mereka sama-sama masuk kedalam vila. Di bagian dalam tak kalah menakjubkan nya. Membuat mata Vivian tak berkedip.


"Ini vila siapa tuan? " tanya Vivian.


Vivian terdiam, senyum nya tertahan.


Willi mendekat, menangkup rahang Vivian.


"Panggil Willi saja! "


"E, iya tuan. Eh Willi! " lidah Vivian hampir terkilir karena menyebut nama Willi tidak terbiasa bagi nya.


Willi menarik tangan Vivian. Mata Vivian tertuju pada pegangan tangan itu.


Willi membawanya kesebuah kamar dan membuka pintu.


"Bagaimana, apa kamu suka kamarnya? " tanya Willi.


"Eemm, aku suka! " jawab Vivian.


"Kamar tuan , ups maksud ku kamar mu dimana? " tanya Vivian.


"Ini! " tunjuk Willi.


"Hah! "


Vivian masuk dan menghamburkan tubuhnya keatas tempat tidur yang begitu besar. Muat untuk 4 orang dewasa.


Willi mendorong koper mereka. Karena tidak berniat lama, maka pakaian yang dibawa hanya satu koper.


Saat malam, Vivian sudah merasa lapar.


Dia berjalan kedapur mencari beberapa makanan. Membuka kulkas dan kabinet. Tapi tidak ada yang istimewa.


Hanya ada mi spageti di dalamnya, dan beberapa macam makanan mentah di dalam kulkas.

__ADS_1


"Aduh lapar, kenapa tuan Willi tidak menyediakan makanan? " sungut Vivian.


Dari belakang Vivian terlihat Willi yang sedang memperhatikannya.


"Apa yang sedang kamu cari? " tanya Willi.


"Aku lagi mencari sesuatu yang bisa di makan! "


"Krruuukkkk! " suara perut Vivian terdengar hingga ketelinga Willi.


"Kamu sudah lapar? "


"Heem! "


"Baiklah, kamu duduk dulu disana. Aku akan menyiapkan makanan untuk kita! " ucap Willi.


Vivian hanya mengikuti perintah suaminya tersebut.


Willi mengambil sebungkus mi spageti dikabinet, Dan tak lupa mengambil beberapa barang didalam kulkas.


Lama dia berkutat dengan pisau dan celemek. Vivian yang menunggu, sesekali menguap sangkin lama menunggu.


"Sudah siap! " Willi pun selesai.


"Silahkan dinikmati! " Willi menyodorkan sepinggan mi spageti yang sudah masak.


"Huuuuufff! " Vivian menghirup aroma masakan Willi.


"Sepertinya enak! " Vivian menyendok sedikit dan memasukkan kedalam mulutnya.


"Wah, enak! " Vivian kembali menyuapkan kedalam mulutnya dalam jumlah yang banyak.


Willi terkekeh melihat Vivian yang makan seperti anak-anak.


"Pelan-pelan, tidak ada yang akan mengambil makanan mu! " ujar Willi.


Vivian tidak perduli, dia terus saja memasukkan mi tersebut kedalan mulutnya.


Sampai tandas 1 piring.


"Eekkhhhhh! " Vivian bersendawa kelepasan.


Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Maaf! " ujar nya.


Willi hanya tertawa, melihat sikap Vivian yang random. Di antara rasa sedihnya, masih ada senyum yang tak henti nya menghiasi bibir mungil berwarna pink itu.


Setelah acara makan malam, mereka duduk diteras yang menjorok ke arah danau. Disana terlihat bayangan bintang di dasar danau. Menambau indahnya pemandangan malam.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Terlalu lama diluar, udara terasa menyeruak menembus baju.


Vivian mendekapkan kedua tangannya di dada.


Willi yang melihat , melepaskan jaketnya dan menutupi tubuh Vivian.


"Ta-tapi, nanti kamu masuk angin! " Vivian berusaha melepaskan jaket itu.


Tapi Willi masih saja menahannya.


"Tidak apa-apa, aku sudah biasa dengan udara dingin! " Willi menjawab santai.


Karena tak enak hati kalau menolak kebaikan orang, Vivian tidak banyak bicara lagi.


Mereka bersama-sama duduk bersebelahan di balkon vila. . Dan beberapa saat kemudian, Vivian sudah tertidur di lengan Willi yang terletak di sebelahnya.


Willi menoleh dan membetulkan posisi kepala Vivian agar tidak sakit.

__ADS_1


Saat Vivian betul-betul terlelap, Willi mengangkat tubuh wanita mungil itu menuju kamar.


__ADS_2