Mr. Perfect and Ms Random

Mr. Perfect and Ms Random
eps 43.MAKAN MALAM


__ADS_3

Anastasya mendekat ke arah Willi, dari belakang dia memegang erat pundak kekasih pujaan nya itu.


Willi masih berada di titik hayal nya. Sehingga dia merasakan hangat di bagian pundak.


Dengan cepat Willi menepis tangan wanita itu.


"Pergi lah, nanti kita bicara lagi. Aku masih banyak pekerjaan! " Willi mengusir Anastasya.


"Kali ini kamu tidak bisa lari atau mengelak sayang! " Anastasya menegaskan.


"Kau yang menjebak ku dalam permainan kotor mu. Sedikit pun aku tidak sudi menyentuh tubuh kotormu! " gigi Willi mengeras.


"Hahahah, jangan marah sayang. Tapi permainan kita waktu itu begitu panas. Apakah kamu mau mengulangnya kembali? " Anastasya semakin memancing emosi Willi.


"Pergi lah, atau aku akan usir dengan cara paksa! " bentak Willi.


"Eit! Jangan marah-marah sayang. Rileks, aku akan pergi! " Vivian melangkah kepintu.


"Da da sayang, muacch! " goda Anastasya.


"Braaaakkkkk! " suara barang yang di lempar kan oleh Willi.


Willi menekan tombol di telepon.


"Robby ke ruangan ku! " perintah Willi.


Tak lama Robby pun tiba.


"Kamu cari tahu, anak siapa yang di kandung oleh Anastasya. Dan berapa bulan kehamilannya? " pinta Willi.


"Baik tuan! " Robby pun kembali keluar.


Setelah Anastasya pergi, Robby menurutinya dari belakang.


"Baru juga merasakan ketenangan, sekarang sudah berurusan lagi dengan wanita tak tahu malu! " gerutu Robby kesal.


"Kali ini, kamu akan jadi milik ku Will. Selama ini aku diam tidak muncul di depan mu berharap kau akan berubah. Tapi ternyata harapan ku terlalu tinggi! " gumam Anastasya


Mobil yang di naiki Anastasya berhenti tepat di sebuah restoran.


Robby masih berada di dalam mobil.


Anastasya melambaikan tangan pada seseorang.


Robby memfokuskan pandangan pada orang diseberang. Dia menyipitkan mata untuk memastikan siapa laki-laki itu.


"Itu bukan Jeremy, bukan kah waktu itu dia pergi bersama Jeremy?" Robby merasa heran.


"Berarti dia bersama pria yang baru lagi! " batin Robby.


Dia hidupkan mobil dan memutar setir menuju perusaan kembali.


"Tok tok tok! "


"Masuk! " jawab Willi.


Robby pun masuk.


"Bagaimana, apa yang kamu dapat? " tanya Willi tak sabar.


"Sepertinya nona Anastasya tidak bersama Jeremy adik tuan lagi! " jelas Robby.


"Siapa sekarang yang bersama nya? " tanya Willi penasaran sembari menopang kedua tangannya.


"Saya tidak mengenal lelaki itu! " jelas Robby.


"Baiklah, kamu boleh pergi. Tapi jangan lupa cari tahu lebih dalam lagi. Apakah betul anak itu anakku? " ucap Willi.

__ADS_1


"Baik tuan! " Robby pun keluar dari ruangan Willi.


"Anastasya, kamu berubah drastis! Tapi dimana sekarang keberadaan Jeremy? "


Willi mengambil ponsel nya dan mencoba menghubungi nomor Vivian.


"Tut tut tut! " suara tidak terhubung.


Willi menutup panggilan itu.


"Kemana sebetulnya Vivian, apa kamu sedikit pun tidak mencintai aku. Disaat hati ku mulai bisa menerima mu, tapi mengapa...? " Willi terlihat sedih.


Di negara H.


Vivian semakin terlihat lebih baik, karena kondisi nya yang tengah berbadan dua. Jeremy tidak memaksa Vivian untuk bekerja terlalu berat.


"Istirahat lah, kamu terlihat lelah! " perintah Jeremy.


Vivian tersenyum "Baiklah, sebentar lagi. Masih ada sedikit lagi pekerjaan yang harus di kerjakan! " jawab Vivian.


"Wanita itu begitu kuat, walau disaat seperti ini! " batin Jeremy menatap Vivian.


Jeremy kembali berjalan menuju ruangan kerjanya.


Dimeja kerja nya terlihat sebuah foto bersama seorang pria. Itu adalah foto nya bersama Willi.


"Kakak apa kabar mu sekarang, sudah lama rasanya kita tidak bertemu! " Jeremy merasa rindu pada kakak dan juga saudara satu-satu nya


Hari sudah sore, Vivian bersiap-siap naik ke atas untuk berisitrahat.


"Akhirnya selesai juga! " Vivian melangkah keluar cafe.


Sebelum menaiki tangga.


"Vivian! " panggil Jeremy.


"Apa kamu tidak keberatan kalau nanti malam aku ajak makan diluar? " tanya Jeremy.


Vivian terdiam, dia bingung ingin menjawab apa.


"Tapi.... "


"Apa kamu keberatan? " tanya Jeremy.


"Ini hanya makan malam biasa kan? " tanya Vivian.


"Hahaha! " Jeremy tertawa.


Vivian merasa bingung, apa dia salah bicara.


"Kenapa kamu tertawa? " tanya Vivian.


"Kamu terlihat seperti anak-anak. Ya makan malam biasa lah antara teman! " ujar Jeremy.


"Hehehe! " Vivian nyengir.


"Baiklah! "Vivian setuju.


" Jam 8 ya, aku tunggu di bawah! " pinta Jeremy.


"Oke, aku naik ke atas dulu! " Vivian pun menaiki tangga.


Setelah jam 8 malam, seperti yang sudah direncakan. Jeremy sudah terlihat menunggu di dekat tangga.


Vivian baru saja turun dengan pakaian dan makeup seadanya.


Tapi kesederhanaan itu membuat Jeremy senang dengan Vivian. Tidak seperti wanita pada umumnya.

__ADS_1


Yang selalu bersolek untuk memikat para pria, tapi tidak pada Vivian.


"Kenapa kamu memandang ku seperti itu? " tanya Vivian gerogi.


"Ah tidak, kamu terlihat cantik! " jawab Jeremy karena terlanjur ketahuan.


Vivian menunduk malu.


"Ayo kita pergi ! " ajak Jeremy.


Vivian bingung kemana Jeremy membawanya.


"Tapi.. " belum habis Vivian bicara.


Jeremy membuka pintu mobil yang terlihat mahal.


Mata Vivian mengisyaratkan, apakah mereka akan naik itu.


"Hemm! " gumam Jeremy.


Dia pun akhirnya naik. Jeremy berlari kecil untuk segera masuk ke mobil.


Di jalan, mereka hanya terdiam satu sama lain.


"Eeehhkeemm, Vivian kamu suka makanan apa? " tanya Jeremy mencairkan suasana.


"A-aku, apa saja! " jawab Vivian.


"Baiklah, kita makan direstoran favorite ku saja. Aku jamin kamu tidak akan menyesal! " Jeremy tersenyum.


Vivian hanya tersenyum menyeringai.


Mereka telah sampai disebuah pusat kota. Terlihat sebuah restoran besar yang terlihat istimewa dengan lampu-lampu berwarna warni yang menghiasi restoran tersebut.


Mobil pun berhenti di parkiran. Jeremy keluar dari mobil, belum sempat Vivian membuka pintu. Jeremy sudah dulu membukakan nya.


"Terima kasih! " ucap Vivian.


Mereka masuk menuju restoran tersebut.


Jeremy memilih sudut yang bisa melihat ke jalan.


"Kita di sini saja! " ucap Jeremy sembari menarik kursi untuk Vivian.


Vivian masih canggung dengan perlakuan Jeremy.


Jeremy sedari tadi tidak habis-habisnya memberikan senyuman pada Vivian agar wanita itu merasa lebih akrab.


Pelayan datang dan memberikan menu andalan restoran tersebut.


"Pilihlah , kamu mau makan apa? " Jeremy memberi menu itu kepada Vivian lebih dulu.


Dengan segan, Vivian menerima menu tersebut dan membuka satu persatu setiap lembarnya.


Terlihat semua berbagai macam makanan, dan yang membuat mata Vivian membulat. Harga-harga nya tidak main-main.


Merasa canggung, Vivian membungkukkan badannya kehadapan Jeremy dan memanggil dengan tangan nya. Jeremy pun ikut membungkuk.


"Apa tidak ada restoran lain? " tanya Vivian berbisik.


Jeremy kembali tersenyum "Kenapa? " tanya nya.


"Apa makanan disini tidak kemahalan? " tanya Vivian.


"Tidak, kamu pesan lah apa yang kamu mau. Jangan fikirkan masalah harga. Kita makan nya juga bukan setiap hari! " jelas Jeremy.


Vivian kembali menarik tubuhnya duduk lurus. Dia menoleh pada pelayan yang dari tadi menunggu pesanan mereka.

__ADS_1


Dia pun memesan makanan yang tidak terlalu mahal sama sekali.


__ADS_2