Mr. Perfect and Ms Random

Mr. Perfect and Ms Random
eps 47.BUKAN ANAK BIOLOGIS KU


__ADS_3

Tiga Anastasya melahirkan.


Anastasya sudah diperbolehkan pulang ke apartemen nya. Disana dia meminta pada Rega untuk mencari seorang wanita yang bisa menjaga nya dan bekerja penuh waktu dirumah nya.


"Anastasya, lebih baik kamu bagi tahu orang tua mu kalau kamu sudah memiliki anak! " nasehat Rega.


"Aku belum bisa memberitahu papa, sebelum aku berhasil nikah dengan Willi. " jawab Anastasya.


"Hufff." Rega menarik nafas kasar.


Anastasya berencana hari ini akan memberitahu Willi bahwa dia sudah melahirkan anak mereka.


Dengan rasa bahagia, Anastasya mengambil ponsel nya dan menghubungi Willi.


"Hallo, Will! Anak kita sudah lahir. Dia sangat cantik! " Anastasya sangat bersemangat memberitahukan pada Willi.


Sebelah bibir Willi menyeringai "Oh betulkah, apa boleh aku melihatnya?" Willi seolah-olah ikut senang.


"Tentu boleh kamu adalah ayah nya! " jawab Anastasya.


"Ayah dari hongkong. Hanya waktu 7 bulan kamu sudah melahirkan. " batin Willi.


"Baiklah, nanti jika ada waktu aku akan datang!" Willi langsung menutup telepon.


"Kita lihat saja nanti, kalau memang anak ku maka aku akan menikahimu." gumam Willi.


Willi kembali menekan ponselnya.


"Robby, kapan hasil tes itu keluar? " tanya Willi.


"Nih orang kenapa sih, bukan kah aku sudah beritahu 5 atau 7 hari! " gerutu Robby menjauhkan ponselnya.


"Mungkin 2 hari lagi tuan, dokter Sean akan memberitahu jika hasilnya sudah keluar. " jelas Robby.


"Aku sudah tidak sabar, melihat wajah Anastasya seperti apa nanti nya. Dia ingin mengelabui ku! " Willi terlihat seram.


Telepon pun berakhir.


Setelah dua hari kemudian.


"Derrtt deerrtt derrtt! " getar ponsel Robby.


Dia usal ponsel itu dan menaruh ditelinganya.


"Robby, hasil nya sudah keluar.Kamu boleh mengambilnya sekarang! " ucap dokter Sean.


Robby tersenyum "Baiklah, secepatnya aku akan kesana! " jawab Robby.


Tanpa permisi , Robby langsung turun kebawah dan membawa mobil dengan kecepatan sedang.


Tak butuh waktu lama, Robby menghambur keruangan dokter Sean.


"Bagaimana hasilnya? " tanya Robby ngosngosan karena berjalan buru-buru.


"Apa kamu ingin lebih dulu tahu hasilnya? " tanya dokter Sean.


Robby mengangguk.


"Ini, jika kamu buka aku akan beritahu Willi." Sean berseloroh.


"Dokter sinting, tidak merubah apa pun jika aku tahu lebih dulu. Kamu juga tahu lebih dulu dibanding tuan Willi! " gerutu Robby seperti anak-anak.

__ADS_1


Sean tersenyum melihat tingkah Robby bak sekolah SD.


"Bukalah sendiri! Apa harus aku juga yang membuka nya? " Sean menyerahkan amplop berwarna coklat.


Robby membuka amplop itu pelan-pelan, agar tidak merusak nya.


Dia keluarkan lembaran kertas berwarna putih.


Dan benar saja dugaan Robby dan Willi selama ini.


Ternyata hasil tes DNA membuktikan tidak ada kecocokan antara Willi dan bayi itu.


"Dasar wanita ular, kau ingin menjebak buaya. Tapi kau salah besar. " bermonolog.


"Sudah puas kan, sekarang pergi lah bawa kertas itu pada tuan mu! " Sean mengusir Robby sambil mendorong tubuhnya.


"Kamu mengusir aku? " tanya Robby.


"Iya, aku mengusir mu. Karena aku masih banyak pekerjaan." ucap Sean.


Tanpa banyak bertanya lagi, Robby pergi meninggalkan rumah sakit menuju perusahaan.


Begitu sampai, dia langsung menuju lantai atas.


"Tok tok tok. "


"Masuk! " jawab Willi.


Robby pun masuk.


"Ini tuan hasilnya yang tuan pinta! " Robby menyerahkan amplop coklat tersebut.


Matanya tertuju pada Robby. Tapi Robby biasa saja, dia juga takut sumringah. Willi pasti tahu, bahwa sebelumnya dia sudah membuka amplop itu.


Setelah membaca hasil nya, Willi tersenyum.


"Seperti dugaan ku, anak itu bukan milikku! " kali ini Willi merasa hidupnya diberkahi keberuntungan.


"Lihat saja Anastasya, permainan mu akan berakhir! " tandas Willi.


Siang itu, Willi berangkat menuju apartemen Anastasya.


Sebelum sampai disana, dia singgah kesebuah toko yang menjual mainan untuk anak-anak.


Willi memilih sebuah boneka besar,dan minta di bungkus.


Setelah selesai, Willi kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini dia tanpa di dampingi Robby.


Setelah tiba di apartemennya Anastasya, Willi membawa masuk boneka dan tak lupa amplop berwarna coklat.


"Ding dong. " suara bel pintu.


Rega buru-buru membuka pintu.


"Selamat datang, selamat masuk! "Rega terlihat senang.


Willi muncul di pintu kamar dengan senyuman sejuta makna.


" Lihat apa yang aku bawa. Tadaaa! " tidak seperti Willi yang biasa nya kaku.


Anastasya tersenyum senang, dia berfikir bahwa Willi benar-benar bahagia dengan kelahiran anaknya.

__ADS_1


Willi menyerahkan boneka itu pada Rega.


"Selamat ya atas kelahiran putri mu. " ucap Willi ketus.


Wajah Anastasya berubah.


Willi pun faham "Ya putri mu! " ucap Willi menegaskan.


"Anak kita Will! " sanggah Anastasya.


Willi memberikan amplop coklat kepangkuan Anastasya.


Sambil duduk di sofa "Buka lah! " ucap Willi menyilangkan kedua kaki nya.


Anastasya menatap Willi dalam, tapi tangannya berusaha membuka amplop.


Perlahan isi amplop itu dia buka. Membaca dengan seksama, Anastasya membeku. Kertas ditangannya jatuh ke lantai. Pandangan terfokus ntah kemana.


"Sekarang terbuktikan, bahwa anak itu bukan milik ku! "


Anastasya menangis "Hasil ini pasti salah, dia anak mu Will. Saya bersumpah! " Anastasya susah gelap mata maka sumpah pun berani dia ucapkan.


Senyum Willi menyeringai "Dari awal aku sudah tidak percaya pada mu. Kamu memiliki banyak tipu daya untuk menjerat ku."


Anastasya bangkit dan bersimpuh di lantai "Aku tidak berbohong Will, ini memang anak mu! "


"Kalau memang dia anakku, kenapa hasil tes mengatakan tidak ada kecocokan sama sekali." bentak Willi dengan rahang mulai mengeras.


Rega yang mendengar suara Willi yang cukup kuat menghambur kedalam kamar.


"Ada apa baby? " tanya rega pada Anastasya.


Tidak ada jawaban, Rega melihat kertas yang jatuh dilantai.


Dia membaca dengan seksama, dan Rega menutup mulut nya tak percaya.


"Mulai saat ini jangan ganggu kehidupan ku lagi. Dan satu hal yang kamu harus tau, aku sudah memiliki istri! " jelas Willi.


Mata Anastasya semakin membulat dan air mata tidak dapat di bendung.


Willi melangkah keluar sebagai pemenang


Lama Rega terdiam, setelah kepergian Willi. Tapi kemudian dia menarik kesadarannya dan menghampiri Anastasya.


"Bangkit lah beb, jangan seperti ini kasihan anakmu! " Rega membujuk agar dia tidak bersedih.


"Ingat kamu baru saja melahirkan, masih rentan ketika kamu dalam emosi yang tidak stabil."


"Willi Ga, Willi pergi. Dia tidak akan menikah dengan ku! " ujar Anastasya sambil menangis.


"Sekarang kamu tenang dulu, nanti kita fikirkan cara berikutnya! " bujuk Rega.


Anastasya sedikit bisa mengawal emosi nya. Perlahan tangisan mereda.


"Apa aku tak salah dengar apa katanya barusan. Dia sudah punya istri? " Anastasya mengulang kata-kata tadi.


"Kamu tidak salah dengar, dia memang mengatakan itu! " jelas Rega.


"Rega, bisakah kamu bantu aku cari tahu siapa istrinya itu? " minta Anastasya.


"Baiklah baby, aku akan mencari tahu demi kesayangan ku? " Rega setuju.

__ADS_1


__ADS_2