Mr. Perfect and Ms Random

Mr. Perfect and Ms Random
eps 66.ALFA YANG MALANG


__ADS_3

"Alfa! " teriak Vivian begitu kencang sembari berlari.


"Anak siapa itu? " tanya beberapa tamu.


Vivian hanya memeluk tubuh mungil yang tidak berdaya itu. Saat memegang kepalanya.


Terlihat darah segar membasahi tangan kanan Vivian.


"Alfa, bangun sayang. Nih mama! " Vivian menggoncang tubuh Alfa yang sudah tidak bergerak sama sekali.


Beberapa orang mendekat dan hanya mengusulkan untuk panggil ambulan secepat nya.


Willi mendekati Vivian,dia berusaha menenangkan Vivian dengan mengelus bahu nya.


Vivian menepis tangan Willi kasar. Dia alihkan pandangan nya.


"Pergi lah, aku tidak butuh dengan mu! " bentak Vivian.


Tangisnya masih saja memecah keheningan tersebut.


Sebastian menghampiri kerumunan.


"Ada apa? " tanya nya.


Orang-orang hanya menunjuk. Sebastian memastikan apa yang terjadi


Mulutnya ternganga.


"Bukankah ini anak yang tadi bermain bersama Robby? " tanya Sebastian pada Willi.


"Iya, entah kenapa dia bisa terlepas dari pantauan nya! " jelas Willi sambil matanya mencari-cari kesekitar.


Robby yang sedari tadi mencari Alfa di sekeliling rumah tidak menyadari sepenuhnya apa yang membuat didepan rumah begitu ramai.


Dia berlari kecil ingin mencari tahu.


Dan terlihat tubuh kecil yang sudah tidak berdaya dipelukan sang mama.


"Alfa! " lirih Robby.


Willi menyadari kedatangan Robby.


"Apa yang kau lakukan? Lihat karena kecerobohanmu! " ucap Willi seperti tidak merasa ikut bersalah .


"Kalian semua pergi, aku tidak butuh kalian! " Vivian semakin kalap.


"Ayo kita bawa dia ke rumah sakit,naik mobil saja! " Robby mengulurkan bantuan.


"Pergi aku bilang pergi, andai aku tidak ikut ajakan brengsek mu. Mungkin ini tidak akan terjadi! " Vivian menyesali ajakan Willi.


"Andai hal buruk terjadi pada anak ku. Maka ku pastikan kau akan menanggung penyesalan seumur hidup." ujar Vivian menatap tajam.


Willi merasa masalah tabrakan itu tidak ada urusan dengan nya.


Anastasya yang tadi nya merasa paling hebat. Sedikit merasa bersalah, kalau bukan karena dia bersitegang dengan Vivian sudah pasti anak itu tidak akan lari meninggalkan mama nya.


Anastasya berjongkok di samping Vivian.

__ADS_1


"Aku minta maaf, bukan maksud ku untuk membuat anak mu takut! " Vivian tidak memperdulikan ucapan Anastasya.


Dia semakin emosi dan mengeratkan pelukannya.


Dan beberapa saat kemudian, ambulance pun tiba. Petugas segera turun dan meletakkan tubuh Alfa di tandu. Ketika akan di masukkan kedalam ambulanc seorang pria mendekat.


"Vivian! " panggil pria itu.


Mata Vivian yang sudah merah dan sembab menyempatkan melihat laki-laki yang memanggil nya.


"Romie! " lirih Vivian.


Saat Vivian berusaha mendekati pintu masuk ambulanc. Tubuh Vivian terhuyung dan akan jatuh.


Dengan sigap Romie menangkap tubuhnya.


Willi yang melihat itu menjadi panas, dia berjalan mendekat ke arah mereka berdua.


"Lepaskan tangan mu dari istri ku! " pinta Willi.


Tapi Romie tidak perduli sama sekali. Bahkan dia meminta petugas ambulanc untuk memasukkan tubuh wanita itu kedalam ambulan.


"Berangkat pak! " ucap Romie dan ambulan pun pergi.


Romie tidak ikut bersama ambulan. Bahkan dia menantang Willi yang sedang mengembangkan lengannya di pinggang.


Romie sudah berada di depan Willi. Karena tinggi mereka sama, mata mereka saling bertatapan lurus.


"Kamu tidak pantas disebut seorang laki-laki. " hardik Romie.


"Kau, jangan sekali-kali ikut campur dalam urusan rumah tangga ku! " tunjuk Willi.


Romie menghempaskan kasar tangan Willi dengan kedua tangannya.


"Coba lihat dirimu! Apa pantas disebut seorang suami? " setelah mengucapkan nya Romie pergi menuju parkiran menuju mobilnya.


Terlihat dia seperti menyusul ambulanc tadi.


Willi memukul keras angin, dia kesal. Urat-urat di wajahnya terlihat menegang. Gemeretak gigi nya terdengar seperti akan terlepas.


Willi pun pergi menuju parkiran. Robby menuruti langkah Willi dari belakang.


Robby segera menghidupkan mesin mobil. Tidak ingin terkena masalah, Robby hanya diam dan melaju lurus tanpa tau tujuan.


"Kita kerumah sakit! " perintah Willi.


"Baik tuan! " jawab Robby dan menambah kecepatan nya.


Ambulans pun tiba didepan rumah sakit. Perawat dan petugas ambulan bersama-sama mengeluarkan Alfa lebih dulu. Dan seorang perawat lainnya dengan cepat mendorong Alfa ke bagian IGD.


Sementara Vivian hanya di rawat biasa. Dokter dan beberapa perawat segera membersihkan luka-luka ditubuh Alfa.


Dari kepalanya terlihat darah tak henti-henti nya mengalir.


Seorang perawat mengambil sampel darah Alfa untuk di bawa ke laboratorium. Dan yang lainnya bergerak memasang selang infus dan yang lain nya.


Para dokter melakukan pembedahan.

__ADS_1


Romie yang sedang menunggu diluar, hanya bisa berdoa demi kesembuhan orang yang pernah dia kenal dan juga sempat menaruh hati padanya.


Vivian sudah siuman dan ketika membuka mata, terlihat Romie yang sudah duduk di depan nya.


Vivian berusaha bangkit dan merasa sedikit pusing sambil memegang kepalanya.


"Romie, bagai mana dengan Alfa? Apa dia baik-baik saja? " tanya Vivian masih dengan deraian air mata.


Romie mengepal tangan Vivian.


"Kamu tenang dulu, dokter sedang berusaha sebaik mungkin!" Romie bicara setenang mungkin agar Vivian tidak semakin panik.


Vivian bangkit dan berjalan sempoyongan menuju IGD. Dengan sigap, Romie memegangi Vivian agar tidak jatuh menuju IGD.


Saat mereka tiba, lampu kamar operasi masih menyala. Pertanda operasi sedang berlangsung. Lama mereka menunggu seseorang keluar dari sana hanya untuk sekedar bertanya.


Terlihat pintu terbuka dan seorang perawat keluar. Vivian berdiri menghampiri.


"Bagaimana anak ku suster? " tanya Vivian.


"Maaf , si anak banyak kehilangan darah dan kami berusaha sebaik mungkin! " jawaban suster tadi tidak membuat Vivian tenang. Dia semakin gelisah dan menangis sejadi-jadinya.


Dari arah lain, terlihat Willi sudah tiba. Dia dan Robby sedang mencari keberadaan Vivian.


Dan saat berjalan ke IGD, mereka melihat Vivian yang masih tersandar di bahu Romie.


Willi tersulut emosi dia hampiri kedua orang yang tidak menyadari kehadiran nya.


"Kau! " Willi menarik tangan Romie.


Dengan cepat Romie menghempaskan tangannya sehingga cengkraman Willi terlempar.


Mata Vivian menusuk begitu tajam pada Willi.Sementara Robby yang berdiri sedikit jauh dari mereka.


Robby merasa bersalah, andai dia bisa menjaga Alfa lebih baik maka kecelakaan tidak akan terjadi.


"Bagaimana dengan Alfa? " tanya Willi dengan mimik cemas seperti dibuat-buat.


Vivian bangkit.


"Tidak perlu kamu bertanya, hanya jika terjadi sesuatu padanya kau lah penyebab nya! " tegas Vivian.


Willi merasa terhenyak dengan ucapan Vivian. Dan dia bahkan berani menyebut Willi dengan sebutan kau.


Seorang perawat datang, dan menghampiri Vivian.


"Maaf, anak anda mengalami pendarahan. Karena dia memiliki tipe darah langka kami tidak memiliki stok darah untuk transfusi saat ini! " ucap perawat.


"Ambil darah saya saja dokter. Saya mamanya! " ucap Vivian.


"Maaf, apa tipe darah anda AB-? " tanya perawat.


Vivian terdiam, dia tahu bahwa tipe darah nya bukan AB-.


"Darah ku golongan B! " jawab Vivian.


"Maaf tidak bisa! " ucap perawat.

__ADS_1


__ADS_2