
Pesta telah usai, semua tamu sudah pulang. Hanya beberapa orang pembantu yang sedang beres-beres di tempat itu.
Vivian terlihat lelah, dari matanya sudah bisa di lihat.
Alfa yang masih kecil lebih dulu tidur di kamarnya setelah lelah dari permainan tadi.
Vivian duduk disofa sambil mengurut kaki nya yang pegal karena terlalu lama memakai sendal tinggi.
Melihat Vivian yang kesakitan, Willi mendekat dan mengambil kaki Vivian.
"Apa yang kamu lakukan? " tanya Vivian sungkan.
"Mari aku pijit! " Willi memijit lembut bagian betis Vivian.
Terasa sangat enak sehingga pegal-pegal nya hilang seketika.
"Kenapa tadi kamu tidak memakai yang lebih rendah sedikit? " tanya Willi.
"Tidak mungkin rasanya aku memakai yang rendah. Hanya menyesuaikan dengan baju nya saja! " jawab Vivian.
"Bagaimana sekarang, masih sakit lagi? " tanya Willi.
"Tidak!" Vivian menggeleng.
"Tok tok tok! " ketukan pintu.
Willi dan Vivian saling memandang.
Willi bangkit dan membuka pintu.
"Maaf mengganggu!" Liana terlihat kikuk setelah melihat Willi yang membuka pintu.
Mendengar suara Liana, Vivian bangkit dan menghampiri.
"Ada apa Li?" tanya Vivian.
"Aku harus pulang sekarang, besok aku masih banyak pekerjaan! " Liana sudah ingin kembali.
"Tapi ini sudah malam, kamu naik apa?" tanya Vivian.
Liana bingung menjawabnya, karena tadi dia datang dengan menaiki taksi. Sekarang sudah tengah malam, sudah pasti taksi akan sangat susah di cari.
Liana menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kamu sama Robby saja.Dia yang akan mengantarkan mu! " ucap Willi.
"Tapi tuan... " Liana terlihat tidak enak hati.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, bersama dia kamu akan aman dari pada naik taksi malam-malam begini! " jelas Willi.
"Ada betulnya juga apa kata Willi!" batin Liana.
"Robby kamu antarkan nona Liana ke apartemennya! " panggil Willi dari telepon.
"Robby ada didepan,dia sudah menunggumu!" ucap Willi.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Sampai jumpa Vivian. Terima kasih tuan Willi! " Liana pun berlalu.
Malam ini begitu lelah, sehingga tidak ada rasa kemauan untuk bercinta.
Vivian memilih untuk berendam di kamar mandi setelah badannya terasa lengket.
Willi masih bermain dengan laptopnya. Dengan sebuah kacamata anti radiasi. Menambah nilai plus untuk Willi.
Vivian keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang hanya menutupi bagian dada sampai paha saja. Dia tidak memperdulikan Willi yang masih sibuk dengan kerjaannya.
Vivian mengambil sebuah baju tidur tipis yang masih menampilkan bagian **********.
Tanpa Vivian sadari, mata Willi sudah berpindah arah. Matanya memandang tajam pada tubuh Vivian yang hanya terbalut kain tipis.
Saat mata Vivian melihat ke arah Willi. Willi seakan-akan fokus pada layar laptop nya. Tadi ada sesuatu di bawah sama yang mulai hidup.
Sebelum merebahkan tubuhnya, Vivian menyemprotkan parfum ke lehernya. Agar baunya lebih segar.
Saat Vivian tidur miring membelakangi Willi. Tanpa iya sadari, sebuah badan tegap sudah berada di atasnya bertopang dengan kedua tangannya.
"Ka-kamu, apa yang kamu lakukan? " tanya Vivian menjadi serba salah.
"Apa aku bisa melakukannya? " tanya Willi ditelinga Vivian.
Vivian merasa geli dengan hangatnya nafas Willi sehingga membuat wanita itu menaikkan bahunya menutupi telinganya.
Tanpa menjawab, Willi sudah dulu ******* bibir mungil dan merah itu.
Tangan Willi tidak bisa diam begitu saja, dia melucuti pakaian yang dikenakan istrinya.
"Ahhh,eemm... " erangan dari kecupan Willi yang terus saja merajalela.
Tangan nya mulai menyeruak kebagian inti.
Vivian tidak bisa menahan sentuhan demi sentuhan dari Willi.
Dari bibir, sekarang bibir Willi turun ke bagian leher.
"Ahhh, " desah Vivian.
__ADS_1
Willi dan Vivian sama-sama melepaskan. Tubuh Willi sudah terkulai lemas di atas Vivian.
"Will, aku tidak bisa bernafas! " rintih Vivian yang keberatan ditindih oleh Willi.
Dengan sisa tenaga, Willi turun dari atas tubuh wanita itu. Dia menarik selimut dan menutupi tubuh mereka berdua yang polos tanpa benang.
Mereka berdua manarik nafas panjang. Setelah peperangan.
Keesokan harinya, Vivian bangun lebih dulu. Hari ini adalah dimana Alfa akan sekolah . Dimana anak seusia nya hanya bermain dan bernyanyi-nyanyi. Karena Willi tidak ada keperluan pagi ini, dia sendiri yang mengantarkan Vivian dan Alfa .
Setelah mengantarkan Alfa masuk kedalam, Vivian tidak langsung pulang. Dia menunggu Alfa sampai betul-betul bisa di tinggalkan. Dia takut jika Alfa menangis saat ditinggalkan.Karena banyaknya teman, membuat Alfa sedikit terfokuskan dengan teman-temannya.
"Alfa disini bersama teman-teman nya. Nanti mama datang lagi. " bujuk Vivian.
"Iya Ma, Alfa disini bersama teman-teman. " jawab Alfa terlihat yakin.
Dan benar saja, saat kepergian Vivian dia tidak menangis sama sekali.
Tidak ingin terlambat sampai perusahaan. Willi tidak lagi pulang kerumah untuk mengantarkan Vivian. Tapi dia membawanya keperusahaan.
Willi menggandeng tangan Vivian. Semua mata tertuju pada mereka.
Vivian menutupi wajahnya dengan sebelah tangan nya , karena malu dengan beberapa orang yang mengenalnya.
Saat di lantai 3,tidak sengaja Berta yang ingin keluar berjumpa dengan Vivian di dalam lift.
"Vivian! " pekik Berta.
"Berta! " pekik Vivian pula.
"Ya Tuhan sudah lama tidak jumpa! " Berta masuk kedalam lift dan memeluk Vivian dengen erat.
Karena tidak ingat siapa Vivian sekarang Berta melupakan sosok Willi yang ada disamping Vivian.
Dan ketika Vivian memandang ke arah Willi. Berta pun tersadar, kalau Vivian adalah istri dari tuan mereka.
Berta memberi jarak dengan Vivian setelah menyadarinya. Mata Willi terlihat tidak enak di pandang.
Tidak ada suara satu sama lain, masih banyak hal yang ingin Berta katakan pada Vivian tapi waktu nya yang kurang tepat.
"Vivian, aku duluan ya. Nanti kabari lagi ya!" Berta sampai di tingkat tujuannya.
Kembali Willi dan Vivian naik kelantai paling atas.
Walau mereka suami istri, masih ada kecanggungan antara mereka berdua.
Selain sifat Vivian yang seperti belum percaya pada Willi. Dia juga tidak banyak bicara untuk sekedar bertanya sudah makan apa belum
__ADS_1