
Usia kandungan Vivian memasuki umur 7 bulan.
Dia sudah terlihat lebih baik dari bulan-bulan pertama.
Saat melakukan pemeriksaan, ternyata jenis kelamin nya adalah perempuan.
Vivian begitu senang, lengkap sudah sepasang anaknya.
Willi sudah tidak terlalu repot dengan urusan istrinya. Sekarang Vivian sudah bisa melakukan apa pun. Sewaktu-waktu dia akan meminta pertolongan dengan suaminya.
Robby dan Liana semakin dekat, semenjak mereka selalu bersama saat mengantar Alfa kesekolah.
Hari ini, Vivian berkutat di dapur dan di bantu oleh Liana dan juga pembantu.
Para pekerja merasa tidak enak ketika Vivian berada didapur.
"Biar kami saja yang kerjakan nyonya! Apa yang ingin dimasak? " pembantu senior selepas pak Im terlihat keberatan dengan kehadiran Vivian.
"Tidak apa-apa, saya juga dengan senang hati memasak buat suami saya." Vivian masih bersikeras.
"Tapi kalau tuan Willi tahu,dia pasti marah nyonya! " ucap asisten itu.
"Tidak apa-apa, aku yang akan bertanggung jawab! " tegas Vivian.
Tidak ada kata-kata lagi yang bisa di ucapkan. Dia mengalah, karena Vivian sudah mengambil keputusan.
Setelah semua masakan selesai, Vivian meminta Liana untuk memasukkan makanan tersebut dalam kotak.
Liana segera memasukkannya.
"Aku ingin makan siang bersama dengan Willi di kantor." ucap Vivian.
"Apa kamu sudah memberi tahunya? " tanya Liana.
"Tidak perlu , aku ingin memberi kejutan! " jawab Vivian.
Liana hanya terdiam melihat keras kepala sahabatnya itu.
Liana ingat akan ikut juga bersama Vivian ke perusahaan.
Dia mengambil satu lagi kotak kosong dam mengisinya dengan makanan yang Vivian masak tadi.
Setelah mereka siap, seorang supir lainnya yang ditugaskan untuk Vivian mengantarkan Vivian ke kantor.
Ini pertama kali bagi Vivian masuk kedalam kantor semenjak dia hamil.
Beberapa mata memperhatikan dan yang lainnya menggunjing.
"Lihat wanita itu, diakan dulu bekerja disini. Tidak sangka saja sekarang dia menjadi nyonya dari tuan Willi. " gosip para wanita yang ada dilantai bawah.
Mata Liana memandang tajam pada para penggosip itu. Sehingga membuat mereka membuang pandangan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Di lantai 20,Vivian sudah berada di depan pintu.
"tok tok tok! "
"Masuk! "
Pintu pun terbuka. Melihat siapa yang datang sontak saja senyum Willi melebar.
"Tumben ? " ejek Willi.
"Apa aku tidak boleh datang? " tanya Vivian.
Willi melihat wajah istrinya sudah berubah jutek. Dia bangkit dari
kursi kebesaran nya dan memeluk sang istri yang sudah ngambek.
"Begitu saja sudah marah! " rayu Willi.
__ADS_1
"Cupp! " Willi mendaratkan ciuman di pipi sang istri.
Beralih kepada Liana yang menuju ruang kerja Robby.
Dia sengaja tidak mengetuk pintu, dan terdengar samar Robby sedang berbicara ditelepon.
Perlahan Liana membuka pintu. Dan saat pintu terbuka sedikit terdengar jelas apa yang Robby bicarakan.
"Sama-sama sayang! " ucap Robby.
Kata-kata terkahir Robby membuat Liana terhenti bertepatan dengan Robby yang sudah mengakhiri percakapannya.
Mata Liana memandang nanar ke arah Robby. Terlihat jelas, mata wanita itu merah menahan rasa kecewa.
Tak ingin berlama-lama, Vivian keluar dari dalam dan menutup pintu dengan kasar.
Robby yang baru menyadari ada orang setelah mendengar suara pintu tertutup. Beranjak dari duduknya dan melihat keluar.
"Liana? " lirih nya.
Dimeja luar terlihat sebuah kotak makanan terletak tepat didepan nya.
"Apa ini dari Liana? " Robby mengambil kotak makanan itu. Dan masih terasa hangat.
Liana menahan kecewa setelah mendengar pembicara Robby tadi.
Dia duduk di sofa yang berada di lantai bawah.
"Deertttt deerttt! " getaran ponsel.
Liana merasa ponselnya bergetar. Dia rogoh ponsel dari dalam tas.
"Robby, " panggilan dari Robby.
Liana mengabaikan panggilan itu dan hanya memandangi sampai panggilan itu berhenti sendiri.
Kembali Robby menghubungi nya, tetap saja Liana tak ingin mengangkatnya.
Liana melihat notif , ternyata pesan dari Robby.
Perlahan Liana menekan notif atas nama Robby tadi.
"Terima kasih makanan nya enak"
Pesan dari Robby yang menyertakan gambar makanan yang dia bawa tadi.
Liana tersenyum sendiri, tapi kembali senyum itu hilang. Ketika dia teringat dengan percakapan Robby sebelumnya.
"Ah, aku yang terlalu berharap. Sadar Liana, dia sudah memiliki kekasih! " bermonolog.
Setelah Vivian dan Willi makan siang, mereka kembali menuju rumah Hudson.
Liana lebih banyak diam, di banding sebelum berangkat tadi.
"Na, kamu kenapa? " tanya Vivian. Menyadari sahabatnya itu tidak seperti tadi.
Liana tersadar dari lamunannya.
"Ah, ada apa ? " tanya nya.
"Kamu kenapa, tadi kamu baik-baik saja? " tanya Vivian masih tidak mengerti.
"Aku tidak apa-apa, hanya kurang tidur saja! " alasan nya.
"Aku tahu, kamu pasti menyembunyikan sesuatu? tebak Vivian.
" Tidak ada yang kusembunyikan! " jawab Liana.
"Nasi yang kamu bawa tadi mana. Itu untuk siapa? " tanya Vivian cerewet.
__ADS_1
"Ah,nasi, nasi itu untuk ku. Sudah aku makan tadi sewaktu di lobi! " jawab Liana meyakinkan.
Vivian mengangkat sebelah alisnya. "Bukan kah tadi kamu sudah makan, masak iya kamu makan lagi nasi tadi. Jangan-jangan kamu berikan pada Robby ya? " tebak Vivian sambil wajahnya memandang serius Liana.
Karena Liana terlihat salah tingkah, Vivian tahu bahwa sahabatnya itu menyembunyikan sesuatu.
Tidak ingin menyudutkan sahabatnya, Vivian menyudahi percakapan nya.
"Pak kita ke sekolah Alfa ya! " ucap Vivian pada Sopir.
"Baik nyonya! "
Mereka pun tiba disekolah Alfa.
"Mama! " Alfa mendekat dan memeluk mama dan tantenya bergantian.
Mereka pun kembali masuk kedalam mobil dan pergi.
"Bagaimana disekolah hari ini? " tanya Vivian.
"Hari ini kami
belajar melukis ma, Alfa melukis harimau! " jawab Alfa yang sudah tidak cadel lagi.
Alfa membuka tas nya dan mengeluarkan hasil gambarannya.
"Ini ma! " tunjuk Alfa.
"Wah, gambar anak mama hebat.! " puji Vivian.
Liana hanya memeluk anak itu ketika sedang asik berbicara bersama mamanya.
Liana sangat menyayangi Alfa seperti anak sendiri. Bagi Vivian tidak ada lagi keluar selain dia. Dan keluarga Liana jauh tinggal di desa. Dan dia bersama dengan Vivian merantau kekota setelah tamat sekolah SMA.
Saat sore hari , mobil hitam yang biasa di gunakan Willi sudah tiba di halaman rumah. Robby keluar dan membuka pintu untuk tuannya.
Liana yang t duduk di sebuah teras hanya melihat Robby dari kejauhan.
Tak ingin lagi berharap.
Melihat Liana yang duduk sendiri , Robby datang mendekat tanpa Liana sadari.
"Terima kasih makanan tadi, itu betul-betul enak! " ucap Robby yang tiba-tiba.
"Oh makanan itu, itu dari nyonya bukan dari aku! " jawab Liana membalikan fakta.
"Itu buatan istri tuan Willi? Tapi aku tetap berterima kasih karena kamu sudi mengantarkannya ke ruangan ku! " pungkas Robby.
"Aku tadi tidak mengantarkannya kedalam, takut mengganggu mu! " ucap Liana acuh.
"Seandainya nya kamu masuk pun, aku tidak merasa terganggu! "
"Aku tadi mendengar tuan sedang berbicara pada kekasih anda! " jelas Liana.
Robby terdiam dan mengingat kembali kejadian tadi.
"Hahahah! " Robby tertawa.
Liana heran dengan Robby.
"Mengapa anda tertawa? " tanya Liana cemberut.
"Tadi yang menelepon itu bukan kekasih ku." jawab Robby.
Wajah Liana menjadi serius menatap pria di samping nya.
"Itu ponakan ku , dia setiap hari akan menelepon! "
"Ja-jadi tadi ponakan mu? " Liana sedikit malu dan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Robby bisa menebak, ada rasa cemburu pada Liana saat mendengar dia berbicara mesra pada ponakannya.