
"Saya tidak seperti yang tuan fikirkan. Malam itu, memang kami minum , tapi kami tidak melakukan apapun.! " membela diri.
"Kalau memang kalian tidak melakukan apa pun, kenapa kamu mau saja di bawa masuk kedalam hotel itu? " rahang Willi mengeras.
"Apakah selama ini kamu hanya berpura-pura lugu, agar bisa mendapatkan simpati orang-orang? " bentak Willi.
Air mata Vivian mengalir, mendengar perkataan Willi.
"Kamu perempuan murahan, apakah masih kurang uang yang kuberikan? "
"Tidak.. tidak, ku mohon berhenti tuan mengatakan itu. Aku bukan lah wanita seperti yang tuan tuduhkan..! " Vivian membela diri.
Vivian berlari menuju kamar nya, mata Willi terlihat memerah setelah meluapkan emosinya.
Pak Im yang berada didalam, hanya bisa menyaksikan kesedihan Vivian tanpa bisa bertindak.
Siang itu, Robby berusaha menemukan bukti-bukti kemana saja Vivian semalaman. Dan Robby hanya memeriksa saat kedatangan Romie dan Vivian saja. Tapi tidak waktu ketika Romie keluar.
Apa yang dia lihat saat ini, maka itu lah yang dipercayai oleh Willi.
Vivian menangis sejadi-jadinya, dia mengemas pakaiannya. Setelah selesai dia pun segera keluar.
Ketika dipintu "Jika kamu keluar, maka saya berhak menuntut mu! " ucap Willi tiba-tiba.
Langkah Vivian terhenti , dia memandang nanar ke arah Willi. "Silahkan lakukan apa yang membuat mu senang. Aku juga tidak perduli.! " Vivian pun pergi.
Willi berlari menahan tas yang di bawa Vivian. "Lepaskan, saya tidak sudi tinggal dengan seseorang seperti anda! "
"Saya memang miskin, tapi saya tidak akan tinggal diam jika anda menghina saya! "
Vivian melepaskan paksa tangan Willi begitu saja.
Willi tidak berusaha untuk mengejarnya. Karena area itu adalah perumahan elit. Vivian harus berjalan sekitar 2 kilo meter untuk sampai di jalan raya.
Lelah memang,setelah berjalan kaki 2 kilo meter. Tapi dia harus tetap kuat, dari pada harus bertahan dengan orang yang menghina nya.
Vivian termasuk orang yang keras kepala jika menyangkut harga diri.
Karena lelah, Vivian berhenti dan duduk ditrotoar pinggir jalan. Dia mengusap air matanya yang masih mengalir tanpa bisa iya bendung.
"Kenapa aku harus menerima semua ini. Apa salah ku ya Tuhan..! " berkeluh
kesah.
Setelah beberapa menit mengumpulkan tenaga, Vivian kembali berdiri dan mendorong kopernya.
Dan akhirnya dia pun sampai juga di jalan besar. Dia tunggu taksi yang lewat,akhirnya ada juga .
Vivian menghentikan taksi itu, setelah masuk Vivian meminta taksi untuk pergi kekosan nya.
__ADS_1
Matanya yang sembab membuat supir taksi melirik melalui cermin depan. Sehingga membuat iya penasaran "Nona kenapa? " tanya nya.
Vivian memandang wajah pak supir melalui kaca depan "Saya tidak apa-apa pak! " jawab nya dengan suara serak.
"Mesti bertengkar dengan suaminya ya, itu hal wajar harus nya dibicarakan baik-baik.! " ucap pak supir.
Vivian tak menjawab, ia hanya menyunggingkan senyum tanpa arti.
Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 40 menit, taksi pun tiba di kosan.
"Tok.. tok... tok..! " suara ketukan pintu.
"Siapa lagi malam-malam begini! " Liana membuka pintu.
"Vian, ada apa denganmu. Kenapa kamu menangis.? " tanya Liana terkejut.
"Haaaa..! " tangis Vivian semakin menjadi-jadi.
Liana mengambil koper Vivian dan menuntun sahabatnya untuk masuk kedalam.
Didalam, Liana mengambil kan segelas air minum. "Minumlah, agar kau sedikit tenang! "
Vivian mengambil gelas itu dan meminumnya.
"Ada sebenarnya? " tanya Liana.
"Sudah lah, kalau kamu tidak ingin bercerita.Kamu pasti lelah, tidur lah! " ucap Liana.
Vivian pun berbaring, dia masih merasakan sakit di ulu hati nya.Perkataan Willi begitu pedas, sehingga tidak bisa dihilangkan dari ingatan.
Lama berdiam diri, Vivian pun memejamkan matanya.
"Ada apa sebenarnya, kenapa dalam waktu singkat ini Vivian banyak mengalami masalah! " lirih Liana.
Karena sudah malam, Liana pun ikut tertidur disamping sahabatnya.
Sementara di kediaman Hudson, Willi terlihat mondar mandir didalam kamarnya.
Dia berharap bahwa Vivian akan kembali, dia beranggapan tidak mungkin Vivian berani pergi saat malam begini. Apalagi mereka berada diperumahan yang jauh dari hiruk pikuk bisingnya jalanan.
Sudah 5 jam dia menunggu, tapi Vivian tak kunjung kembali. Tak ingin berlama-lama, Willi mengambil kunci mobil dan bergegas pergi mencari keberadaan Vivian.
Menyisiri sepanjang jalan, dia tidak menemukan sesiapa pun.
Masih belum puas, Willi memutuskan untuk mencarinya kerumah sakit.
Tapi dia tidak menemukannya disana.
"Atau mungkin dia kembali ke kosan?" fikir nya.
__ADS_1
Willi kembali memacu mobil nya menuju ke kosan. Setelah tiba didepan, dia merasa ragu untuk mengetuk. Tapi hati nya tidak tenang sebelum bertemu dengan Vivian.
Ragu-ragu, dia pun memberanikan diri. "Tok.. tok... tok..! " suara ketukan pintu.
Liana terjaga "Tok.. tok.. tok..! " suara ketukan lagi.
Liana bangkit dan mengambil sebuah pemukul untuk berjaga-jaga. Dia berjalan kepintu dan mengintip melalui lobang kecil.
"I-itu kan lelaki yang waktu itu tidur disini. Mau apa dia malam-malam begini? " Liana penasaran dan akhirnya membuka pintu.
"Ceklek..! " kunci dibuka.
Liana hanya membuka sedikit celah agar bisa bicara dengan laki-laki itu.
"Ada tuan malam-malam begini? " tanya Liana dengan pandangan curiga.
"Saya mencari Vivian, apa dia kesini? " tanya Willi .
Liana melihat gelagat Willi sedikit mencurigakan. "Vivian tidak ada kesini, dan anda ada masalah apa dengan Vivian hingga mencari nya jauh malam begini? "
"Tidak ada apa-apa, hanya sedikit salah faham! " jelas Willi.
"Disini tidak ada Vivian, saya hanya sendiri! " jelasnya.
Mendengar ucapan Liana, Willi sedikit percaya. Karena Liana tidak menyinggung masalah apa pun.
Willi kembali pergi, dia mulai berjalan lagi sembari memperhatikan setiap sudut jalan yang ia lewati.
"Kemana lagi wanita itu harusnya pergi, aku tidak begitu mengetahui seluk beluknya.! " Willi memukul keras setir mobil.
Keesokan paginya, Vivian bangun dengan wajah sedikit segar. Dia masih saja berbaring .
"Kamu tidak masuk kerja? " tanya sahabat nya.
"Aku tidak mood kerja hari ini.! " jawab Vivian.
"Ya sudah lah, kamu disini saja. Ah, iya hampir lupa. Tadi malam laki-laki yang pernah tidur disini datang mencari mu! " ucap Liana.
Mata Vivian melebar "Kamu serius? " tanya nya.
"Iya, dia mencarimu! "
"Terus, kamu bilang aku ada disini? " tanya Vivian sambil memegang kedua bahu sahabatnya.
"Gila kali aku bilang iya, aku jawab kamu tidak ada.Awalnya dia seperti tidak yakin, tapi alu tetap meyakinkan sampai akhirnya di percaya dan pergi! " jelas Liana.
"Terima kasih sehabat ku, kamu memang sahabat terbaik ku! " Vivian memeluk erat Liana, sehingga tidak ada jarak.
"Sudah acara peluk memeluknya, aku mau kerja dulu. Sampai jumpa! " Liana pun pergi.
__ADS_1