
Langit mulai terang, Liana bangun lebih dulu.
"Uaaaaaaa! " menguap.
Menoleh ke kanan, Vivian masih terlihat lelap.
Dia harus segera membangunkan Vivian, agar bisa segera berangkat. Sebenarnya dia kasihan jika harus di bangunin. Tapi Vivian sudah bicara dia harus cepat menuju bandara.
"Vian, Vivian! " Liana menggoyang tubuh Sahabat nya itu.
"Eemmm! " gumam Vivian.
"Apa kamu jadi berangkat ke bandara? " tanya Liana.
Mata Vivian terbuka "Jam berapa sekarang? " tanya nya.
"Masih jam 6,kalau kamu terlambat keburu laki-laki itu menemukan mu! " ujar Liana.
Vivian segera bangkit, berjalan menuju kamar mandi.
Tak lama dia sudah selesai, dan mengenakan baju yang bersih
"Maaf Vi , aku tidak sempat membuat kan sarapan yang terakhir untuk mu! " ucap Liana dengan mata yang mulai basah.
Vivian memeluk sahabatnya tersebut.
"Tidak apa-apa Na, aku sudah cukup senang kamu bisa memberikan aku tumpangan! " ucapnya.
Air mata Liana semakin tak terbendung, dia tidak terdengar menangis, Tapi air mata nya tetap saja keluar.
"Baiklah sahabat ku, aku harus segera pergi. Sebelum semu terlambat! "
"Baiklah, aku ikut mengantarmu! " rengek sahabatnya itu.
"Eemmm, bagaimana ya. Apa kamu tidak kerepotan nanti? " tanya Vivian.
Liana menggeleng.
"Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu! " ujar Liana.
Setelah selesai, mereka pun segera menaiki taksi menuju bandara.
Vivian lebih dulu membeli tiket menuju negara H. Dia tidak memiliki siapa-siapa disana. Tapi Vivian cukup tahu tentang negara itu, walau sebelumnya dia belum pernah pergi.
Dia selalu mencari tahu dan keistimewaan negara itu.
"Sudah beli tiket! " ucap Liana.
Hanya beberapa menit lagi pesawat terbang.
Menunggu waktu yang hanya sebentar, Vivian tidak henti-henti nya memeluk sahabatnya itu.
"Vi, semoga kau menemukan kebahagiaan diluar sana! "
"Semoga saja, dan terima kasih juga selama ini kamu menjadi teman terbaik ku dan selalu ada di saat aku membutuhkan sandaran! " Vivian terus saja membuat berucap.
Liana menatap jam diponsel nya.
"Pergi lah, waktu nya beberapa menit lagi! " ucap Liana melepaskan tangan sahabatnya itu.
Vivian mendorong koper nya dengan berurai air mata.
__ADS_1
"Ini jalan terbaik untuk ku melupakan masa lalu ! " batin Vivian.
Pesawat pun berangkat.
Didalam pesawat, Vivian masih saja terbayang dengan suara yang iya dengar di kamar hotel.
Dia membayangkan, Willi begitu liar di ranjang sampai wanita itu mengeluarkan suara erangan yang hebat.
Dia menutup kedua telinganya, tiba-tiba orang disampingnya merasa terusik. Tangan Vivian mengenai bahunya.
"Ceekk! " suara orang di samping nya.
Vivian menoleh "Maaf! " ucap Vivian lirih.
Ditempat lain.
"Robby, tolong cari nona Vivian sampai ketemu! " ucap Willi dengan panik.
"Baik tuan! " Robby keluar dari ruang kerja bos nya.
"Ada apa lagi sekarang, kenapa setiap mereka bertengkar aku selalu yang di sibukkan.! Bukankah masalah seperti ini bukan tanggung jawab ku? " Robby merutuki bosa nya yang selalu bermasalah dengan istrinya tersebut.
Willi kembali menghubungi nomor Vivian. Masih tetap sama seperti malam kemarin tidak terhubung.
"Kemana kamu sebetulnya , dan kenapa kamu pergi begitu saja tanpa alasan? " Willi menjambak rambutnya kasar.
6 jam berlalu, pesawat tiba di negara H. Baru keluar dari pesawat, tubuh Vivian sudah disambut dengan udara dingin khas negara itu.
"Ah, aku lupa untuk memakai jaket! " Vivian mendekapkan kedua tangannya didada.
Buru-buru keluar dari bandara untuk mencari taksi.
Vivian menaiki taksi yang dekat dengan nya.
Vivian menghidupkan ponsel nya. Dan notifikasi tak henti-henti nya masuk memberitahu kan.
Ada panggilan tidak terjawab, ada juga pesan masuk serta chat.
Vivian melihat notifikasi itu, semua berasal dari Willi dan beberapa dari Liana.
Vivian tidak memperdulikan notifikasi itu. Dia berusaha mencari penginapan murah diperkotaan. Vivian berencana mencari pekerjaan di sana untuk bertahan hidup.
"Sepertinya ini terlihat bagus dan harga nya cukup terjangkau! " gumam Vivian.
Vivian meminta supir untuk mengantarkan nya ke alamat yang tertera di ponsel nya.
Setelah sampai, Vivian mendorong kopernya menuju penginapan.
Dan seperti keberuntungan, ternyata penginapan itu tinggal satu.
Vivian masuk kedalam kamar tang dia sewa. Kamar itu cukup luas di banding kamar dia waktu ngekos di negara nya.
Vivian merebahkan tubuh lelah nya, dan meletakkan kopernya asal.
Tas kecil nya pun masih tergantung di bahu nya.
Tidak di pungkiri, dia sangat merasa lelah setelah perjalanan panjang.
"Kruuukkk! "
"Ah, perutku minta di isi! " Vivian bangkit dan masih harus keluar untuk mencari makanan.
__ADS_1
Di luar penginapan, ada beberapa gerai yang menjual berbagai macam . Vivian tertarik dengan gerai yang menjual makanan berjenis mie.
Setelah masuk.
"Mi nya satu dan tambahan daging ya! " minta Vivian.
Koki di gerai itu mulai meracik yang di minta oleh Vivian.
Setelah selesai, semangkok mi dengan tambahan daging sudah tersaji di depan mata nya.
Ketika ingin makan, Vivian merasa mual ketika mencium aroma dari mie tersebut.
"Apa aku terkena maag? " batin Vivian.
Kembali Vivian mencoba makanan itu, tapi tetap sama. Aroma nya membuat Vivian mual.
Tidak ada cara lain, tidak mungkin juga untuk meninggalkan makanan yang sudah dipesan bahkan sudah di bayar.
"Maaf, bisa di bungkus saja.Saya lagi buru-buru! " meminta pada pelayan.
Dengan senang hati pelayan itu pun membawa mangkok mie tersebut.
"Ini! " ucap pelayan.
"Terima kasih! " balas Vivian dan beranjak pergi.
Masih dengan perut kosong, Vivian berjalan menuju mini market.Dia membeli beberapa roti dan minuman botol.
Setelah selesai,Vivian kembali kepenginapan.
Vivian memakan roti yang dia beli sebelumnya. Tapi dia merasa tak nyaman dibagian perut.
Berusaha menelan makanan itu, agar perutnya tidak kosong.
Di tempat lain.
"Maaf tuan, saya tidak menemukan keberadaan nona Vivian! " ucap Robby.
Merasa kecewa "Apa kamu sudah mencari kesemua teman-temannya? "
"Maaf tuan, nona Vivian hanya memiliki seorang teman yaitu Liana. " jelas Robby.
"Brrraaaakkk! "
Willi marah dan menggebrak meja nya dengan kuat.
Robby yang berada didepannya, sedikit takut untuk melihat langsung wajah tuan nya tersebut.
Willi terus saja mengamuk, barang-barang yang ada di atas meja berhamburan. Serta hiasan terbuat dari kaca pecah tak berbentuk.
"Aku tidak mau tau, pokoknya kamu harus menemukannya. Dia masih memiliki hutang beberapa bulan lagi! " bentak Willi.
Robby keluar dari ruangan Willi.
"Aduh, lama-lama begini aku bisa mati muda! " Robby mengelus dadanya.
"Kemana lagi harus mencari nya. Liana juga tidak mengetahui kemana dia pergi! " Robby bicara sendiri seperti orang frustasi.
"Bukk bukk bukk! " Robby memukul setir berulang-ulang.
Robby menarik-narik rambutnya kesal. Karena pekerjaan hari ini, bukan habis di perusahaan tapi di jalan.
__ADS_1