Mr. Perfect and Ms Random

Mr. Perfect and Ms Random
eps 35.HARI PALING MENYEDIHKAN


__ADS_3

Vivian menyingkirkan tangan suami nya dengan kasar.


"Sebaiknya kamu pergi, aku tidak ingin melihat mu! " emosi Vivian semakin tidak stabil.


Dengan rasa bersalah, Willi tidak menghiraukan amaran Vivian. Dia berusaha untuk tetap tenang, agar keadaan tidak semakin parah.


"Vian! " suara lemah sang mama.


"Iya ma! " Vivian memegang erat tangan lemah dan pucat itu.


"Mama harap setelah kepergian mama, kamu bisa bahagia. Tapi jangan sekali-kali kamu kembali pada papa mu. Ma-mama mau kamu bisa menentukan sendiri jalan hidup mu! " ucap mama nya lirih dengan suara yang semakin melemah.


Telunjuk mama nya di angkat ke arah Willi.


Willi mendekat "Saya harap kamu bisa menjaga anak ku dengan kasih sayang mu. D-dia sudah cukup menderita selama ini! " ucap sang mama.


Willi menangkap sebelah tangan wanita renta itu.


"Aku berjanji akan menjaga nya! "


Sang mama tersenyum, air bening mengalir dipelupuk matanya.


Vivian mendekat wajahnya pada ceruk leher sang mama.


"Sayang ku, terima kasih sudah berjuang untuk mama. Kamu memang anak berbakti, mama sangat bersyukur memiliki.... uhuk uhuk! " ucapan nya terjadi karena batuk.


"Ma bertahan lah ma, jangan tinggal Vivian sendiri ma.! " menghiba.


Sang mama tersenyum dan menangkup dagu anaknya "Mama yakin, kamu bisa bertahan tanpa mama. Dan mungkin juga selama ini mama sudah banyak menyusahkan mu! " lirih sang mama.


"Tidak ma, Vivian dengan senang hati melakukan semua demi kesembuhan mama! " air mata terus saja mengalir.


Willi yang berada di sebelah kiri mama mertua nya, ikut merasakan sedih. Dia ingat kenangan masa kecilnya. Yang ditinggalkan kedua orang tuanya, ketika dia masih membutuhkan kasih sayang.Dan dia juga harus menjadi kakak serta orang tua untuk adiknya yang semata wayang.


Tak ingin terlihat sedih, Willi bangkit dan melangkah keluar.


Di luar dia menyesali perbuatannya.


"Andai saja aku tidak datang kesini, mungkin masalah ini tak akan terjadi! " meratap sambil memukul-mukul dinding.


"Aku minta maaf Vivian, aku minta maaf! " ujar nya tapi tidak didengan oleh Vivian.


"Ma, mama sembuh ya. Agar kita bisa pergi lagi ke danau tempat kita sering berdua! " Vivian menyemangati mama nya.


Vivian menghapus air matanya, agar sang mama tidak terbawa suasana.


Sang mama tersenyum, dia genggam tangan sang anak dengan kuat. Vivian menundukkan wajahnya di genggaman sang mama dan berusaha menyembunyikan luka nya.


Perlahan genggaman itu melemah, mata Vivian semakin membulat menyadari itu.


"Ma, mama jangan seperti ini. Mama harus kuat. Jangan tinggalkan Vivian ma. Siapa lagi tempat Vivian bersandar! " tangisan yang sedari tadi dia tahan akhirnya pecah juga.


Dan akhirnya "Tttiiiiiiiiitt!!! " suara dari alat monitor jantung.


Vivian menatap nanar ke alat monitor itu.


"Ma, mama! " Vivian mengguncang tubuh yang sudah tidak berdaya itu.


"Dokter, dokter! " teriak nya sambil menekan tombol darurat.


Dokter dan perawat menghambur masuk, Willi yang melihat nya melihat dari balik kaca.


"Maaf nona,mama anda sudah tiada! " ucap dokter.

__ADS_1


Seperti disambar petir disiang hari seketika tubuhnya lunglai dan jatuh ke lantai.


Willi yang melihat pun panik segera masuk. Dia mengangkat tubuh wanita yang berstatus istri nya tersebut.


"Vivian, Vivian bangun! " Willi mengusap wajahnya istrinya.


Lama Vivian pingsan, dan Willi lah yang bertugas mengurus pemulangan jenazah sang mertua.


Vivian masih tidak sadarkan diri di sofa diruangan mama nya dirawat.


Perlahan matanya terbuka, kepalanya terasa pening dan mata yang sembab.


Dia kembali mencari kesadaran nya, dan ingat kembali semua.


"Mama! " Vivian ingat akan mamanya.


Dia mencari melihat sekeliling ruangan. Tempat tidur yang sebelumnya berisi, sekarang terlihat kosong.


Vivian bangkit dengan tubuh sempoyongan menghambur keluar.


Dia terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit.


Dan terlihat Willi yang sedang berjalan ke arah nya.


"Kemana mama ku? " tanya Vivian.


"Huuuffff! " Willi menghela nafas panjang.


"Aku minta maaf, tidak menunggu mu terlebih dahulu. Aku sudah mengurus pemakaman mama mu! " jawab Willi.


"Tidak!!! teriak Vivian.


Mata memandang tajam pada Willi, seolah-olah ingin menerkam.


" Sudah di bawa ke pemakaman umum! " ucap Willi.


Tubuhnya yang lemah tak kuat menghadapi kenyataan ini. Vivian kembali pingsan.


Dengan sigap Willi menangkap tubuh wanita itu sebelum menyentuh lantai.


Dia mambawa Vivian menuju kamar inap mama.


Willi menggenggam tangan Vivian yang terasa dingin.


"Sesakit ini kah rasa nya kehilangan! " gumam Willi sambil mengelus lembut kepala istrinya.


Keesokan harinya dikediaman keluarga Hudson.


Vivian menyendiri di dalam kamar, dia tidak keluar sama sekali.


"Pak Im, bawakan makanan untuk istri ku. Dia belum makan sama sekali! " pinta Willi sambil berlalu.


Pak Im menuruti apa yang dikatakan majikan nya.


"Tok tok tok! "


Vivian hanya menatap kepintu tanpa menjawab.


"Ceklek! " pintu terbuka.


Pak Im masuk membawa sebuah nampan berisi makanan dan juga susu hangat.


"Maaf nona, tuan Willi meminta saya membawakan makanan ini. Karena anda belum makan sama sekali! " ucap Pak Im.

__ADS_1


Vivian menatap sayu ke arah pak Im.


"Bawa saja keluar pak, aku tidak lapar! " jawab nya.


"Maaf nona, saya harus memastikan anda makan. Agar tuan tidak marah! ' ujar Pak Im.


" Tapi aku tidak selera makan pak, kalau lapar nanti aku akan makan! "ucap Vivian.


" Tapi nona, saya minta tolong. Bila nona tidak makan, pekerjaan saya yang akan beresiko.! " Pak Im mengancam.


Mendengar ucapan Pak Im, ada rasa iba dalam dirinya. Dia tidak sampai hati, bila lelaki paruh baya itu terancam berhenti karena diri nya.


Dengan rasa malas dan tidak lapar sama sekali.


Di perusahaan.


Willi dan Robby ingin berangkat ke sebuah rapat penting.


"Apakah semua data-data yang diperlukan sudah kamu siapkan? " tanya Willi.


"Sudah tuan! " jawab Robby yakin.


Mereka pun pergi.


Didalam mobil.


"Robby! " panggil Willi.


"Ya tuan! "


"Apa sebaiknya saya lakukan untuk menghibur istri ku? " tanya Willi.


Robby melirik dari kaca depan.


"Istri!! " batin Robby.


"Apa yang kamu perhatikan, adakah yang salah dalam ucapan ku? " tanya Willi mengangkat sebelah alisnya.


Robby tersenyum kecut "Tidak ada tuan! " jawab nya.


"Kamu dengar kan apa yang ucapkan tadi? " tanya Willi.


"Saya dengar tuan! Tuan bisa menghiburnya dengan membawanya berbelanja! " saran Robby.


Willi menopang dagu sambil menggosok nya.


"Itu tidak mungkin, karena dia buka tipekal wanita matre! " bantah Willi.


"Kenapa tuan tidak bawa jalan-jalan saja. Keluar negeri atau tempat-tempat istimewa? " ide Robby.


Willi tersenyum mendengar saran dari asisten nya itu.


Setelah pulang dari kerja, Willi mencari Vivian dikamar tapi tidak ada.


Dia kembali turun ke lantai bawah.


"Pak Im! " panggil Willi.


Pak Im pun mendekat.


"Kemana istri saya? " tanya nya.


"Nona Vivian ada di halaman belakang tuan! " jawab Pak Im.

__ADS_1


Willi pergi melangkah menuju halaman belakang.


__ADS_2