
Mobil terus saja berpacu, ketika melewati distro yang dia maksud. Matanya terbelalak "Tuan.. tuan. Itu distro yang saya maksud. Saya tidak akan lama. Hanya beberapa menit saja.Mohon ya tuan..! " wajah Vivian memelas minta perhatian.
Willi menoleh memandang Vivian, tanpa kedipan dan bahkan tanpa suara.
Vivian meletakkan kedua tangannya dengan posisi bersimpuh, berharap Willi akan menurutinya.
Dan Willi hanya tersenyum picik.
"Cihhh...! "
Vivian menjadi kesal "Dasar raja tega, kalau tahu begini lebih baik aku berhenti saja disana. Biar saja orang-orang memperhatikan ku..! " umpat Vivian dalam hati sambil mengepal tangan nya di atas p*ha.
Robby sedari tadi hanya bisa menahan ketawanya. Takut kalau-kalau Willi melihatnya tersenyum tanpa sebab.
Ketika akan sampai diperusahaan, mobil berhenti tepat sebelum gedung perusahaan.
"Kamu, turun.. " ucap Willi tiba-tiba.
"Aku, turun disini..? " tanya Vivian dengan wajah bingung.
"Ada siapa lagi dalam sini, tidak mungkin Robby yang aku suruh turun kan? " pungkas Willi dingin.
Tanpa banyak tanya , Vivian langsung membuka pintu.
"Bruuukkk.. " dia menghempaskan pintu mobil dengan kencang.
Willi menurunkan kaca "Kamu, apa kamu mau di pecat.? " ucap Willi kasar.
Tanpa menjawab, Vivian membuang pandangan nya kesembarang arah, agar tidak berpandangan dengan bos nya tersebut.
Kaca mobil kembali di naikkan, Vivian menoleh memperhatikan mobil itu.
Mobil berjalan perlahan "Issshhh...! " Vivian geram memukul angin.
"Lihat saja nanti, kamu sudah berani mempermainkan aku. Akan kubalas suatu saat nanti! " rutuk Vivian.
Mobil yang belum jauh kembali berhentu, suara Vivian terhenti seketika. Seperti ada tulang tersekat di tenggorokan nya.
Mobil kembali mundur, Vivian menjatuhkan pandangan. Seolah-olah tidak ada yang terjadi barusan.
Robby keluar dari pintu depan, berjalan menuju Vivian.
"Mampus aku, apa mereka mendengar apa yang aku ucapkan barusan..! " batin Vivian.
"Maaf nona, saya lupa untuk memberikan ini kepada anda..! " ucap Robby sambil memberikan paperback.
Vivian melihat paperback itu dan menerima nya "Saya permisi dulu nona..! " ucap Robby sambil berjalan kembali ke dalam mobil.
__ADS_1
Setelah mobil pergi, Vivian melihat isi nya. Dia tersenyum lebar "Tidak sangka, ternyata mereka sudah menyiapkan pakaian untuk ku.! "
"Tidak.. tidak.. Mereka sengaja mengerjai ku. Kenapa bukan dari tadi mereka berikan.! " fikir Vivian.
Dia berjalan sambil tersenyum, dan beberapa orang yang berpapasan dengan nya memperharikan penampilan Vivian dari atas sampai bawah. Ada yang berbisik-bisik dan tak sedikit juga yang tidak perduli dengan nya.
"Gara-gara si tuan Willi, orang-orang menganggap aku entah apa. Awas kau!!!! " teriak Vivian sambil berjalan cepat.
Ketika dipintu perusahaan, Security bengong melihat penampilan Vivian.
"Pagi nona, apa anda baik-baik saja? " tanya Security.
"Saya baik-baik saja! " jawab Vivian.
Setelah naik kelantai tiga, sudah jelas Vivian akan menjadi pusat perhatian. Karena baju yang dia pakai, bukan lah pakaian untuk bekerja. Melainkan baju kepesta.
Berta yang penasaran dengan sahabatnya itu mendekatinya "Ada apa denganmu, apakah kamu baru lari dari calon pengantin pria..? " tanya Berta bergurau.
"Nanti saja aku jelaskan sekarang mau ganti baju dulu..! " ucap Vivian dan meninggalkan temannya.
Di dalam toilet, Vivian membasuh wajahnya dan mengganti pakaian nya.
"Ternyata baju ini pas di badan ku, tapi ngomong-ngomong dari mana mereka tahu ukuran d*da ku..? " Vivian tersadar seketika.
"Ah sudah lah, yang penting sekarang aku bisa kerja dengan tenang.! " Vivian keluar dari toilet.
Diruangan kerja Willi.
"Pas tuan, saya memberikan contoh melalui pelayan di toko itu. Karena ada yang tubuhnya sama dengan nona Vivian.! " jelas Robby.
"Ternyata selain urusan kantor, urusan wanita juga kamu ahlinya! " ucap Willi senyum mengejek.
Robby kesal dengan ucapan Willi yang terlalu blak-blakan.
"Apa ada lagi yang perlu saya kerjakan tuan? " tanya Robby.
"Tidak ada, kamu kerjakan saja yang lainnya! " ucap Willi.
Robby keluar, dan pergi menuju ruangannya.
Saat makan siang, Vivian bersama beberapa teman nya sedang menikmati makan bareng di kafetaria.
Mereka begitu senang, sehingga terdengar suara mereka lagi berbicara sambil menikmati makanan nya.
"Eh Vi, kenapa hari ini kamu bisa berpakaian seperti tadi pagi? " tanya Berta.
"Ah, betul. Tadi saya penasaran. Biasa nya kamu tidak pernah seperti tadi..? timpal teman lainnya.
__ADS_1
" Tadi malam ada pesta ditempat saudara, jadi aku ketiduran. Pagi ini saya baru ingat, karena tidak membawa baju ganti! " jawab Vivian.
"Tapi baju yang kamu pakai sekarang ini? " tanya teman lainnya.
"Ini, baju ini baru saja saya beli di distro yang tidak jauh dari sini! " jawab Vivian.
"Distro.? Apa kamu yakin ini baju distro. Bukan butik mahal ya? " temannya tak percaya.
"Ya distro, aku tidak ada yang untuk membeli baju di butik mahal.! " jawab Vivian.
"Sudah.. sudah.., jangan bahas itu lagi. Ayo habis kan makanannya.! " ucap Berta sambil menyendok makanan kemulutnya.
Hari beranjak soresore, kegiatan kantor sudah sepi. Satu persatu orang-orang pada pulang. Tinggallah Vivian dan beberapa teman nya yang masih santai disana.
"Sampai ketemu besok semua, da..! " ucap Vivian tersenyum.
Karena pekerja kantor lebih banyak naik mobil sendiri. Maka halte yang berada didepan tidak begitu ramai.
Vivian duduk menyendiri, walau ada beberapa orang yang sama dengan nya. Tapi mereka tidak saling kenal.
Masing-masing sibuk dengan ponsel nya, termasuk Vivian.
"Tin.. tin..! " suara klakson mobil tepat didepan halte.
Semua orang mengalihkan pandangan pada mobil tersebut.
Kaca mobil terbuka , Vivian melihat siapa orang didalam. Dan ternyata itu adalah Willi "Kau, kesini..! " ucap Willi.
"Saya.? " tanya Vivian.
Vivian bangkit dan mendekat ke pintu mobil. "Ada apa tuan? " tanya nya.
Robby keluar dari mobil "Maaf Nona, besok saya harap anda bisa membawa berkas-berkas diri dan juga pengenal anda. Agar bisa segera mendaftarkan pernikahan ke catatan sipil.! " ucap Robby.
"Baiklah, besok akan saya bawa..!" ucap Vivian.
Robby kembali masuk dan mereka pergi begitu saja.
Vivian menjadi panas dingin ketika mendengar kantor catatan sipil. "Apakah harus sejauh ini, membuat pernikahan seperti permainan! " batin nya.
Wajah lesu dan layu, Vivian kembali teringat akan ibunya yang sedang berjuang.Menunggu biaya untuk oprasi.
"Ah, tapi sudah lah. Yang penting mama bisa segera sehat. " fikir nya lagi.
Bus telah tiba, semua penumpang naik satu persatu. Seperti biasa, Vivian tidak akan pulang kekosan, dia selalu langsung kerumah sakit. Semenjak mamanya dirawat, Vivian hanya bisa menemaninya saat malam saja.
Vivian sudah sampai dirumah sakit, terlihat mamanya yang tengah makan disuapin oleh perawat.
__ADS_1
"Maaf aku telat," sebuah suara dari pintu.
Serentak perawat dan mama Vivian mengalihkan pandangan kepintu.