Mr. Perfect and Ms Random

Mr. Perfect and Ms Random
eps 68.HARI YANG BAIK


__ADS_3

Tiga hari kemudian, Vivian membersihkan tubuh Alfa dengan handuk basah.


Dia melakukannya dengan sangat lembut.


Tiba-tiba jari kelingking Alfa bergerak sedikit.


Vivian melihat ada nya pergerakan, hanya takut di kira salah mata. Dia menganggap itu hanya penglihatan nya saja.


Kemudian jari itu kembali bergerak dan kali ini bukan hanya satu. Tapi hampir seluruh jari tangan nya.


Vivian mendekap tangan anaknya dan menekan tombol merah di atas kepala ranjang anaknya.


Seorang dokter masuk dan melakukan serangkaian pemeriksaan.


"Dia sudah siuman nona, ini adalah kabar baik setelah 3 hari koma! " ucap dokter.


"Terima kasih dokter! " ucap Vivian dan dokter pun pergi.


"Sayang, anak mama sudah bangun. Alfa anak kuat sayang! " ucap Vivian berlinang air mata.


Alfa melirik mamanya yang telah menangis disampingnya.


"Ma! " panggil Alfa.


"Ya sayang, ini mama! "


"Alfa lapar! "


"Tunggu sebentar sayang, mama ambilkan makanan nya dulu! " Vivian beranjak ke meja di samping ranjang.


"Nah, mama suapin ya. Aaaa! "


Alfa anak yang cukup baik, dia membuka mulut tanpa di paksa.


Suapan pertama masuk,karena tidak terbiasa dengan rasanya. Alfa sedikit merasa s aneh dengan tekstur makanannya. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan nya.


Vivian faham apa yang terjadi dengan raut wajah anaknya.


"Dimakan ya sayang, walau rasanya sedikit lain! " ucap Vivian.


Alfa dengan senang hati menelan semua bubur nasi yang di suapkan oleh mamanya.


Siang itu, saat istirahat makan siang. Willi terlihat bergegas pergi bersama Robby.


Di jalan.


"Robby kita singgah ke toko mainan! " ajak Willi.


"Baik tuan! " Robby pun memutar setir menuju sebuah toko mainan yang paling lengkap disana.


Di toko mainan, Willi membeli beberapa macam mainan mobil-mobilan dan juga robot yang di gemari anak-anak.


Dan ada robot yang limited edition.


Yang paling mahal Willi meminta untuk di bungkus saja seperti kado.


Mainan yang cukup banyak itu akhirnya di masukkan kedalam mobil. Di bantu oleh asisten toko.

__ADS_1


Mereka pun berangkat menuju rumah sakit.


"Tok tok tok! " pintu ruangan di ketuk.


Terlihat Willi dan Robby masuk dengan barang bawaan yang terlihat banyak dan bahkan tidak cukup untuk di bawa dengan kedua tangan mereka.


"Hallo Alfa, bagaimana kabar nya? " tanya Willi sembari mencium pucuk kepala anak manis itu.


Alfa hanya tersenyum.


"Ada mainan untuk mu, Alfa pasti suka!" Willi memberikan mainan yang di bungkus .


"Apa ini om? " tanya Alfa.


"Dibuka saja! Dan mulai saat ini panggil Om dengan sebutan Papa! " ucap Willi.


Vivian yang ada di sana tidak mengucapkan sepatah kata pun. Cepat atau lambat juga mereka memang harus di pertemukan.


"Papa? " tanya Alfa bingung.


Willi senyum "Ya, papa! Karena saya memang papa nya Alfa. " jelas Willi.


Alfa melihat ke arah mama nya. Dan Vivian faham atas kebingungan anaknya tersebut.


"Ya sayang, ini papa Alfa. " ucap Vivian.


Alfa tersenyum mendengar ucapan dari mamanya. Alfa memeluk lengan kokoh papanya yang masih membelai rambutnya.


Hari sudah mulai sore, Willi tidak kembali sama sekali ke kantor. Robby lah yang menggantikannya. Dia tidak ingin melepaskan saat bahagia untuk pertama kali saat Alfa sudah membuka mata.


Mata Willi, Vivian dan Alfa tertuju pada suara.


Terlihat masuk Brian dan istrinya membawa sebuah kating yang berisi buah.


"Hai anak kecil, bagaimana hari mu? " tanya Brian sembari mendekati Alfa tetap dengan posisi berbaring.


Alfa tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya memandang ke arah Willi.


"Dia sehabat papa, namanya Om Brian! " ucap Willi.


Wajah Brian seketika berubah, dia pusatkan perhatian nya pada Willi.


"Hei, kamu tidak salah minum obat kan? " tanya Brian.


Kening Willi berkerut.


"Maksud mu? " tanya Willi.


"Sejak kapan kamu jadi papanya? " Brian kembali menepuk pundak sahabatnya itu .


Willi menepis tangan sahabatnya itu.


"Memang kenyataan kalau dia adalah anakku!"


Brian semakin bingung, karena selama ini Willi tidak pernah menceritakan perihal apa yang terjadi antara dia dan Vivian.


"Aku sudah menikah Brian dan dia istri ku dan ini adalah anak ku! " Willi memperkenalkan Vivian pada nya.

__ADS_1


"What!" hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulutnya.


Dan kembali pintu kamar terbuka. Kali ini adalah Sebastian.Mereka datang bersamaan.


"Beruntung kau datang, jadi kebingungan ini tidak aku alami sendiri! " ucap Brian menyambut kedatangan temannya.


Sebastian masih pun ikut bingung. Baru saja hadir sudah di bawa dalam urusan percakapan mereka.


Tapi Sebastian sedikit bingung, bertepatan kedatangan nya sudah di dahului oleh Willi dan Brian.


"Kalian sudah disini lebih dulu? " tanya Sebastian.


"Maka dari itu, kamu akan bingung jika mendengar nya. " ucap Brian.


"Bingung bagaimana? " tanya Sebastian.


Brian hanya melirik Alfa dan melirik Willi.


Sebastian semakin tidak mengerti, Vivian menahan tawa melihat 3 sahabat yang selalu kompak tapi sedikit eror.


"Apaan sih, bisa tidak langsung saja ke intinya? " Sebastian mulai kesal.


"Alfa ini anak kandung nya Willi! "ucap Brian.


Awal nya Sebastian merasa biasa saja ketika Brian mengucapkan kata-kata (anak kandungnya Willi) otak Sebastian masih menangkap kata-kata lain nya..


Saat Brian berhenti bicara , baru Sebastian menyadari apa kata-kata terakhir yang diucapkan teman nya itu.


"Kamu tidak bercanda kan. Bagaimana cerita nya, kamu bisa punya anak lebih dulu sementara kami tidak pernah mendengar acara pernikahanmu? " tanya Sebastian dengan wajah serius.


"Wajah mu tidak perlu tegang begitu. " ucap Willi.


"Ya dia anak kandung ku, dan sebelumnya pernikahan ku legal. Hanya saja ada alasan lain kenapa aku tidak mempublikasikan! " jelas Willi.


Masih belum yakin dengan jawaban Willi.


"Kapan lebih tepat nya kalian menikah, sehingga anak mu sudah sebesar ini? " tanya Brian.


"Empat tahun yang lalu!"


"Empat tahun lalu, bukan kah masa itu tante Rose begitu memaksa mu untuk dijodohkan?" ingat Sebastian.


"Ya, dan aku tidak suka dengan perjodohan. Aku memutuskan meminta pertolongan Vivian yang masa itu bekerja di perusahaan ku untuk menjadi istri kontrak selama setahun." jelas Willi.


"Prok prok prok! " Sebastian bertepuk tangan.


"Hebat kamu bro, begitu pandai menyimpan berita besar seperti ini! " ucap Brian.


Willi hanya tertunduk.


"Walau istri kontrak, yang namanya istri tidak bisa ditolak! " seloroh Brian sambil mencuil istrinya.


Semua yang ada disana tertawa, tak terkecuali Vivian. Walau merasa malu dengan masa lalu mereka berdua. Ada sedikit kelegaan , karena Willi tidak segan lagi untuk mengakui.


"Ngomong-ngomong, kemana saja selama ini Vivian dan anaknya. Kenapa kamu sendiri sepertinya biasa saja? " tanya Sebastian.


Willi memandang ke arah Vivian. "Karena kecerobohan ku, Vivian pergi disaat dia sendiri tidak mengetahui bahwa dia telah hamil! " jelas Vivian.

__ADS_1


__ADS_2