
Keesokan hari nya.
Sebelum berangkat kerja, dia akan singgah kekosan untuk mandi dan berganti pakaian.
Setelah semua selesai, Vivian pun keluar dari kosan.
Merasa ada yang kurang, Vivian mengingat kembali ada sesuatu yang penting tapi dia tidak ingat apa.
Berjalan sambil memikirkan "Aha, aku ingat sekarang! "
Vivian berlari menuju kekosan, dia ingat bahwa hari ini Willi meminta berkas-berkas diri nya untuk keperluan pernikahan mereka.
Setelah mencari-cari akhirnya ketemu juga.
Vivian kembali ke halte bus, tidak lama menunggu. Bus pun tiba, sebagai tempat duduk sudah terisi, sebagian lagi yang kosong.
Sebelum masuk mereka saling berdesakan, ingin mendapatkan tempat duduk.
Vivian akhirnya mendapatkan tempat duduk.
Pintu bus kembali tertutup, dan mulai berjalan. Tidak ada suara disana, hanya suara mesin bus saja.
Dikantor, Vivian menunggu kedatangan mobil Willi.
Tak lama akhirnya mereka timbul juga.
Mobil berhenti tepat didepan perusahaan, kaca mobil diturunkan. "Mana yang aku minta kemarin? " tanya Willi.
Vivian menyerahkan amplop coklat besar. Willi menerima nya dan kembali menutup kaca mobil.
Mobil segera memasuki area perusahaan.
Di kantor, Vivian gelisah jantungnya berdetak tak beraturan.Mereka akan mendaftarkan pernikahan di catatan sipil.
"Apakah harus sejauh ini, demi penyembuhan mama. Masa depan ku jadi taruhan! " batinnya.
Tanpa iya sadari, air mata menitis di pipinya.
"Vian, kamu kenapa? " tanya Berta.
Vivian tersentak "Ah, tidak apa. Aku baik-baik saja..! " jawab Vivian.
"Tapi kenapa kamu menangis? " tanya Berta lagi.
"Menangis, aku tidak menangis! " bantah Vivian sambil menyeka air matanya yang setitik.
Berta memandang heran "Ini bukan menangis,tadi mataku seperti ada debu dan aku usap! " jawab Vivian lagi.
"Oh.. Aku fikir kamu ada masalah apa. Bagaimana dengan kabar mamamu? " tanya Berta yang sudah tahu kondisi mama Vivian.
"Mama baik-baik saja..! " Vivian senyum.
"Semoga mama mu cepat pulih kembali! " Berta menyemangati.
"Terima kasih Ta.. ! "
__ADS_1
Setelah jam 10,Robby dan Willi keluar dari perusahaan.
Setelah di mobil, Willi mengambil ponselnya dan menghubungi Vivian.
"Deerrttt..deerrttt..! " getaran ponsel Vivian.
Vivian melihat layar ponsel "Siapa ini.? " nomor yang belum tersimpan.
Di usap layar ponsel "Hallo.! " jawab Vivian.
"Kamu dimana, apa yang kamu lakukan. Sekarang sudah jam 10..! " suara dari seberang telepon.
Vivian menatap nomor itu kembali "Apa ini Willi..? " batin Vivian.
Kembali mendekatkan ponselnya ketelinga "Sekarang kita kan pergi mendaftarkan pernikahan! " ucap laki-laki dari telepon.
"Ah, maaf.. maaf. Aku akan segera turun! " jawab Vivian.
Dia pun meninggal semua pekerjaannya , menyambar tas kecil nya dan menghambur begitu saja.
Di depan perusahaan, Vivian mencari keberadaan mobil Willi.
"Kenapa mobil nya harus di seberang jalan sih. Dia kan bisa menunggu sekitaran sini saja! " Vivian ngos-ngosan setelah berlari dari dalam.
Vivian menyeberang sembarangan, ketika dia tidak melihat "Tinnnnnn.. " suara klakson panjang.
"Awassss...!" suara jeritan Willi dari dalam mobil.
Vivian berhenti sejenak karena rasa terkejutnya "Maaf tuan, maaf.. ! " ucap Vivian sambil menundukkan kepala.
Setelah meminta maaf, Vivian pergi begitu saja menuju mobil Willi.
Setelah di dalam mobil "Kenapa kau ceroboh sekali, apa kau tidak punya mata..! " Willi terlihat emosi.
Vivian memandang nanar pada Willi "Kenapa salah kan aku, harusnya kalian yang disalahkan. Kenapa harus berhenti disini. Kan bisa menunggu diparkiran! " Vivian membela diri.
Sejenak suara terdengar hening, Willi merasa terkejut dengan suara Vivian yang lebih tinggi dari nya.
"Kau memarahi ku? ' tanya Willi memandang ke wajah Vivian.
" Maaf tuan, aku tidak marah pada mu. Hanya saja tuan terlalu menyalahkanku.!"Vivian masih tidak terima disalahkan.
"Ayo Robby, sebelum ramai! " ucap Willi. Dan Robby hanya menurut saja.
Didepan kantor catatan sipil, Willi sudah sampai di pintu masuk. Sementara Vivian masih berada ditangga bawah, melihat ke atas gedung itu "Apakah keputusan ini sudah betul. Setelah satu tahun nanti maka status ku akan menjadi janda.! " batin Vivian.
"Apa yang di lakukannya. Apa dalam hidup nya selalu lambat seperti ini? " Willi menggumam sendiri.
"Tuan masuk saja dulu, mungkin nona Vivian masih mengumpulkan keberanian.! " ujar Robby.
Willi segera masuk dengan amplop coklat yang Vivian berikan sebelum nya.
Robby berjalan menuruni tangga "Nona, apa yang sedang anda fikirkan? " tanya Robby.
Vivian tersentak dari lamunan nya "Bukan, aku tidak memikirkan apapun. Hanya saja aku tidak percaya ini seperti mimpi. Aku menikah tapi hanya... " Vivian tidak melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
Robby menunggu apa yang ingin diucapkan Vivian "Sudah lah, ayo kita masuk! " ajak Vivian.
Mereka berjalan bersama-sama menuju kedalam gedung.
Willi yang sudah berada didalam atrian, memandang malas ke arah Robby dan Vivian.
"Apa yang kau lakukan, apa kau akan terus menempel dengan Robby.? " tanya Willi dengan sudut mata yang tak bisa di artikan.
"Nona, segera lah kesana. Sebelum ada korban yang menderita! " jawab Robby setengah takut.
"Maksud mu? " tanya Vivian masih tidak mengerti.
"Ya tuhan, kenapa aku harus berurusan dengan orang seperti ini. Bisa-bisa aku mati di tangan tuan Willi..! " batin Robby.
Dia tarik tangan Vivian agar segera mendekat pada Willi "Sekarang Nona mengerti? " ucap Robby.
Wajah Vivian masih terlihat bingung, ingin bertanya tapi Robby sudah pergi berlalu.
Tak sampai satu jam, sekarang Vivian dan Willi sudah tercacat sebagai suami istri.
Willi memegang dua buah buku kecil "Ini untuk mu! " Willi menyerahkan salah satu nya pada Vivian.
"Ini.." bel habis Vivian bertanya.
"Ini buku tanda kita sudah sah menjadi pasangan suami istri dan ini asli tercatat dan legal.! " jawab Willi.
Vivian mengangguk mengerti "Robby, ayo kita kembali ke kantor. Masih banyak pekerjaan disana! " ucap Willi meninggalkan Vivian yang masih memperhatikan buku ditangannya.
"Nona ayo kita pergi, saya tidak mau menanggung kemarahan tuan Willi..! " ucap Robby.
Saat didalam mobil "Berapa nomor tabunganmu? " tanya Willi pada Vivian.
"Untuk apa tuan? " tanya Vivian.
"Berikan saja Nona, seperti perjanjian sebelumnya.! " potong Robby dari bangku depan.
Vivian menyebutkan nomornya "Derttt... deerrttt..! " getaran ponsel Vivian.
Dia melihat sebuah pesan masuk "Dua milyar, ini dari tuan Willi? " tanya Vivian tidak percaya bahwa tabungan nya akan terisi jumlah yang banyak.
"Sebagai istri ku, aku akan memberikan uang saku atau orang sebut uang belanja untuk kamu gunakan sehari-hari.
" Baiklah tuan..! " jawab Vivian.
Sekali lagi Willi mengirim sejumlah uang ke rekening Vivian.
"Derrttt... deerrtt..! " getar ponsel nya.
Vivian kembali melihat ada pesan masuk "Ini uang apa lagi tuan? " tanya Vivian.
"Ini uang untuk kebutuhan mu sehari-hari..! " jawab Willi.
"Tapi uang 100 juta untuk keperluan sehari-hari apa tidak kebanyakan..? " tanya Vivian dengan polos.
"Ya tuhan, hari gini masih ada aja orang seperti ini. Apa dia tidak tertarik dengan uang? " batin Willi.
__ADS_1