
Keesokan hari nya, Robby datang lebih awal. Mata nya terlihat seperti panda.
"Ini yang tuan pinta! " Robby menyerahkan bungkusan rambut.
Willi pun mengambil sedikit rambutnya dan memberikan nya pada Robby.
"Kamu harus jaga baik-baik, jangan sampai barang bukti hilang. Aku tidak mau rambut ku terus-terusan dipotong! " Willi ngomel.
Robby menaruh rambut itu di bungkusan satu nya lagi. Dan pergi keluar.
Dia menuju sebuah rumah sakit tempat temannya bertugas yaitu dokter Sean.
"Tuan meminta kamu mencocokkan DNA kedua rambut ini! " ucap Robby.
Sean bingung "Rambut siapa ini? " tanya nya heran.
"Kalau kamu banyak tanya, Willi akan menyelesaikan tugas mu! " Robby terlihat serius.
"Mana bisa aku berkerja, kalau aku sendiri tidak tahu itu milik siapa! " Sean menjelaskan.
"Cekk! " bibir Robby berdecik.
"Ini rambut tuan Willi dan ini bayi yang katanya milik tuan Willi.! " jelas Robby.
"Wah, Willi punya anak sekarang? " Sean seperti mengejek.
Pandangan Robby seperti ingin membunuh lelaki itu karena terlalu banyak bicara.
Sean menerima kedua bungkusan itu dan membawanya keruang laboratorium.
"Kapan hasilnya keluar? " tanya Robby.
"5 atau 7 hari! " jawab Sean ringkas.
"Baiklah, aku pergi sekarang! " Robby pun berlalu.
Di negara H.
Vivian hari ini tidak masuk kerja, memang setiap bulan nya ada waktu liburan yang diberikan pada setiap karyawan.
Vivian ingin pergi berbelanja keperluan bayi nya yang sebentar lagi launcing.
Di kamar nya, Vivian terlihat bingung ingin memakai baju yang mana. Karena perutnya semakin besar, baju yang lama tidak muat lagi.
Lelah memilih-milih, Vivian duduk sebentar untuk melancarkan pernafasan nya.
"Tok tok tok! "
Vivian melirik ke pintu.
"Siapa yang datang? " dengan susah payah Vivian bangkit karena perut nya yang melendung.
"Ceklek! " pintu di buka.
"Ini buat kamu! " Jeremy mengulurkan paparback berwarna hitam.
Vivian melongo "Ini apa? "
__ADS_1
"Terima dulu, maka kamu akan tahu! ' ujar Jeremy.
Dengan ragu, Vivian menerima bungkusan itu dan melihat isi nya.
" Ini baju? " tanya Vivian.
"Ya, aku tahu kamu tidak punya baju untuk pergi kan. Tadi pas lewat dari sebuah toko kecil aku melihat baju itu tergantung, dan aku fikir kamu mungkin cocok memakai nya! " ujar Jeremy.
Vivian takjub dengan sikap Jeremy yang begitu perhatian dan pengertian.
"Aku terima ya! " Vivian masuk kedalam dan mencoba baju itu.
Dan benar saja, baju gaun itu terlihat pas buat tubuh Vivian dengan perut besarnya . Gaun itu bisa sedikit menutupi perut Vivian yang membesar.
"Pas banget, pakai ini saja lah! " Vivian berdandan ala kadarnya dan turun ke bawah.
Berniat ingin naik taksi, tapi Jeremy sudah menunggu dibawah tangga.
"Kamu sudah siap? " tanya Jeremy.
Vivian hanya tersenyum.
"Ayo kita pergi! " ajak Jeremy.
"Tapi, aku bisa kok naik taksi! " Vivian sedikit menolak ajakan Jeremy.
Jeremy menarik tangan wanita itu dan membuka pintu mobil.
"Masukkah, tidak baik menolak niat baik orang! " ucap Jeremy.
Vivian hanya menuruti saja apa yang di katakan Jeremy.
Vivian merasa sungkan "Terima kasih! " ucap nya.
Mereka berdua masuk kedalam, dan berjalan-jalan melihat segala macam yang di jual disana.
Vivian melihat sebuah baju bayi berwarna yang terpajang motif beruang yang di rajut tangan.
Dia meminta pada petugas toko untuk melihat baju tersebut. Vivian tertarik dengan baju hasil tangan tersebut. Dia menggosokkan baju itu ke wajahnya dan terasa sangat lembut. Cocok dengan iklim dingin yang ada di negara H tersebut.
Jeremy hanya memperhatikan dari jauh.
Vivian merasa tertarik dengan baju itu. Tak lupa dia mencari bandrol harganya.
Dan tidak seperti harapan. Harga baju itu, satu bulan gaji Vivian bekerja.
Perlahan dia menyerahkan kembali baju itu pada petugas.
Vivian kembali berkeliling, memilih barang-barang yang terjangkau saja.
Jeremy tidak ikut serta dalam memilih.
Merasa cukup, Vivian segera membayar barang beliannya.
Di kaunter, petugas tersenyum ramah.
"Maaf nona, bagaimana dengan baju yang tadi? " tanya petugas toko.
__ADS_1
Vivian tersenyum "Lain kali saja, seperti nya uang ku belum cukup! " jelas Vivian tanpa segan.
Petugas toko tersenyum "Maaf nona, hari ini khusus untuk baju ini kami beri diskon 80% " ucap petugas toko.
Vivian memandang wajah pelayan itu. Merasa tidak percaya, karena sebelumnya petugas itu tidak menyebutkan bahwa baju itu sedang diskon.
"Tapi sebelumnya, kalian tidak bilang itu diskon! " ungkap Vivian.
"Tadi kami baru saja mengkonfirmasi ke manager! " jawab pelayan tersebut.
Setelah mendengar jawaban yang masuk akal.
"Baiklah, saya mau! " ucap Vivian.
Pelayan mengambil baju tadi.
Jeremy mendekat kemeja kasir.
"Kamu sudah selesai? " tanya Jeremy.
"Lagi di hitung! " jawab Vivian.
Setelah selasai menghitung, Jeremy dan Vivian berjalan keluar.
Para pelayan toko tersenyum ramah pada Jeremy ketika pria itu pergi meninggalkan toko mereka.
"Baik banget suami wanita tadi, dia tahu istrinya tidak akan memilih baju dengan harga yang cukup mahal. Dia meminta kita memberikan diskon, selebihnya dia akan bayar sendiri! " jelas pelayan satu nya.
"Pengen punya suami seperti itu! " ucap pelayan tadi.
"Banyak-banyak saja doa, semoga Tuhan memberikan nya! " timpal petugas lainnya.
Di jalan pulang, bibir Vivian tersungging senyuman yang tam henti nya. Jeremy merasa ada sesuatu yang membuat Vivian bahagia.
"Kenapa kamu senyum terus, apa ada yang menyenangkan? " tanya Jeremy.
"Tidak ada yang menyenangkan, tadi waktu berbelanja baju bayi yang aku taksir ternyata memberikan diskon sampai 80%.Aku hanya merasa menang,dengan harga murah dapat baju dengan kualitas premium! " jelas Vivian.
Jeremy ikut tersenyum.
"Mungkin hari ini lagi beruntung saja. Jarang-jarangkan mereka bisa memberi diskon dengan harga murah! "
"Iya sih, makanya aku ambil saja. Mungkin besok-besok harganya sudah berubah lagi! " tambah Vivian.
Mereka pun akhirnya tiba di cafe. Beberapa pelayan memperhatikan dari dalam. Mereka merasa Vivian salah satu orang yang beruntung menerima kebaikan Jeremy.
"Siapa sih sebenarnya Vivian itu. Mereka terlihat dekat seperti pasangan kekasih! " ujar pelayan di meja pesanan.
"Tidak heran sih, tuan Jeremy itu perhatian pada semua orang. Termasuk pada ku, ketika aku belum mendapatkan kerja! " jelas wanita yang satu nya lagi.
"Terima kasih sudah menemani ku hari ini. Aku tidak tahu harus bagaimana cara untuk membalasnya! " ucap Vivian.
"Aku melakukannya dengan senang hati. Jangan pernah berfikir untuk membalasnya. Anggap saja ini salah satu kebijakan cafe untuk pekerja membantu para pekerja nya! " Jeremy lebih mirip tuan dermawan.
"Hehehe! Sekali lagi terima kasih Jeremy. Kalau tidak ada kamu, mungkin aku sudah luntang lantung bersama calon bayi ku! " Vivian teringat pertama kali dia di bantu oleh Jeremy.
"Sudah, tidak usah di ingat lagi. Mungkin orang lain juga akan melakukan hal yang sama jika melihat orang lain kesusahan.! "
__ADS_1
Vivian dan Jeremy tersenyum. Vivian pun naik kelantai atas.