
Vivian memanggil taksi yang melintas didepan nya.
Tanpa fikir panjang, dia kembali kerumah utama.
Mengambil beberapa barang miliknya dan juga pakaian seperlu nya.
Air matany masih saja membasahi pipi merah merona itu.
"Aku sangka, kamu sudah bisa menerima ku. Tapi ternyata aku salah, aku yang terlalu percaya diri! "
Setelah barang-barangnya terkumpul dalam satu koper yang tidak begitu besar.
Vivian melangkah kepintu, masih ragu dia memandangi kamar. Dimana dia dan Willi menghabiskan malam penuh rintihan nikmat.
"Heh, sadar lah Vivian. Kamu hanya istri kontraknya! " gerutu menyadarkan diri nya.
Tak ingin berlama-lama, Vivian menuruni anak tangga.
Pak Im yang belum tidur, menghampiri Vivian.
"Maaf nona, hari sudah malam. Tak baik pergi dalam keadaan seperti ini! " ucap nya.
"Maaf kan saya pak, untuk kali ini jangan halangi aku. Biarkan aku pergi, agar rasa sakit tidak semakin dalam! " jawab Vivian.
Pak Im yang masih belum mengerti dengan perkataan Vivian hanya terdiam tanpa kata.
Ketika di gerbang.
"Pak buka pagar nya! " minta Vivian pada penjaga.
Penjaga bingung.
"Mau kemana nona? Tuan akan marah bila nona pergi malam-malam begini! " jawab penjaga.
"Ku mohon pak, aku ingin bertemu Willi diluar! " Vivian berbohong pada panjaga.
Tak ingin terlibat masalah, penjaga segera membuka pagar yang tinggi tersebut.
"Berjumpa seperti apa maksud nona Vivian. Bukankah mereka lagi liburan, tapi kenapa hanya nona Vivian yang pulang? " si penjaga tertanya-tanya.
Vivian memasuki taksi yang sebelumnya dia minta untuk menunggu.
"Kemana kita nona? " tanya supir taksi.
"Kita ke bandara pak! " minta Vivian.
Di jalan, Vivian mengambil ponsel nya dan menghubungi seseorang.
Karena hari sudah malam, telepon itu tidak di angkat.
Kembali Vivian menghubungi sahabatnya.
"Angkat dong Na! " gerutu Vivian.
Dan "Hallo! " suara dari kejauhan.
"Hallo Na. Ini aku Vivian! " ucap Vivian.
"Hallo Vian , ya Tuhan sudah lama kamu tidak menghubungi ku! " Liana terkejut dan bangkit dari tidur nya.
__ADS_1
"Ada apa malam-malam begini kamu menghubungi ku? " tanya Liana.
"Bisakah malam ini aku menginap ditempat mu? " tanya Vivian.
"Kenapa kamu harus bertanya, datang lah kesini! " jawab Liana.
"Terima kasih ya Na, sebentar lagi aku sampai disana! " Vivian pun mengakhiri telepon nya.
Lain cerita di hotel.
Willi yang tak bisa mengontrol hasratnya, bertubi-tubi menikmati tubuh Anastasya.
Dia terkulai lemah di samping wanita itu.
Setelah kesadaran nya terkumpul, Willi bangkit dan memungut pakaian nya yang berserakan.
Anastasya tersenyum senang.
"Mau kemana kamu Will? " tanya Anastasya.
"Kau ! Jangan pernah lagi menghubungi ku! " Willi menunjuk wajah wanita itu dengan geraham mengeras.
"Kenapa kamu begitu marah, bukan kah tadi kita begitu menikmatinya? " ujar Anastasya dengan nada manja.
"Aku tidak tertarik dengan mu, kalau bukan karena tipu daya mu. Aku tidak akan mungkin melakukan hal menjijikkan itu dengan mu! " Willi menggeram.
"Hahahah! " Anastasya tertawa lepas.
"Kau bukan Anastasya yang dulu, yang memiliki rasa malu.Sekarang harga diri mu sudah tidak ada lagi, kau tak ubah seorang pelacur! "
Mendengar ucapan Willi yang terbilang kasar.Air muka Anastasya berubah, senyum nya yang tadinya semerbak berubah hilang.
"Itu semua tidak ada sangkut pautnya dengan ku. Kau sendiri yang memilih jalan mu! " bentak Willi.
Anastasya terdiam, dia bangkit dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.
Dia hidup kan shower sambil menangis di bawah guyuran airnya.
"Kejam kau Willi, kau sama saja dengan laki-laki diluar sana! " ratap Anastasya.
Setelah berpakaian lengkap, Willi mencari kunci mobilnya.
"Ketemu! "
Setelah kunci mobilnya ketemu,Willi buru-buru meninggalkan hotel tersebur.
"Vivian! " Willi ingat istrinya.
Setelah di mobil, Willi melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi.
Dia tidak ingin Vivian mengetahui bahwa dia tidak disana.
"Semoga dia masih tidur lelap! " Willi berdoa tak henti.
Karena hari sudah menjelang subuh, perjalanan tidak ada hambatan.Kenderaan yang berlalu lalang hanya ada satu persatu saja. Jarak yang di tempuh harusnya 3 jam, Willi hanya sampai 2 jam saja.
Sampai di vila, Willi menghambur keluar dari mobil . Dia berlari kecil menuju kamar vila.
Perlahan membuka pintu kamar, dan menatap ke arah tempat tidur.
__ADS_1
Willi beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai dia memakai handuk yang hanya menutupi bagian pinggang saja.
Willi menatap ke tempat tidur.
Kedua alis Willi di tautkan, dia merasa ada yang aneh dengan istrinya.
"Bukankah tadi sebelum aku pergi posisi tidur nya seperti ini juga! " fikir Willi.
"Apa dia tidak pengap? "
Willi berjalan perlahan menuju istri nya. Perlahan dia buka selimut yang menutupi seluruh tubuh istrinya.
Seketika, bibir Willi ternganga dan matanya membulat.
"Kemana Vivian? " tanya Willi.
Dia keluar dari kamar.
"Vivian, Vivian! " panggil Willi kesekitar rumah.
Dia mencari kedapur,ke halaman dan bahkan ke kolam renang. Tapi sia-sia, tidak ada sahutan suara dan bahkan tidak menemukan siapa pun.
"Kemana pergi nya, dan kalau memang dia pergi ,dia pergi sama siapa. Bukankah mobil aku yang bawa? " Willi tertanya-tanya.
Di kamar Willi duduk lemas, dia masih berfikir keras ada apa sebenar nya. Dan kenapa Vivian pergi meninggalkannya sendiri tanpa kabar.
Di kediaman Liana, terlihat Vivian menangis di pundak sahabat nya itu.
Liana yang belum tahu apa masalahnya, hanya menepuk lembut punggung Vivian.
"Ada apa sebenarnya Vi? " tanya Liana.
Setelah tangis nya Vivian menarik nafas dalam.
"Ceritakan apa masalah mu. Kalau begini aku sendiri bingung! " ucap Liana masih menggenggam tangan sahabatnya itu.
Vivian menatap wajah Liana. Dan mengumpulkan keberanian menceritakan semua nya. Mulai dari pertemuan mereka, sampai pernikahan kontrak dan juga kejadian malam itu.
Liana terperangah, tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Berarti betul kamu menikah dengan Willi Hudson? " tanya Liana tidak percaya.
Vivian mengangguk.
"Aku tidak menyangka,berarti kejadian di mall waktu itu dia tidak berbohong." ucap Liana.
"Sekarang apa rencanamu, dia kembali bersama wanita masa lalunya? " tanya sahabat Vivian itu bawel.
"Aku mau pergi jauh dari sini, agar dia tidak menemukan ku! " jawab Vivian.
"Mungkin aku akan merasa kehilangan ketika kau pergi jauh! " lirih Liana sambil memeluk sahabatnya itu.
Mereka sama-sama menangis karena harus berpisah jauh.
Vivian masih merasakan kantuk, karena tidak cukup tidur.
"Aku mau tidur beberapa jam saja sebelum berangkat ke bandara! " ucap Vivian.
__ADS_1
"Tidur lah, aku juga masih ngantuk.! " mereka berdua pun tidur saling berpegangan tangan.