Mr. Perfect and Ms Random

Mr. Perfect and Ms Random
eps 70.MAINAN BARU


__ADS_3

Semenjak Alfa dan Vivian tinggal dirumah besar. Hari-hari Willi jadi berubah.


Biasa nya di mejak makan hanya dia sendiri, sekarang dia bisa melihat istri dan anak nya.


Tapi di balik kegembiraan nya, ada satu hal yang belum bisa dia raih sepenuhnya yaitu hati Vivian.


Walau mereka tinggal bersama, Vivian sepertinya belum bisa menerima dia karena beberapa masalah di masa lalu.


Di perusahaan, Willi meminta pendapat pada Robby bagaimana cara mengambil kepercayaan Vivian.


"Bagaimana kalau tuan adakan pesta meriah dan mengundang orang banyak. Dengan begitu mungkin nona Vivian sudah tahu bahwa tuan sudah tidak seperti dulu lagi! " ide Robby.


Willi mengangguk setuju dengan ide yang di utarakan oleh Robby.


"Kamu atur semuanya sebaik mungkin. Aku ingin mengenalkan nya pada semua teman dan masyarakat!"


Willi menyerah semua nya untuk keperluan pesta pada Robby.


Saat makan malam, hanya Willi dan Vivian saja yang ada di meja makan.


"Mana Alfa? " Willi tidak melihat anaknya.


"Dia di dalam kamarnya, dia bilang sudah kenyang tadi dia makan lebih dulu karena lapar! " jawa Vivian.


Setelah mendengar penjelasan istrinya, Willi kembali menyendok makanannya kemulut.


Tidak ada percakapan, hanya dentingan sendok dan garpu.


Setelah Willi dan Vivian selesai, Willj memilih untuk beranjak ke ruang kerja nya.


Ada beberapa tugas yang harus dia selesaikan. Di ruang kerja, dia melihat beragam dekor pesta yang terlihat indah dan mewah di layar laptop milik nya.


Setelah menemukan beberapa pilihan dia mengirim gambar pada Robby .


..."Bagaimana dengan beberapa gambar ini. Mana menurutmu yang paling bagus? " ...


Isi pesan yang dikirim oleh Willi.


Pesan terkirim, tapi Robby belum membuka nya sama sekali.


Lama Willi menunggu, karena tidak ada balasan, dia memutuskan untuk keluar dari dalam ruang kerjanya.


Dia berjalan keluar rumah menuju pondok kecil yang berada di teras samping.


Disana dia melihat Vivian sedang duduk sendiri dan menatap langit.


"Apa yang kamu lamunkan? " tanya Willi sehingga membuat Vivian kaget.

__ADS_1


"Aku tidak melamun! "


"Jadi apa yang sedang kamu lakukan? "


"Aku hanya rindu mama! " tutur Vivian menundukkan wajahnya.


Willi duduk disampingnya.


"Apa kamu pernah berfikir tentang ku? " tanya Willi tiba-tiba.


Vivian menoleh memandangi wajah Willi.


"Selama kepergian mu, pernah kah sekali kamu berpikir tentang ku? " Willi mengulang pertanyaan nya.


"Maaf, aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu! " ulas Vivian.


Willi hanya diam,dia tahu tidak mungkin Vivian mengingat nya ketika dia sudah berbuat kurang mengenakkan dimasa lalu.


Mereka hanya diam tanpa ingin ada yang memulai lebih dulu.


Lama mereka saling dia satu sama lain. Pada akhirnya Vivian bangkit dan memutuskan ingin masuk kedalam rumah.


Ketika dia berbalik.


"Tunggu! " Willi menahan tangannya.


"Bisakah kita mulai kehidupan yang baru? Walau terdengar sulit, tapi aku ingin mencoba nya kembali. Sebagai suami istri yang sah di mata hukum dan orang-orang! "


Ucapan Willi sontak saja membuat Vivian tidak percaya. Seperti mengetahui isi kepala Vivian yang melamun sebelumnya.


"Kenapa dia tahu apa yang aku pikirkan. Apa dia punya indra pembaca pikiran? " lamunannya.


"Vivian Vivian! " Willi menjentikkan jarinya sehingga membuyarkan lamunan Vivian.


"Ah ya! " Vivian tersadar.


"A-aku masih harus memikirkannya kembali!" Vivian tidak ingin menjawab secara cepat.


"Aku sudah mengantuk dan sekarang aku mau masuk kamar! " Vivian melepaskan tangan Willi.


Baru mengangkatkan kaki ingin melangkah. Tubuhnya sudah di sambar oleh Willi dan meletakkan nya dalam pelukan terdalamnya.


Vivian hanya bisa terdiam, dia juga tidak berusaha untuk menolak atau menghindar.


"Pelukan ini begitu nyaman, hal yang sudah lama ku ingin kan! " batin Vivian.


Tanpa iya sadari, air matanya menetes. Tak ingin terlihat terbawa suasana, Vivian dengan cepat menghapus air matanya.

__ADS_1


Vivian kembali mendorong pelan dada Willi.


Merasa Vivian ingin lepas, Willi melonggarkan pelukan nya dan memegang rahang Vivian dengan kedua tangan nya.


Perlahan sebuah ciuman mendarat tepat di bibir merah Vivian.


Awal Vivian merasa risih dan berusaha untuk mengatupkan kedua bibirnya. Tapi Willi lebih ahli dari dia.


Willi terus saja melakukan manuver dan bergerilya. Sehingga membuat Vivian sedikit tersentuh dan mulai melonggarkan katupan bibirnya.


Lama durasi mereka berciuman, bahkan membuat ponakan Willi bangkit dari tidurnya.


Tak ingin terlalu dalam, Willi menyudahi ciuman nya dan menarik tubuh Vivian sehingga mereka memiliki jarak beberapa centi.


"Aku minta maaf, karena terlalu lama merindukan mu. Sehingga aku tidak bisa menguasai emosi ku! " kedua tangan Willi jatuh dari rahang Vivian.


Dada Vivian terlihat naik turun tak beraturan, nafas nya menggebu-gebu sehingga tidak bisa mengontrol laju deruan nafasnya.


Mereka saling terdiam tanpa kata. Willi berjalan meninggalkan Vivian dengan hati sedikit puas walau hanya setakat ciuman panas tanpa aksi.


Vivian pun pergi meninggalkan bangku yang menjadi saksi awal ciuman pertama mereka setelah beberapa tahun.


Tak ingin menjadi salah tingkah, Willi memilih masuk kedalam kamarnya.


Sementara Vivian masuk kedalam kamar Alfa. Dia merasa malu untuk berada satu kamar dengan Willi setelah kejadian tadi.


Keesokan paginya, saat Willi di kamar mandi. Vivian segera masuk kedalam kamar Willi dan meletakkan pakaian yang akan di pakai oleh suami nya untuk bekerja.


Saat mereka tinggal bersama, sudah menjadi kebiasaan Willi agar pakaian di siapkan oleh Vivian.


Dia ingin seperti suami-suami yang lain. Dimana semua kebutuhan suami istri lah yang bertanggung jawab.


Saat keluar dari kamar mandi, Willi berharap bisa melihar Vivian disana. Tapi jauh dari dugaan nya, Vivian sudah keluar dari kamar.


Dia melihat baju yang sudah terletak di tempat tidur. Dengan penuh senyum , dia mengambil baju kemeja itu dan seperti anak muda yang baru mengenal istilah cinta. Senyuman Willi tidak lekang dari bibirnya.


Saat sarapan, Willi terus saja melirik ke arah Vivian yang duduk di depannya. Alfa yang melihat perbedaan dari papa nya hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Papa kenapa senyum-senyum lihat mama?" Alfa mulai usil.


"Uhuk uhuk! " Willi batuk mendengar perkataan anak nya dan meminum air yang ada didepannya.


Vivian hanya menunduk tersenyum, tidak ingin terlihat kalau dia lagi menertawai Willi.


"Alfa, tidak boleh seperti itu ya sayang. Ketika orang dewasa sedang tersenyum mungkin ada yang membuat dia lagi bahagia. Seperti Alfa mendapatkan mainan baru, Alfa pasti senangkan? " Vivian mengalihkan perhatian.


"Ya ma, Alfa juga senang jika dapat mainan baru. Tapi apa papa ada mainan baru juga ya? " pertanyaan Alfa membuat Willi dan Vivian saling bersitatap.

__ADS_1


Mereka bingung untuk menjawab pertanyaan anak mereka yang cukup pintar untuk anak seusia dia.


__ADS_2