Mr. Perfect and Ms Random

Mr. Perfect and Ms Random
eps 34.MAMA JANGAN PERGI


__ADS_3

Tak percaya dengan apa yang dia lihat, seseorang dari masa lalunya.


Willi mendorong tubuh wanita itu agar berdiri.


"Terima kasih! " ucap Anastasya.


"Anastasya! " Willi masih terperangah.


Mereka saling bertatap mata, terlihat sudut mata Natasya berbinar. Begitu juga dengan Willi yang masih tidak yakin dengan apa yang dia lihat.


"H-hai! " sapa Natasya.


"Ya! " balas Willi singkat.


Natasya menyelipkan rambut di telinganya sambil memandang kesebarang arah.


"Apa kabarmu? " Willi masih shock.


"Aku ba-baik saja! " jawab Natasya.


"Ayo kita bicara di suatu tempat! " ajak Natasya.


Willi hanya mengangguk dan menuruti langkah Natasya.


Willi tidak ingat pada wanita yang telah dia tinggalkan sendirian yaitu Vivian.


Terlalu asik dengan orang dimasa lalu nya.


Disebuah restoran tak jauh dari gedung sebelumnya.


Terlihat Willi dan Anastasya duduk di sebelah dinding kaca. Sehingga terlihat dengan jelas mereka lagi sedang berbicara.


Sementara Vivian yang sedang menunggu, mulai bosan. Karena Willi tidak kunjung datang.


Dia memeriksa jam di ponselnya. Sudah 1 jam lebih, tapi Willi tidak terlihat juga.


Vivian berinisiatif keluar sendiri tanpa Willi.


"Mungkin dia sudah berada di bawah! " batin Vivian.


Ketika sampai dilantai bawah, Vivian tidak melihat Willi sama sekali. Berjalan menuju parkiran, disana masih terlihat mobil Willi terparkir dan didalamnya ada supir yang mengantarkan mereka sebelumnya.


Vivian masuk kedalam mobil.


"Sudah selesai non, tuan Willi mana? " tanya sang supir.


"Tuan Willi tidak bersama saya! Apa mungkin dia sudah pulang duluan? " tanya Vivian pada supir.


"Belum nona, saya dari tadi disini dan tuan didalam bersama nona! " jelas supir.


Vivian memutar bola matanya malas "Kemana pergi nya ? " gumam Vivian.


'Sebentar pak saya hubungi dulu."


Vivian menghubungi nomor Willi. Terhubung tapi tidak di angkat.


Direstoran, berulang kali ponsel Willi bergetar. Tapi sedikit pun dia tidak ada maksud untuk mengangkat panggilan itu.


Merasa di abaikan, Vivian masuk kedalam mobil.


"Pak antar saya dulu! " minta Vivian.


"Baik nona!" dan mereka pun meninggalkan mall tersebut.


Ketika melewati sebuah restoran, Vivian memandang ke arah jendela mobil.


Dan pandangannya teralihkan sebuah pemandangan. Dimana dia melihat Willi sedang duduk bersama seorang wanita.


"Pak berhenti sebentar! " pinta Vivian pada supir.

__ADS_1


Mobil pun berhenti.


Vivian keluar dari mobil, berjalan menuju restoran. Vivian berdiri di luar restoran, tepat di depan meja Willi dan Vivian.


Mata nya menatap dua orang itu bergantian. Sampai akhirnya Willi menyadari ada orang yang lagi memperhatikannya.


Willi bangkit dan memandang tak percaya .


"Vivian! " gumam Willi.


Sontak Anastasya melihat keluar kaca.


Willi bergerak ingin menghampiri Vivian. Tapi dia lebih dulu berlari pergi menuju mobil.


Buru-buru masuk kedalam mobil.


"Ayo pak jalan! " ajak Vivian pada pak supir.


Belum sempat Willi mendekat, mobil sudah lebih dulu jalan.


Willi memukul angin kesal.


Anastasya mendekat.


"Siapa Will? tanya Anastasya.


Willi hanya diam.


" Aku minta maaf, aku harus pergi sekarang! " ucap Willi dan menghentikan sebuah taksi.


"Willi, apa kita bisa berjumpa lagi? " tanya Anastasya.


Willi hanya memandangi wanita itu dan segera masuk kedalam.


Taksi melaju menuju kediaman Hudson.


Tiba dirumah, Willi buru-buru menghambur kedalam kamar.


"Vivian! " panggil Willi.


Mencari keseluruh sisi kamar dan juga kamar mandi. Tapi Vivian tidak ada disana.


Dia keluar dan turun kelantai bawah. Mencari dikamar tamu, pintu tidak dikunci sama sekali. Willi masuk.


"Vivian! " panggil Willi lagi.


Tapi tidak ada sesiapa.


Willi keluar dari kamar dan mencari sang supir.


"Dimana nona Vivian? " tanya Willi dengan wajah memerah.


"Tadi nona meminta turun di halte bus. Katanya mau pergi kesuatu tempat, dan beliau sudah minta ijin dengan tuan Willi katanya! " jawab si supir.


"Kenapa kamu bo*oh sekali. Aku tidak ada memberinya ijin! " rutuk Willi.


Sang supir terlihat ketakutan ketika Willi sudah marah.


Willi mengambil kunci mobil dan pergi sendiri untuk mencari Vivian.


"Kemana pergi nya wanita itu? " Willi tertanya-tanya.


Sambil menyisir jalan melihat kekiri dan kanan.


Di jalan menuju rumah sakit, Willi ingat kembali tempat yang mungkin di datangi Vivian.


Dia melajukan mobil menuju rumah sakit.


Setelah sampai, dia berjalan menuju bangsal dimana mama Vivian dirawat.

__ADS_1


Willi mengintip melalui kaca dipintu. Dan benar saja, Vivian ada di dalam bersama mama nya.


"Tok tok tok! " suara ketukan.


Willi pun masuk.


Vivian memandang nanar dengan mata sembab.


"Vivian, kenapa kamu tidak memberi tahu ku lebih dulu. Jika kamu mau kesini! " Willi terlihat santai.


Mama Vivian terlihat bingung dengan pemandangan didepannya.


"Ada apa ini nak? " tanya sang mama.


"Nanti Vian jelaskan ya ma. Vian mau bicara dulu diluar! " Vivian menarik tangan Willi keluar.


"Apa yang kamu lakukan disini? " tanya Vivian.


"Kenapa bertanya kepada ku. Sebalik nya aku yang harus bertanya! " bentak Willi.


"Sudah tuan Willi, aku sudah bosan dengan semua perintah mu." Vivian kesal.


"Ingat Vivian, kamu masih terikat kontrak dengan ku. Dan kamu masih di bawah wewenang ku! " Willi mengingatkan.


"Omong kosong dengan semua aturan itu. Kita hanya menikah kontrak bukan pernikahan sesungguhnya. Dan aku juga berterima kasih, karena tuan Willi membantu biaya oprasi mama ku. Tapi bukan berarti kamu bisa memperlakukan aku seenak hatimu! " Vivian melepaskan emosi nya yang sudah lama dia tahan.


Setelah perdebatan mereka diluar pintu . Vivian mencoba masuk, tapi pintu tidak bisa di buka. Seperti ada yang menahan.


Vivian mencoba kembali membuka pintu, setelah ada sedikit celah. Vivian memaksa tubuhnya untuk masuk.


Tapi tak disangka, yang menahan pintu tadi adalah mama Vivian yang tergeletak di samping pintu.


"Mama! " Vivian histeris.


Willi yang mendengar teriakan Vivian menghambur masuk.


"Ma, bangun ma! " panggil Vivian.


Tapi mama nya tidak bergeming sama sekali.


Willi buru-buru memencet tombol emergency, kemudian mengangkat tubuh mama Vivian ketempat tidur.


Mereka berdua panik bercampur cemas.


Dokter dan beberapa perawat masuk kedalam.


"Mohon keluarga pasien menunggu diluar, agar dokter bisa menangani pasien! " ucap seorang perawat.


Willi dan Vivian menunggu di bangku luar. Air mata Vivian tidak habis-habisnya.


Melihat Vivian dalam kesedihan, Willi mendekat dan meletakkan kepala wanita itu dalam dekapannya.


Fikiran Vivian terpusat pada kondisi mamanya. Di dada Willi, dia terus saja menangis.


Willi berusaha menenangkan istrinya tersebut.


Setelah tenang, Willi pergi membeli air minum untuk Vivian.


Ketika sampai, dokter pun keluar dari dalam ruangan.


"Bagaimana dok mama saya? " tanya Vivian harap-harap cemas.


Willi mengulurkan botol minuman itu dan diterima oleh Vivian.


"Maaf nona, kami sudah berusaha melakukan yang terbaik. Tapi tuhan berkehendak lain! " jelas sang dokter.


Botol air ditangan Vivian seketika terjatuh.


Dia menghambur melihat ibu nya didalam.

__ADS_1


"Ma, mama harus kuat. Jangan pergi seperti ini ma! " Vivian merayu dan air matanya semakin deras.


Willi yang berada dibelakang Vivian menyentuh pundak wanita yang sudah tidak berdaya itu.


__ADS_2