
Hari ini,Robby dan Liana berencana akan memberitahu Willi dan Vivian bahwa mereka akan menikah .
Robby terlihat sudah berada dirumah keluarga Willi. Liana datang menghampiri dan berbicara bersama Robby di ruang tamu.
"Apa kamu sudah siap? " tanya Robby.
"Aku sudah siap! "
Vivian datang mendekati mereka dan membawa putrinya.
Vivian terlihat bingung dengan kehadiran Robby yang terlalu pagi.
"Apa ada masalah, makanya kamu cepat datang hari ini? " tanya Vivian.
Liana menautkan kedua tangan nya dan sesekali menggosoknya.
"Tidak ada masalah nyonya, hanya saja ada hal yang penting ingin kami sampaikan! " Robby menatap Liana.
Mata Vivian menangkap ada sesuatu yang berbeda antara kedua insan yang sedang di mabuk cinta itu.
"Apa aku melewatkan sesuatu? " tanya Vivian penasaran.
"Kami masih menunggu tuan Willi untuk turun. Dan aku akan cerita kan tujuan ku pagi ini! " jelas Robby.
"Apa yang ingin kalian ceritakan, sehingga terdengar sepertinya begitu penting? " Willi tiba-tiba berada di antara mereka.
"Duduk lah dulu, agar bicara nya lebih enak! " ujar Vivian sembari menggendong anak nya yang terlihat tertidur pulas di pelukan nya.
Mereka pun memilih duduk.
"Maksud hati ku ingin menyampaikan, bahwa kami berdua akan segera menikah! " ucap Robby menundukkan kepalanya.
Willi dan Vivian saling berpandangan dengan apa yang mereka dengar.
"Apa aku tidak salah dengar? " Willi menatap serius pada Robby.
"Tidak salah tuan, aku dan Liana memang sudah merencakan ini dengan matang!" jelas Robby.
"Tunggu, tunggu. Sejak kapan kalian saling emmm....?" Vivian hanya melirik Robby dan Liana.
"Sebetulnya... "
"Tunggu! Aku ingin mendengar Liana yang menjawab! " Vivian memotong ucapan Robby.
Liana memandang Robby. Dia hanya memberikan isyarat mata.
"Kami pacaran belum terlalu lama, hanya saja kami sudah saling merasa cocok! " ujar Liana.
"Na, apa kamu yakin dengan pria dingin ini?" umpat Vivian sembari mengedarkan pandangan pada Robby.
Melihat reaksi Vivian yang sepertinya dingin, Robby merasa ciut.
Dia berpikir bahwa Vivian pasti tidak akan menyetujui hubungan mereka.
"Aku yakin Vian, walau dia terlihat dingin tapi sebenarnya ada yang spesial dari nya! " jawaban Liana membuat Vivian dan Willi saling berpandangan.
Mereka pun tersenyum.
"Aku suka jika kalian saling mencintai, apa lagi ada rencana ingin menikah. Selamat ya! " ucap Willi saling menyilangkan kedua kaki nya.
"Kapan rencana kalian? " tanya Willi.
"Minggu depan! " imbuh Robby.
"Apa? Kenapa seperti nya terlalu mendadak. Dan apa kalian sudah meminta restu dari orang tua Liana? " tanya Vivian masih tidak percaya.
"Kami sudah meminta restu dari ibu Liana beberapa hari lalu." jawab Robby.
"Sekarang saya tahu, Liana pulang larut malam waktu itu! " ujar Vivian.
__ADS_1
Mereka hanya saling pandang.
"Tapi, apa kamu sudah menyelesaikan pekerjaan mu untuk minggu depan? " tanya Willi.
"Sudah tuan, minggu depan tuan tidak memiliki banyak jadwal. Dari itu aku memilih waktu itu agar tidak mengganggu pekerjaan ku! " jelas Robby.
"Emm, baiklah. Ketika setelah nikah, apa kalian sudah memutuskan dimana kalian akan tinggal? " tanya Willi.
"Kami.. " Robby dan Liana saling menjawab.
"Kamu saja yang jawab! " minta Willi pada Liana.
"Kami sudah memutuskan, bahwa kami akan tinggal di apartemennya Robby."
"Bagus lah! "
"Oek oek oek! " tangisan putri kecil Vivian.
"Shu shu shu! " Vivian berusaha menenangkan anaknya.
"Mungkin dia lapar! " ucap Willi.
"Saya ke atas dulu, kalian bicaralah dulu! " Vivian pun pergi menuju tangga.
Setelah perbincangan serius itu, Willi dan Robby pun berangkat ke kantor. Tak lupa dengan Alfa yang kali ini di antar tanpa Liana. Karena sudah apa papanya.
Waktu pun terus berjalan, minggu yang di nantikan pun tiba. Orang tua Liana dan adik nya sudah datang beberapa hari yang lalu. Dan Vivian meminta Liana agar orang tuanya untuk tinggal dirumah keluarga Hudson..
Awalnya si ibu menolak, karena merasa segan . Melihat mansion yang begitu besar dan luas.
Setelah di rayu oleh Vivian, si Ibu pun akhirnya mau.
Robby dan Liana menggelar pernikahan di sebuah hotel yang sengaja di persiapkan oleh Willi untuk orang kepercayaan nya tersebut.
Liana menatap cermin di depannya.
"Lihat lah kamu terlihat cantik! " ujar sang ibu yang menemani sang anak di kamar rias.
"Kakak, setelah nikah nanti. Kakak harus selalu pulang kerumah. Karena kami pasti akan merindukanmu! " ujar adiknya.
Mata sang adik terlihat berkaca-kaca menahan tangisnya.
"Kalian adalah orang-orang spesial di hati ku! " Liana merangkul Ibu dan adiknya.
Liana hanya bisa menahan air matanya agar tidak jatuh. Kalau tidak riasan nya akan rusak karena air mata.
Acara pengikraran janji suci pun di mulai. Liana terlihat berjalan di depan altar menuju mempelai pria.. Robby yang sedang menunggu kedatangan calon istri merasa kan getaran jantungnya begitu cepat. Sesekali dia memegang bagian dadanya.
Hari itu Liana terlihat cantik dari biasanya.
Ikrar suci sudah selesai, semua tamu yang hadir bertepuk tangan untuk kedua mempelai yang sedang berbahagia.
Willi dan Vivian duduk di bangku paling depan.
Air mata Vivian tidak bisa terbendung, air mata kebahagiaan.
Melihat istrinya yang terbawa suasana, Willi merangkul Vivian yang sedang memangku bayi mereka.
Saat malam, acara pesta berlanjut. Semua tamu yang hadir dari orang-orang yang mereka kenal. Termasuk teman Willi juga Brian dan Sebastian.
"Selamat ya, akhirnya bisa merubah nama! " ucap Brian.
Robby memandang bingung pada Brian.
"Mengubah nama gimana maksudnya? tanya Robby tak mengerti.
" Maksud ku dari bujangan menjadi suami orang! " jelas Brian.
"Hahah," mereka semua tertawa riuh.
__ADS_1
Acara sudah mulai menengah malam, orang-orang pun mulai pergi meninggalkan pesta tersebut.
Willi dam Vivian belum lagi beranjak dari sana.
Robby dan Liana memutuskan untuk segera beristirahat.
"Kalian mau kemana? " tanya Willi menahan langkah Robby.
"Aku dan istri ku mau kembali ke apartemen tuan. Hari ini begitu lelah! " jelas Robby.
"Kalian tidak perlu kembali ke apartemen.Ini .. " Willi menyerah selembar kertas dan itu adalah vocer hotel .
Robby melihat kertas itu.
"Tapi tuan ini terlalu berlebihan, sementara pesta ini adalah pemberian dari tuan Willi! " Robby merasa segan.
"Tidak apa, terima saja. Ini bukan dari aku , tapi dari istri ku! " ujar Willi.
Robby dan Liana memandang pada Vivian.
"Terima lah, kuharap kalian bisa menikmatinya. "
Liana mendekati ke arah Vivian den memeluk nya.
Setelah dikamar hotel, Liana segera ke kamar mandi dia ingin mengganti gaun yang dia kenakan.
Saat ingin membuka kancing belakang, tangan Liana kesusahan untuk menjangkau kancing nya.
Sudah tidak ada cara lain, dia pun berjalan keluar kamar mandi dan meminta bantuan pada Robby.
"Tolong bukakan kancing nya , tangan ku susah untuk menjangkaunya." minta Liana.
Robby yang baru saja merebahkan tubuh nya bangkit menuju Liana.
Robby membuka kancing belakang itu secara perlahan.
Setelah terbuka,terlihat jelas punggung mulus Liana dengan lekukan tubuhnya yang ramping.
Robby menelan salivanya, pemandangan di depan nya tidak mungkin di sia-siakan.
Perlahan tangan Robby menggelayut di pingging ramping istri nya. Membuat Liana tersentak, dan berbalik.
Wajah kedua insan itu hanya berjarak beberapa inci saja. Sehingga terdengar deruan nafas mereka.
Mata Robby mengisyaratkan petanda bahwa malam ini dia ingin memiliki Liana seutuhnya.
Seakan mengerti dengan kewajibannya. Liana membiarkan saja ketika Robby mulai mencium dan menyentuh setiap inci dari tubuhnya.
Sampai pada akhirnya malam pertama terjadi.
...****************...
Pengumuman
***Cerita tentang Willi dan Vivian sepertinya sudah menemui babak akhir.
Maaf jika penyampaian dan tulisan yang salah dan typo yang selalu tanpa saya sadari.
Ini murni hanya pemikiran penulis, tanpa campuran dari novel-novel lain
Tidak dipungkiri terkadang penulis juga sering membaca novel penulis lain untuk mencari ide, tapi sebaik mungkin untuk tidak menurut penulis lainnya.
Membaca juga salah satu cara saya untuk mencari ide untuk penulis novel ini
Terima kasih sudah menyempatkan diri membaca novel saya..
Tunggu novel berikutnya.
Mohon kiranya bagi yang membaca novel ini memberikan sedikit masukan di kolom komentar.
__ADS_1
Agar saya lebih giat lagi dalam berkarya***.