
Setelah 5 hari, hasil tes DNA keluar. Amplop sudah dipegang oleh Frederick.
Tak sabar, Frederick membuka isi amplop itu.
Dan alangkah terkejutnya lelaki paruh baya itu. Ternyata hasil tes itu 99% cocok.
Jantung Frederick seakan mau melompat melihat hasil nya. Dia tidak bisa menahan rasa yang ada di dada nya. Tidak tahu apakah harus marah, atau bahkan bahagia.
Frederick kembali datang ke rumah Anastasya.
"Tok tok tok!"
Anastasya membuka pintu.
"Papa! "
"Boleh papa masuk? "
"Masuk pa! "
Frederick masuk, dan masih mengatur nafas agar tidak emosi saat berbicara dengan Anastasya.
Perlahan dia meletakkan amplop itu di meja. Dan menyodorkan nya pada Anastasya.
Merasa bingung "Apa ini pa? " tanya nya.
"Bukalah! " minta Frederick.
Anastasya membuka amplop itu tanpa pernah berfikir bahwa kebohongannya akan terbongkar.
Membaca dengan seksama. Mata Anastasya membulat tak percaya
"Sejak kapan papa mengetahuinya? "
"Tidak perlu bertanya, seorang ayah tahu bahwa anaknya berbohong! " jelas Frederick.
Anastasya menangis tersedu, dia tak menyangka bahwa kebohongan nya akan diketahui oleh papanya.
"Dimana sekarang anak itu? " tanya Frederick.
Anastasya menatap ayah nya.
"Apa yang harus aku jawab, anak itu sudah di kirim ke panti asuhan? "batinnya.
Melihat Anastasya tidak menjawab, Frederick sudah bisa menebak dimana keberadaan anak itu sekarang
" Dimana anak itu sekarang? "tanya Frederick.
"A-anak m-mana yang papa maksud? " Anastasya seolah-olah tidak mengerti.
Mata Frederick membesar seperti siap menerkam.
"Nata, sekarang papa berusaha untuk tidak marah. Asal tidak ada perdebatan! " Frederick kembali mereda.
Anastasya tertunduk lesu. Dia sudah tidak bisa mengelak apa lagi berdalih.
Anastasya menghambur bersimpuh dikaki papanya.
"Maafkan Nata pa, Nata sudah membuat malu keluarga! " lirih di sertai tangisan yang terdengar tulus.
Air mata Frederick menetes, dia merasa hancur. Anak perempuan satu-satu nya yang dia percayai sudah berani berbuat sejauh ini.
"Apakah ini alasan mu tidak menemui papa? " jiwa seorang yang terluka.
"Anastasya takut papa malu, Anastasya berharap bisa menikah dengan Willi. Tapi akhirnya dia pergi meninggalkan ku! " rengek Anastasya.
"Willi! Maksud mu Willi dari keluarga Hudson? " tanya papa nya.
Anastasya mengangguk.
__ADS_1
"Nata sadarlah. Kamu yang dulu meninggalkan nya. Sekarang kamu berharap dia yang bertanggung jawab! " timpal papa nya.
"Jujur dengan papa, anak siapa itu sebenarnya? " tanya papa nya.
"I-itu anak Jovan pa! " jawab Anastasya.
"Jovan mana? " tanya nya lagi.
"Teman laki-laki Nata pa! " jelas nya.
"Kenapa kamu tidak minta pertanggung jawaban dari nya? "
Anastasya terdiam.
"Bagaimana harus menjawabnya. Bukan Jovan yang meninggalkan aku." batin Anastasya.
"Apakah kamu yang tak menginginkan nya? " tebakan papa tepat.
Anastasya hanya bisa menunduk .
"Sekarang dimana anak itu? " tanya papa nya.
"A-aku minta Rega untuk mengantarkannya ke panti asuhan! " jawab Anastasya.
Papa nya memegang dada nya yang terasa berdenyut.
"Papa! " Anastasya terlihat khawatir.
"Sudah, sudah. Sekarang ikut papa dan kita bawa kembali anak itu! " ucap Frederick.
Anastasya mengikuti langkah papa nya yang panjang.
Di luar "Pa, biar Nata saja yang menyetir. Papa sepertinya tidak sehat! " ujar Anastasya.
Frederick memberikan kunci mobil dan mereka pun berangkat.
Ternyata anak itu tidak begitu jauh. Ketika mereka sampai, diparkiran terlihat mobil yang tidak asing.
Mereka berdua masuk kedalam panti dan melihat anak-anak yang tumbuh tanpa orang tua sedang bermain.
"Bisa kau lihat anak-anak ini, mereka tidak berdosa. Tapi mereka lah menanggung penderitaan karena dosa orang tua nya."
Anastasya seperti di himpit gunung batu besar. Hati nya merasa sakit mendengar perkataan papa nya tersebut.
Satu persatu dia lihat anak-anak yang datang mendekat ke arah mereka.
"Kamu pasti bisa merasakan, mereka itu membutuhkan kasih sayang. " ujar papa nya.
Air mata Anastasya terus saja menetes tanpa suara.
Setelah di dalam panti, mereka di sambut oleh kepala panti.
"Selamat datang ! " sambut ibu kepala.
Frederick tersenyum.
"Kami ingin berkunjung dan mengadopsi seorang anak! " ucap Frederick.
"Dengan senang hati tuan, silahkan duduk dulu! "
Sebelum ibu kepala duduk di bangku, mata Anastasya melihat sosok orang yang begitu akrab.
"Rega! " gumam nya.
Ibu kepala melihat ke arah yang di tuju Anastasya.
"Anda kenal dengan nak Rega? " tanya kepala panti.
Frederick melihat ke arah Rega. "Apa yang dia lakukan disini? " batinnya.
__ADS_1
"Saya kenal dia bu, dia teman saya! " sambut Anastasya.
Ibu kepala tersenyum "Kemarin dia datang dengan seorang bayi, sebenarnya dia tidak tega untuk meninggalkan anak itu disini. Tapi pekerjaan nya membuat dia tak punya waktu. Ya seperti ini, ketika ada waktu luang dia akan datang kesini! " jelas bu kepala.
Anastasya bangkit dan menghampiri Rega.
Sebuah tangan memegang pundak nya.
Rega menoleh dan terkejut.
"Anastasya! " lirih nya.
Terlihat Rega sedang bersama Julie yang sudah memasuki usia 2 bulan lebih.
"Kamu sering disini? " tanya Anastasya.
"Maafkan aku Nata, aku tidak sampai hati meninggalkan dia sendiri." jelas Rega.
"Rega! " panggil Frederick.
Mata Rega beralih ke bangku kayu yang ada di belakang nya.
"Om ! "
Rega bangkit dan menghampiri Frederick.
"Kemarikan cucu ku , aku ingin menggendong nya! " ucap Frederick.
Mata Rega membulat tidak percaya. Dia alihkan pandangan pada Anastasya.
Seperti mengerti arti dari pandangan Rega. Anastasya hanya menjawab nya dengan anggukan.
Rega menyerahkan Julie kecil ke pangkuan kakek nya.
"Sayang,kamu masih terlalu kecil! " ujar Frederick.
Rega mendekati Anastasya.
"Bagaimana cerita nya? " tanya Rega.
"Dari awal papa sudah tahu, bahwa dia anak ku. Karena wajah nya mirip dengan ku sewaktu kecil! " jawab Anastasya.
"Haaa! " Rega menutup mulut dengan kedua tangan nya.
"Maaf tuan, ada apa sebenarnya? " tanya ibu panti yang sedari tadi tidak mengerti.
Frederick menjelaskan semua dari A sampai Z. Ibu panti pun faham sekarang. Dia hanya bisa tersenyum, akhirnya bayi mungil itu berkumpul kembali bersama keluarganya.
"Saya kembalikan anak ini pada keluar tuan!" ucap ibu panti.
Setelah mempersiapkan segalanya , Frederick pun ingin segera berpamitan.
Tapi sebelum itu, dia berfikir ingin menyumbang beberapa uang ke pada panti tersebut.
Dia serahkan Julie kecil pada Anastasya.
Frederick berjalan keluar dari panti menuju mobil. Dia mengambil sebuah cek dan kembali kedalam.
Frederick mengeluarkan pena nya dan menuliskan sejumlah uang di atas cek tersebut.
"Ini pemberian dari saya untuk panti ini. Semoga bisa bermanfaat! " ucap Frederick.
Mata ibu panti berkaca-kaca melihat jumlah uang yang tidak sedikit tersebut
"Terima kasih tuan, kami tidak bisa membalas kebaikan tuan. Hanya Tuhan saja yang bisa." ucap Ibu panti penuh iba.
Frederick tersenyum.
"Saya hanya berbagi sedikit dari apa yang saya punya! " ucap Frederick.
__ADS_1
Setelah semua selesai, Frederick, Anastasya dan Rega pamit.
Di dalam mobil, Anastasya menyesali apa yang telah dia lakukan.