
Willi menarik masuk tangan Vivian menuju rumah kecil tersebut.
Robby masih berdiri diluar, dia tidak ikut masuk. Setelah Willi dan Vivian berada tepat didepan pintu. Robby masuk kedalam mobil dan pergi dari tempat itu.
Vivian terperangah.
"Ro-Robby pergi! Bagaimana ini? " Vivian terlihat gusar.
"Aku yang memintanya untuk pergi! " jawab Willi santai.
"Bagaimana dengan kita? " tanya Vivian.
"Bagaimana dengan kita?" Willi mengulang pertanyaan Vivian.
Willi terlihat memancarkan senyuman jahatnya, tak ubah bak ular.
"Apa sebenarnya yang kau rencanakan? " batin Vivian.
Willi terus saja menarik tubuh mungil wanita itu.
Setelah di dalam, Willi melepaskan genggaman tangannya.
"Untuk saat ini, kita akan tinggal di sini! " ucap Willi.
"Kenapa? " tanya Vivian masih dengan kebingungannya.
"Tidak perlu bertanya, kamu juga akan tahu nanti nya! " Willi semakin membuat penasaran.
Vivian berjalan mengelilingi rumah mungil itu. Dia merasa tertarik dengan keindahan disana.
Di belakang rumah tersebut ada sebuah danau. Dan sebuah perahu yang memiliki tambatan kecil.
Hari perlahan gelap, Willi masih saja di dalam kamar tanpa melakukan apapun. Vivian tidak tahu harus melakukan apa.
"Krruuukkk." suara perut lapar.
Vivian memegang perutnya yang mulai keroncongan.
Pintu kamar yang tidak di tutup membuat Willi leluasa melihat keluar.
Tanpa sengaja matanya melihat penampakan ketika Vivian memegang perutnya.
Willi bangkit dari tempat tidur nya, dan berjalan keluar.
"Kamu lapar? " tanya Willi masih dengan wajah yang tak bisa ditebak.
Vivian hanya mengerucutkan bibirnya.
Willi merasa geram dengan tingkah Vivian yang lebih mirip anak-anak menggemaskan.
Perlahan Willi mendekat. Vivian tersentak.
"Apa yang mau kamu lakukan? " tanya Vivian mundur selangkah.
Tangan kanan Willi memegang rahang Vivian d
sehingga membuat wajah wanita itu menengadah.
Tak tahan dengan wanita didepannya. Willi mendaratkan ciuman di bibir tipis wanita itu.
"Umm! " Vivian berusaha memberontak.
Willi melepaskan ciuman nya. "Ternyata dirimu masih sekaku yang dulu! " ucap Willi dan pergi meninggalkan Vivian.
Vivian mengelap bibirnya.
__ADS_1
"Laki-laki sinting! " umpat nya.
Willi berjalan kedapur dan membuka kulkas.Melihat apa yang bisa untuk dimakan.
Ada daging, ikan segar dan juga makanan lainnya seperti sayuran dan buah.
Vivian melihat tak percaya isi kulkas itu. Seperti baru saja di penuhi.
"Sebetulnya untuk apa kita disini tuan? Alfa pasti sedang mencari ku! " ucap Vivian.
"Apakah kamu tahu, berapa lama aku mencari mu? " tanya Willi balik sembari meletakkan daging yang baru dia ambil dari kulkas.
Vivian terdiam tanpa kata, dia berusaha untuk menarik kesadaran nya.
"Jangan termakan gombalannya Vivian, dia laki-laki buaya biasa dengan mulut manisnya! " batin Vivian menyadarkan dirinya.
Vivian menggelengkan kepalanya.
"Apa yang kau fikirkan? Bantu aku agar cepat masak! " minta Willi.
Vivian perlahan mendekat, Willi meletakkan beberapa sayuran di depan Vivian untuk dikupas dan dipotong.
Sementara Willi memotong-motong daging tadi.
Setelah semua selesai, Vivian masih bingung apa lagi yang harus dia lakukan.
"Yang ini mau dibuat apa? " tanya Vivian pada Willi.
Willi memilih beberapa bumbu yang harus di haluskan.
"Ini kamu haluskan! " jelas Willi.
Vivian mencari dimana keberadaan blendernya. Mencari sekeliling dan juga didalam kabinet tetap tidak ada.
"Tuan, aku tidak melihat ada blender! " ucap Vivian.
Sebuah ulekan, dia menyerahkannya pada Vivian.
Vivian terpelongo melihat ulekan itu.
"Apa tuan tidak salah? " tanya Vivian tidak percaya.
"Kalau ingin makan jangan banyak tanya,kerjakan saja. " jawab Willi.
Dengan hati dongkol, Vivian tetap mengerjakan apa yang diminta oleh Willi.
Terlihat wajah Vivian begitu tidak iklas. Willi merasa ingin tertawa melihat wajah Vivian yang seperti anak kecil. Tapi dia menahan sekuat mungkin.
Setelah berkutat 1 jam lebih didapue, akhirnya masakan kolaborasi antara Willi dan Vivian akhirnya siap juga.
Willi menaruh mangkok dan sendok di meja makan yang berukuran kecil . Hanya cukup untuk dua orang saja.
"Makan lah! " Willi menyendokkan sup yang dia buat untuk Vivian.
Vivian merasa ragu untuk makan masakan yang dibuat oleh Willi.
"Bisa jadi, selesai makan nanti aku sudah berpindah alam! " batin Vivian sambil merenungi sup yang ada didepannya.
"Makan lah, tidak ada apa pun sesuatu didalam sana! " Willi mulai menyeruput air supnya.
Melihat Willi makan, Vivian sedikit merasa yakin dan perut nya sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi.
Perlahan dia masukkan sendok pertama ke mulut. Dan yang paling tidak dia duga, masakan Willi itu ternyata enak.
"Kenapa bisa enak begini? " batin Vivian sambil terus menikmati makanannya.
__ADS_1
Willi tersenyum melihat Vivian yang seperti orang kelaparan.
Setelah merasa kenyang, Vivian merapikan bekas makanan mereka tadi. Sementara Willi pergi keluar, mencari angin segar.
Rumah itu memiliki teras kecil, dan sebuah bangku kecil. Willi menyandarkan dirinya di bangku kecil tersebut.
Sekeliling hanya terlihat gelap tanpa pelita. Hanya di sekitaran rumah mereka saja yang ada pencahayaannya.
Setelah selesai mencuci piring, Vivian meraba-raba kantongnya.
"Ah, aku lupa. Ponselku kan ada di dalam tas.
Vivian ingat Willi membawa ponsel nya.
Mengendap-endap kedalam kamar dan mencari di meja tapi tidak menemukan ponsel tersebut.
Dia berjalan menuju tempat tidur, mencari di balik bantal. Dan akhirnya ketemu.
"Semoga saja semua baik-baik saja! " batin Vivian.
Tapi ketika layar ponsel hidup. Di bagian kanan atas signal, terlihat tanda silang.
"Ya Tuhan, tempat seperti apa ini. Kenapa signal saja tidak ada? " Vivian berusaha mengangkat ponsel itu sembari mencari jaringan.
Tapi usaha nya tidak membuahkan hasil.
Willi yang melihat tingkah Vivian hanya bisa terdiam menyandar di pintu luar.
Perlahan dia menuju kamar.
"Rekk! "suara lantai papan berbunyi.
Sontak membuat Vivian meletakkan ponselnya ketempat semula.
" A-aku hanya sekedar masuk. " Vivian pun ingin melangkah keluar.
"Brukk! " belum sempat Vivian didepan pintu Willi sudah dulu menutup pintu tersebut.
Langkah Vivian terhenti, dia memandang nanar pada Willi yang berjalan perlahan mendekat ke arahnya.
"Tuan mau apa, ku mohon jangan berbuat yang tidak-tidak! " ucap Vivian.
Semakin Vivian mundur, dan langkahnya terhenti karena ranjang yang tepat berada dibelakangnya.
Vivian terduduk.
Willi semakin mendekat, Vivian menjauhkan wajahnya semakin mundur. Tapi Willi semakin mendekatkan wajahnya.
Sehingga tidak ada ruang untuk Vivian bergerak. Perlahan wajah Willi semakin mendekat, dengan cepat Vivian bangkit dan hendak pergi.
Tapi dia kalah cepat dengan Willi. Tangannya sudah ditahan lebih dulu.
"Mau kemana kamu? " tanya Willi.
"Ta-tapi tuan! " lirih Vivian.
Willi menarik tangan Vivian semakin mendekat.
Mata bertemu mata, Willi mendaratkan ciuman hangat di bibir wanita kesayangannya itu.
Vivian berusaha untuk berontak, tapi dia tidak memiliki tenaga untuk menghalau tubuh Willi.
Willi terus saja *******, Vivian yang awalnya menolak lama-lama tidak bisa lagi bertahan. Batinnya menolak, tapi tubuhnya sebaliknya.
Semakin lama, permainan mereka semakin panas. Tidak di pungkiri, sekian tahun Vivian pergi tidak sekali pun dia pernah bermain dengan laki-laki lain. Pertama bersama Willi dan juga yang terakhir.
__ADS_1
Merasa sudah tidak ada penolakan, Willi membaringkan tubuh mungil itu dan mengitari seluruhnya. Perlahan, baju yang Vivian kenakan ingin dilepaskan. Tapi tangan Vivian menahannya, melihat itu Willi semakin memantapkan ciuman nya.
Dan pada akhirnya benteng pertahanan Vivian pun ambruk juga.