Mr. Perfect and Ms Random

Mr. Perfect and Ms Random
SEASON 2.eps.94.ALFA SUDAH SIUMAN


__ADS_3

Hari menjelang malam, papa Willi dan mama Vivian masih berada di ruang Alfa. Dia masih belum sadarkan diri.


"Ma, kita pulang sekarang! " ajak Willi.


"Tapi Alfa belum sadar pa! " wajah mama Vivian terlihat sedih.


Willi hanya bisa terdiam melihat kesedihan istrinya yang. Willi juga merasa kan apa yang istrinya rasakan. Hanya saja dia tidak ingin terlihat lemah dan membuat sang istri semakin kepikiran.


Rihana masih setia menunggu Alfa sampai siuman. Telepon nya dari kemarin terus saja berdering.


Ibu dan adik nya cemas,karena Rihana tidak ingat untuk memberikan kabar.


"Rihana, kamu pulang lah dulu. Biar tante saja yang menjaganya! " Vivian mengelus puncak kepala gadis itu.


Rihana mendongak dan menggenggam tangan Vivian .


"Tidak apa-apa tante, saya yang akan menjaga nya. Tante dirumah saja, kalau ada apa-apa saya akan kabari tente! " bujuk Rihana.


Vivian merasa aman jika Alfa di jaga oleh Rihana.


Mereka pun pergi kembali ke mansion keluarga Hudson.


Saat tiba dirumah, terlihat Vanesa menghambur ke arah mereka.


" Ada apa dengan kakak ma? "tanya Vanesa dengan wajah yang penuh telisik


" Kakak mu tidak apa-apa, hanya luka biasa! " jawab papa Willi santai.


Saat berada dirumah, sang mama tidak memperlihatkan wajah yang sedih. Karena dia tidak ingin anak kesayangan nya itu menjadi pikiran dan pergi ke rumah sakit.


Dia takut penyakit Vanesa kambuh jika mendengar cerita buruk itu.


Saat berita Alfa mengalami tembakan, Willi dan Vivian tidak memberitahu Vanesa apa yang terjadi. Karena dia mengidap jantung lemah, sewaktu-waktu bisa saja kambuh dan merenggut nyawanya.


Tentu saja orang tua mana pun tidak ingin mereka mengalami hal itu. Sebaik mungkin mereka menyembunyikan berita itu. Dan mereka juga meminta Sami untuk tidak datang dulu kerumah sebelum Alfa benar-benar sembuh.


Saat malam sekitar jam 8 lebih, Rihana terlihat duduk di samping disebuah kursi samping kiri Alfa. Dia membersihkan tangan Alfa dengan kain basah.


Sesekali dia akan menguap, walau jam masih terlalu awal. Tapi hari ini betul-betul menguras tenaga.


Setelah selesai membersihkan tubuh Alfa, Rihana mengambil handuk kecil untuk mengeringkan tubuh Alfa. Tapi kantuk yang menyerang nya sangat tidak bisa ditahan lagi. Mata nya mulai menutup perlahan dan tangan nya berhenti mengelap.Tersentak kembali dan membuat matanya terbuka lagi. Dan pada akhirnya si tubuh sudah tidak bisa di paksa lagi. Mata Rihana terpejam,kepalanya di rebahkan di samping tangan Alfa dan terlelap.


Saat hampir tengah malam, sekitar jam 11.Jari-jari Alfa mulai bergerak satu persatu. Dan akhirnya matanya pun ikut terbuka.


Saat ingin menggerakkan bagian tubuh atasnya.


"Aahh! " Alfa meringis.


Saat akan menggerakkan tangan kiri nya, Alfa tidak bisa mengangkatnya. Mata Alfa pun teralihkan.


Terlihat Rihana sedang tertidur pulas, Alfa menarik pelan-pelan tangannya agar tidak membuat Rihana terbangun.

__ADS_1


Seulas senyuman di bibir Alfa, dia membelai rambut Rihana yang hanya terikat kebelakang.


"Secemas itukah kamu? " batin Alfa.


"Ciiiittt! " suara pintu kamar Alfa terbuka.


Mata Alfa tertuju pada pintu.


"Aku kira siapa! " ucap Alfa pada Sami.


"Maaf tuan, tadi saya tidak sempat kesini. Karena ada beberapa masalah di perusahaan! " jelas Sami.


Alis Alfa mengangkat.


"Masalah apa? " tanya nya.


Sami tak langsung menjawab, karena Rihana terlihat bergerak seperti sedang terganggu dengan suara percakapan mereka.


Lalu Sami mengeluarkan ponselnya, seperti sedang menulis pesan dan memperlihatkan pada Alfa.


Mata Alfa membulat setelah membaca ketikan Sami tadi.


"Tapi tuan tenang dulu, jangan terlalu banyak pikiran . Sekarang ini kita harus fokus pada kesembuhan tuan Alfa dulu! " ujar Sami.


Alfa meminta ponsel Sami dan mencoba mengetikkan sesuatu. Saat selesai , dia menunjukkan tulisan itu pada Sami.


Dan Sami pun menjawabnya dengan ketikan juga.


"Anak buah tuan ada di bagian luar, kalau ditempatkan di sini takutnya memancing perhatian"


Sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Alfa meminta Sami untuk pergi dengan mengibaskan tangannya.


Sami pun keluar.


"Disaat seperti ini pun, ego mu masih tinggi! "Sami terlihat jengkel saat Alfa mengusirnya.


Jam sudah menunjukkan pukul 1,Alfa sudah tidak bisa lagi tidur. Sementara Rihana masih terpaku di bangku nya.


Merasa bosan, Alfa pun mendapatkan ide.


" Jangan, jangan pergi. Ku mohon! " ucap Alfa dengan mata pura-pura terpejam dan tangan seperti ingin menggapai sesuatu.


Mendengar sebuah suara yang agak keras, Rihana pun terbangun dari tidur nya.


"Heemmmmm! " suara Alfa seperti menangis.


Mendengar Alfa seperti mengigau, Rihana membangunkan Alfa dengan cara menepuk lembut bagian dadanya.


"Tuan, tuan Alfa. Anda tidak apa-apa? "


Mata Alfa pun terbuka.

__ADS_1


"Ka-kamu, kenapa kamu di sini? " Alfa pura-pura bertanya seperti orang yang benar-benar baru tersadar.


"Dari semenjak tuan di bawa kesini, saya yang menjaga tuan! " jawab Rihana.


Alfa terdiam tanpa kata , dia merasa ingin tertawa mendengar jawaban Rihana yang terlihat polos.


Alfa berusaha menahan agar dia tidak tertawa.


"Tuan mau apa? Apa tuan mau minum? " tanya Rihana perduli


"Apa saya sudah boleh minum? " Alfa seperti mempermainkan Rihana yang tidak tahu apa-apa.


"Saya bertanya dulu pada dokter! " saat Rihana berbalik ingin keluar.


Alfa menarik tangan Rihana sehingga membuat tubuh Rihana terhuyung ke dada bidang Alfa.


"Aauuu! " Alfa meringis.


Rihana panik.


"Maaf tuan, saya tidak sengaja. Tuan yang menarik tangan saya! Maaf kan saya! " ujar Rihana.


Dia mengelus bagian dada Alfa.


"Bukan itu yang sakit! " ucap Alfa


"Maaf tuan, saya tidak tahu. Dibagian mana yang sakit? "


Alfa meraba bagian belakangnya.


"Ya Tuhan, maaf kan saya tuan." Rihana memiringkan tubuh Alfa.


"Apa ini yang sakit tuan? " tanya Rihana sembari mengelus lembut bagian yang di maksud Alfa.


Puas rasanya Alfa mengerjai Rihana sehingga dia terlihat panik.


Rihana melihat sebuah senyuman di bibir Alfa. Wajahnya pun seketika berubah. Yang tadinya panik berubah betek.


"Berarti tuan mengerjai saya? " tanya nya dengan bibir di manyunkan.


"Hahah! " Alfa terus saja tertawa.


Dia merasa puas telah mengerjai Rihana, walau sebelumnya Alfa tidak pernah sekali pun berbuat seperti itu.


"Maaf, kalau kamu marah! " Alfa meminta maaf.


Rihana yang tadinya membelakangi Alfa kembali menghadapnya.


"Tuan keterlaluan, saya sudah merasa cemas dan juga merasa bersalah. Kalau bukan karena saya yang keras kepala, tidak mungkin ini semua terjadi! " air mata Rihana jatuh di sudut matanya.


Alfa menarik tangan wanita itu dan membawa nya dalam dekapan.

__ADS_1


"Maafkan aku juga, jika membuat mu cemas! " suara Alfa terdengar lembut dan tidak ketus seperti biasanya.


Malam itu mereka terlihat akrab, dan bahkan lebih dekat dari sekedar atasan dan bawahan.


__ADS_2