Mr. Perfect and Ms Random

Mr. Perfect and Ms Random
eps 37.TERJEBAK DALAM RAYUAN MANTAN


__ADS_3

Di dalam kamar, Willi memandang lekat pada wajah Vivian yang tertidur pulas.


Willi membetulkan rambut Vivian yang berada di pipi hingga menutupi mata istri nya.


"Malam ini berlalu begitu saja! " ujar Willi.


Dia sedikit kecewa karena bayangan nya akan melewatkan malam panjang buyar begitu saja.


Dia rebahkan tubuhnya di samping Vivian.


"Kring kring! " suara ponsel berdering.


Willi terperanjat karena lupa mematikan suara dering telepon nya. Segera dia ambil ponsel itu dan berlari menjauh agar tidak mengganggu tidur Vivian.


Dia lihat sebuah panggilan dengan nomor tanpa nama.


"Siapa tengah malam begini tidak sopan sekali? " rutuk Willi.


Dia tutup panggilan itu, tidak ingin menanggapi nomor yang menurutnya tidak penting.


Setelah ponsel nya di buat getar. Kembali nomor itu menghubungi.


"Deerrtt, deerrttt! "


Willi semakin emosi, ketika dia ingin menonaktifkan ponsel nya. Dia berfikir.


"Bisa jadi itu panggilan penting? "


Willi pun mengusap tombol berwarna hijau.


"Hallo! "


"Willi, ini kamu kan? " sebuah suara dari seberang telepon.


Willi menjauhkan teleponnya mengangkat sebelah alis nya. Kembali dia dekatkan telepon ditelinganya.


"Siapa ini? " tanya Willi.


"Willi apa kamu tidak kenal dengan suara ku lagi? " tanya wanita di seberang telepon.


"Degh"


"Suara nya seperti Anastasya! " batin nya.


"Kenapa kau menghubungi ku tengah malam seperti ini? " tanya Willi.


"Apakah kau tidak rindu dengan ku? " tanya Anastasya.


"Omong kosong, setelah kau pergi meninggalkan ku? "


"Willi, apakah kau tahu tidak sedikit pun aku melupakan mu! " ujar Anastasya.


"Kalau tidak ada hal penting aku tutup saja telepon nya! " Willi menekan tombol merah dan telepon pun terputus.


Ternyata percakapan Willi ditelepon di dengar oleh Vivian yang baru saja terbangun karena suara deringan ponsel yang berisik.


Dia pura-pura tidur seperti tidak mendengar apa pun.

__ADS_1


Willi kembali merebahkan tubuhnya ditempat tidur dan meletakka ponsel nya di atas nakas.


"Deerrtt deertttn" sebuah pesan masuk.


Willi kembali meraih ponsel nya dan membuka pesan masuk dari nomor sebelumnya.


"Aku berharap kamu bisa datang malam ini. Kalau tidak aku akan mengakhiri nyawa ku malam ini juga"


Isi pesan yang mengancam, Willi seakan tak percaya dengan pesan tersebut. Tapi dia tahu betul seperti apa Anastasya itu.


"Cekk! " mulut nya berdecit dan mengagaruk kepala yang tak gatal.


"Apa harus aku kesana? " Willi mondar mandir didalam kamar.


Vivian melihat semua tingkah Willi yang sedang gelisah.


"Baiklah ,ini untuk yang terakhir kali! " Willi berjalan menuju lemari pakaian.


Melihat Willi pergi, Vivian bangkit dan menyusup keluar dari dalam kamar yang bercahaya remang-remang.


Dia berjinjit agar langkah kaki nya tidak terdengar.


Buru-buru Vivian masuk kedalam bagasi mobil. Dia penasaran siapa yang menghubungi nya tengah malam begini sehingga membuat Willi gusar.


Setelah berganti pakaian, Willi menoleh ketempat tidur.


Dia beranggapan bahwa Vivian masih berada di sana.


Itu hanyalah sebuah guling yang ditutupi oleh Vivian dengan selimut.


Tanpa berlama-lama lagi, Willi sudah berada di dalam mobil.Dia hidupkan mesin dan segera berangkat.


3 jam perjalanan, membuat Vivian tertidur di dalam bagasi.


Mobil pun berhenti.


Vivian tersentak dan mambuka matanya. Setelah memastikan Willi keluar. Vivian mendorong sedikit penutup bagasi dan mengintip situasi.


Ternyata mereka berada di sebuah hotel. Dia pun keluar.


Terlihat Willi berjalan menuju kedalam hotel. Dan langsung memasuki lift.


"Kemana dia pergi? " batin Vivian sambil terus mengikuti.


Vivian melihat dari monitor di pintu lift, bahwa Willi menuju lantai 20.


Setelah lift terbuka, Vivian pun masuk menuju lantai 20.


Setelah sampai diatas, Willi tidak terlihat lagi. Melihat beberapa pintu, Vivian mendekatkan telinganya kedaun pintu untuk mendengarkan suara penghuni. Cara satu-satu nya untuk mengetahui tanpa ketahuan.


Tapi usahanya sia-sia.


Merasa tidak ada jalan lain, Vivian kembali turun kelantai bawah. Dia menunggu sampai Willi turun.


Lama menunggu sampai Vivian kembali di serang kantuk.


Di kamar hotel lantai 20,Willi terlihat berdiri disamping ranjang.

__ADS_1


"Willi, kenapa sekarang kamu berubah? " tanya Anastasya.


"Aku tidak berubah, hanya saja kamu bukan idaman ku lagi! " ujar Willi.


"Hahah! " Anastasya tertawa mendengar ucapan Willi.


Anastasya menarik tubuh Willi mendekat ketempat tidur. Tapi Willi terus saja menolak.


Anastasya bangkit, dia berjalan menuju meja dikanan ranjang sambil membelakangi Willi. Tangan nya menuangkan segelas minuman beralkohol, dan memasukkan sebuah serbuk dan mengaduknya dengan jari.


Willi tidak menyadari apa yang dilakukan oleh Anastasya.


"Minumlah dulu! " Anastasya menyodorkan segelas minuman yang telah dia campur tadi.


Willi menolak minuman itu.


"Minumlah segelas saja, dulu kamu menuruti setiap apa yang ku minta! " Anastasya mengingatkan masa lalu.


Willi pun mengambil minuman tersebut. Merasa hanya sebatas minuman, tidak akan membuat Anastasya macam-macam.


Willi meneguk minuman itu sekali tenggak. Anastasya tersenyum penuh rayu.


Anastasya berbicara tentang masa lalu,Willi hanya mendengarkan. Tapi tubuhnya merasa kan ada sesuatu yang aneh padanya.


Dia merasa kepanasan menyeruak sehingga membuatnya gelisah. Willi menarik kerah baju nya, tapi tidak mengurangi panas itu.


Tubuhnya bergejolak menahan panas dan berkeringat sebesar jagung.


Dan dibawah sana, ada sesuatu yang terasa hidup dan ingin meminta mangsa.


Willi berusaha menjauh dan ingin keluar dari kamar hotel.


Dia menuju lift dengan langkah sempoyongan.


Setelah pintu terbuka, Willi masuk. Belum sempat pintu tertutup. Anastasya sudah lebih dulu masuk dan melirik nakal pada Willi.


Lift pun menuju kebawah, ketika sampai di bawah. Willi sekuat mungkin bertahan agar tidak jatuh kedalam pelukan Anastasya.


Tapi kekuatan obat itu lebih dari kekuatan Willi. Dia tidak bisa menahan rasa ingin melampiaskan hasrat yang mulai meronta-ronta.


Willi kehilangan keseimbangan, tubuhnya jatuh di pelukan Anastasya. Dan paling mengenaskan tubuh yang sudah tidak berdaya itu kembali dituntun oleh wanita itu menuju lantai 20.


Vivian yang awalnya mengantuk, melihat pamandangan itu terjadi didepan mata. Seketika mengantuk nya hilang.


"Wanita itu, bukan kah dia wanita yang bersenggolan dengan ku waktu itu? " batin Vivian.


Dia segera bangkit dari duduk nya. Dia menaiki lift satu nya.


Ketika Willi dan Anastasya sudah sampai dan berjalan di lorong hotel.


Vivian pun sampai, terlihat jelas tubuh Willi di papah ke sebuah kamar.


Melihat pemandangan itu, hati Vivian terasa sakit.


"Perasaan apa ini, kenapa rasanya sakit? " fikirnya.


Vivian terus berjalan menuju kamar tersebut.

__ADS_1


Vivian menempelkan telinganya kepintu hanya terdengar suara lenguhan dan rintihan nikmat dari seorang wanita. Siapa lagi kalau bukan Anastasya.


Air mata Vivian jatuh tanpa iya sadari. Saat itu juga, dia beranjak pergi dan tidak perduli lagi dengan suara kenikmatan yang ada di dalam kamar itu.


__ADS_2