
Setelah semua tenang, Vivian pun duduk berdampingan dengan Willi.
Willi menatap tajam seakan ingin membunuh pemuda yang tak asing buatnya itu.
"Hhuuffff! " Vivian menarik nafas dalam-dalam.
"Sekaran jelas kan semuanya. Kenapa dia ada disini? " Willi menunjuk Jeremy.
"Dia disini membantu ku untuk menenangkan Alfa! " jelas Vivian.
Vivian memandang Jeremy.
"Kenapa mesti dia, kenapa bukan Liana? " tanya Willi.
"Walau Liana teman ku, bukan Alfa bulan terlalu dekat dengannya. Karena selama ini, selain aku dan Jeremy adalah orang kedua yang dia kenal! " jawab Vivian.
Willi terdiam sementara mencerna kembali apa yang diucapkan Vivian.
"Orang kedua? " batin Willi.
"Apa hubungan mu dengan nya? " tanya Willi sembari menekankan pandangan nya.
"Emmm. Aku-aku dengan dia... " Vivian melirik Jeremy ragu menjawab.
Dia ingat kembali semua yang telah di lalukan Jeremy untuk nya.
"Tidak mungkin aku jawab sahabat biasa. Tapi lebih tidak mungkin jika ku jawab pacar." Vivian meremas tepi kain nya.
Dia terus mencari kata-kata yang tepat , agar tidak menyakiti Jeremy, tapi juga tidak membuat Willi salah faham.
"Dia orang yang ini ada untuk ku dan Alfa! " jawab Vivian sekilas melirik Jeremy.
Terlihat Jeremy menarik kedua sudut bibirnya.
Willi menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Apakah setakat itu, tidak ada yang lain? " Willi semakin membuat Vivian terpojok. Tapi masih pandangan yang berapi-api pada Jeremy.
Tak ingin kalah, Jeremy juga menyandarkan tubuhnya dan bersilang kaki menuruti gaya Willi.
"Aku tidak suka kalian selalu bersama!" tegas Willi.
Vivian memandang ke arah Jeremy.
Jeremy menaikkan alisnya.
"Kamu tidak punya hak melarang dia ingin berjumpa atau bersama siapa pun! " Jeremy merasa tertantang untuk menjawab.
Willi mencibir. Di tatapnya Vivian dalam-dalam.
Vivian hanya bisa tertunduk.
"Apa kamu tidak pernah berbicara dengan nya? "tanya Willi pada Vivian.
Tapi Vivian sama sekali tidak menjawab bahkan melihatnya.
" Hahahah! " Willi tertawa.
"Sudah ku duga! "
"Kau tahu, dia adalah istri ku yang lari pergi meninggalkan ku 4 tahun lalu! " jelas Willi.
__ADS_1
Jeremy membeku, waktu seakan berhenti seketika. Sebelumnya dia sudah menduga bahwa Vivian mungkin pernah ada hubungan dengan Willi. Tapi tidak sampai menduga bahwa Vivian lah yang meninggalkan Willi.
Vivian seakan tidak memiliki pembelaan atas dirinya. Tapi dia tak ingin terus terpojok.
"Bukan kah hubungan kita sudah berakhir seiring kontrak? " tanya Vivian.
Jeremy seperti kembali mendapat angin segar.
"Berarti aku masih memiliki kesempatan! " batin Jeremy.
Willi tersenyum, dia tarik pinggang Vivian semakin mendekat tanpa jarak.
"Kontrak yang sudah berakhir sayang , tapi kita masih tercatat sebagai suami istri yang sah! " Willi bicara di samping telinga Vivian.
Mendengar ucapan Willi, Vivian termangu menatap wajah tampan didepan nya itu.
"Bagaimana bisa? " lirih Vivian.
Willi tersenyum miring.
"Aku memang tidak berencana untuk melepaskan mu! "
Jeremy sudah tidak ada apa pun yang bisa di ungkapkan. Masalah yang ada di depan nya, bukan sesuatu yang bisa dia masuki. Sudah membawa nama suami dan istri.
"Kalau kau tidak menyukai nya lagi, lepaskan dia! " kata-kata kekuatan terakhir Jeremy.
"Cehh! Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskannya! "
Saat ini Jeremy benar-benar kalah. Orang yang selama ini dia perjuangan tanpa pernah berkata suka atau cinta. Telah kalah karena orang dimasa lalu nya.
Jeremy tahu, sekuat apa pun dia berdebat dengan Willi. Dia tidak akan pernah menang.
Sampai sekarang pun, Willi tidak pernah mengakui nya sebagai adik. Karena rasa bencinya pada sang ibu Jeremy.
"Aku pergi dulu , kalau ada waktu aku akan kesini lagi! "
Vivian merasa tidak enak dengan Jeremy. Dan dia tidak bisa berbuat apa-apa. Selain dia belum bisa menerima Jeremy, dia juga berfikir Willi ayah dari anak nya Alfa.
Setelah pintu kembali tertutup. Vivian menarik tubuhnya menjauh dari Willi.
"Kenapa menjauh. Apa tadi kamu hanya sekedar ingin meyakinkan dia? " tanya Willi.
"Ucapan mu tadi keterlaluan sekali. " Vivian mulai berang.
"Dimana letak keterlaluannya. Bukan kah selama ini kamu cukup bebas diluar sana. Sehingga... " ucapan Willi terhenti seketika.
Willi menahan ucapan nya, dia tidak mau Vivian semakin membencinya.
"Ya, jika aku teruskan masalah akan semakin panjang! " batin Willi.
"Mama mama! " tangisan dari dalam kamar.
Seketika Vivian bangkit dan menghambur menuju kamar.
"Ooo sayang mama! " Vivian memeluk anak manja nya itu.
Willi pun ikut menyusul Vivian, dia hanya berdiri di depan pintu dan menyandarkan bahunya.
"Berapa tahun umur nya? " tanya Willi acuh.
Vivian membalikkan wajahnya.
__ADS_1
"Eemm! " gumam Willi sembari mengarahkan matanya pada Alfa.
"Apa aku harus menjawab sesuatu hal yang tidak ada sangkutan nya dengan mu? " tanya Vivian balik.
"Lebih baik kamu pergi dari sini. " terlihat Vivian sudah memendam emosi.
Willi yang tidak memiliki hal apa pun lagi yang ingin di tanyakan melangkah meninggalkan Vivian dan Alfa.
"Aku akan pergi , dan selalu aktifkan ponsel mu dan jangan lupa angkat ketika aku menghubungi! " Willi mengingatkan sebelum keluar.
"Lama-lama menghadapi mu bisa mati berdiri aku. " bermonolog.
Di jalan Willi tampak senang, lebih setengah hari dia melewatkan jam kerja.
Senyum nya tak hilang saat mobil berjalan. Robby hanya menatap dari kaca depan.
"Tuan, tujuan selanjutnya kemana? " tanya Robby.
Seketika lamunan Willi buyar setelah mendengar suara Robby.
"Kita ke rumah saja.Aku tidak mood kerja hari ini! " jawab Willi.
"Baik tuan! " Robby pun menancap gas menuju rumah keluarga Hudson.
Tepat saat mobil berada di depan pagar. Terlihat mobil yang familiar masuk lebih dulu.
"Bukan kah itu mobil Brian. Ada dia kesini? " Willi bertanya-tanya.
Setelah mobil masuk ke halaman, tampak Brian dan Sebastian turun dari mobil.
Robby segera membuka pintu mobil untuk Willi.
"Kebetulan sekali! " ucap Sebastian.
Willi mengerutkan kedua alisnya.
"Ada apa kalian kesini? " tanya nya.
"Santai saja kenapa? Lihat tuh wajahmu sudah terlihat keriputnya karena hidupmu terlalu serius. " timpal Brian.
Willi memukul pelan bahu sahabatnya itu.
"Masuklah kita bicara didalam! " ajak Willi.
Mereka semua masuk kedalam termasuk Robby.
Mereka munuju ruang tamu yang terlihat besar dan hanya ada susunan sofa dan pernah pernah seperti vas bunga dan lukisan yang menghiasi setiap sudut ruangan itu.
"Malam besok di rumah ku ada acara eemmm ya ...kamu tahu lah! " ucap Brian tak menjelaskan.
"Willi meletakkan kedua tangan nya di sandaran sofa.
" Bisa tidak kamu bicara lebih jelas? " ucap Willi.
Sebastian menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Punya teman otak ga nyampai! " celetuk Sebastian.
Mata Willi seperti menusuk raga menatap Sebastian
"Tenang Om, aku hanya bercanda. Payah kamu! " ucap Sebastian.
__ADS_1
"Malam besok adalah setahun pernikahan ku dengan Wanda. Dan dia ingin acaranya di buat dirumah. Hanya orang-orang terdekat saja yang diundang! " jelas Brian.
"Baiklah! " Willi pun bersedia.