
Saat makan bersama Liana dan Alfa.
Tak sengaja Alfa melihat kelibat laki-laki yang dia kenal.
"Om Jemy! " ujar Alfa.
Sekilas Vivian mendengar apa yang di ucapkan oleh anaknya.
"Kenapa sayang? " tanya Vivian.
"Om Jemy ma! "
Vivian melihat sekeliling "Mana nak? " tanya Vivian tak percaya.
Alfa tidak tahu harus menunjuk apa, karena sosok lelaki itu telah menghilang.
Vivian memperhatikan Alfa yang masih melihat ke arah kanannya.
Vivian mencoba melihat kembali ke belakangnya. Tidak ada sesiapa pun yang merasa dikenal oleh anaknya.
Vivian kembali melahap makanannya.
Fokus Alfa kembali teralihkan pada sosok yang dia kenal.
"Om Jemy! " lirihnya.
Vivian tidak memperdulikan apa yang di ucapkan oleh anaknya. Bisa saja seperti yang sebelumnya.
Tiba-tiba seorang lelaki datang dan berdiri dibelakang Vivian.
Alfa tersenyum dan diam.
Jeremy mengisyaratkan telunjuk nya untuk tidak memberitahu Vivian.
Liana yang tidak mengerti dan tidak mengenal lelaki itu. Hanya menuruti apa yang di isyaratkan.
Vivian menoleh ke arah Alfa yang terlihat seperti lagi senang.
"Ada apa sayang! " tanya Vivian.
Alfa hanya tersenyum, sementara Liana hanya memberikan isyarat dengan bola matanya yang naik turun.
Vivian masih belum mengerti, dia berusaha menangkap apa yang membuat kedua orang didepan nya terlihat aneh.
Tak ingin mati penasaran, Vivian menoleh kebelakang.
"Tadaaa? " Jeremy mengejuti Vivian.
Mata Vivian membulat melihat sosok pria yang selama ini sudah membantunya.
"Jeremy! " Vivian merasa tak percaya.
Liana hanya memandang tidak mengerti apa yang terjadi.
"Hai nona! Kaget ya melihat aku disini? " tanya Jeremy sembari melemparkan senyuman.
Liana menarik tangan Vivian.
"Siapa?" bisik Liana masih terdengar.
Vivian tersenyum.
__ADS_1
"Duduk lah Jer! " Vivian menarik bangku disebelahnya agar Jeremy duduk.
Jeremy pun duduk.
"Kenalkan ini Jeremy, dan ini sahabat terbaik ku Liana! " Vivian memperkenalkan kedua orang yang ada di samping kiri dan kanannya.
"Hai, aku Jeremy! " memperkenalkan diri.
"Aku Liana! " balas nya.
"Kamu, sejak kapan kamu ada disini?" tanya Vivian.
"Dan lagi, kamu tinggal dimana selama disini. Kenapa kamu tahu, bahwa kami lagi disini? "pertanyaan Vivian tidak putus.
Jeremy hanya bisa tertawa geli melihat wajah Vivian yang bingung dan juga pertanyaan yang tak ada hentinya.
" Sudah, sudah. Bertanya satu-satu dulu agar mudah menjawabnya! " Jeremy menyadarkan kebingungan Vivian.
Vivian meminum air yang ada di hadapannya.
"Aku kesini sehari sebelum kalian berangkat. Dan sekarang aku tinggal di rumah orang tua ku!" Jeremy menjelaskan semua nya.
"Uhuk! " Vivian keselek oleh air yang iya minum.
Mata nya kembali terfokus pada Jeremy.
"Jangan bilang bahwa kamu di negara H pendatang sama seperti aku? " ucap Vivian.
"Heemm! " gumam Jeremy sambil mengangguk bertanda iya.
"Wahh, ponakan Om yang ganteng! Rindu tidak dengan Om? " Jeremy mengalihkan pandangan nya pada Alfa.
Alfa mengulurkan kedua tangan nya. Jeremy mengerti dengan kebiasaan Alfa yang selalu ingin di gendong ketika bertemu dengan nya.
Liana sedari tadi hanya sebagai penonton. Melihat kedekatan ketiga orang dihadapan nya.
Tak jauh dari meja mereka, seperti biasa. Robby akan menjadi seorang asisten plus mata-mata.
Dia seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.
"Kenapa Jeremy bisa mengenal nona Vivian. Dan apa hubungan mereka? " dia memiliki sejuta pertanyaan.
Dibelahan negara lain, ada sosok yang sudah seperti terbakar setelah melihat foto kedekatan Vivian dan lelaki yang sangat dia kenal.
"Kur*ng ajar, setelah Anastasya sekarang kau mencoba untuk menggoda istriku! "
"Praanngg! " suara gelas pecah.
Willi tidak bisa menahan amarahnya.
"Dia istri ku, kau tidak akan bisa mengambilnya dari ku! " saat ini Willi separuh sadar karena minuman alkohol .
Jiwa nya merasa terusik setelah mendapatkan foto kedekatan Vivian dan Jeremy.
Keesokan hari nya, Willi berencana mendatangi Vivian. Tidak dipungkiri rindu nya sudah membuncah. Tapi masih ada yang menjadi tanda tanya dibenaknya.
Tentang anak yang dibawa oleh Vivian tersebut.
Saat jam makan siang, Willi meminta Robby untuk mengantarkan nya ke tempat Vivian tinggal sementara.
Di perjalanan, Willi sudah menyiapkan kata-kata apa yang ingin dia utarakan menunjukkan betapa dia merasa amat kehilangan.
__ADS_1
Mereka pun sampai, Robby menuntun jalan menuju tangga tempat Vivian tinggal.
Setelah melewati beberapa tangga, mereka pun tiba di depan pintu kayu berwarna gelap tersebut.
"Apa kau yakin ini tempatnya? " tanya Willi pada Robby.
"Saya yakin tuan! " Robby meyakinkan.
"Tok tok tok! "
"Siapa yang datang di jam segini? " Vivian bangkit dari duduk nya.
Vivian berjalan kepintu dan membuka nya.
Alangkah terkejutnya, setelah tahu siapa yang ada di depannya saat ini.
"Willi! " lirih Vivian.
Melihat tidak ada suara , Jeremy yang bertamu penasaran dan ingin melihat siapa yang datang.
"Siapa? " tanya Jeremy.
Setelah melihat di pintu, dia pun sama terkejutnya dengan Vivian.
"Kakak! " gumam Jeremy.
Willi terperangah melihat kehadiran Jeremy dari belakang.
Tanpa basa basi, Willi maju selangkah dan memberi pukulan tepat di wajah Jeremy.
Vivian tak menyangka bahwa Willi bisa melakukan hal seperti itu.
"Apa yang kamu lakukan?" Vivian mendorong tubuh besar Willi.
"Jeremy kau tidak apa-apa? " Vivian melihat darah di sudut bibir Jeremy.
"Aku tidak apa-apa! " jawab Jeremy.
"Kau, apa yang kau lakukan disini? Lebih baik kamu pergi, aku tidak ingin melihat mu! " teriak Vivian.
"Kau! " Willi menunjuk Vivian.
"Apa kepergian mu selama ini karena dia?" tanya Willi dengan pandangan nanar.
Vivian terdiam, tidak tahu bagaimana menjelaskan semua nya dalam keadaan kacau seperti sekarang.
"Ini tidak seperti yang kau duga! " timpal Jeremy.
"Aku tidak bertanya pada mu, aku bertanya pada nya? " Willi mengacuhkan ucapan Jeremy.
Vivian masih saja terdiam.
"Tidak kusangka, di balik kepolosan mu. Kau tak ada beda nya dengan wanita liar diluar sana! " ucap Willi santai.
Telinga Vivian panas mendengar cemoohan Willi. Dia berusaha untuk bersabar agar keributan tidak terjadi.
"Apa kau semurah itu, sehingga kau meninggalkan ku dan dengan mudahnya mendapatkan pengganti." Willi terus saja memprovokasi.
"Wajah polos mu tak sepolos kelihatan nya. Kau sama seperti (Willi mendekatkan wajahnya ketelinga Vivian) pelacur!" bisik Willi.
"Plakkk! " sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Willi.
__ADS_1
Saking kuatnya, wajah Willi terlempar ke kanan.
"Jaga bicara mu! " Vivian mendorong tubuh Willi dan segera menutup pintu.