Mr. Perfect and Ms Random

Mr. Perfect and Ms Random
eps 61.SISI ROMANTIS WILLI


__ADS_3

Malam begitu indah, tak seindah malam mereka sebelumnya. Waktu tak membuat mereka berhenti. Derap nafas terus saja memburu, sehingga tidak sadar entah berapa erangan yang sudah berlalu.


Saat jam 3 pagi, mereka berdua betul-betul dibuat lelah karena malam panasnya.


Willi yang sudah lama puasa, mencurahkan semua kerinduannya malam itu juga. Tak berbeda dengan Vivian. Walau di awal dia sangat menolak, tapi pesona Willi lebih menarik.


Vivian tertidur berbantal lengan Willi. Dia sudah tidak menghiraukan apapun karena ngantuk dan lelah.


Willi memandangi wajah wanita itu dengan seksama.


Sesekali mencium bibir ranum Vivian.


"Kenapa kamu bisa pergi jauh tanpa kabar? " gumam Willi.


Willi merapatkan dekapannya ke dada. Terasa hangat helaan nafas Vivian yang turun naik.


Willi juga merasakan kantuk, dan ikut terlelap bersama Vivian.


Keesokan hari nya, matahari terlihat terik. Sehingga membuat mata silau. Vivian bangkit dan mendapati tubuhnya hanya terbalut selimut dan disamping nya ada Willi yang juga tidak mengenakan apa pun.


Menyadari apa yang terjadi.


"Ya Tuhan apa yang ku lakukan? ' Vivian bangkit berjalan perlahan agar tidak menimbulkan suara deritan lantai kayu.


Karena posisi kamar mandi ada di luar kamar. Vivian berusaha mencari apa-apa yang bisa dia gunakan untuk menutupi tubuhnya.


Di dalam kamar tersebut ada sebuah lemari kecil.Vivian menemukan sebuah handuk dan juga baju wanita. Vivian memakai handuk tersebut dan membawa serta baju yang ada didalam lemari menuju kamar mandi.


Dikamar mandi di cermin kecil, dia baru menyadari disekitar lehernya ada bercak merah tanda stempel dari Willi.


"Bagaimana menghilang ini? Willi kurang ajar! " Vivian kurang senang dengan itu.


Vivian berniat ingin berendam dalam bathup. Tapi dia tidak menemukan apa pun disana. Dia hanya menemukan shower.


Vivian menghidupkan shower dan menyiram tubuhnya.


"Tubuh ku rasanya seperti patah semua! " keluh Vivian sambil membasahi rambutnya.


Merasa segar, Vivian mengenakan baju yang dia ambil dari lemari tadi.


Setelah selesai, dia keluar dari kamar mandi dan melilitkan handuk di rambutnya.


Willi dalam keadaan mata terpejam, tangan nya meraba-raba seperti sedang mencari sesuatu.


Dan benar saja, mata Willi terbuka dan berubah panik.


Dia bangkit dan menutup tubuhnya dengan selimut.


"Vivian! " panggil Willi.


Karena tidak ada jawaban, Willi menghambur keluar dan mencari keberadaan Vivian.


"Vivian! " panggil nya lagi


Vivian muncul dari dapur dan melihat ke arah Willi dengan rasa bingung.


Melihat Vivian yang masih ada disana, Willi menyambar tubuh wanita itu dan memeluk nya dalam-dalam.

__ADS_1


"Ada apa tuan? " tanya Vivian dengan suara yang sedikit tertahan karena pelukan Willi .


Willi melonggarkan pelukannya dan memandang wajah wanita itu.


"Aku tidak ingin kamu pergi lagi, ku mohon!" minta Willi.


Vivian masih bingung.


"Bagaimana mau pergi, disini sudah seperti tempat jin buang anak! " batin Vivian.


"Kamu lapar? " tanya Willi lembut.


"Ya! "


"Tunggu sebentar, aku mandi dulu! " Willi pergi kedalam kamar dan mengambil handuk setelah itu dia bergegas ke kamar mandi.


Tak lama, Willi sudah keluar dan menuju kamar.


Menunggu sekitar 5 menit, Willi keluar dengan setelan celana pendek dam baju kaus rumahan.


Pemandangan ini tentu terlihat berbeda untuk Vivian.


Karena Willi yang dia kenal, tidak putus dengan imej workaholic.


Tapi kali ini menampilkan sisi yang berbeda.


Willi dengan rambut yang kurang kering dan tidak menggunakan pomet melangkah menuju dapur. Dia membuka kulkas dan mengambil beberapa macam ikan dan sayur yang ada.


"Ada yang bisa aku bantu? " tanya Vivian.


"Kamu disini saja, aku yang akan melayani mu!" minta Willi.


Vivian hanya tersenyum dengan sifat romantis Willi yang menurutnya sebelum nya tidak pernah iya lihat.


"Ternyata kamu orangnya lumayan juga! " batin Vivian.


Willi berkutat dengan pisau dan sayur serta bumbu dapur lainnya.


Setelah semua bahan tercampur di dalam wajan. Sebuah aroma sedap menusuk hidung. Membuat Vivian semakin lapar dan ingin segera melahap apa yang akan di sajikan Willi nantinya.


Tak sabar hanya sekedar mencium aromanya, Vivian bangkit dan mendekati ke arah wajan .


"Bau nya enak! Apa masakannya lama lagi? " Vivian sudah terlihat tidak sabaran.


"Kenapa, kamu sudah lapar? " tanya Willi.


Vivian hanya terdiam, merasa malu kalau mengatakan iya.


"Krruukk! " suara perut nya kembali terdengar.


Willi tersenyum.


"Sebentar lagi juga bakalan siap, kamu duduklah dulu! " minta Willi kembali mendorong Vivian untuk duduk.


Tak lama, kompor sudah dimatikan. Willi mengambil 2 piring dan menyajikan untuk mereka berdua.


Sementara di apartemen Liana, dia terlihat gusar. Karena Vivian tidak kembali sama sekali. Alfa sejak malam sudah mencari mamanya hanya bisa menangis.

__ADS_1


Sementara Jeremy merasa bingung, kemana hilangnya Vivian. Ingin melapor pada polisi. Tapi hilangnya belum ada 24 jam. Polisi tidak akan menerima laporan jika belum 24 jam.


Hari ini Jeremy berniat ingin melapor kepolisi.Hanya menunggu sampai pukul 1 siang.


Setelah jam 12 lebih, Jeremy mendatangi kantor polisi terdekat dan ingin melapor.


Tapi ketika di pintu.


"Deerrttt deerrttt derrttt! " getar ponsel Jeremy.


Langkah Jeremy terhenti, dia melihat nomor yang tertera di ponselnya.


"Siapa ini? Hanya nomor saja! " ujar Jeremy.


Jeremy mengangkat telepon itu dan mendekat kan ke telinganya.


"Hallo, " suara wanita dari seberang telepon


"I-ini Vivian? " tanya Jeremy tidak percaya.


"Iya, ini aku! "


Jeremy keluar dari pintu kantor polisi dan bertanya lebih detail.


"Maaf Jer, aku tidak bisa jelaskan. Karena aku tidak tahu sekarang berada di mana? " jawab Vivian.


"Apa kamu baik-baik saja, bagaimana dengan makanmu? " Jeremy terus saja berceloteh tak henti.


"Jer, Jer. Satu persatu dong, aku bingung nih jawab nya! " ujar Vivian.


"Maafkan aku Vivian, akut begitu cemas ketika kamu hilang. Aku mencari mu kw toilet. Tapi kamu tidak ada. " jelas Jeremy.


Vivian memandang wajah Willi yang berada di samping nya.


Wajah itu terlihat tidak senang.


"Jer, teleponnya aku matikan dulu ya. Nanti kira ngobrol lagi ketika aku sudah sampai disana! " Vivian menutup teleponnya dan mengembalikan nya pada Willi.


"Tadi kamu bilang ingin menghubungi anakmu. Tapi kenapa pria brengsek itu? " Willi terlihat marah.


"A-aku tidak ingat nomor ponsel nya. Yang aku ingat hanya nomor Jeremy saja. " jawab Vivian ringkas.


"Huuhhhfff! " Willi mendengus kesal.


"Tapi tuan, berapa lama lagi kita baru sampai? " tanya Vivian.


Willi hanya diam, dan membuang pandangannya keluar jendela.


"Ada apa sih dengan nih orang, sebentar baik sebentar cuek. " dasar lelaki egois.


Vivian terus saja mengata didalam hati nya.


Setelah sarapan pagi tadi, Robby sudah tiba di depan rumah kecil tersebut.


Tak ingin berlama-lama, Vivian bersiap-siap merapikan rambut dengan jari-jarinya. Setelah cukup,dia masuk kedalam mobil tanpa memperdulikan Willi yang masih berkemas membersihkan peralatan makan mereka tadi.


Setelah selesai, mereka pun akhirnya pergi menuju kota.

__ADS_1


__ADS_2