
Tanpa sepengetahuan Vivian dan Liana. Di seberang jalan, ada sepasang mata yang sedang memantau.
"Seperti dugaan, ternyata tuan benar! " batin Robby.
Setelah mengambil beberapa gambar dan video.
Robby mengirimkan semua bukti pada Willi.
Robby masih seperti orang bingung, tentang anak yang bersama Vivian.
"Anak siapa itu, bukan kah pada waktu itu nona Vivian tidak dalam keadaan hamil? " bermonolog.
Di negera H,Willi tampak serius melihat semua yang dikirim oleh Robby.
Matanya lebih tertarik pada anak yang ada bersama Vivian.
"Apakah dia anakku, tapi apa mungkin? Seharusnya dia mengatakan itu! " bermonolog.
Di kamar hotel, Willi membereskan barang-barangnya. Hari ini juga dia memutuskan untuk kembali ke negara nya.
Tujuan utama nya sekarang berpindah, bukan hanya pada Vivian. Melainkan anak yang wajahnya familiar.
Setelah cekout dari hotel, Willi meminta taksi untuk mengantarkannya ke bandara.
Karena jadwal penerbangan pertama, tidak butuh waktu lama untuk menunggu. Pesawat lepas landas, hatinya semakin berpicu tatkala waktu semakin mendekat menuju negara nya.
Untuk mengurangi rasa gelisah, Willi memutuskan untuk istirahat.
6 jam berlalu, pesawat yang di tumpangi Willi akhirnya mendarat. Setelah melewati imigrasi. Willi sudah ditunggu di luar oleh asistenny yaitu Robby.
Diluar terlihat Robby sudah siap-siap menunggu kedatangan tuan nya.
Dan benar saja Willi sudah terlihat dengan tubuh tinggi nya. Dan jalan yang terlihat berwibawa.
Robby menarik kedua sudut bibirnya.
Willi mendekat.
Robby membuka pintu dan Willi pun masuk. Setelah nya Robby pun segera masuk. Mereka melaju dengan kecepatan sedang.
"Tuan mau kemana sekarang? " tanya Robby.
"Ke tempat Vivian! " ucap Willi.
"Apa tidak terlalu buru-buru tuan, takutnya nanti kedatangan tuan membuat nona Vivian semakin menjauh dan bahkan tidak bisa ditemukan! " jelas Robby.
"Jadi bagaimana? " tanya Willi gusar.
__ADS_1
"Kita ke kantor saja, nanti tuan bisa susun rencana untuk bertemu dengan nona Vivian! " ucap Robby.
"Baiklah." Willi pun mengikuti saran asistennya.
Di apartemen Liana, Vivian masih mengelus-elus kepala anak nya yang tertidur pulas di ranjang.
Perlahan Vivian memindahkan kepala Alfa dari pangkuannya ke bantal.
Perlahan-lahan agar anaknya tidak terganggu.
Liana menarik tangan Vivian menuju bangku .
"Kenapa selama ini kamu tidak menghubungi ku? " tanya Liana.
"Maaf Na, bukan niat untuk tidak memberitahu mu. Hanya saja aku takut keberadaan ku diketahui oleh Willi! " jelas Vivian.
"Kamu seperti dalam film mafia saja. Keberadaan musuh bisa di lacak dari mana saja! " seloroh Liana.
Mereka berdua tertawa setelah sekian lama tidak berjumpa.
"Oh ya Vi, kamu sudah makan? " tanya Liana.
"Sudah, sebelum kesini Alfa sudah lapar duluan. Kami singgah di restoran tadi! " jawab Vivian.
"Kamu tahu tidak, aku rindu saat-saat kita dulu bareng." Liana mengenang masa lalu.
"Aku ada sesuatu untuk mu! " ucap Vivian sambil merenggangkan pelukan nya.
Liana mengusap air matanya.
"Apa itu, harus yang menarik ya! " seloroh Liana.
Vivian mengambil tas kecil nya, dan mencari sesuatu.
"Hah, ini dia! " Vivian mengeluarkan sebuah kotak kecil dan mengulurkannya pada Liana.
Penuh tanda tanya,Liana mengambil benda kecil itu.
Ketika dibuka "Ya Tuhan, ini indah sekali! Apa ini tidak terlalu berlebihan?" Liana terkagum.
Sebuah gelang emas putih yang terlihat indah.
"Sini aku pakaikan! " minta Vivian.
Liana menyerahkan kotak kecil itu pada Vivian.
Vivian mengambil gelang itu dan memakaikan di tangan kiri sahabatnya.
__ADS_1
"Wah indah sekali, kamu memang sahabat terbaik ku! " ucap Liana.
"Sehabat terbaik selamanya! " ucap Vivian.
Mereka kembali berpelukan dan terbawa suasana haru.
Setelah pelukan merenggang, Vivian mengambil tangan kiri Liana.
"Kamu lihat! " Vivian mengulurkannya tangan kiri nya juga.
"Wah kita samaan! " Liana kagum
"Dan ada nama di setiap gelangnya! " ucap Vivian.
"Nama? " Liana memutar gelang yang ada di pergelangan tangan nya.
"Tidak kelihatan! " ujar Liana.
Vivian tersenyum , dia menunjukkan di bagian dalam gelang itu.
"Ini dia! " Vivian menunjukkan tulisan nama dengan huruf kecil.
"Wah, ini namaku. Berarti gelang mu juga ada namamu? " Ucap Liana.
Vivian mengangguk.
Liana terus saja memandangi gelang ditangan nya.
Malam pun tiba, Liana, Vivian dan Alfa belum makan malam lagi.
"Ma, Alfa lapar! " rengek anaknya.
"Vi, dirumah tidak ada makanan. Bagaimana kalau kita makan diluar saja? "
"Baiklah! Alfa sudah lapar kan, kita makan diluar saja ya? " Vivian menanyakan pada anaknya.
"Eemm! " gumam Alfa singkat.
Setelah Liana dan Vivian bersiap-siap. Mereka pun pergi menuju sebuah restoran tak jauh dari tempat tinggal mereka.
Saat makan, mereka tidak memperhatikan sekeliling.Vivian berfikir, tidak mungkin Willi mencari nya. Dan lagi mereka tidak memiliki ikatan apa pun lagi.
Tapi Vivian salah, Robby sebagai asisten dan juga merangkap sebagai mata-mata. Selalu berada di antara mereka berdua.
Willi meminta Robby untuk terus memata-matai Vivian agar tidak pergi lagi.
Willi tidak mau kehilangan Vivian kali ini. 4 tahun dia terus mencari keberadaan Vivian. Setelah beberapa bulan, dia baru mengetahui bahwa Vivian pergi ke negara H.
__ADS_1
Dan mencari nya di negara H juga tidak mudah. Sampai lah hampir 4 tahun pencarian dan baru menemukan titik terang.