
Ketika Alfa kembali menoleh kebelakang, terlihat Rihana masuk kedalam mobil pria itu.
Alfa mulai panik, dia melihat ke pintu utama kantor tapi Sami tidak kunjung datang.
Tidak sabar, Alfa keluar dari mobil dan masuk kebagian kursi depan.
Dia menjalankan mobil menyusul mobil pria yang membawa Rihana.
Jalanan sedikit macet, karena sudah sore banyak orang yang berlalu lalang karena jam pulang kerja.
"Tin tin! " suara klakson .
"Kenapa hari ini begitu ramai? " rutuk Alfa.
Karena dilanda rasa penasaran, Alfa begitu tidak sabaran pada mengulatnya kendaraan yang antri di jalanan.
Jarak Alfa dan mobil Rihana tidak lah jauh. Hanya saja ada mobil lain yang berada di depan Alfa. Sehingga membuat dia susah untuk mendekati mobil pria itu.
Saat mereka berada di jalanan yang tidak terlalu banyak kenderaan. Alfa menancap mobilnya agar tidak kehilangan jejak mereka.
Mobil pria itu berbelok kesebuah restoran yang ada di sebelah kiri. Alfa pun ikut berbelok di depan restoran itu.
Rihana tidak menyadari bahwa mobil yang berhenti di kanan mobil mereka itu adalah Alfa. Rihana dan pria itu pun masuk kedalam restoran.
Sementara Alfa tidak langsung turun, dia masih ingin memantau pergerakan mereka.
Saat Rihana dan pria itu sedang asik makan sambil ngobrol. Alfa masuk kedalam restoran.
Setelah makan Rihana merasa ingin ke toilet.
"Bram, aku ke toilet dulu! " ujar Rihana.
"Pergilah! " balas Bram.
Rihana pun melangkah pergi menuju toilet. Setelah membersihkan tangannya, Rihana pun keluar . Saat berada di pintu toilet, dia kaget karena Alfa sudah berdiri di hadapan nya.
Tuan Alfa! Sedang apa tuan disini? "tanya Rihana.
Alfa menarik tangan Rihana menuju keluar dari restoran.
" Mau kemana kita tuan ? Tas saya! " ucap Rihana sambil menuruti langkah Alfa yang cukup panjang.
Alfa berjalan menuju meja Rihana dan mengambil tasnya.
"Apa-apaan ini? " tanya Bram yang tidak mengerti.
Mata Alfa memandang tajam ke arah pria itu sehingga membuat Bram terdiam.
"Maafkan saya Bram, saya pergi dulu! " ujar Rihana buru-buru karena Alfa masih saja menarik tangan nya.
Saat berada di luar, Alfa menyuruh Rihana untuk masuk kedalam mobil. Rihana hanya bisa menuruti apa kata Alfa.
Alfa pun masuk kedalam mobil dan menjalankan mobilnya.
Setelah merasa tenang Rihana pun menatap Alfa.
"Apa yang tuan lakukan? Kenapa tuan mengganggu kesenangan ku? " tanya Rihana kesal.
Alfa hanya melirik tanpa menjawab, dia terus saja memacu kenderaannya.
__ADS_1
Setelah lama, mereka tiba di apartemen milik Alfa yang sebelumnya Rihana pernah menginap disana karena mabuk.
"Turunlah! " Alfa membuka seatbelt nya.
Rihana hanya menuruti apa yang dikatakan oleh bos nya tersebut.
Alfa pun masuk kedalam apartement, diikuti oleh Rihana.
Saat berjalan otak Rihana sudah dipenuhi dengan pikiran kotor. Dia membayangkan hal yang bukan-bukan. Mulai dari pem**nuhan sampai pemer**saan.
Alfa menoleh kebelakang.
"Kenapa kamu lambat macam keong? " bentak Alfa.
Rihana terperanjar mendengar suara Alfa yang keras. Sehingga membuyarkan lamunan nya yang tidak-tidak.
Rihana pun mempercepat langkahnya agar bisa seiring dengan Alfa.
Mereka pun tiba di depan pintu apartemen milik Alfa. Setelah pintu terbuka Alfa pun masuk. Tapi Rihana masih bertahan diluar.
Melihat keraguan pada Rihana, Alfa pun mendekat.
"Apa kamu mau disini terus? " tanya Alfa.
Dengan perasaan bercampur baur, Rihana pun melangkah masuk, pintu pun di tutup.
Setelah didalam, Alfa melepas jas kerjanya di depan Rihana, serta membuka dua kancing kemejanya. Melihat itu membuat jantung Rihana berdegup kencang. Mata Alfa tak putus dari Rihana.
"Apa yang kau lihat? " tanya Alfa.
"Tidak ada tuan! " jawab Rihana.
Alfa berjalan menuju meja dapur yang masih terlihat dari ruang tamu. Alfa terlihat sibuk sendiri dan tak lama dia datang membawa dua cangkir minuman.
Mendengar ucapan Alfa membuat Rihana terlihat salah tingkah. Setiap apa yang dia pikirkan, Alfa selalu tau isi kepalanya.
"Minumlah! "
Rihana pun duduk di sofa yang berada didepan Alfa duduk.
Perlahan dia menarik cangkir itu mendekat.
"Srrupp! " Rihana menyeruput minumannya.
Setelah waktu yang cukup hening.
"Ekhemm! "Alfa berdehem.
Rihana memandang wajah Alfa.
Alfa pun menatap kedalam mata Rihana.
" Siapa pria yang bersama mu tadi? "tanya Alfa penasaran.
" Kenapa tuan ingin tahu? "tanya Rihana balik.
" Kenapa aku tidak boleh bertanya.Kamu itu..... " Alfa tidak melanjutkan ucapannya.
"Kamu apa maksud tuan? " Rihana pun tertanya-tanya.
__ADS_1
"Kamu, kamu itu pekerja ku jadi wajar saja aku ingin kamu baik-baik saja . Apa salah aku bertanya? " terlihat Alfa begitu gengsi.
"Hubungan kita hanya karyawan dan bos. Setelah keluar dari perusahaan kita bukan lagi karyawan dan bos. Jadi tuan tidak perlu ikut campur masalah hidup ku diluar urusan kantor! " jelas Rihana ketus.
Mendengar ucapan Rihana yang tegas, Alfa terdiam. Dia tidak memiliki kata-kata lagi untuk membela dirinya.
"Tapi walau bagaimana pun, aku masih harus peduli pada karyawanku! " tutur Alfa.
"Apa tuan peduli pada semua karyawan atau hanya pada saya saja? " tanya Rihana memojokkan posisi Alfa.
Seperti ditimpa berton-ton es, Alfa membeku dan tidak tahu harus menjawab apa.
Dan pada akhirnya dia pun terdiam.
Setelah perdebatan kecil tadi,suasana menjadi bisu. Rihana masih duduk diam di sofa, sementara Alfa bermain dengan ponselnya.
Rihana mengeluarkan ponsel dari dalam tas nya. Terlihat beberapa panggilan tak terjawab.
"Bram! " batin Rihana.
Dia pun menekan tanda panggil di nomor itu. Alfa hanya melihat saja apa yang dilakukan oleh Rihana.
Panggilan pun terhubung.
"Bram! " panggil Rihana.
"Kamu dimana? " tanya Bram dari sebrang telepon.
"Aku berada sedikit jauh dari rumah! " jawab Rihina sembari melihat Alfa yang sedari memperhatikan nya.
"Kamu bisa jemput aku. Aku tidak tahu ini ada dimana. Aku akan mengirim lokasi saja! " jelas Rihana.
"Baiklah! " jawab Bram dan telepon pun terputus.
Rihana kembali memasukkan ponselnya kedalam tas.
"Siapa yang kamu hubungi barusan? " tanya Alfa menyidik.
"Dia pria yang tadi di restoran." jawab Rihana enteng.
"Pranggg! " Alfa menghempaskan cangkir minuman yang ada didepan nya.
Melihat itu kemarahan Alfa membuat Rihana takut tapi dia berusaha untuk tetap tenang.
"Apa seperti ini cara mu setiap ada lelaki yang menyukai mu? " tanya Alfa.
Rihana yang mendengar ucapan Alfa tidak mengerti.
"Pria mana maksudnya? " batin Rihana.
"Maaf tuan, kenapa tuan mesti marah dan kenapa tuan mempersulit ku sampai membawa ku jauh kesini? " Rihana tak ingin terlihat lemah.
"Apakah harus aku mengatakan semuanya? Baru kamu mengerti! " bentak Alfa.
"Kalau tuan memiliki sesuatu untuk di ucapkan maka katakanlah. Agar tidak terjadi kesalah fahaman! " timpal Rihana.
Lama mereka terdiam, sampai telepon Rihana ada panggilan masuk.
"Hallo! " jawab Rihana.
__ADS_1
"Kamu dimana, aku sudah berada di sekitar sebuah apartemen! " ucap Bram yang sudah tiba disana.
Merasa tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi, Rihana menenteng tasnya dan bangkit dari sofa.