Mr. Perfect and Ms Random

Mr. Perfect and Ms Random
eps 71.BERSATUNYA DUA INSAN


__ADS_3

Hari yang di rencanakan pun tiba, terlihat orang-orang dari bagian dekor wadding mempersiapkan semua keperluan. Satu persatu lelaki-lelaki muda menurunkan besi dan juga bungkusan lainnya dari sebuah truk yang cukup besar.


Karena Willi tidak ada dirumah, dia hanya berpesan pada Pak Im.


Tapi Vivian cukup kaget dengan keramaian yang terjadi. Dia tidak beritahu sama sekali.


"Ini, ada apa pak? " tanya Vivian pada Pak Im.


"Ooo, ini semua permintaan tuan Willi non!" jawab Pak Im.


"Ini untuk apa? " tanya Vivian lagi.


"Ini untuk acara besok malam!" imbuh pak Im.


"Besok, kenapa dia tidak bagi tahu aku?" bermonolog.


"Saya juga baru tahu tadi siang, sebelum mereka datang! " tambah Pak Im.


"Ooo, ya sudah lah." Vivian pun pergi.


Dia berfikir mungkin acara ini tidak ada kena mengena dengannya.


Kembali Vivian masuk kedalam mansion.


Dia mengambil ponselnya dan mengambil video pendek untuk di kirim ke pada sahabatnya Liana.


"Lihatlah kesibukan ini! "


Isi pesan yang di sematkan oleh Vivian di antara video yang dia kirim.


"Ting! " sebuah pesan masuk.


Vivian segera membukanya.


"Wah, ada acara besar sepertinya! "


Balas Liana.


"Entah lah, aku juga tidak tahu untuk apa? "


Vivian balas pesan Liana.


Liana tidak membalas pesan nya lagi, karena terlalu sibuk bekerja.


Saat sore, semua sudah terpasang dengan rapi. Saat Willi pulang dari perusahaan.


Dia terlihat senang, bibirnya nya melebar melihat semua dekorasi sudah terpampang.


Setelah makan malam, Vivian dan Alfa sedang bermain di kamar anaknya.


Pintu kamar berderit terbuka. Mata Vivian menoleh, ternyata Willi yang membukanya.


"Apa aku boleh bergabung? " tanya Willi.


"Papa sini! " ajak Alfa.

__ADS_1


Willi pun masuk sembari membawa sebuah kotak yang tidak terlalu besar.


Willi menyerahkan kotak itu pada Alfa.


"Ini untuk anak papa!" ucap Willi.


"Apa ini pa? " tanya Alfa.


"Buka lah, nanti juga akan tahu! " pinta Willi.


Alfa membuka ikat pita yang menghiasi bagian penutup kotak tersebut.


Dan saat membuka, sebuah baju tuxedo anak lengkap.


"Pa , ini untuk Alfa? " dia tampak senang.


"Iya sayang,untuk Alfa pakai malam besok! " ucap Willi.


Alfa menunjukkan pakaian itu dengan Vivian seperti mendapat kan kado terindah sepanjang hidupnya.


Vivian sedikit pesimis, dia berfikir bahwa Willi hanya peduli pada Alfa saja. Sehingga dia tidak berbicara apa pun.


Dia beranggapan mungkin Willi terlalu sayang pada anaknya. Sehingga hanya Alfa yang dia belikan tapi tidak dengan dirinya.


Setelah jam 9 mal, Vivian mulai merasa kantuk. Dia bergegas meninggalkan kamar Alfa, karena dia pun sudan terlelap setelah ditemani mama nya.


Saat Vivian dipintu masuk kamar utama.


Sebuah kotak disodorkan kehadapan nya.


Untuk sesaat mereka saling terdiam tanpa kata.


Vivian memandang ke kotak dan sesekali memandang Willi.


"Apa ini? " tanya nya.


"Buka lah, nanti kamu juga tahu! " bisik Willi. Sehingga membuat bulu roma Vivian bergidik.


Dia terima kado itu dan membuka isinya.


Sebuah gaun indah berwarna putih dan di hiasi permata berkilau. Sehingga tampak indah ketika di kegelapan.


"Ini, ini untuk ku? " tanya Vivian.


"Iya, dan aku sengaja tidak memberikan lebih awal.Untuk menjadi kejutan! ' " ucap Willi.


"Cobalah,aku sudah tidak sabar melihat mu memakainya. Pasti kamu terlihat cantik." ucapan Willi membuat Vivian merasa terhanyut.


Pipinya merona seperti tomat masak siap santap.


Vivian membawa gaun itu masuk kekamar mandi untuk mencoba nya. Dia merasa malu untuk mencobanya di depan Willi.


Saat sudah terpakai, Vivian keluar dari kamar mandi.


Mata Willi tidak bisa berkedip melihat keindahan Vivian ketika mengenakan gaun putih itu.

__ADS_1


"Kamu begitu cantik sayang!" kata-kata yang diucapkan Willi keluar begitu saja tanpa iya sadari.


Vivian yang menyadari ucapan (sayang) merasa hatinya berbunga-bunga. Untuk pertama kali nya Willi memanggilnya dengan sebutan sayang.


Merasa cukup, Vivian kembali masuk kedalam kamar mandi ingin melepas kembali pakaian nya. Tapi belum sempat dia menutup pintu. Kaki Willi sudah menahan di bawah.


Vivian awalnya bingung kenapa pintu kamar mandi jadi sudah di tutup.


Sosok Willi pun muncul dari depan pintu.


Vivian terkesiap seketika dan mundur perlahan.


"Apa yang kamu lakukan, pergi lah. Aku masih terlalu malu jika harus berganti pakaian di hadapan mu! " jelas Vivian.


Willi terus saja masuk kedalam kamar mandi. Vivian yang sedari tadi mundur sudah tidak bisa mengelak lagi. Di belakang nya sudah terhalang oleh tembok. Dia merasa serba salah, mundur sudah tidak bisa. Didepan tubuh Willi sudah mengunci nya.


Dia hanya bisa pasrah.


"Kamu mau apa, keluar lah agar aku bisa berganti baju! " minta Vivian.


"Aku akan membantu mu untuk berganti pakaian! " bisik Willi nakal.


Vivian menengadah memandang Willi. Tapi alangkah kurang beruntung nya. Bibir mungil itu langsung di sambar oleh Willi. ******* demi ******* dia lakukan, Vivian begitu hanyut terbawa oleh permainan Willi.


Batinnya berusaha untuk menolak tapi berbeda dengan tubuhnya. Sentuhan Willi seakan mengandung umpan.


Lenguhan demi lenguhan terdengar berpaut. Willi semakin memainkan perannya.


Perlahan, Willi menarik kancing belakang gaun yang Vivian kenakan.


Tidak melepas ciuman nya, perlahan dia membuka baju yang dikenakan oleh Vivian dan menyisakan pakaian dalam.


Melihat pemandangan gunung bromo yang hanya di tutupi sampai bagian ujung bukitnya saja. Masih menyisakan cerug yang menyisir garis.


Willi semakin tidak bisa bertahan lagi, dia bergerilya bebas dimana pun dia mau. Apa lagi Vivian hanya terlihat pasrah, tubuh Willi sedikit merunduk dan sejajar dengan bukit bromonya.


Disana lah dia bermain bebas seperti anak-anak yang sedang bermain kelereng.


Willi kembali berdiri. Mata bertemu mata, Willi menggendong tubuh mungil itu dan merebahkan nya di atas tempat tidur yang cukup luas untuk melakukan pertempuran.


Vivian sudah pasrah jika Willi malam ini membawa nya ke medan pertempuran.


Dan benar saja,mereka sudah tidak punya alibi lagi untuk beralasan. Satu sama lain sudah mengakui kalah dari perasaan yang mereka tahan untuk beberapa saat yang lalu.


Willi terus saja menerjang, hanya ada ******* dan rintihan nikmat dari mulut keduanya.


Saat mereka lelah, kedua tubuh yang hanya di balut selimut itu tepar tak berdaya.


Awal permainan ini tidak begitu lama, karena Willi sudah terlanjur lama puasa tanpa makan.


Sekali dia makan tak lama sudah merasa kenyang.


Willi memeluk dan merelakan lengannya menjadi bantal untuk Vivian. Malam itu terlewati dengan kemenangan yang hakiki.


Begitu juga dengan Vivian, tidak dipungkiri sudah sejak lama dia bertahan dengan denyutan yang tidak berbalas. Karena dia tidak ingin menjalin hubungan yang tak jelas hanya karena nafsu sesaat.

__ADS_1


__ADS_2