
Selama kedekatan Vivian dan Jeremy, tidak serta merta membuat Willi tidak melakukan sesuatu. Dia hanya menunggu waktu yang tepat.
Setiap pertemuan Jeremy dan Vivian, pasti selalu di mata-matai oleh orang suruhan Willi
Hari ini, Jeremy dan Vivian ingin makan siang disebuah restoran. Hanya mereka berdua,sementara Alfa dijaga oleh Liana karena sedang cuti.
Mereka tiba di dalam restoran, mereka disambut hangat oleh para pelayan.
"Kamu mau pesan apa? " tanya Jeremy.
Vivian seperti wanita yang baru mengalami makan berdua bersama seorang pria. Tersirat rasa malu dan kikuk.
"Aku pesan yang sama saja ya! " tegas Jeremy.
Vivian menjawab dengan anggukan.
"Saya minta yang ini, ini dan ini! " Jeremy hanya menunjuk setiap menu yang ada di buku.
Pelayan itu pun pergi.
Tak berapa lama, dua orang pelayan datang membawa makanan yang telah dipesan oleh Jeremy.
"Silahkan dinikmati tuan! " ucap pelayan sopan.
Jeremy dan Vivian membalas dengan senyuman
Vivian masih terlihat malu, jantungnya tak karuan. Baginya makan berdua itu hanya di lakukan untuk orang yang di anggap spesial.
Jeremy melirik Vivian yang hanya memegang sendoknya tapi tidak menyentuh makanannya.
"Kenapa kamu tidak makan? " tanya Jeremy.
"Ah, ya aku makan! " jawab Vivian kaget.
Vivian mulai menikmati makanannya.
Sedang menikmati makanan, Willi sedang memperhatikan tak jauh dari mereka.
Seperti nya Willi ada acara makan bersama dengan klien. Terlihat dua orang pria dengan ras negara yang berbeda.
Setelah makan selesai, Jeremy meminta pada pelayan untuk membawa sebotol minuman anggur.
Ketika pelayan yang membawa minuman hampir mendekat. Tak sengaja seseorang yang orang berjalan berlainan arah menabrak pelayan tersebut. Tidak sampai membuat minuman dan gelas yang dia bawa terjatuh.
"Maaf, maaf. Saya tidak melihat! " ucap lelaki yang menabrak pelayan tersebut.
"Saya yang seharus nya minta maaf tuan! " ucap pelayan.
Karena tidak ada yang serius, pelayan itu meninggalkan orang yang menabraknya dan meletakkan minuman di atas meja Jeremy.
Jeremy menuang minuman itu pada gelas kosong yang ada di depan nya.
Seperti kebanyakan orang ketika menikmati minuman anggur.
Mereka terlebih dahulu memutar anggur itu dan menikmati aromanya sebelum menyesapnya.
Seteguk, dua teguk. Perlahan tuangan pertama mulai habis, saat Jeremy ingin menuang yang kedua.
__ADS_1
Vivian merasa tidak enak, kepalanya terasa berat.
"Jer, aku permisi ke toilet dulu! " ucap Vivian sembari sesekali memegang kepalanya.
"Kamu baik-baik saja? " tanya Jeremy.
"Ya, aku baik-baik saja! " Vivian bangkit dan pergi menuju toilet.
Di toilet, rasa pusingnya semakin terasa. Dan tiba-tiba, tubuh Vivian lemas dan ambruk.
Untung tangan seseorang dengan cepat menyambar tubuhnya sehingga tidak langsung ketanah.
Dengan sisa tenaga, Vivian berusaha untuk melihat siapa orang yang berada di samping nya.
Tapi pandangan terlalu kabur, sehingga pada akhirnya Vivian betul-betul tidak sadarkan diri.
20 menit berlalu, Vivian tidak kunjung tiba. Jeremy kepikiran dan merasa cemas. Dia bangkit dan membawa serta tas tangan milik Vivian.
Ketika berada di pintu toilet.
"Vivian! " panggil Jeremy.
Merasa tidak ada balasan, dan toilet terlihat sepi. Jeremy masuk kedalam dan memeriksa setiap pintu disana.
"Vivian! " panggil Jeremy.
Tapi tetap tak ada jawaban.
Jeremy semakin panik, dia mengusap wajahnya kasar.
"Apa yang terjadi?" gumamnya.
"Maaf pak! Apakah bapak lihat wanita yang bersama saya tadi? " tanya Jeremy.
"Maaf tuan, saya tidak tahu. Dari tadi saya berdiri disini. Belum ada wanita yang keluar." jelas penjaga.
Jeremy menarik kasar rambutnya, dia berjalan menuju kasir dan membayar semua makanan mereka.
Setelah diuar restoran, Jeremy merogoh sakunya dan mengambil ponselnya.
Dia menghubungi nomor Vivian.
"Ring.. ring... ring! " suara ponsel Vivian yang berada di dalam tas.
"Ya Tuhan, dia tidak membawa ponselnya! " Jeremy tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir nya.
Di sebuah mobil hitam dengan kaca yang cukup gelap. Tubuh Vivian terbaring di kursi belakang.
Mobil itu melintasi jalanan yang cukup sepi, dan bahkan untuk mobil-mobil lainnya hanya terlihat satu persatu.
"Tuan! Apakah tidak masalah jika nona Vivian tuan culik? " tanya Robby.
"Siapa yang menculik siapa." lirih Willi yang duduk di bangku depan bersama Robby.
"Apa yang ingin di lakukan tuan Willi. Bagaimana kalau anaknya nanti mencari mamanya? " batin Robby.
Willi tersenyum puas, karena sudah bisa membawa Vivian pergi dari orang yang tidak ingin Willi ingat.
__ADS_1
Lama mereka diperjalanan, sampai akhirnya jemari Vivian mulai bergerak.
"Uh!" lenguhan kecil yang terdengar tidak begitu jelas.
Perlahan, Vivian membuka matanya.
"Dimana aku! " batinnya.
Vivian berusaha tenang, dan mengumpulkan sekuat tenaga untuk bisa duduk.
Willi yang menyadari ada pergerakan di belakang. Menoleh ke kursi belakang.
"Kamu sudah bangun? " tanya Willi.
Mata Vivian terbelalak. "Kenapa aku bisa ada disini? " tanya Vivian.
Willi dan Robby hanya bisa saling menatap.
"Tuan, apa yang kamu lakukan? Ku mohon lepaskan aku! " ucap Vivian sedih.
Willi terus saja diam, dan Robby seolah-olah tidak mendengar omongan nya.
Tidak menerima respon, Vivian berusaha membuka pintu mobil. Tapi alangkah tidak beruntung nya. Pintu itu dikunci otomatis.
"Tuan Willi, apa yang ingin anda lakukan. Kita sudah tidak memiliki hubungan apa pun lagi sekarang! " cetus Vivian.
"Hahahah! " Willi tertawa yang tak bisa di artikan.
"Sudah tidak ada hubungan katamu? " sentak Willi.
Vivian terlalu takut untuk membalas omongan Willi.
Willi memandang ke belakang. Sorot matanya seolah-olah mengisyaratkan bahwa ada sesuatu kesalahan yang telah dilakukan oleh Vivian.
Vivian hanya diam tanpa banyak tanya lagi.
"Dimana ini, kenapa tempat ini begitu sepi? "batinnya.
" Apa ini tempat ku bersama nya yang terakhir kali? " Vivian terus saja berfikir.
Melihat lamanya perjalanan yang mereka tempuh. Vivian semakin yakin, bahwa ini bukan lah tempatnya bersama Willi waktu itu.
"Tuan, mau kemana membawa ku? " lirih Vivian.
Willi hanya diam tanpa ekspresi.
Dan akhir nya mereka tiba disebuah rumah kayu kecil ditepi danau.
Robby menghentikan mobilnya dan keluar serta membuka pintu mobil untuk tuannya.
Vivian pun ikut keluar dari mobil. Dia memandang sekeliling. Terlihat asri dan udara yang masih bersih. Begitu segar masuk kedalam paru-paru.
"Dimana ini, apa tujuan nya mambawa ku kesini? " Vivian terus saja berfikir.
Terbesit hal yang sangat menakutkan.
"Atau, jangan-jangan dia mau membun*h ku? " Vivian melangkah mundur dari hadapan Willi.
__ADS_1
"Apa yang kamu fikirkan, apakah aku akan membunuhmu disini? " tiba-tiba Willi bicara seperti apa yang dia fikirkan.
"Kenapa dia bisa tahu apa yang ada dalam fikiran ku? "batinnya bingung.