
Kejadian tadi membuat Vivian menangis sedih.
Jeremy masih diam tanpa bertanya. Tapi dibenak nya sudah tersusun beberapa pertanyaan yang ingin dia luahkan.
"Mama! " Alfa mendekat dan memeluk mamanya yang sedang menangis.
Vivian seketika tersadar, tangisan nya membuat buah hati nya ikut cemas.
"Ya sayang, anak mama! " Vivian memeluk tubuh kecil mungil anaknya.
Jeremy masih setia menunggu sampai Vivian benar-benar tenang.
Vivian menoleh ke arah Jeremy , tidak menutupi kenyataan bahwa Jeremy ingin mengetahui semua apa yang terjadi.
Pandangan Jeremy teralihkan pada Alfa yang masih setia memeluk mama nya. Dan Vivian juga meletakkan anaknya di atas pangkuannya.
Selintas Jeremy ingat kembali dengan Willi. Wajah Alfa sekilas memang sangat mirip dengan abang yang masih satu ayah dengannya.
"Apa dia anak dari kak Willi? " batinnya.
Vivian terus saja memeluk tubuh si kecil. Seperti ikatan batin yang tak pernah putus, Alf sedikit tenang setelah Vivian tenang.
Merasa waktu untuk berbicara sudah tepat, Jeremy memperbaiki duduk nya dengan meluruskan posisi punggungnya.
"Em Vi! " Jeremy masih sedikit ragu takut salah bicara.
"Ya! "
"Sebenarnya siapa laki-laki tadi? " tanya nya dengan suara sedikit rendah.
"Di-dia mantan suami ku! " jawab Vivian.
"Maksud mu, .... Alfa! " Jeremy tidak melengkapi kalimatnya.
Vivian mengerti maksud dari ucapan Jeremy.
Vivian hanya mengangguk, sambil mengelus kepala anak nya yang tengah asik bersandar dengan mamanya.
Jeremy menyandarkan tubuhnya ke kerusi. Dia masih tidak percaya, pertemuan ini seperti suatu kebetulan.
Merasa keadaan tidak baik, Jeremy bangkit dan merapikan baju nya.
"Aku pulang dulu ya, nanti jika ada waktu aku akan datang lagi! " ucap Jeremy.
__ADS_1
"Om Jemy! " Alfa memanggil nya.
Jeremy mengalihkan perhatiannya pada anak itu, berjalan mendekat dan membawa anak itu pada dekapannya.
"Ya! "
"Om mau pelgi? " tanya Alfa dengan logat khas anak-anak.
"Om harus pergi dulu, nanti om datang lagi. Ada yang harus om kerjakan! " Jeremy berusaha menenangkan anak itu.
Wajah Alfa berubah sedih, bibirnya mengerucut siap-siap ingin menangis.
Vivian bangkit dan mengambil Alfa dari dekapan Jeremy.
"Alfa sayang , om ada kerjaan sayang.Nanti om dimarahin kalau kerjaannya tidak selesai! " Vivian memberi pengertian.
Mendengar kata-kata (marah) Alfa seperti mengerti. Wajah yang tadinya seperti ingin menangis berubah menjadi biasa saja.
"Om pergi sekarang ya, nanti Om akan kesini lagi." ucapnya pada Alfa.
"Vian, aku pergi dulu ya." Jeremy pun permisi.
Setelah kepergian Jeremy , Vivian kembali diselimuti rasa khawatir. Dia takut jika Willi mengetahui keberadaan Alfa, bisa saja Willi akan mengambilnya sewaktu-waktu.
"Apakah aku tidak terlalu egois?" terdiam sejenak "Ah tidak, dia kan sudah punya Anastasya."
Fikiran Vivian berkecamuk. Separuh hati, dia juga tidak mau dibilang egois jika suatu saat Alfa bertanya tentang siapa papanya. Tapi bayangan pengkhianatan Willi beberapa tahun lalu masih jelas tergambar.
Di saat mereka sedang ingin memperbaiki hubungan. Willi tidak bisa kompeten dengan hatinya. Panggilan dari mantannya itu seperti membuat nya hidup. Sehingga tidak bisa menolak.
Willi kembali keperusahaan dengan hati dan jiwa yang membara.
"Pranng."
"Brukk."
Suara barang berhamburan terbang dari ruangan Willi.
Willi marah dan menghancurkan semua nya. Vas bunga pecah berhamburan di lantai. Kertas-kertas bertebaran di sekitar ruangan kerjanya.
"Brukk! " Willi mengepalkan tangannya dan memukul meja.
"Jeremy, kau lagi, kau lagi."
__ADS_1
Melihat kedekatan Jeremy dan Vivian dia mulai berfikir yang tidak-tidak.
"Sejak kapan, sejak kapan mereka sedekat itu? " Willi berteriak.
Setelah kepulangan Willi dari kediaman Liana. Robby memilih pergi setelah mengantarkan bosnya.
Dia tahu bahwa saat ini, Willi sedang tidak baik-baik saja.
Di ruang kerja nya, Robby memfokuskan perhatiannya pada layar laptop. Karena ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan sebelum di pinta oleh bosnya.
Tangan Robby berhenti seketika dari ketikannya.
Sedikit banyaknya , Robby mendengar perkataan Willi yang kasar pada Vivian.
"Dasar bos sinting, bukan nya memperbaiki hubungan malah semakin hancur. " gerutu Robby.
Dia melepaskan tangan nya dari laptop. Sambil berpusing-pusing di kursi kebesarannya.
Saat sore, Liana sudah kembali kerumah. Vivian menceritakan semua yang terjadi sebelum nya.
"Yang benar kamu, dari mana dia tahu kamu ada disini? " Liana seakan tidak percaya.
Vivian menggelengmenggeleng.
"Mungkin sebelumnya dia sudah meminta orang lain untuk membuntutiku! " jawab Vivian.
"Kenapa sekarang dia baru bergerak, dari awal waktu kamu pergi dia kemana saja? " Liana terlihat marah.
"Entah la, apa aku kembali saja ke negara H? " tanya Vivian pada sahabatnya.
Liana terdiam sejenak, sambil menopang dagunya.
"Ini hanya perasaan ku saja! Mungkin sebelumnya dia sudah tahu keberadaan mu dan begitu tahu kamu ada disini dia langsung datang. Dan mungkin saja selama ini dia kehilangan jejak! " Liana menjelaskan
Vivian masih saja terdiam , mendengarkan perkataan sehabatnya itu.
"Apa mungkin dia juga tahu tentang anakmu ini?" tanya Liana.
Vivian menggeleng.
"Aku tidak tahu! "
"Mungkin saja dia mengira anak ini adalah anaknya Jeremy melihat kalian begitu dekat! " Liana seperti penyelidik.
__ADS_1