
Sampai dirumah, Vivian keluar dari mobil.
"Bruukk! " dia banting pintu mobil.
Willi tidak bereaksi apa pun, dia sadar saat ini Vivian kesal.
Willi buru-buru mengejar Vivian. Di kamar atas, Willi tidak melihat Vivian. Dia mencari ke kamar mandi juga tidak ada.
Kembali berjalan menuruni tangga,menuju kamar tamu.
"Klek! " gagang pintu tidak bisa dibuka.
Willi mencoba lagi, tetap tidak bisa juga.
"Vivian! " panggil Willi.
Tidak ada suara.
"Tok tok tok ! " pintu di ketuk.
"Vivian, aku tahu kamu didalam. Buka pintu nya! " Willi mulai emosi.
Vivian sakit hati atas perlakuan Willi yang menyebabkan bibirnya sampai luka.
Vivian berada didalam kamar mandi,sambil berguyur di bawah terpaan air shower.
Gaun yang belum sempat dia ganti basah bersamanya. Air matanya hilang di bawa oleh air.
Tidak mandapat respon,Willi meminta kunci cadangan dengan pak Im.
"Ceklek! " pintu terbuka.
Willi melihat ke sekeliling kamar, tidak ada siapa pun disana.
Sayup-sayup dia mendengar suara tangisan bersamaan dengan air yang berjatuhan
Willi mencoba membuka pintu kamar mandi, ternyata pintu tidak dikunci.
Dia melihat Vivian yang duduk bersandar menopang kedua lututnya di bawah guyuran air.
Willi mendekat "Apa kau sudah puas menangis nya? " tanya Willi dengan lembut.
Seketika emosi yang tadi meluap hilang. Melihat wanita itu begitu menyedihkan.
Vivian menandang nanar dengan mata sayu selepas menangis.
Dia merasa malas untuk berbicara. Tidak ingin berlama-lama disana, Vivian bangkit mengacuhkan Willi yang sudah berada tepat didepannya.
Merasa di abaikan, Willi menggendong tubuh Vivian. Membuatnya terkejut dengan sikap Willi yang tiba-tiba.
"Ku mohon turunkan aku, aku bisa jalan sendiri! " ucap Vivian lemah.
Willi tidak memperdulikan perkataan Vivian.
Willi meletakkan Vivian di bangku kayu berukir.
"Aku minta maaf, atas perlakuan ku yang kasar. " ucap Willi seperti mimpi disiang bolong.
Willi orang yang begitu keras, mengucapkan kata maaf tanpa jeda sekali pun.
"Ganti bajumu sekarang! "
Vivian bangkit dan berjalan menuju lemari besar.
"Apa perlu ku bantu? " ntah candaan atau betul ucapan Willi.
Vivian tidak menjawab, setelah memilih pakaian. Dia kembali masuk kedalam kamar mandi untuk berganti pakaian.
Setelah selesai dia keluar, dengan baju kaos polos yang ukurannya sedikit besar.
__ADS_1
Willi mencari kotak obat, dan berjalan menuju Vivian.
Dia mengoleskan obat ke bibir Vivian yang luka.
"Auuhh! " Vivian meringis perih.
"Maaf, aku akan pelan-pelan! " Willi sedikit lembut.
"Kamu tahu, kenapa aku tidak suka melihat mu bersama Romie? " tanya Willi.
Vivian memandangi wajah suaminya itu.
"Aku, aku merasa kalian terlalu dekat! "
Vivian tidak berkedip memandang wajah Willi yang terlihat berbeda dari sebelumnya.
"Apa maksud dari ucapannya? " batin Vivian.
Vivian tidak ingin menyimpulkan bahwa ucapan Willi memiliki suatu rasa cemburu.
Vivian masih tetap dingin, tidak menghiraukan Willi yang sedang berbicara.
Vivian berdiri dan hendak melangkah menuju pintu.
"Vivian! " Willi menahan tangan istrinya.
"Lepaskan tangan ku, aku tidak ingin berdebat dengan mu! " Vivian mengeras.
Willi yang sedari tadi berusaha menahan agar dia tidak sampai terpancing emosi.
"Huufff! " menarik nafas dalam.
Dia lepaskan tangan Vivian.
Vivian kembali melangkah kepintu.Dengan lebih cepat,Willi menahan pintu itu dengan tubuhnya. Sehingga Vivian tidak bisa menyentuh gagang pintu.
"Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun, hanya beberapa bulan lagi aku akan bebas dari neraka ini! " Vivian terlihat emosi.
Willi memegang rahang wanita itu dan reflek melahap bibirnya.
Kembali Vivian berontak mendorong dada bidang Willi.
Semakin Vivian berontak, semakin kuat Willi menenggelamkan bibir nya.
Setelah puas, Willi melepaskan ciuman nya.
"Dari tadi aku sudah berusaha menahan semuanya. Tapi kamu seolah-olah tidak melihat sisi baik nya! " Willi menjadi emosi kembali.
Tapi kali ini, dia tidak sekasar sebelumnya
Vivian menyapu bibir nya, dengan wajah marah bercampur sedih. Dengan sekuat tenaga dia tahan agar air matanya tidak terjatuh.
"Mulai besok, kamu ikut bekerja bersamaku! " perintah Willi.
Vivian bahkan tidak menjawab nya.
Keesokan pagi nya, tidak ingin mendapat perlakuan kasar Willi. Vivian bangun lebih awal dan bersiap-siap berangkat kerja.
Dia berjalan menuju meja makan, disana terlihat Willi lagi menikmati sarapan pagi nya.
Willi tidak berbicara dan bahkan tidak melihat ke arah nya.
Vivian memakan sebuah sandwich didepan nya.
Willi sudah selesai makan, dia bangkit dan pergi. Ketika berada tepat di samping Vivian.
"Cepat lah makan, aku tidak mau menunggu lama! " ucap Willi.
Hanya segigit saja sandwich itu dia makan, tak ingin ada perselisihan lagi Vivian buru-buru mengikuti Willi dari belakang.
__ADS_1
Sebelum masuk mobil, Willi sudah melihat Vivian ada disana.
"Apa kamu sudah menghabiskan sarapan mu? " tanya nya.
Vivian hanya menggeleng.
"Robbu jalan! " ucap Willi
Robby pun membawa mobil melaju dengan kecepatan sedang.
Beberapa saat, mereka pun tiba di kantor.
Vivian dengan langkah gontai berjalan menuju lantai 3.
Willi memakai lift kusus untuk nya.
Di lantai 3,beberapa orang terlihat sudah hadir dan menyiapkan beberapa pekerjaan, walau waktu bekerja belum lagi dimulai.
"Vivian?" sebuah suara dari belakang.
Vivian menoleh "Berta! " ucap nya.
Mereka berpelukan.
"Dari mana saja kamu? Sudah lama rasanya kita tidak jumpa! " ucap Berta.
"Aku tidak dari mana-mana! " jelas Vivian.
"Ngomong-ngomong, apa gerangan yang membawa mu kesini? " tanya Berta.
"Aku kembali kerja disini! " jawab Vivian.
Orang-orang yang ada disana bersama-sama menatap Vivian.
Vivian menjadi salah tingkah.
"Apa benar kamu mau kerja lagi disini? tanya Adit.
" Hemmm! " Vivian hanya berdehem.
Berta tersenyum "Wah, senang dengarnya. Kamu tahu tidak, sepi rasa nya tidak ada kamu! "
"Masak iya karena aku? " ledek Vivian.
"Hahahah! " mereka tertawa melepaskan perasaan senang.
Di ruangan Willi, dia terlihat berkutat dengan laptop nya.
"Robby masuk keruangan ku sebentar! " panggilan melalui telepon.
Tak lama Robby pun masuk kedalam.
"Tolong buatkan acara makan malam kusus untuk kami berdua." minta Willi.
"Baik pak! " Robby pun keluar dari ruangan Willi.
Di saat makan siang,Vivian dan Berta serta beberapa orang lainnya terlihat di kantin.
Orang-orang terlihat tidak perduli sekitarnya. Tapi ada juga beberapa pasang mata yang menatap benci pada Vivian.
"Tadi pagi sebelum masuk perusahaan, tidak sengaja aku melihat Vivian keluar dari mobil Tuan Willi! " ucap Luciana.
"Mungkin kamu salah orang kali? " timpal teman lainnya.
"Aku tidak salah orang! " Luciana meyakinkan.
"Wah, berarti mereka memiliki hubungan spesial! " ucap yang satu nya.
"Kenapa kamu tidak mencoba mendekati tuan Willi? " ujar teman lainnya.
__ADS_1
"Kalau Vivian saja bisa dekat, apa salahnya aku coba! " Luciana meyakinkan diri.