
Di negara H, Vivian terlihat sibuk melayani pada pelanggan. Perutnya yang semakin besar tak memberatkan nya untuk bekerja.
Vivian seakan kesusahan membawa banyak pesanan.
"Vivian berikan pada ku, kamu istirahat saja." seorang teman mengambil barang yang dipegang oleh Vivian.
"Terima kasih! " Vivian menyerahkan pada temannya itu.
Vivian masuk kedalam ruang istirahat untuk para pegawai cafe.
Disana dia meluruskan kaki nya yang terlihat bengkak karena mendekati minggu kelahiran.
Jeremy sudah meminta Vivian untuk beristirahat sejenak. Tapi dia merasa tidak enak pada orang yang sudah baik padanya.
"Tok tok tok! " suara ketukan pintu.
Pintu pun terbuka.
"Kamu terlalu memaksakan diri Vivian. Harusnya kamu istirahat , karena kamu membutuhkan tenaga untuk melahirkan nanti! " ucap Jeremy.
"Aku tidak apa-apa, hanya pegal bagian kaki itu hal yang biasa! " jawab Vivian.
Jeremy sudah tahu, dia tak akan menang jika berdebat dengan Vivian. Wanita keras kepala dan ingin selalu terlihat sempurna dalam pekerjaan nya.
Di belahan bumi lain, Rega sedang sibuk mencari tahu tentang istri Willi Hudson. Menuruti Willi secara diam-diam. Tapi dia tidak menemukan Willi bersama wanita mana pun.
1 minggu pria itu mengikuti Willi, dan akhirnya Rega memutuskan untuk mengakhiri penguntitan nya.
Ketika dirumah Anastasya.
"Bagaimana? Apa kamu menemukan siapa istri nya? " tanya Anastasya.
Rega hanya menggeleng.
"Apa mungkin dia berbohong? Agar aku tidak mengejar nya lagi!" ujar Anastasya.
"Mungkin juga seperti itu! " jawab Rega.
"Bagaimana sekarang , apa kamu akan selamanya menyembunyikan anak mu dari orang tua mu? " tanya Rega.
Anastasya menatap hampa ke arah Rega.
"Kalau memang sudah seperti ini, aku harus memberi tahu papa! " Anastasya akhirnya mengalah juga.
Sementara di perusahaan keluarga Hudson.
Semenjak 1 minggu ini setiap datang ke kantor. Willi selalu tersenyum dan menyapa karyawan nya dengan ramah.
Sebagian karyawan menganggap itu hal yang wajar dari seorang atasan agar bawahan nya betah.
Dan sebagian lagi menganggap itu seperti mencerminkan akan ada bencana yang akan terjadi.
Tidak terkecuali Robby, sudah satu minggu ini Willi tidak mempersulit dirinya.
Dan Robby menikmati tidur malamnya dengan nyenyak.
7 minggu berlalu, Vivian sudah tidak masuk kerja untuk saat ini. Jeremy memerintahkan dia untuk istirahat total menjelang hari bersalin.
Pagi itu, seperti biasa Vivian akan membersihkan kamar nya.
__ADS_1
Setelah beres-beres, dia merasakan sakit pada pinggangnya.
Vivian duduk di bangku kayu agar rasa sakitnya berkurang. Dia sudah biasa mengalami sakit pinggang semenjak hamil.
Lama Vivian duduk, tapi rasa sakit itu tidak juga hilang.
"Hhuuffff." dia tarik nafas dalam berusaha berdiri.
Tapi rasa sakit itu seperti berpindah ke bagian bawah perut.
"Ahhh! " Vivian meringis menahan rasa sakit.
Dia berusaha berdiri sambil berpegangan pada sandaran bangku.
Merasa dirinya tidak baik-baik saja. Vivian mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Jeremy.
"Hallo! " jawab Jeremy.
"Bantu aku Jer! " suara Vivian lemah.
"Vian, kamu kenapa. Kamu baik-baik saja kan? " Jeremy panik.
Tanpa menunggu jawaban, Jeremy menutup teleponnya dan menghampiri Vivian di loteng atas.
Setelah pintu terbuka, Vivian sudah terduduk dilantai.
Jeremy semakin panik, melihat baju yang di kenakan Vivian sudah basah dan ada sedikit noda darah.
"Kamu kenapa bisa sampai seperti ini? " tanya Jeremy sembari membopong tubuh Vivian.
"Air ketuban, seperti nya aku akan melahirkan! " jawab Vivian meringis menahan rasa sakit.
"Bertahanlah sebentar, aku akan membawa mu kerumah sakit terdekat! "
Di persimpangan, jalanan macer karena lampu merah.
"Cepat bertukar, cepat cepat! " Jeremy panik karena lampu merah lama bertukar.
Tak sabar menunggu, Jeremy membunyikan klakson nya. Semua orang menatap nanar ke arah nya.
"Darurat darurat darurat! " Jeremy memberi aba-aba.
Mereka mengerti dan memberi jalan pada mobil Jeremy.
"Terima kasih! " ucap Jeremy sembari menjulurkan kepalanya keluar jendela.
Segera mereka tiba di rumah sakit, tidak menunggu perawat lagi. Jeremy menggendong tubuh buncit Vivian dan meletakkan nya pada ranjang pasien.
Seorang perawat menghampiri dan membantu Jeremy mendorong ranjang .
Vivian sedari tadi meringis menahan sakit.
Ketika didalam ruangan bersalin, dokter memeriksa jalan lahir nya.
"Sudah penuh! " ucap sang dokter.
Jeremy tidak berani menemani Vivian, sejatinya dia takut darah. Jeremy hanya menunggu diluar.
Vivian berjuang didalam antara hidup dan mati. Sementara Jeremy mondar mandir seperti dia adalah suami dan juga ayah dari bayi itu.
__ADS_1
"Oek oek oek! " suara tangisan bayi.
Dokter keluar dan memberikan senyuman.
"Selamat tuan , anak anda laki-laki dan sehat! " ucap dokter.
Jeremy hanya bisa tersenyum paksa. Karena baginya ini pertama kali dia membantu wanita yang ingin melahirkan.
Setelah hampir setengah jam, Vivian sudah dibersihkan.
Para perawat pun keluar, sementara Vivian dan anaknya berada didalam ruang bersalin.
Jeremy masih setia menunggu diluar. Dan pintu pun terbuka lebar, ranjang Vivian di dorong menuju ruang perawatan ibu dan anak.
Jeremy menuruti langkah para perawat sampai akhirnya mereka di tempat tujuan.
"Kami permisi dulu pak. " ucap para perawat dan pergi meninggalkan dua orang insan itu.
Jeremy mendekat ke arah Vivian, mereka saling tersenyum.
"Anak kamu laki-laki, tampan! " ucap Jeremy membuka percakapan.
"Terima kasih! ' Vivian terlihat sungkan.
" Siapa namanya ? " tanya Jeremy.
"Aku belum kepikiran untuk sebuah nama! " jawab Vivian.
"Kalau kamu, ada nama yang cocok untuk nya? " tanya Vivian.
"Eemm, aku belum dapat. Nanti saja kita fikirkan! "
Keesokan hari nya Vivian sudah dibolehkan pulang. Karena kondisinya yang stabil.
Dan orang yang tetap setia yaitu Jeremy.
Dia berusaha mengemas semua barang milik bayi Vivian. Hingga tidak ada satu pun yang tertinggal.
Perlahan, Vivian di dorong dengan menggunakan kursi roda sampai menuju mobil.
Di jalan, tak henti-henti nya dua insan tanpa ikatan itu tersenyum. Walau tidak ada apa pun yang lucu.
Mereka rasa terpana melihat wajah anak Vivian yang terlihat tampan dan hidung yang cukup mancung.
"Apakah wajah anak mu mirip papanya? " tanya Jeremy.
"Eemm, sedikit pun tidak mirip dengan ku! " sambut Vivian.
Mereka pun tiba rumah cafe. Beberapa karyawan menghampiri mobil Jeremy.Kondisi saat itu tidak terlalu ramai, sehingga mereka bisa melihat bayi Vivian.
"Pengen lihat dong, dikit aja! " celetuk karyawan satu nya.
"Vivian jangan pelit-pelit, entar anaknya mirip aku! " seloroh yang lain nya lagi.
Vivian dengan senang hati memperlihatkan wajah anaknya.
"Ih ih, tampan banget! " kata yang satu.
"Aduh, bibit unggul nih! " yang satunya lagi.
__ADS_1
Ketika karyawan itu ingin menuil pipi si kecil. Jeremy menahan tangan itu.
"Tidak boleh menyentuh nya, masih terlalu rentan! " ucap Jeremy.