
Satu minggu berlalu.
Di negara H, Vivian terlihat tidak sehat. Apa saja yang dia makan selalu dia mun*ahkan kembali.
Sudah 3 hari Vivian mengalami hal ini.
Dia berusaha makan untuk asupan tenaga. Tapi perutnya tetap menolak.
"Oh, ayolah Vivian. Bagaimana kau bisa sakit dinegara orang lain. Kau tidak memiliki keluarga atau kenalan disini! " ucapnya pada diri sendiri.
Hari ini Vivian sudah janji mau bertemu dengan seorang manager. Dia memoles bedak di wajah nya yang pucat, dan tak lupa lipstik yang berwarna bibir.
Merasa cukup,Vivian mengumpulkan tenaga agar bisa terlihat baik-baik saja.
Berjalan keluar sambil mencari taksi. Setelah menunggu, akhirnya taksi pun tiba.
Dia berangkat menuju sebuah toko pakaian.
Setelah sampai dia masuk ke toko itu untuk bertemu manager nya.
Datang lah seorang wanita sedikit lebih tua dari Vivian. Sekitaran umur 30an awal. Setelah di wawancara, Vivian memenuhi kriteria toko itu
Tapi Vivian masih kurang puas , karena gaji yang tidak setimpal.
"Terima kasih! " ucap Vivian dan pergi.
Berjalan beberapa blok, Vivian sudah terlihat lelah. Dia melihat sekeliling mencari tempat untuk sekedar minum.
Dan hanya ada 1 gerai cafe, Vivian berjalan menuju cafe tersebut.
Meminta sebuah jus dingin.
Tak lama pesanan nya pun datang. Setelah tenggorokan nya basah, Vivian sedikit segar sambil senyum puas.
Jus habis, Vivian ingin melanjutkan jalan nya. Baru bangkit, Vivian merasa pusing dikepala nya. Pandangannya terasa berputar-putar dan lama-lama gelap. Seketika tubuh Vivian jatuh.
Tapi seseorang dengan sigap menangkap tubuh mungil wanita itu.
"Nona, nona bangun! " suara seorang laki-laki terdengar samar ditelinga Vivian.
Vivian berusaha membuka matanya.
"A-aku kenapa? " tanya Vivian.
"Kamu baik-baik saja, apa kamu sakit? " tanya laki-laki itu.
"Aku baik-baik saja! " jawab nya.
Vivian bangkit setelah sebelumnya dia terbaring di sebuah bangku yang sengaja di susun.
Vivian berusaha berdiri, tapi tubuhnya masih sempoyongan.
Kepala nya masih terasa pusing, sambil memijit kepalanya Vivian melihat isi tas nya untuk memastikan bahwa dia tidak di rampok atau di manfaat kan.
Semua barangnya lengkap.
"Terima kasih tuan! " ucap Vivian.
Tanpa melihat wajah orang yang menolongnya,Vivian membungkukkan tubuhnya hormat pada lelaki itu dan Vivian pun pergi.
Laki-laki yang sebelumnya telah menyelamatkan Vivian merasa wanita itu tidak baik-baik saja.
Dia menuruti langkah wanita itu dari belakang. Vivian sama sekali tidak menyadarinya.
Wanita itu ingin menyeberang jalan, langkahnya terhuyung-huyung pertanda dia dalam kondisi tidak sehat.
__ADS_1
Di seberang jalan, Vivian kembali merasakan mual dan pusing.
Tangan kanannya mengurut keningnya, sedang tangan kiri nya berusaha meraik tiang disampingnya. Tapi tangan kiri nya tidak tepat memegang tiang itu, sehingga tubuh Vivian terjatuh kebelakang.
Dan sekali lagi, laki-laki sebelumnya kembali menolongnya.
"Apa kau baik-baik saja nona? " tanya laki-laki itu.
Vivian sudah tidak memiliki tenaga cukup untuk menjawab pertanyaan pemuda itu.
Laki-laki itu dengan cepat memanggil taksi dan membawa Vivian ke klinik terdekat.
Vivian berada diruang pemeriksaan.Sedang lelaki yang menolongnya menunggu didepan pintu.
Masih dengan tenaga yang lemah, Vivian menatap sang dokter dengan seksama.
"Bagaimana dokter, apa saya baik-baik saja? " tanya Vivian.
Sang dokter tersenyum.
"Nona baik-baik saja! " sang dokter keluar pun keluar.
Pemuda penyelamat itu tersenyum sembari mendekat.
"Mari keruangan saya! " ajak sang dokter.
Setelah di dal ruangan.
"Selamat ya pak, istri anda sedang hamil! " ucap dokter dengan senyuman khas nya.
Sang pria tersenyum "Maaf dok, saya bukan suami nya. Hanya kebetulan bertemu dia! " jawab lelaki itu.
Dokter pun bingung "Saya fikir anda suami nya! "
"Nona anda sekarang ini sedang hamil memasuki minggu ke 5! " ucap dokter.
"Degh"
Bak di sambar petir di siang bolong. Vivian terperangah, matanya membulat mendengar berita itu.
"A-apa dokter tidak salah? " tanya Vivian.
Dokter tersenyum "Tidak nona, saya sudah pastikan. Mual anda berasal dari kehamilan.Untuk itu saya sudah resepkan obat untuk mengurangi mual serta vitamin" jelas dokter.
Ekor mata Vivian terlihat memancarkan cahaya bening.
"Aku hamil, bagaimana bisa? " batin nya.
"Ah, aku yang teledor. Kenapa waktu itu percaya pada nya! " Vivian meremas bawah baju nya.
Setelah itu Vivian berusaha merogoh isi tas nya dan mengambil dompet.
"Anda tidak perlu membayar nya lagi, pria itu sudah membayarnya! " ucap sang dokter.
Vivian berjalan mendekati pria itu dan memberikan beberapa lembar uang.
"Ini pengganti uang mu! " ucap Vivian.
"Tidak perlu nona, saya senang bisa membantu! " ucap lelaki itu.
Vivian berusaha menyodorkan uang tersebut. Tapi masih saja di tolak oleh lelaki itu.
Tidak ingin berdebat pagi.
Dengan tubuh lemah dan hati yang patah. Vivian berjalan perlahan.
__ADS_1
"Maaf nona, apa kondisi mu sudah baikan? " tanya laki-laki yang menolongnya.
"Ya aku baik-baik saja, sekali lagi terima kasih! " ucap Vivian.
"Boleh saya antar nona! " Vivian memandang sayu lelaki itu.
Sebuah senyum terpasang di wajah lelaki itu. Sehingga menunjukkan susunan gigi rapi nya.
"Degh."
Sekali lagi, Vivian terkejut setelah melihat wajah lelaki didepan nya.
"Kenapa wajah lelaki ini sedikit mirip dengan Willi? " batin nya.
"Nona, bagaimana? " tanya laki-laki itu melambaikan tangan nya ke hadapan Vivian yang terlihat melamun.
"Oke baiklah, karena anda tidak menjawab, saya anggap anda tidak keberatan! " ucap lelaki itu percaya percaya diri.
Lelaki itu melambaikan tangan nya memanggil taksi yang melintas.
Taksi pun datang.
Lelaki itu menarik tangan Vivian dan membuka pintu mobil bagian belakang dan mendudukkkan nya. Sementara lelaki duduk di bagian bangku samping supir.
Taksi pun berjalan.
"Dimana alamat tempat tinggal mu nona? " tanya laki-laki itu.
"Di jalan S! " jawab Vivian.
Taksi pun meluncur ke jalan S.
Setelah sampai.
Pria itu keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Vivian.
"Apa kamu bisa berjalan? " tanya laki-laki itu.
"Hem! " gumam Vivian.
Setelah keluar dari mobil.
"Sekali lagi terima kasih! " ucap Vivian.
Dia baru ingat, sedari tadi dia belum tahu nama lelaki itu.
"Maaf, kalau boleh tahu siapa namamu? " tanya Vivian.
"Nama saya Jeremy Hudson, panggil saja Jeremy! " jawab pria itu.
"Hudson! Kebetulan atau memang banyak nama keluarga Hudson di dunia ini? " fikir Vivian.
"Baiklah nona saya permisi dulu, semoga anda cepat sembuh! " membuka pintu taksi.
Vivian berjalan mundur.
"Maaf nona, kalau boleh tahu siapa nama anda? " ujar Jeremy.
"Panggil saja Vivian! " ucap Vivian.
Laki-laki itu tersenyum.
"Baiklah saya pergi dulu! "
Lelaki itu melambaikan tangannya, dan taksi pun pergi.
__ADS_1