
Vivian merasa tidak memiliki harapan apa pun lagi. Hanya jalan satu-satu nya adalah Willi.
"Ya, hanya Willi yang bisa membantu. " batin Vivian.
Dia tarik tangan Willi dan mengepalnya dengan kedua tangan nya.
"Ku mohon selamatkan Alfa.Kamu lah satu-satu nya harapan ku saat ini! " ucap Vivian.
Willi yang belum mengerti dengan maksud Vivian, seketika ingat bahwa dia memiliki tipe darah serupa dengan Alfa.
"Baiklah, aku bersedia. " ucap Willi.
"Suster, tipe darah ku AB-. Aku mau jadi pendonor! " ujar Willi.
"Baiklah, mohon ikut saya untuk memeriksa kesehatan anda terlebih dulu! " ucap suster.
Willi mengikuti langkah kaki suster didepan nya.
Saat diruang pemeriksaan, dengan suntikan sang perawat mengambil darah Willi untuk di cek lebih lanjut.
Setelah selesai,Willi kembali ke tempat dimana Vivian masih menunggu.
Willi merasa sedikit sakit di lengan nya kerena suntikan tadi. Dia masih memiliki beberapa pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Vivian.
Saat ini Romie terlihat pergi dan hanya tinggal Vivian sendiri. Willi duduk disamping Vivian.
"Kamu tenang lah , dia pasti baik-baik saja! " Willi berusaha menenangkan.
Mata Vivian terlihat sembab dan merah. Kekuatannya sudah habis setelah menangis lama.
"Vivian, ada yang ingin ku tanyakan! ' ungkap Willi.
Tapi tidak ada jawaban dari Vivian. Willi berusaha untuk tetap tenang dan mencari kata yang tepat untuk di ucapkan.
" Dari mana kamu tahu golongan darahku AB-? "tanya Willi.
Vivian menopang keningnya dengan kedua tangan nya sementara sikutnya tertumpu di pahanya.
Karena tidak ada jawaban dari Vivian, Willi menjadi semakin penasaran. Dia rengkuh bahu Vivian dan membalikkan tubuhnya sehingga mereka berhadapan.
" Ku mohon jawab, kenapa kamu bisa tahu? "tanya Willi lagi.
" Apa kamu bodoh, atau memang pura-pura bodoh? " jawaban Vivian begitu menohok dan menghantam bagian hati yang terdalam.
Willi hanya bisa menelan ludah, karena raut kekesalan Vivian tidak bisa iya sembunyikan. Dan kali ini Willi tidak bisa berlaku seperti biasanya.
Kesopanan yang dimiliki oleh Vivian seketika hilang.
Kalau kemarin Vivian begitu sopan menyapa dan bicara padanya. Tapi kali ini, dia lebih mirip seperti orang yang tidak tahu sopan santun.
Willi terdiam tanpa bertanya lagi. Tapi dia masih berusaha untuk tetap tinggal disana. Karena sebentar lagi hasil tes darahnya akan keluar.
Dan benar saja, seorang perawat datang menghampirinya.
"Tuan anda sehat dan dinyatakan bisa untuk menjadi pendonor. " ucap suster.
"Silahkan masuk tuan! " suster mempersilahkan Willi untuk masuk kedalam ruang operasi.
__ADS_1
Dan saat Willi akan pergi, tangan nya di tarik oleh Vivian.
"Selamatkan Alfa, dia anak mu! " ucap Vivian.
Mata Willi membulat, telinganya terasa berdenging. Jantungnya hampir melompat keluar, mulutnya ternganga.
"A-apa kamu bilang? A-Alfa anakku! " Willi masih belum percaya.
Vivian hanya mengangguk.
Air mata Willi jatuh berbulir di sudut matanya, tangannya gemetar.
"Maaf tuan, sebaiknya kita segera kedalam! " ajak suster.
Willi memandang suster tersebut "Baik suster! " Willi pun masuk kedalam ruang operasi.
Selama operasi berjalan, Willi memandangi tubuh kecil dengan segala selang yang tertempel di tubuhnya.
"Maafkan papa nak, papa tidak peka terhadap mu selama ini. Papa tidak menyadari bahwa jagoan papa ada didepan mata! " batin Willi.
Air matanya terus saja mengalir tak henti. Walau tiada terdengar tangisan, tapi hati kecilnya merasa bersalah. Karena selama ini tidak mengetahui kehadirannya.
"Kenapa disaat seperti ini, aku baru mengetahui bahwa kamu adalah anakku? " bermonolog.
"Ya Tuhan, beri aku kesempatan untuk menebus kesalahan ku. Jangan kau ambil dia dari ku. " batin Willi tidak henti-henti nya berdoa.
Saat ini Alfa sedang berjuang bersama dokter dan juga papanya.
Diluar Vivian yang sedang menunggu, kedatangan Romie dan tante Rose.
"Vivian! "panggil Tante Rose.
" Tante! "sapa Vivian.
Rose memeluk Vivian dengan hangat.
" Tante diberi tahu Romie bahwa kamu ada di sini. Jadi tante putuskan untuk ikut melihatmu! "ucap tante Rose.
Vivian tersenyum dan tangan tante Rose tidak berhenti menggenggam erat tangan Vivian.
" Kemana saja kamu selama ini?"tanya Tante Rose.
"Aku berada di negara H tante! " jawab Vivian.
"Kenapa kamu bisa pergi kesana, disaat kamu sudah memiliki Willi? " tanya Tante Rose.
Vivian hanya tersenyum getir.
"Masa itu ada sedikit masalah dan aku memilih untuk pergi agar lebih tenang. Tapi ada kendala lain yang membuat ku bertahan disana! " jelas Vivian.
"Anak itu? " tanya tante Rose.
Vivian melirik Romie, malah Romie mengangkat bahunya.
"Ee, iya tante anak itu! " jawab Vivian.
"Apa kamu tahu siapa ayah dari anak itu? " tanya tante Rose lagi.
__ADS_1
"I-itu! Apakah aku bisa untuk tidak menjawabnya? " tanya Vivian balik.
"Ya, terserah kamu. Dan hanya ingin tante ketahui, bagaimana saat ini hubungan mu dengan Willi? " tanya tante Rose.
Vivian merasa bingung ingin menjawab apa. Dia sendiri tidak tahu, Willi menganggap dia apa.
Lama menunggu , tapi Vivian masih bungkam.
"Vivian! " seru Rose.
Vivian tersadar dari lamunannya.
"Aku tidak tahu tante, seharusnya Willi sudah mengajukan gugatan cerai kala itu. Tapi dia pernah bilang, bahwa aku masih lagi istrinya! " jelas Vivian.
Tante Rose terlihat tersenyum dan memeluk Vivian.
"Kalau dia berkata seperti itu , berarti kamu adalah orang spesial bagi nya! " ucap tante Rose.
"Tapi tante? " tanya Vivian.
"Syuuuttn" telunjuk Rose di bibi Vivian.
"Sudah, jangan berkata apa-apa lagi. Kamu adalah milik nya sayang!" ucap tante Rose.
Vivian hanya diam, saat ini fikiran nya hanya tertuju pada Alfa semata.
Saat lampu kamar operasi di matikan, perawat dan dokter keluar dari dalam.
Vivian segera bangkit dan menghampiri dokter.
"Bagaimana anak saya dokter? " tanya Vivian.
"Masa kritis telah berlalu, sekarang kita menunggu dia siuman dulu!" jawab sang dokter.
"Baiklah dok! "
Para perawat dan dokter pun pergi. Sementara Alfa masih berada didalam dengan lengan yang masih di aliri selang darah.
Setelah 1 jam, akhirnya perawat membawa Alfa ke bagian ruang inap. Willi keluar dari dalam sambil menyapu lengan nya.
Saat diluar.
"Tante! " Willi kaget karena kehadiran tante Rose yang terbilang cepat.
"Apa kamu puas sekarang, lihat apa yang kamu lakukan? " tante Rose terlihat marah pada Willi.
"Ku mohon tante jangan ribut disini! " Willi bicara dengan suara pelan.
Sementara Vivian ikut bersama Alfa keruang inapnya. Tinggal lah Willi, tante Rose dan Romie.
Mata Willi tertuju pada Romie. Romie tidak peduli pada tatapan Willi yang dingin. Karena bagi nya,Willi itu hanya orang ceroboh yang tidak perlu di tanggapi.
"Romie, kita ke sana saja! " tante Rose menunjuk jalan menuju kamar inap Alfa.
"Baik ma! " Romie menggandeng tangan mama nya.
Ketika melewati Willi, dia sengaja berjalan dekat di depan Willi sehingga bahu mereka saling bertabrakan.
__ADS_1
Willi hanya melenguh sakit.
Romie terlihat puas mengerjai Willi.