
"Tok tok tok! "
"Masuk! " suara dari dalam ruangan Alfa.
Rihana membuka pintu dan berjalan menuju meja Alfa.
"Ada apa tuan? " tanya Rihana dengan wajah judesnya.
Alfa masih belum menjawab, dia tetap memainkan laptop yang ada didepannya.
Alfa melirik sekilas pada sekretaris nya itu. Rihana memasang wajah malas dan bibirnya berdecip.
Alfa kembali memfokuskan matanya pada layar di depannya.
Rihana melihat jam yang ada di ponselnya.
"Tuan! Apa sebenarnya tujuan tuan meminta saya untuk kesini? Sementara jam makan siang saya hampir habis! "suara Rihana sedikit meninggi.
Alfa meluruskan posisi duduk nya dengan kedua tangan bersedekap di dada.
Dia perhatikan Rihana tanpa bicara, pandangan Alfa lama-lama membuat Rihana menjadi salah tingkah. Dia alihkan pandangan nya ke arah sepatu nya.
Alfa menahan geli melihat Rihana bisa merasakan yang namanya grogi.
Marah dan kesal, itulah saat ini yang dirasakan oleh Rihana..
Dia berjalan menuju sofa yang tak jauh dari meja kerja Alfa. Rihana meletakkan tas nya di meja kaca dengan kasar, sehingga terdengar suara hentakan besi yang ada di tali tas Rihana menyentuh kaca.
Rihana begitu tidak perduli dengan sikapnya dan siapa yang ada didepannya.
"Apa kamu lapar? " tanya Alfa singkat.
"Apa saya terlihat kenyang saat ini? " tanya Rihana balik.
Alfa tersenyum, dan itu menambah rasa kesal Rihana yang dia tahan dari tadi.
"Tok tok tok! " sebuah ketukan di pintu.
Mata Rihana beralih pada pintu.
"Masuk! " jawab Alfa.
Pintu pun terbuka. Sami pun masuk dengan tiga buah kantong kertas.
"Ini yang tuan minta! " Sami meletakkan kantong kertas itu dimeja yang ada didepan Rihana.
"Apa tuan butuh yang lainnya? " tanya Sami.
"Tidak,kamu boleh pergi! " Alfa bangkit dari kursi kebesaran nya menuju sofa.
Sami pun meninggalkan Rihana dan Alfa berdua saja.
Mata Rihana menatap Alfa yang semakin mendekat ke arah nya.
Rihana merasa penasaran dengan isi kantong kertas itu. Semenjak Sami masuk membawanya, hidung Rihana mencium bau makanan seperti daging bakar.
Melihat gelagat Rihana yang seperti sedang menghidu. Alfa bisa menebak, pasti Rihana sudah tahu apa isi dalam kantong itu.
Alfa duduk bersebelahan dengan Rihana, jarak mereka hanya beberapa senti saja.
Alfa mengeluarkan isi dalam kantong itu.
"Temani saya makan! " minta Alfa.
__ADS_1
Rihana hanya diam tak menjawab, fokus nya tertuju pada bau makanan yang ada di depannya.
Alfa menyodorkan beberapa kotak yang berisi nasi dan berbagai macam makanan lainnya. Tanpa perlu menunggu, Rihana langsung mengambil kotak yang berisi daging bakar.
"Sudah lama rasanya tidak menikmati daging bakar seperti ini! " batin Rihana.
Rihana sama sekali tidak memperhatikan pada Alfa yang sedari tadi melihat ke arahnya.
Rihana terlihat santai menyantap makanan yang ada didepannya.
Melihat lahap nya Rihana, Alfa kepikiran ingin mengerjainya.
"Sudah berapa lama kamu tidak makan? " tanya Alfa bergurau.
Tangan Rihana terhenti seketika, setelah mendengar ucapan Alfa.
Rihana melihat sisa makanan yang ada didepannya.
"Ya Tuhan, apa aku selapar itu? Sampai makanan ini semua aku yang habiskan tapi tidak menyadarinya! " batin Rihana.
Perlahan Rihana meletakkan potongan ayam goreng yang ada ditangannya.
Alfa memandangnya heran.
"Kenapa kamu berhenti? Ini habiskan! " Alfa meletakkan sepotong sayap ayam di kotak makanan Rihana.
"Maaf tuan! Aku sudah kenyang! " ujar Rihana.
Alfa memandang Rihana lekat.
"Aku belum selesai makan , dan kamu sudah bilang kenyang! " ucap Alfa.
"Heek! " Rihana bersendawa.
"Makan lah! " ucap Alfa lagi.
"Saya sudah tidak kuat makan lagi tuan! " jawab Rihana.
"Ya sudah! Kalau kamu sudah kenyang, temani saya makan! " pintanya.
Tak ada cara lain, Rihana hanya bisa menemani bosnya itu saja.
"Tidak apa-apa lah, yang penting perut ku sudah kenyang! " batin Rihana.
Saat jam pulang kantor, Rihana tengah sibuk membereskan pekerjaannya. Mulai dari menyiapkan dokumen untuk besok sampai merapikan meja.
Alfa keluar dari ruangannya.
"Bisa temani saya untuk mencari hadiah sepulang kerja ?" tanya Alfa.
Tangan Rihana langsung berhenti dari kegiatannya.
"Tapi tuan, ini sudah sore dan saya masih ada keperluan lain yang harus di buat! " alasannya.
"Akan saya antarkan kemana kamu mau pergi! " ujar Alfa.
Tak ada kata-kata yang bisa Rihana ucapkan untuk menolak ajakan Alfa. Dia merasa beruntung, karena hari ini dia tidak akan keluar uang untuk naik taksi.
"Baiklah tuan! "
Alfa kembali masuk kedalam ruangannya. Tak lama dia kembali ke luar dengan membawa serta ponselnya.
"Ayo! " ajaknya.
__ADS_1
Mereka pun berjalan bersama-sama menuju lift.
Saat di parkiran.
"Tuan menyetir sendiri? " tanya Rihana.
"Iya! Kenapa? " Alfa menolah pada Rihana.
"Tidak kenapa-napa! " jawab Rihana.
Mereka pun berangkat menuju sebuah toko perhiasan.
Alfa dan Rihana melihat-lihat isi lemari kaca yang ada di toko itu.
"Apakah ada yang lainnya? " tanya Alfa.
"Ada tuan! Mohon tunggu sebentar! " ucap salah seorang yang bekerja di toko itu.
Mata Rihana menyapu setiap model perhiasan yang ada di dalam lemari kaca toko itu.
Matanya tertuju pada salah satu keluang yang terlihat sederhana tapi tidak menghilangkan kesan mewahnya.
Tangan Rihana menyapu kaca penutup kalung itu. Ingin rasanya Rihana menyentuh kalung itu dan sekedar memakainya. Tapi itu semua tak mungkin, dia hanya orang biasa yang tidak pernah memakai benda mahal.
Wajah Rihana berubah sendu, dia menghampiri Alfa yang sedang duduk menunggu.
Petugas tadi pun akhirnya datang dengan sebuah kotak yang sedikit lebih besar dari kotak cincin.
"Maaf tuan lama menunggu!" ucap petugas sungkan.
Dia serahkan kotak itu pada Alfa dan membuka nya.
"Ini edisi terbatas tuan, dan hanya ada dua saja didunia! " jelas Petugas toko.
Alfa mengambil kalung itu dari kotaknya dan melihat desainnya secara keseluruhan.
"Bagaimana menurut mu? " tanya Alfa pada Rihana yang fokus pada kalung yang ada di tangan Alfa.
"Eh, ya tuan! "
"Bagaimana menurut mu dengan kalung ini? " tanya Alfa.
"Itu terlihat bagus tuan! "
Alfa bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Rihana.
Tanpa aba-aba, Alfa mengalungkan perhiasan itu ke leher Rihana.
"Kenapa tuan memakaikannya pada saya? " Rihana terkejut dengan sikap Alfa yang tiba-tiba.
"Kalung itu terlihat cantik dipakai nona! " ucap petugas toko.
Rihana merasa malu, wajahnya terasa panas ketika mendengar ucapan petugas toko tadi.
Setelah pasti akan kalung itu, Alfa kembali membuka kalung itu. Dan kali ini tidak seperti waktu memasangkannya.
Kalung itu sangkut di rambut Rihana dan membuat Alfa kesusahan saat membuka nya.
Karena tidak terlepas juga, Alfa menarik tubuh Rihana semakin mendekat ke belahan dada bidang Alfa.
Karena jarak mereka, jantung Rihana tak karuan. Dia teringat kembali pada saat Alfa pertama kali memeluknya.
Saat itu jantung Rihana juga mengalami lonjakan, tapi dia netralisir agar tidak terlalu kentara.
__ADS_1
Aroma tubuh Alfa menyeruak kehidung Rihana. Dan itu membuat Rihana merasa ingin memeluk tubuh lelaki yang ada didepannya itu.