Mr. Perfect and Ms Random

Mr. Perfect and Ms Random
SEASON 2. eps.88.HARI SIAL TIDAK ADA DI KALENDER.


__ADS_3

Hari berikutnya.


Matahari sudah menjelang, silau cahaya menembus tirai dari sela-sela kaca.


Rihana membuka mata dan menutupi dengan tangan kanannya.


"Pagi ini begitu cerah, dan nanti malam aku harus pergi menemani tuan Alfa! " Rihana mengacak rambutnya kasar.


Dengan rasa malas, dia bangkit dari tempat tidur. Mengambil handuk yang tergantung di pintu kamar.


Saat keluar dari kamar, sang ibu menghampiri.


"Na, sarapan dulu! " ajak ibu nya.


Rihana mendekat dan menarik kursinya.


Saat makan.


"Tok tok tok! " ketukan dipintu.


Rihana dan ibu nya saling berpandangan.


Rihana bangkit berjalan menuju pintu.


"Alina! "


"Apa aku mengganggu? " tanya Alina.


"Masuklah, kami lagi makan. " jawab Rihana.


Mereka pun masuk.


"Alina! Mari makan! " ajak Ibu Rihana.


"Terima kasih tante, saya sudah makan tadi! " ujar Alina.


"Kamu makan lah dulu, aku menunggu disini! " ucap Alina.


Rihana berjalan menuju makan, dan kembali menikmati sarapan paginya yang tertunda.


Setelah selesai makan, Rihana mendekati Alina.


"Ada apa pagi-pagi kamu sudah kemari? " tanya Rihana.


"Aku ingin minta tolong, temani aku malam ini! " rengek Alina sambil memegang tangan Rihana.


"Maafkan aku Lin, malam ini aku tidak bisa menemani mu.Karena malam ini aku akan menghadiri sebuah acara! " jelas Rihana.


Alina menghempaskan tangan Rihana.


"Degh! " seketika jantung Rihana berdetak.


"Kenapa Alina kasar, tidak biasanya dia seperti ini! " batin Rihana.


Alina bangkit dari duduknya.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau! " Alina menarik kasar tas nya dan berlalu pergi.


Sang ibu yang baru saja mendekat, dilewati oleh Alina begitu saja.


"Ada apa dengan nya? " tanya sang ibu.


"Dia meminta ku untuk menemaninya nanti malam. Aku jawab aku tidak bisa, karena nanti malam ada acara kantor! " jelas Rihana.


"Sudah lah,teman seperti itu tidak baik di jadikan sahabat. Semua apa yang kehendaknya harus dituruti.Emang dia pikir dia siapa? " Ibu Rihana terlihat marah dengan prilaku teman anaknya itu.


"Bu, aku berangkat dulu! " Rihana pamit pada ibu nya.


Rihana menunggu taksi yang lalu di depan jalan.


"Taksi! " panggil Rihana.


Supir taksi pun mendekat ke arah Rihana.


Rihana masuk dan mereka pun berangkat.


Hanya butuh waktu 20 menit untuk tiba di perusahaan.


Mereka telah tiba didepan perusahaan, Rihana keluar dan membayar taksi.

__ADS_1


Dia buru-buru masuk kedalam perusahaan. Melihat pintu lift akan menutup, dia berlari sembari mengulurkan tangan agar pintu di tahan.


Orang di dalam lift hanya menatap pada Rihana. Tapi tidak berusaha untuk menahan pintu lift.


Saat Rihana mendekat, terlihat jelas bahwa orang yang ada di dalam lift adalah Alfa.


Tidak ada kata-kata yang bisa iya ucapkan. Hanya menahan agar tidak terjadi bahasa kasar.


Setelah lift turun, beberapa orang sudah menunggu bersamaan dengan Rihana.


"Ting! " pintu lift terbuka.


Bukannya segera masuk, Rihana berjalan perlahan.


Dan terlambat, orang yang paling belakang lebih dulu saling mendorong agar mereka segera masuk.


Rihana hanya berdiri , tanpa melangkah ke dalam lift. Saat dia sudah masuk kedalam.


"Tit tit tit! " lift pun berbunyi karena kelebihan kapasitas.


Semua mata tertuju pada Rihana.


"Nona,lift ini sudah penuh. Keluar lah dulu! " ucap seorang wanita dari belakangnya.


Yang lain juga demikian, mereka menyalahkan Rihana.


Karena merasa malu, Rihana pun kembali melangkah keluar.


Dia tertunduk tak berdaya.


"Padahal tadi aku yang lebih dulu ada disani! Apa mereka tidak melihat ku dari tadi berdiri? " batin Rihana dengan wajah sedihnya.


Menunggu beberapa menit, lift kembali turun.


"Ting! " pintu lift terbuka..


Rihana segera masuk, dan kali ini didalam lift hanya ada 3 orang saja.


Dan mereka tidak bicara satu sama lain.


Dua orang sebelumnya turun di lantai 3,sementara Rihana menuju lantai paling atas.


"Ting! " pintu lift kembali terbuka.


Saat mendekati meja kerjanya.


Terlihat Alfa berdiri sambil kedua tangan bersidekap bersilang di dada.


Rihana yang tadinya berjalan normal, sekarang semakin melambatkan langkahnya.


"Ada apa lagi ini, kenapa dia ada disana? 'batin Rihana.


" Kenapa kamu bisa telat? "tanya Alfa.


" Maaf tuan, tadi saya sudah datang lebih awal. Tapi ada masalah di lift tadi! " jawab Rihana.


"Braakkkk! " Alfa menggebrak meja dengan kedua tangannya.


"Jadi kamu menyalahkan aku karena tidak menahan pintu nya? " Alfa terlihat marah.


"Bukan begitu maksud ku tuan! " Rihana membantah.


Hanya pandangan saja, Rihana tahu bahwa orang didepannya meminta penjelasan.


"Tadi setelah tuan naik ke atas, orang-orang sudah ramai menunggu di bawah. Dan saat pintu lift terbuka , semua orang pada dorong-dorongan. Sehingga saya tidak punya kesempatan untuk masuk kedalam lift! " jalan Rihana.


Alfa berjalan mendekat, dan langkah nya terhenti ketika jarak mereka hanya beberapa jengkal saja.


"Untuk lain kali , aku tidak menerima alasan apa pun. Kali ini kau lolos, ku anggap karena kau orang baru! " suara Alfa begitu lembut tapi seperti ingin mengunyah orang didepannya.


Alfa berjalan menuju pintu dan memutar gagangnya.


Sebelum masuk, dia kembali menoleh pada Rihana yang terpaku di tempat.


Alfa pun masuk.


"Huuffff! " Rihana menarik nafas panjang.


Selama Alfa didepan nya, bernafas saja dia merasa tidak berani.

__ADS_1


Rihana meletakkan tas kecilnya dengan kesal. Sambil duduk, dia menopangkan kedua tangan nya pada kedua pipinya.


"Mimpi apa aku semalam, hingga hari ini begitu siap! " rutuk Rihana.


Saat Rihana sedang sibuk dengan pekerjaan nya.


"Deerrttt deerrttt deerrttt! " getar ponselnya.


Rihana meletakkan penanya dan melihat siapa yang menghubunginya.


"Alina lagi, malas rasanya melayani teman yang suka menang sendiri seperti ini! " gumam Rihana.


Dia meletakkan ponsel itu dengan posisi telungkup.


Tiga kali ponsel itu bergetar, Rihana hanya membiarkannya tanpa melihat nya.


Saat jam makan siang, Rihana siap-siap ingin pergi makan.


"Ceklek! " gagang pintu CEO diputar.


"Kamu! " panggil Alfa.


Rihana terhenti ketika dia sudah 5 langkah dari meja kerjanya.


Iya menoleh ketika mendengar suara dibelakang nya.


"Iya tuan! " jawab Rihana mendekat.


"Tolong susun kembali isi data-data ini!" Alfa memberikan sebuah map biru pada Rihana.


"Saya akan kerjakan setelah makan siang ya tuan ! " pintu Rihana.


"Tidak , aku mau sekarang juga! " tegas Alfa.


Tanpa membantah lagi, Rihana hanya bisa pasrah tanpa menolak.


Saat mengerjakan isi map tersebut.


"Kruukk!" suara perut lapar.


Rihana terhenti sejenak dan memegang perut nya.


"Apa dia tidak punya perasaan pada pekerjanya. Apa ini juga yang menyebabkan sekretaris sebelumnya banyak yang berhenti? " batin Rihana.


Rihana tidak bisa lagi menahan rasa laparnya. Dia menuju lantai 4,dan meminta seorang OB untuk membelikannya makanan.


OB tersebut pun pergi menuju cafe yang ada di lantai 2.


20 menit kemudian, OB tadi pun tiba di lantai atas.


"Ini makanannya nona! " OB itu menyerahkan kotak yang berisi nasi.


"Terima kasih sudah menolong saya! " Rihana memberi uang yang tidak terlalu besar pada OB tersebut.


Rihana membuka isi makanannya dan dengan cepat dia menelan semua makanan itu tanpa sisa.


Saat dia baru saja menghabiskan makanannya. Pintu CEO kembali terbuka.


"Apa kamu sudah lapar? " tanya Alfa dengan nada sedikit lembut.


Mata Rihana sontak saja membulat.


"Sa-saya masih la-par tuan! " jawab Rihana.


Mata Alfa melihat sedikit kebohongan dari Rihana yang mengatakan dia masih lapar.


Alfa mendekat, dan mendekat kan tangan kanannya ke dagu Rihana.


Karena reflek, Rihana memundurkan tubuh nya.


"Apakah betul kamu masih lapar? " tanya Alfa sembari mengambil sesuatu yang menempel pada dagu Rihana.


"I-ya tuan! " jawab Rihana ketakutan.


"Ini apa? " Alfa menunjukkan sebutir nasi.


"Hah! " Rihana menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Tidak bisa mengelak lagi, Rihana pun hanya bisa jujur.

__ADS_1


"Tadi aku betul-betul lapar tuan! " Rihana membela diri.


Entah apa yang ada di pikiran Alfa , tanpa bicara dia pergi begitu saja meninggalkan Rihana yang masih terpaku tidak mengerti dengan sifat pimpinan nya itu.


__ADS_2