
Alfa sudah mulai merasa bosan dengan pesta itu. Lama baru iya menyadari bahwa Rihana sudah tidak ada di samping nya.
Mata tajam Alfa menyisir sekeliling mencari keberadaan Rihana.
Terlihat di meja sudut seorang wanita sedang meletakkan kepalanya di atas meja dengan beralas lengannya.
"Ada apa dengan wanita itu? "gumam Alfa sembari berjalan mendekat.
Saat Alfa sudah dekat.
" Apa yang kamu lakukan , apa kamu tidak punya malu? " tanya Alfa.
Tapi tidak ada respon sama sekali dari Rihana.
Merasa tidak diperdulikan.
"Huufff! " Alfa menarik dalam nafasnya menahan emosinya.
"Bangunlah, kita harus segera pergi! " ajak Alfa.
Rihana mengangkat tangannya seperti orang yang tidak memiliki tenaga.
"Tuan, aku masih ingin tidur. Jangan berisik! " ucapan Rihana seperti orang sedang mabuk.
Mendengar ucapan Rihana sudah pasti memancing kemarahan Alfa. Dia menarik tangan Rihana dengan keras.
"Aughh, sakit tuan." ucap Rihana tanpa sadar.
Melihat tingkah Rihana, Alfa menyadari ada yang tidak beres.
Alfa tertuju pada gelas yang ada didepan Rihana dan mengambil gelas yang sudah kosong itu serta mencium baunya.
Alfa menggeleng, benar saja minuman itu bukanlah jus melainkan minuman kadar alkohol tinggi.
Alfa memijit pelipisnya, dia ambil ponsel dari sakunya dan menghubungi Sami yang sedang menunggu mereka di luar.
Tapi Sami sama sekali tidak mengangkat panggilan nya.
Hanya sekali dia menghubungi, karena tidak ada jawaban. Dia memutuskan untuk tidak menelepon nya lagi.
Alfa berusaha membuat Rihana untuk berdiri, tapi kedua kakinya seperti tidak memiliki tenaga.
Orang-orang disana mulai memfokuskan pandangan nya pada kedua insan itu.
Merasa di perhatian, Alfa membuka jas nya dan menutup bagian wajah Rihana dan menggendong nya ala bridal.
Disana terlihat beberapa wartawan yang mengambil beberapa jepretan gambar.
Alfa membuat keputusan yang bagus dengan menutupi wajah Rihana.. Sehingga orang-orang tidak tahu akan identitasnya.
Saat berada di luar, Sami yang menyandar di pintu mobil tercengang melihat penampakan didepannya.
"Ada apa tuan, kenapa nona Rihana sampai seperti ini? " tanya Sami panik.
Mata Alfa sudah memberi isyarat, Sami pun mengerti dan segera membuka pintu mobil.
Alfa memasukkan Rihana perlahan di bangku belakang dan menyelimutkan jasnya tadi pada bagian bawah gaun.
Alfa membuka pintu bagian depan, Sami yang masih tidak mengerti ikut masuk kedalam mobil dan segera berangkat.
Masih menyimpan tanda tanya, Sami pun mengumpul keberaniannya untuk bertanya.
__ADS_1
"Tuan, ada apa dengan nona Rihana? " tanya Sami.
Alfa tidak menjawab sama sekali pertanyaan Sami. Karena masih kesal, karena tidak mengangkat panggilan darinya.
Karena pertanyaan nya tidak dijawab, Sami pun mengurungkan niat nya untuk mengetahui apa yang sebenernya terjadi.
Karena mereka sudah hampir sampai di mansion keluarga Hudson. Sami pun masih harus mengantarkan Rihana pulang.
Didepan pagar tinggi mansion keluarga Hudson mobil pun masuk kedalam halaman.
Alfa keluar dari mobil.
"Tuan tunggu! " langkah Alfa tertahan.
"Bagaimana dengan nona Rihana? " tanya Sami.
"Cik! " bibir Alfa berdecip.
"Antarkan ke rumahnya saja! " jawab Alfa dan berbalik pergi.
"Tapi tuan, aku tidak tahu dimana rumahnya! " ucap Sami.
"Terserah kamu, mau dibawa kemana! " jawab Alfa enteng.
Sami pun bingung, baru kali ini dia membawa sekretaris Alfa yang ketiduran.
Sami belum lagi beranjak dari halaman rumah. Dia memutar otak kemana harus membawa Rihana.
Alfa yang sudah berada di kamar nya, tidak mendengar suara mobil keluar. Dia kembali keluar dari kamar, dan benar saja mobil yang dia pakai tadi masih berada di sana.
Alfa pun mendekat.
"Apa yang kau lakukan, kenapa belum pergi? " tanya Alfa.
"Ah, kamu kan bisa membawanya ke apartemen mu! " jawab Alfa ringan.
"Maaf tuan saya tidak bisa, apa kata orang disana jika besok pagi tiba-tiba dia keluar dari dalam apartemen saya! " jelas Sami.
Alfa memijit kepalanya , dan berfikir sejenak.
"Baiklah , tunggu sebentar! " Alfa masuk kedalam kamarnya dan kembali keluar.
Alfa masuk kedalam mobil.
"Kita ke apartemenku saja! " ajak Alfa.
Sami pun segera pergi meninggalkan halaman. Saat mereka keluar pagar, penjaga merasa heran. Alfa kembali ikut bersama Sami. Tidak seperti biasanya, jika Alfa sudah dirumah maka Sami akan pergi sendirian dengan membawa mobil Alfa.
Tak lama mereka tiba diparkiran sebuah apartemen yang cukup besar.
Alfa keluar lebih dulu, dan di susul Sami yang berusaha menggendong belakang Rihana yang betul- betul tidak sadarkan diri.
Mereka menaiki lift menuju lantai atas.
Alfa membuka pintu dengan menekan nomor yang ada di pintu nya.
"Masuk lahlah. " Alfa mempersilahkan.
Sami pun membawa Rihana masuk serta meletakkannya di sebuah sofa yang terlihat besar dan nyaman.
"Baiklah tuan, apa saya sudah boleh pulang? " tanya Sami .
__ADS_1
"Baiklah, besok kamu singgah kesini dulu! " ucap Alfa.
"Baik tuan! " Sami pun pamit.
Alfa yang sudah mengantuk menuju kamar nya dan merebahkan tubuhnya yang lelah.
Baru ingin memejamkan mata, dia kembali teringat dengan Rihana yang masih mengenakan gaun pesta tadi.
Kembali Alfa keluar dari kamar dan membawa selimut dan menutupi tubuh Rihana agar tidak kedinginan karena ac.
Merasa tidak ada lagi masalah, dia kembali tidur didalam kamarnya.
Saat jam 5 pagi, dimana orang-orang masih terlelap. Rihana terbangun karena ingin buang air kecil.
Saat membuka mata, dia belum sadar dimana iya berada.
Rihana berjalan dengan mata yang masih terasa berat.
"Tuk." suara kejedot.
"Augh! " teriak Rihana.
Dia menyapu lututnya yang terasa sakit terkena siku meja.
Melihat kemeja, Rihana sepertinya sepertinya baru tersadar.
"Meja apa ini? " tanya Rihana dan memandang sekelliling
"Hah, dimana aku? Ini bukan didalam kamar ku! " ucap Rihana bingung.
Rihana mulai teringat yang bukan-bukan.
"Apa aku di culik? " bermonolog.
Perlahan Rihana melangkahkan kakinya agar tidak ada keributan.
Karena ruangannya hanya memiliki sedikit penerangan lampu. Sehingga membatasi penglihatan.
"Brukk! " Rihana menabrak sebuah pintu yang ada didepannya.
"Ouch! " lirihnya kesakitan sembari mengusap keningnya.
Dia dorong pintu yang ada didepannya.
"Ini kamar mandi! " gumam Rihana dan segera masuk kedalam kamar mandi.
Dikamar mandi, Rihana melihat baju yang iya kenakan. Masih pakaian yang tadi .
"Berarti tidak terjadi apa-apa! Syukur. " batin Rihana.
Tapi dia masih penasaran di mana dia sekarang ini.
Dia melihat sebuah jendela kaca yang di tutupi tirai tipis. Rihana berjalan ke arah jendela.
Dia singkap tirai itu, dan melihat keluar
"Hah! " Rihana merasa meremang saat tahu dia ada di ketinggian.
"Dimana aku ini, siapa yang membawa ku kesini? "Rihana berusaha mengingat apa yang terjadi.
Tapi percuma saja , dia tidak menemukan jawabannya.
__ADS_1
Rihana mencari pintu utama dan melihat sebuah pintu berwarna coklat.
Dia berusaha mencari cara bagaimana cara membuka pintu itu, tapi gagal. Karena pintu itu hanya bisa dibuka dengan kombinasi angka. Dan sudah pasti hanya tuan rumah lah yang tahu nomornya.