
Di perusahaan, Willi disibukkan dengan beberapa berkas yang harus dia tanda tangani, dan Robby masih terlihat setia berada di sana.
Setelah selesai, Willi meletakkan pena nya. "Robby,kamu cek semua CCTV uang yang ada di jalan. Dan beritahu saya nanti hasilnya! " ucap Willi.
"Baik tuan..! " jawab Robby.
"Kamu pergi lah sekarang, agar cepat selesai! " perintah Willi.
Robby pun bangkit dari duduknya, berjalan melewati pintu dan kembali menutupnya.
Willi masih berfikir dengan apa sebenarnya terjadi.
Di luar kantor, Robby melihat setiap sudut yang ada di jalan. "Apa tuan Willi bercanda. CCTV begini banyak, dari mana yang harus aku mulai? "
"Aku langsung saja ke bagian yang betugas di bagian ini! "
Robby segera pergi kesebuah kantor yang bertugas mengatur CCTV di jalan.
Sementara di lantai 3 , tempat Vivian bekerja. Dia seperti tidak memiliki semangat.
Berta menghampiri "Ada apa dengan mu hari ini? " tanya nya.
"Aku tidak apa-apa, hanya malas saja.! " jawab Vivian.
"Tidak seperti biasanya, kamu yang paling bersemangat.! " Berta heran.
"Deerrtt... deerrttt... deerrtt..! " getaran ponsel Vivian.
Dia lihat dengan malas nama penelepon.
"Liana..! Untuk apa dia telepon jam segini? "
Dia usap layar ponsel ke atas dan meletakkan nya di telinga "Hallo Liana.! " jawan Vivian.
"Vian kemana saja kamu tadi malam? "
"Aku.aku ada dirumah! " jawab Vivian bohong.
"Kamu tidak perlu berbohong, karena aku tau kamu tidak ada dirumah mu.Laki-laki tempoh hari datang mencari mu kekosan.! " jelas Liana.
"Apa yang kamu jawab? " Vivian duduk lurus.
"Sudah pasti aku jawab kamu tidak ada. Dan dia tidak percaya dan bahkan masuk kedalam untuk memastika! "
"Apa, dia masuk kedalam! " suara Vivian mengeras membuat Berta yang duduk didepannya ikut kaget.
"Baiklah Liana, aku tutup dulu telepon nya! " Vivian mengakhiri percakapan nya.
"Ada apa, kenapa kamu seperti terkejut? " tanya Berta.
Vivian memandang lekat ke wajah Berta
"Aaaaa... Seperti dugaan ku semua pasti tidak baik-baik saja.! " Vivian mengacak kesal rambutnya.
Saat makan siang, Vivian ingin makan siang di cafetaria. Saat semua orang sudah pergi, hanya meninggalkan Berta dan Vivian.
"Cepetan Vian, waktu terus berjalan! " ucap Berta.
Vivian bergegas mengemas beberapa barangnya.
Sementara di belakang Vivian, Willi datang menghampiri.
Berta yang melihat kedatangan Willi menjadi tegang.
__ADS_1
"Sshuuttttt.....! " Willi mengisyaratkan telunjuknya agar tidak bersuara dan menyuruh Berta untuk pergi sendiri.
"Ayo kita pergi! " ajak Vivian tanpa melihat.
"Bruukk..! "
"Auu.kamu tidak... " belum sempat menghabiskan ucapan nya.
Vivian memandang lelaki yang ada tepat di depan nya.
"Tu-tuan..! " Vivian gelagapan memandang wajah datar dengan mata yang tajam.
"Dari mana kamu semalaman? " tanya Willi sambil terus berjalan kedepan.
Vivian perlahan mundur "Aku -aku bersama teman-teman ku tuan! " Vivian menundukkan pandangannya.
Willi terus berjalan kedepan, tangan Vivian menahan tubuh tinggi besar itu agar tidak semakin mendorongnya.
"Apa kamu jujur? " tanya Willi.
"Ya, aku su-sudah jujur! " Vivian gemetar.
"Tapi sepertinya aku tidak percaya? "
Dan pada akhirnya tubuh Vivian mengenai tepi meja. "Aku hanya mencari angin tadi malam.Dan menemui mama dirumah sakit! "
Willi terus mendekat sehingga membungkuk, Vivian terpojok tak ada ruang untuk bergerak.
Willi mengunci tubuh Vivian yang tersandar ke meja.
"Apa kamu sudah terbiasa berbohong? " tanya Willi.
"Ti-tidak tuan! "
" Apa yang harus aku katakan? " ucap Vivian.
Jantung Vivian berdegup kencang, karena posisi mereka yang begitu dekat
Willi meluruskan tubuhnya, tanpa bicara lagi dia pun pergi.
Vivian berusaha berdiri tegak "Ukkhhhh.! "
"Apa kamu siap menerima konsekuensi nya atas kebohongan mu? " tanya Willi.
Vivian bingung untuk menjawabnya, hanya menggigit bibir bawahnya yang berwarna merah muda tersebut.
Willi pun berlalu meninggalkan Vivian yang sudah ketakutan.
Saat jam pulang, Vivian dan Berta berjalan berbarengan.
Ketika di lantai bawah . "Aku duluan ya! " ucap Berta dan pergi meninggalkan Vivian yang berjalan sendiri.
Dengan wajah yang setengah capek karena bekerja seharian. Saat menuju halte "Tin.. tin..! " sebuah suara klakson.
Sontak Vivian kaget dan berjalan lebih menepi lagi. Saat melihat ke samping, ada sebuah mobil yang berhenti tepat didepan nya.
Kaca mobil diturunkan "Masuk..! " ucap Willi dari dalam mobil.
Vivian melihat kekiri dan kekanan untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang mengenalnya.
Setelah pasti dia pun masuk. Mobil pun segera berangkat.
Di dalam mobil, baik Willi atau pun Vivian tidak bicara satu sama lain.
__ADS_1
Sampailah mereka di rumah besar Willi.
Robby buru-buru membuka pintu untuk Willi.
Setelah dia turun, Vivian membuka pintu yang ada disebelah nya.
Sebelum melangkah masuk, Willi kembali memutar tubuhnya "Mulai besok, kamu ikut mobil saya.! " ucap Willi dan pergi.
Vivian melihat wajah Robby, tapi tidak ada reaksi. Dia merasa bingung sendiri dengan keputusan Willi yang secara tiba-tiba.
Didalam kamar, Willi melepas dasi yang terpasang sejak pagi tadi. Dia duduk di sofa dan mengepal tangan nya.
Sementara Vivian mencari-cari penyebab Willi berubah.
"Ada apa sebenarnya, kenapa dia meminta untuk ikut dia.? "
"Ihh, kok aku jadi takut sendiri.! Apa mungkin dia mengetahui sesuatu. Tapi tidak mungkin,aku yakin tidak mungkin! " Vivian gelisah.
Saat makan malam , Vivian hanya menundukkan wajahnya. Dia terlihat serius , Vivian hanya tidak ingin menatap Willi.
Setelah selesai Vivian ingin pergi begitu saja. "Tunggu..! "
Langkah Vivian terhenti "Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu! " ucap Willi.
"A-ada apa? " tanya Vivian.
Willi tidak menjawab, dia hanya berlalu melewati Vivian.
Vivian pun mengikuti kemana Willi pergi.
Ternyata Willi menuju teras samping.
"Duduk lah! "
Vivian ragu-ragu menuruti perintah Willi.
"Pak Im, ambilkan laptop saya di ruang kerja! " minta Willi.
"Baik tuan! " pak Im bergegas mengambil nya.
Beberapa saat "Ini tuan..! " Pak Im menyerahkan laptopnya.
"Saya pamit tuan! " pak Im pun pergi.
Willi membuka laptopnya , dan terlihar serius. Dia putar layar nya ke arah Vivian.
"Haa..! " Vivian kaget.
"Ini, kenapa bisa ada sama tuan? " tanya Vivian.
"Kenapa kamu bisa bersama Romie. Apa kalian sudah kenal sebelumnya? " tanya Willi.
"K-kami baru kenal tuan.! " jawab Vivian tunduk takut.
"Kalau memang baru, kenapa kalian bisa sejauh ini? " tanya Willi menunjukkan sebuah foto yang memperlihatkan Romie dan Vivian masuk ke sebuah hotel.
"Ini tidak seperti yang tuan fikirkan! " ucap Vivian.
Willi menarik sudut bibirnya "Aku tidak sangka ternyata kamu tidak berbeda dengan wanita luar sana! " ucap Willi.
"Tuan salah, aku dan dia tidak melakukan apapun! " jelas Vivian.
"Ck.. ck.. ck. Sudah jelas ada bukti masih bisa membantah! " Willi emosi.
__ADS_1